
Marta dan suaminya datang dari luar kota setelah mendapat telpon ibunya. Keduanya langsung mendatangi rumah sakit di mana ayah Lukas dirawat.
" Ibu " Marta membuka pintu ruang rawat ayah Lukas lalu memeluk ibunya.
Sedangkan Yakob sang suami duduk di sofa tunggal sambil memangku si kecil Kenneth. Si kecil masih tidur karena kelelahan di perjalanan tadi.
" Gimana keadaan ayah, bu " bu Rina menggeleng pelan.
Marta menjadi sedih ia menahan air matanya agar tidak tumpah keluar. Marta memeluk ibunya sambil mengusap sudut matanya yang mulai basah oleh air mata. Marta berusaha menguatkan dirinya sendiri agar tidak menangis di depan ibunya.
" Ibu yang sabar ya " bu Rina hanya tersenyum paksa meski tidak bisa menutupi kesedihannya.
Marta menelisik ruang rawat ayahnya hanya ada ibunya.
" Adi kemana bu " tanya Marta.
" Tadi ibu suruh pulang mungkin sebentar lagi datang " ibu Rina sedikit cemas karena Adi tidak kunjung datang.
Ibu Rina melihat menantunya yang terlihat lelah. Lalu menoleh ke cucu pertamanya masih pulas tidur menjadi tidak tega.
" Lebih baik kalian pulang ke rumah istirahat nanti sore ke sini lagi " bu Rina menatap putri sulungnya.
" Iya bu, tapi Marta ke ayah dulu ya bu " Marta merangkul ibunya.
Ibu Rina mengangguk pelan. Marta berjalan ke ranjang ayahnya. Putri sulung keluarga Nugroho itu duduk di samping ranjang Lukas Nugroho. Ayah Lukas sudah terjaga sejak Marta dan menantu serta cucunya datang. Ayah Lukas melihat putri sulungnya lalu berusaha tersenyum meski rasa sakit mendera dirinya. Ayah Lukas sedikit memejamkan matanya untuk mengurangi sakit yang kian hari kian menggerogoti tubuhnya.
Marta meraih tangan ayahnya mengusapnya pelan. Membuat ayah Lukas membuka perlahan kedua matanya.
" Ayah " pelan Marta memanggil ayahnya.
Lelaki yang dipanggil ayah itu menoleh ke asal suara yang memanggilnya . Samar ia melihat wajah putri sulungnya. Setelah matanya terbuka lebar barulah ayah Lukas melihat jelas putrinya.
" Marta kamu datang, nak " lirih suara ayah Lukas tapi masih bisa didengar oleh Marta.
" Iya yah ini Marta. Maafkan Marta yah " akhirnya air mata Marta mengalir tanpa diminta.
Marta tidak tega melihat ayahnya yang sepertinya menahan rasa sakit yang luar biasa. Tubuh ayahnya yang dulu sehat dan gagah kini tinggal kulit yang membalut tulang. Menyedihkan sekali. Marta menutup mulutnya agar tidak terdengar tangisnya. Marta merasa bersalah pada ayahnya karena tidak bisa menuruti keinginan ayahnya.
" Maafkan Marta yah. Marta tidak bisa memenuhi keinginan ayah. Karena Marta ayah jadi begini. Ini pasti sakit ya yah " Marta bicara sambil menangis.
Ayah Lukas tersenyum.
" Tidak nak, kamu tidak salah apa-apa. Ayah ayah baik-baik saja " ayah Lukas sedikit tersengal.
Marta yang melihat ayahnya seperti itu menjadi panik.
" Ayah ... " Marta lalu menekan tombol nurse.
Ayah Lukas yang sedikit tersengal itu menggerakkan tangannya agar Marta tidak panik. Ibu Rina yang sedang berbincang dengan menantunya ikutan panik.
" Ada apa nak " bu Rina mendekat.
Yakob yang mendengar suara istrinya menjadi terkejut. Lalu menidurkan Kenneth di sofa yang agak longgar. Yakob melangkah mendekati Marta dan menenangkan istrinya.
