
Will selesai membersihkan diri dan berganti baju santai lalu melihat temannya. Ternyata Chris masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Will mendekati temannya dan duduk di depan nya.
" Ngapain masih di sini ? " Will meraih ponselnya dan mencari aplikasi go food dan memesan makanan.
Chris hanya melirik sebentar lalu kembali melanjutkan permainan dalam aplikasi di ponselnya.
Melhat temannya diam saja Will tidak lagi bertanya dia memilih menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa tunggal yang ia duduki. Hari ini ia lelah sekali dan tidak punya tenaga untuk memberi ceramah pada temannya.
Setelah menunggu beberapa saat pesanan makanan yang ia pesan lewat aplikasi go food pun datang. Seseorang mengetuk pintu rumahnya Will bangkit membuka pintu. Will menerima bungkusan kotak makan dan memberi sejumlah uang pada orang itu.
Will membawa ke meja ruang tamu. Satu kotak makan ia berikan pada Chris dan satu untuk dirinya sendiri. Will mengambil air mineral dalam lemari pendingin lalu membawa ke ruang tamu. Will menyantap makanan hingga tandas dan minum air mineral.
Chris menaruh ponselnya di meja lalu mengambil kotak makan dan menyantap makanan itu. Selesai makan Chris meneguk air mineral lalu menaruh di meja.
" Apa Mei tinggal bersama si brengsek itu ? " Chris bertanya pada Will dan berharap memperoleh jawaban.
Semoga saja mereka tidak tinggal di satu atap itu yang dipikirkan oleh Chris.
Will melirik sekilas.
" Hah apa kau bertanya padaku " Will pura-pura tak mendengar.
Membuat Chris geram.
" Di ruangan ini hanya ada kau siapa lagi " Chris menekan marahnya.
Setelah perutnya terisi makanan yang dibeli Will lewat aplikasi go food membuat Chris mempunyai tenaga untuk melampiaskan kekesalannya.
Will mendongak melihat temannya itu sedang kesal dan berpikir untuk mengerjainya.
" Orang itu punya nama dan namanya Zakaria " jelas Will.
" Ya maksudku itu si Zaka apa tinggal bersama Mei " Chris menatap tajam ke arah Will.
" Mungkin " jawab Will santai.
Chris menjadi tidak tenang dengan jawaban dari temannya itu. Ada kegundahan di dalam dirinya tentang apa yang ia pikirkan sedari tadi. Chris melihat ke arah temannya yang terlihat santai. Chris menegakkan tubuhnya dan pandangan nya tak beralih pada lelaki muda sebaya dengannya ini.
" Bisa dijelaskan Will " sahut Chris.
__ADS_1
Will meletakkan ponselnya lalu menatap ke arah Chris.
" Kenapa kau masih di sini kenapa tidak cari tahu sendiri " Will menatap sengit temannya.
" Ada kau kenapa aku harus mencari tahu sendiri " Chris membela dirinya.
Will tersenyum mengejek.
" Aku banyak pekerjaan beberapa hari ini jadi cari tahu saja sendiri " Will masih menjawab santai.
" Kau ingin dipecat Will " ancam Chris.
Will menatap sebal pada temannya.
" Ini bukan kantor dan lagi yang jadi pimpinan nya itu sepupumu bukan kamu " jawab Will membuka laci di sebelah sofa yang diduduki Chris dan mengambil sebungkus rokok yang masih utuh.
Will mengambil batang nikotin dan menyalakan pematik api. Lalu membakar batang nikotin itu menyesap nya sebentar kemudian mengeluarkan lewat mulutnya membentuk lingkaran asap tipis.
Sedangkan Chris memandang jengah pada temannya. Chris berpikir lebih baik pergi daripada di sini membuat darahnya naik ke ubun-ubun. Chris mengambil kunci dan bergegas pergi dari rumah Will.
Will memperhatikan temannya keluar rumah dan terdengar deru suara mesin mobil. Will sedikit puas karena tidak menemani temannya yang bodoh itu sampai malam. Will bangkit mengunci pintu dan mengistirahatkan tubuh lelahnya ke sofa. Ia malas ke kamar lalu merebahkan tubuhnya di sofa dan tidur.
