
Chris masuk ke ruangan nya dan bergelut dengan pekerjaannya. Beberapa saat pintu ruangan terbuka menampilkan sosok cantik yang berjalan mendekati meja Chris. Wanita itu berdiri di depan meja Chris.
" Ini untuk mu kau pasti belum makan " wanita itu meletakkan bungkusan berisi makanan dan sebotol air mineral.
Chris menghentikan kegiatan nya dan beralih ke bungkusan di mejanya. Chris mendongak menatap wanita di hadapannya.
" Uang pemberian mu tadi masih sisa lalu ku belikan makanan " kata Diana.
" Terimakasih " ucap Chris pelan.
Chris merasa lapar karena tadi belum sempat makan siang dan ia keburu pergi meninggalkan temannya, Will. Chris meraih bungkusan di atas meja lalu menyantap makanan pemberian Diana. Hingga makanan itu telah berpindah ke perut Chris lalu lelaki muda itu mengambil sebotol air mineral dan meneguknya.
Diana melihat pergerakan Chris, lelaki muda itu tidak banyak bicara. Tapi Diana sangat senang ternyata Chris mau makan makanan pemberian nya. Diana tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hati yang diliputi kebahagiaan.
Setelah makan Chris melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Tak terasa waktu beranjak sore dan sudah jam pulang kantor. Chris merapikan berkasnya lalu menyimpan di atas meja. Chris mengambil berkas yang ia selesaikan dan akan membawanya ke ruangan presdir.
Chris melirik ke meja Diana wanita itu telah bersiap hendak pulang. Chris bangkit lebih dulu dan berjalan keluar ruangan menuju ruangan presdir. Chris melewati meja sekretaris tanpa menoleh dan masuk tanpa mengetuk pintu. Chris melihat sepupunya masih sibuk dengan berkas di meja. Chris melangkah ke meja presdir.
" Ini berkas nya " Chris memberikan berkas yang ia bawa pada Adi.
" Taruh di situ " jawab Adi tetap memeriksa berkas di mejanya.
" Masih lama " tanya Chris.
" Sebentar lagi " Adi masih menatap tumpukan kertas-kertas itu.
Chris menaruh berkas itu di atas meja lalu duduk di sofa menunggu sepupunya. Chris memilih memainkan ponselnya. Lelaki muda itu terlalu fokus dengan permainan game di ponselnya. Sehingga tidak menyadari keberadaan sepupunya yang telah menyelesaikan pekerjaan nya.
Adi menyandarkan tubuhnya dan membalas pesan dari seseorang. Setelah itu Adi memasukkan ponselnya ke saku bajunya dan berdiri hendak keluar ruangan. Adi sudah bersiap membuka pintu tapi kemudian melirik ke sepupunya yang masih setia dengan ponselnya.
" Apa kau akan di sini sampai malam Chris " Adi berhenti di depan pintu dan berbalik.
Chris menatap sekilas sepupunya lalu mematikan ponselnya. Chris bangkit menyusul sepupunya keluar dari ruangan presdir. Adi menghentikan langkahnya di depan wanita yang duduk di meja sekretaris. Wanita muda itu juga bersiap hendak pulang. Adi menghampiri sekretaris nya berdiri berbatas meja.
" Belum pulang Mei " tanya Adi.
" Be belum pak " sahut Mei gugup.
Sekretaris itu gugup bukan karena Adi yang bertanya tapi lelaki di belakang bosnya yang membuat ia gugup.
" Ikut pulang bareng kita saja Mei " ucap Adi.
" Maaf pak saya bisa pulang sendiri " sahut Mei.
__ADS_1
" Tidak baik menolak kebaikan dari orang lain Mei, sudah ikut saja " Adi melangkah tanpa menunggu jawaban dari sekretaris nya.
Chris yang mendengar sepupunya memberi tumpangan pada sekretaris nya berdecak sebal. Chris melirik tajam ke arah sekretaris itu lalu berjalan mengikuti langkah sepupunya. Sedangkan sekretaris itu tertunduk lesu ia terpaksa mengikuti langkah dua lelaki di depannya.
Kini Chris berada dibalik kemudi, Adi duduk disebelah nya. Sementara Mei tampak ragu ia masih berdiri di samping mobil. Adi menoleh dan melihat sekretaris nya hanya diam lalu menegurnya.
" Sampai kapan kamu mau berdiri di situ Mei " sekretaris itu tersadar lalu bergegas membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.
Chris hanya melirik dengan ekor matanya saat melihat Mei masuk ke mobil. Setelah sekretaris itu masuk ke mobil Chris melajukan mobilnya keluar dari perusahaan Nugroho menuju jalan raya dengan kecepatan sedang. Jalanan ramai di sore hari itu karena bertepatan dengan jam pulang kantor.
Setelah melewati lampu merah Adi menyuruh sepupunya untuk menepikan mobilnya di depan minimarket.
" Berhenti di depan sana Chris " Adi menunjuk sebuah minimarket.
" Kakak mau beli sesuatu biar aku yang turun " tawar Chris.
" Tidak. Aku sedang ada janji dengan seseorang " jawab Adi santai.
Meski dalam benak Chris bertanya siapa yang hendak ditemui sepupunya itu, Chris menurut dan menghentikan laju mobilnya di depan minimarket.
