
Setelah berpamitan dengan bi Ani art di rumah mertuanya Adi melangkah keluar dengan perasaan membuncah. Di sepanjang jalan menuju rumahnya tak hentinya ia tersenyum. Hari ini Adi sangat senang sekali bisa bertemu dengan Shasha istrinya. Walau saat bertemu dengan Shasha, istrinya itu sedang tidur cukuplah mengobati rasa rindunya. Perasaan hatinya menghangat saat melihat wajah cantik istrinya yang telah berhari-hari menghiasi mimpinya. Begitu dekat berada di depannya sekarang. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh mungil itu dan mendekapnya lebih erat. Tapi semua itu tidak ia lakukan takutnya istrinya bangun dan marah padanya. Yang Adi lakukan adalah menggenggam tangan Shasha lalu mengecup kening istrinya. Dan secepatnya pergi sebelum istrinya terbangun dari tidurnya.
Sementara itu ...
Di sebuah kamar Shasha terharu dan senang atas perlakuan manis suaminya. Ia kaget sekali atas pengakuan yang jujur dari suaminya. Perasaannya melambung tinggi di awan pernyataan cinta suaminya membuatnya sesaat terlena dan hendak membuka matanya. Tapi kesadarannya muncul dan mengurungkan niatnya untuk bangun dari tidurnya. Lalu berpura-pura tidur kembali.
Sebenarnya saat itu Shasha sudah bangun karena kepalanya masih terasa berat, ia memejamkan matanya. Shasha juga merasakan ada seseorang yang masuk ke kamarnya dan duduk di sampingnya. Aroma khas maskulin dari tubuh suaminya membuat kepalanya yang berat menjadi ringan. Rasa sakit di kepalanya tiba-tiba hilang karena kehadiran suaminya. Saat tangan kekar itu menggenggam tangannya ada rasa hangat mengalir di tubuhnya. Dan ketika benda kenyal itu mendarat di keningnya ada ribuan aliran listrik yang membuat kesadarannya menghilang. Hampir saja ia membuka mata dan menghambur di pelukan suaminya manakala kata cinta terucap dengan indahnya. Lagi-lagi rasa sakitnya yang menyesakkan dada menguasai kesadarannya. Sesaat terdengar langkah kaki yang menjauh dari kamarnya. Shasha menghela nafas perlahan menetralkan hati dan pikirannya. Shasha tersenyum tipis.
" Nona tidak apa-apa " seru bi Ani dengan nafas memburu.
Setelah mengantar suami Shasha ke depan pintu rumah bi Ani bergegas ke kamar nona nya.
" Memang kenapa bi " kata Shasha heran.
Bi Ani melihat nona nya baik-baik saja merasa lega.
" Ah tidak non bibi hanya khawatir saja kalau non bertengkar lagi dengan den Adi " sahut bi Ani menunduk malu.
" Aku baik- baik saja terimakasih bibi sudah mengkhawatirkan aku " kata Shasha tersenyum.
" Itu sudah menjadi kewajiban bibi untuk menjaga non. Em, apa non sudah tidak pusing lagi " tanya bi Ani lagi.
__ADS_1
Shasha menggeleng sambil tersenyum.
" Aku mau makan bi " seru Shasha.
" Sebentar non, bibi ganti yang baru ini sudah dingin " menunjuk makanan yang di atas meja. " Atau bibi ambilkan salad " kata bi Ani.
" Bibi buat salad juga " kata Shasha.
" Em, eh itu... gimana ya " bi Ani sesaat berpikir. " Den Adi tadi yang bawa salad " kata bi Ani ragu-ragu mengatakannya.
" Aku mau salad bi " seru Shasha.
**************
Hari ini sepulang kerja Adi pergi menemui Shasha di rumah mertuanya. Ia berhenti sebentar ke sebuah minimarket dekat komplek perumahan dan membeli buah-buahan segar untuk istrinya. Sampai di depan rumah mertuanya ia mengetuk pintu. Bi Ani yang membukakan pintunya lalu menyilakan den Adi untuk duduk. Bi Ani melangkah masuk ke kamar Shasha memanggil nona nya. Sebentar kemudian keluar dari kamar Shasha dan mengatakan pada den Adi bahwa non Shasha tidak mau ditemui. Sabar Adi. Sabar, kata Adi dalam hati. Mungkin saat ini ia harus lebih banyak bersabar. Adi tidak mau memaksakan kehendaknya pada Shasha, ia akan sabar menghadapi istrinya kali ini. Lebih-lebih ada buah hatinya di perut istrinya ia harus menjaganya agar tidak terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Dengan menelan kekecewaan Adi pun pulang ke rumahnya.
Setiap hari sepulang kerja Adi selalu datang ke rumah mertuanya untuk bertemu dengan Shasha. Setiap kali itu pula ia harus menelan kecewa karena Shasha menolak menemuinya. Tapi ada sedikit rasa senang yang menghinggapi dirinya karena apa yang ia bawakan untuk istrinya selalu di makan.
Awalnya Adi merasa sedih tidak bisa bertemu dengan istrinya tapi melihat makanan yang ia bawa selalu di makan oleh istrinya Adi merasa lega. Hal itu berlangsung seminggu lamanya. Setelah itu Adi berinisiatif untuk menanyakan pada bi Ani apa yang diinginkan oleh istrinya itu. Adi juga berpesan pada bi Ani untuk menghubunginya bila istrinya menginginkan sesuatu. Bi Ani pun dengan senang hati membantu den Adi. Tidak ada salahnya kan kalau untuk kebaikan, pikir bi Ani.
Seperti siang ini pada jam istirahat bi Ani menghubungi den Adi.
__ADS_1
📞" Hallo den Adi " kata bi Ani.
📞" Ya bi ada apa ? " kata Adi.
📞" Non Shasha pengin rujak mangga muda, den " kata bi Ani.
📞" Baik bi, nanti sore saya bawakan rujak mangga muda " kata Adi.
📞" Terimakasih den " kata bi Ani.
📞" Sama-sama bi " kata Adi.
Sambungan telpon terputus.
Adi tersenyum gembira ini sudah dua minggu lamanya ia pergi ke rumah mertuanya tanpa bertemu dengan istrinya. Secara tidak langsung Shasha menerima dirinya dengan memberikan perhatian kecil pada istri mungilnya itu.
Baiklah nanti sore aku bawakan rujak mangga muda nya, batin Adi. Senyum menghiasi wajahnya saat ini ada rasa yang sulit diartikan dengan kata-kata. Ada sebuah harapan yang membentang di hadapannya dan membutuhkan kesabaran yang lebih banyak lagi.
***************
Ikuti kelanjutannya di Maafkan Aku, Istriku ....
__ADS_1