" Tenanglah, mi " Yakob mengusap punggung istrinya.
__ADS_1
Marta menangis sesenggukan.
" Ayah, pi " Marta menangis sambil memeluk suaminya.
Marta tidak tega melihat ayahnya. Dokter pun datang bersama seorang suster dan memeriksa pasien. Setelah suster menyuntikkan cairan ke infus lalu undur diri. Sebelum keluar dari ruangan dokter berpesan agar tidak terlalu banyak berbicara pada pasien.
" Biarkan pasien istirahat " dokter pun pamit.
Bu Rina mengangguk pelan sementara Marta masih sesenggukan. Yakob menuntun istrinya duduk di sofa. Bu Rina duduk sambil menatap sendu suaminya. Ayah Lukas tersenyum sambil membalas menggenggam tangan bu Rina. Lama kelamaan mata tuanya meredup dan tertutup rapat karena pengaruh obat tidur.
Ibu Rina sedikit lega setelah melihat nafas teratur keluar dari lubang hidung ayah Lukas. Lalu perlahan melepas genggaman tangan suaminya. Bu Rina menoleh ke putri sulung dan menantunya.
" Pulanglah kalian butuh istirahat. Kasihan Ken " bu Rina menyuruh Marta dan suaminya pulang.
" Tapi bu " Marta merasa kasihan sama ibunya.
" Biar ibu yang jaga ayah " tekan bu Rina.
Akhirnya Marta mengalah ia dan Yakob pamit. Yakob menggendong Kenneth menuju parkiran. Marta masuk ke mobil dan mengambil alih memangku Kenneth. Yakob masuk dan duduk dibalik kemudi. Mobil Yakob keluar dari rumah sakit menuju kediaman Nugroho.
Sementara itu di tempat lain mobil yang dikemudikan pak Slamet mengarah ke perumahan elite. Membawa sang majikan pulang ke rumah. Setelah sampai di halaman rumah Nugroho, Adi turun dan gegas menuju kamarnya. Tubuh lelahnya membutuhkan istirahat yang cukup agar nanti malam bisa menggantikan ibunya menjaga ayahnya.
Adi masuk ke kamarnya tidak lama kemudian ia terlelap tidur karena sangat mengantuk. Adi terbangun saat mendengar suara berisik dari anak kecil yang menggoyang-goyangkan lengannya.
" Om Adi ...om Adi " suara berisik itu membuat Adi terpaksa membuka matanya.
" Eh, Ken " Adi bangun dari tidurnya dan bersandar pada sandaran ranjang.
Bocah lelaki kecil anak kakaknya itu masih terus menggoyang-goyangkan lengan Adi. Adi merasa gemas lalu menariknya ke atas tempat tidurnya.
Kenneth bukannya menjawab malah tertawa lalu naik ke perut Adi. Menepuk-nepuk dada Adi dengan tangan kecilnya. Adi menggelitik pinggang kecil keponakannya. Karena tak tahan membuat Kenneth tertawa kegelian.
Ha ha ha.
" Ampun om ampun " Kenneth masih dengan tawa khas anak-anak.
" Ha ha ha " Adi ikutan tertawa.
Sejenak ia melupakan kesedihannya karena belum menemukan kekasihnya. Adi merasa terhibur dengan adanya keponakan kecilnya itu. Sampai terdengar suara Marta memanggil Kenneth.
" Ken Kenneth kamu di mana sayang " suara Marta mendekat ke arah kamar Adi.
Marta melongok ke kamar adiknya.
" Ternyata kamu di sini sayang " Marta masuk menghampiri putranya.
Marta duduk dipinggir ranjang.
" Ayo turun sayang makan dulu. Dan kamu segera bebersih lalu ke ruang makan " tunjuk Marta pada adiknya.