Adi turun dari mobil dan menyuruh Chris tidak usah menunggu nya. Adi menyuruh Chris mengantar sekretaris nya pulang ke rumahnya. Chris mengangguk tanpa bersuara.
Mobil Chris melaju kembali di jalan raya. Sesekali Chris melihat ke kaca spion dan mengamati wanita yang duduk di kursi penumpang. Manik matanya menatap tajam ada kemarahan dan kerinduan di sana.
Sementara sekretaris itu melihat sekilas lalu menunduk lesu. Ada genangan air bening di kedua sudut matanya. Ada perasaan tertahan dan tak mampu berucap meski ia ingin sekali mengungkapkannya pada lelaki di depannya.
Secepatnya sekretaris itu mengusap dengan punggung tangannya. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar namun air bening itu tak berhenti mengalir di kedua pipi mulusnya.
Ada rasa iba di hati lelaki muda itu tapi egonya menahannya untuk berbelas kasihan pada wanita yang duduk di kursi penumpang.
Dan yang terjadi hanyalah keheningan sampai mobil itu berhenti di depan rumah sederhana. Rumah itu tak begitu besar tapi cukup nyaman untuk tempat berteduh. Di halaman depan ada beberapa tanaman hias sehingga rumah itu kelihatan asri dan sedap dipandang.
Ketika menyadari sudah sampai di rumahnya Mei si sekretaris cantik itu turun. Dan mengucapkan terimakasih pada Chris. Chris hanya menjawab dengan ' hm ' saja. Saat ia hendak bicara dengan Mei suaranya berhenti di tenggorokan. Manik matanya menangkap bayangan yang keluar dari arah pintu rumah sederhana itu. Tangannya terkepal kuat dan darahnya tiba-tiba mendidih mesin mobilnya masih menyala.
Chris melesatkan mobilnya dengan kemarahan tertahan di dada. Ia memukul setir mobilnya melampiaskan gemuruh di dadanya.
" Brengsek " makinya penuh kemarahan.
Kenapa kau lebih memilih dia ketimbang aku, gumam Chris. Apa kurangnya aku, aku tak kalah kaya dan tampan dengan dia. Lelaki brengsek macam dia yang suka mempermainkan hati wanita. Aaagrh .. Chris menjerit di dalam hatinya dan setir kemudi menjadi sasaran kemarahan Chris.
Chris tidak pulang ke rumah ia melajukan mobilnya ke suatu tempat untuk meredam panas hatinya. Untungnya Chris bukan seorang peminum ia pergi ke rumah temannya, sudah pasti temannya yang menjadi sasaran kemarahan berikutnya. Siapa lagi kalau bukan Will.
Ya, Chris melajukan mobilnya ke rumah Will. Lelaki tampan sebaya dengan Chris tidak ada di rumah. Chris masuk begitu saja di rumah Will dan duduk di sofa ruang tamu. Chris menarik laci di sebelah sofa lalu mengambil sebuah kotak dan mengambil sebatang. Chris menyalakan pematik api dan membakar batang bernikotin itu. Menghisapnya sesaat dan mengeluarkan asapnya lewat lubang hidung nya. Setelah batang nikotin itu tinggal pendek lalu membuang asal dan melanjutkan lagi dengan membakar batang nikotin itu sampai panas di hatinya mereda. Entah berapa batang nikotin yang ia bakar dan bekasnya berserakan di meja ruang tamu Will.
__ADS_1
Beberapa saat lelaki pemilik rumah datang dan terkejut melihat pemandangan di ruang tamu.
" Astaga, Chris ' seru Will menggeleng pelan.
Will baru pulang kerja lalu melangkah ke dapur mengambil dua kaleng minuman soda. Lalu membawa ke ruang tamu. Will menaruh satu minuman soda itu di meja dan satunya ia teguk sendiri.
Will melirik ke arah temannya lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
" Ada apa ? ' tanya Will.
Will sadar temannya pasti sedang ada masalah. Chris ikut menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa lalu memejamkan matanya.
" Mei " ucap Chris pelan.
Will hanya melirik temannya yah perempuan itu lagi yang ada di pikiran temannya yang keras kepala dan egonya selangit.
" Kenapa lagi " Will malas menanggapi nya.
Chris membuka matanya lalu menatap tajam ke arah Will.
" Kenapa kamu tidak bilang kalau Mei tinggal bersama lelaki brengsek itu " Chris menekan marahnya.
" Kamu tidak tanya " jawab Will santai.
" Kau ini temanku atau bukan sih " suara Chris meninggi.
" Menurut mu " Will mengambil remot tv dan menyalakan nya.
Chris berdecak sebal. Chris bingung dengan perasaannya saat ini. Cintanya sudah mendekat tapi ia memilih bertahan dengan egonya.
Will juga kesal dengan temannya yang bodoh ini. Bukannya datang pada Meira meminta maaf malah pergi ke rumah nya menghabiskan sebungkus rokok tanpa permisi lagi. Huh! menyebalkan.
Will bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Membiarkan Chris bergelut dengan pikirannya.
*************
Maaf baru bisa up dan satu saja di Maafkan Aku, Istriku ...
🙏🙏🙏
Kesehatan author agak menurun beberapa hari ini.
Semoga masih setia dengan cerita dari author.
__ADS_1
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya.
Terimakasih ... ♥️♥️♥️