Udara malam hari yang dingin tak dihiraukan olehnya. Ditambah cuaca yang sedikit mendung karena sudah memasuki musim penghujan tak mengurungkan niatnya untuk sekedar menghalau pikiran nya yang kusut. Tidak banyak orang di sana karena ini bukan hari sabtu atau minggu. Chris memilih duduk menghadap jalanan sambil melihat lalu lalang kendaraan yang melintas di sana.
Beberapa saat kemudian lelaki muda itu berjalan menapaki tanah rumput di belakang tempat ia duduk tadi. Chris melangkah sekehendak kakinya sambil memindai pemandangan di sekitarnya yang diterangi lampu penerang jalan.
Manik matanya menangkap dua bayangan di sebelah kanan nya. Rasa penasaran membuat lelaki muda itu berjalan perlahan mendekati dua sosok yang tengah duduk bersebelahan. Semakin dekat ia bisa melihat jelas dua sosok itu yang amat sangat dikenalnya.
Rasa gundahnya belum hilang ditambah pemandangan di depan matanya yang sangat melukai dirinya. Lelaki muda itu melihat si lelaki brengsek sedang menggenggam tangan Meira, gadis dari masa lalu nya itu.
Amarahnya tiba-tiba naik ke puncak kepalanya ia bergegas menghampiri keduanya dan ...
Bught !
Tiba-tiba saja Chris melayangkan kepalan tangannya pada lelaki yang disebut Chris lelaki brengsek. Lelaki itu jatuh dari duduknya dan ada noda darah di sudut bibir lelaki itu. Lelaki itu, Zaka terkejut dan juga Meira yang di samping nya tak kalah terkejut melihat Chris yang datang entah darimana.
Meira membantu Zaka berdiri dan tampak khawatir dengan kakak angkat nya itu. Zaka bicara pada Meira bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Justru Zaka merasa cemas dengan situasi yang tidak menguntungkan ini.
Niat hati menghibur Meira yang sedang bersedih dengan mengajak gadis itu pergi ke taman kota Malah menambah kesalahpahaman diantara Meira dan lelaki muda di depannya ini.
__ADS_1
" O jadi benar dugaan ku selama ini kau berhubungan dengan lelaki brengsek ini, ya kan Mei jawab " Chris menunjuk ke arah gadis cantik yang menatap nya sendu.
Mata lelaki muda ini menyala merah dan telunjuknya mengarah ke Meira. Ada api kemarahan di sana dan siap membakar dua sosok di depannya.
Gadis bernama Meira menggeleng cepat.
" Tidak tidak ini tidak seperti yang kau pikirkan " gadis itu menatap sendu.
Meira berusaha menyakinkan Chris tapi lelaki muda itu tidak mudah percaya begitu saja. Apalagi melihat keduanya duduk berduaan di malam hari seperti ini orang pun bisa salah sangka termasuk Chris.
Saat Chris bersiap hendak melayangkan pukulan berikutnya Meira berdiri di depan Chris.
" Minggir " teriak Chris.
Meira menggeleng.
" Minggir kataku " Meira menggeleng lagi.
" Kau salah sangka ini tidak seperti yang kau lihat " Mei berusaha memberi pengertian pada Chris tapi usaha nya percuma saja.
" Kau masih membela nya kau sudah diperdaya oleh nya " Chris kesal.
Zaka menarik tangan Meira, gadis itu menoleh dan menatap kakak angkat nya yang menggeleng pelan. Dengan terpaksa Mei menuruti kakaknya dan perlahan pergi meninggalkan tempat itu.
Percuma menjelaskan dengan orang yang sedang dikuasai oleh kemarahan dan cemburu, pikir Zaka. Lebih baik mencari jalan lain untuk mengakhiri perselisihan dan kesalahpahaman ini agar tidak berlarut-larut.
Chris berteriak memanggil Zaka dan Mei tapi keduanya seolah menulikan telinganya. Dan yang terdengar hanya suara teriakan Chris yang menggema bercampur dengan deru suara mesin kendaraan di sekitar taman kota.
Chris berjalan lesu masuk ke mobilnya. Lelaki muda itu menjambak rambut nya frustasi.
" Kenapa kau lebih suka bersama si brengsek itu, apa kau mencintainya " ucap Chris lirih.
Chris menatap nanar jalanan di depannya setelah itu menyalakan mesin mobilnya. Chris menjalankan mobilnya pulang ke rumah sepupunya.
************
Up lagi.
Mohon dukungan nya dengan memberi like, komen dan vote nya ya
__ADS_1
Terimakasih ... ♥️♥️♥️