Adi mengangguk lesu Marta hanya melirik sekilas lalu meraih Ken. Marta menggendong Ken menuju ruang makan. Sedangkan Adi melangkah ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri lelaki berkulit sawo matang itu berganti baju. Lalu mengambil jaket dan menyampirkan ke pundak. Adi menuju ruang makan di sana sudah ada kakaknya dan kakak iparnya. Serta keponakan kecilnya yang tampan.
Adi menarik kursi dan duduk di depan kakaknya. Di sebelah kakaknya ada Yakob suami kakaknya. Si kecil Ken dipangku oleh kakak iparnya.
Setelah memberi salam pada kakak iparnya, Adi mengambil piringnya dan diisi nasi serta lauknya. Demikian juga Yakob dan Marta. Yakob lebih dulu menyuapi putranya. Setelah Marta selesai makan si kecil pindah ke pangkuan Marta. Tinggallah Yakob yang makan belakangan.
__ADS_1
Adi selesai lebih dulu ia hendak beranjak dari duduknya. Tapi suara Marta membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi.
" Dek " Adi menoleh ke arah kakaknya.
Marta melihat sedari tadi di meja makan adiknya itu diam saja. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya itu.
" Ada apa kak " Adi terduduk kembali.
" Ada apa " tanya Marta.
Adi melihat kakaknya lalu menggeleng pelan. Membuat sang kakak menjadi penasaran dan hendak bertanya lagi pada adiknya. Tapi tangan Yakob menepuk pelan punggung tangan istrinya lalu menggeleng. Marta hanya bisa menghela nafasnya menuruti suaminya.
" Maaf kak, aku ke rumah sakit dulu " Adi langsung berdiri dan melangkah keluar rumah.
Saat ini Adi memilih menyetir mobilnya sendiri. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama mobil Adi sudah ada di rumah sakit tempat ayah Lukas di rawat.
Baru saja Adi keluar dari mobil terdengar ponselnya berdering. Adi meraih ponselnya di saku bajunya. Lalu menempelkan ke telinga.
" Hallo bu ... " sapa Adi pada bu Rina.
" Kamu di mana nak " tanya bu Rina.
" Adi di parkiran rumah sakit bu " jawab Adi.
" Cepatlah kemari " bu Rina sedikit bimbang.
Ada rasa cemas dan pasrah yang datang bersamaan. Wanita yang menjadi ibu Adi dan Marta itu sedikit cemas dengan keadaan ayah Lukas yang semakin buruk. Bu Rina melipat tangannya memohon kepada Tuhan untuk mengangkat penyakit suaminya. Dan menyembuhkan penyakit suaminya agar sembuh dan terbebas dari rasa sakitnya. Tak terasa air mata bu Rina membasahi pipinya. Ia masih berharap agar suaminya bertahan sedikit lebih lama. Karena ia ingin suaminya bisa melihat Adi menikah.
Perlahan ayah Lukas membuka matanya. Ia tersenyum pada istri tercintanya yang setia mendampinginya sampai saat ini.
" Bu ... " panggil ayah Lukas.
" Iya yah " bu Rina menggenggam tangan suaminya seolah takut ditinggalkan.
" Apa Adi sudah datang bu ... " tanya ayah Lukas.
" Sebentar lagi yah " jawab bu Rina menatap sendu ke arah suaminya.
" Waktuku tidak banyak bu " lirih suara ayah Lukas hampir tak terdengar.
" Jangan bilang begitu yah, ayah pasti sembuh. Ayah mau kan menyaksikan Adi menikah " ayah Lukas mengangguk lemah.
Seorang lelaki berkulit sawo matang tergesa berjalan menuju ruang rawat ayah Lukas. Adi perlahan membuka pintu dan berjalan mendekati ranjang ayahnya.
" Ayah ..."
*********
Maaf baru bisa up...🙏
Ini mendekati end ya.
Semoga masih setia dengan ceritaku ini ya. Setelah Bonus Maafkan Aku, Istriku ... end author akan lanjutin lagi ke novel author yang berjudul Pria Patah Hati.
Terimakasih ...❤️❤️❤️
__ADS_1