Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 58 Hancurnya Sebuah Hati


__ADS_3

Setelah mengantar istrinya Adi langsung menemui Daniel sahabatnya. Di sebuah cafe dekat restoran yang dikunjungi Shasha dan temannya masih satu kawasan dalam mall itu. Di cafe itu duduklah Daniel sambil mengirim pesan pada seseorang tapi belum mendapat balasan. Lalu mencoba menghubungi nomor tersebut tapi tetap sama tak ada jawaban. Sampai sahabatnya datang dan duduk disebelahnya.


" Lama menunggu " kata Adi setelah duduk.


" Baru saja " jawab Daniel.


" Ada apa ? ' tanya Adi.


" Sebentar aku pesan makanan dulu kamu mau pesen apa " kata Daniel sambil memanggil pelayan cafe.


" Seperti biasa saja " kata Adi sambil mengeluarkan bungkusan dari saku bajunya.


Adi menghisap batang nikotin itu lalu diikuti Daniel mengambilnya dan menyalakannya. Menghisap lalu membuangnya lewat lubang hidungnya. Sambil menunggu pesanan datang Daniel menceritakan kondisi keuangan usaha yang dulu dipegang oleh papanya. Ternyata papanya meninggalkan banyak hutang belum lagi beberapa armada yang masuk ke bengkel dan butuh biaya. Dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Daniel meminta bantuan pada sahabatnya itu.


" Mungkin aku bisa membantu separonya saja. Kalau sebanyak itu aku tidak punya " kata Adi sambil mematikan batang nikotin itu.


" Terimakasih sebelumnya " sahut Daniel.


" Sama-sama, kamu sering membantu kesulitan ku, sering menyusahkan mu. Sekarang saatnya aku membantumu " kata Adi menepuk bahu sahabatnya.


Daniel tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu. Lalu pesanan datang Adi mengambil pesanannya secangkir kopi hitam kemudian meneguknya. Daniel menyantap nasi goreng seafood dan disebelahnya ada segelas teh tawar hangat.


Selesai menyantap makanannya dan minum teh tawar Daniel mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Beberapa panggilan tak diangkat membuat Daniel gusar. Kemana anak itu sekarang menghilang begitu saja tanpa kabar berita, ponselnya pun susah dihubungi, keluh Daniel dalam hati.


Terdengar notifikasi masuk dari ponsel Adi. Adi mengambil ponsel dari saku bajunya dan melihatnya. Ternyata pesan dari istrinya bahwa ia ada di restoran di mall ini juga. Lalu Adi mengirim balasan agar istrinya menunggunya sebentar. Setelah itu Adi memasukkan kembali ponselnya ke saku bajunya.


Adi melihat sahabatnya sedang menghubungi seseorang tapi sepertinya sedang gelisah karena dari tadi tak terhubung juga. Lalu Adi menanyakan pada sahabatnya itu. Kemudian Daniel menceritakan pada Adi bahwa ia sedang menghubungi sepupunya tapi sampai sekarang tak ada jawaban. Adi menyarankan kepada Daniel untuk pergi ke tempat kerja sepupunya itu.


Setelah membayar pesanan Daniel bergegas menuju tempat kerja sepupunya seperti saran sahabatnya itu. Dan Adi bangkit berdiri hendak mencari istrinya yang sedang makan di restoran di dalam mall.


Sementara di restoran Dimas, Sekar dan Shasha menikmati makanannya. Kadang terselip obrolan ringan yang membuat ketiganya tertawa. Dimas sesekali mencuri pandang pada Shasha. Wajah cantik yang selalu hadir di setiap mimpinya kini duduk disebelahnya. Ada rasa membuncah yang memenuhi relung hatinya. Pikirannya berkelana ke masa depan duduk bersanding dengan pujaan hatinya. Dan secepatnya ia akan mengungkapkan perasaan yang telah lama ia pendam.


" Hei Dim, tau tidak kamu yang sekarang dengan yang dulu beda lho " kata Shasha.


" Tetep aja kali cakep " kata Dimas memuji diri sendiri.

__ADS_1


" Ih, kak Dimas mah kepedean " cibir Sekar.


" Yang sekarang lebih cakep " kata Shasha memuji.


Membuat perasaan Dimas melambung tinggi ke atas awan. Dia tidak menyangka dipuji oleh wanita cantik yang telah menawan hatinya itu.


" Kalau yang dulu " tanya Dimas penasaran.


" Cakep sih tapi masih cakep an tiang listrik " seru Shasha sambil tertawa lebar. Sekar pun ikut tertawa.


" Sialan kamu " umpat Dimas. Sesaat senyumnya melebar melihat tawa Shasha yang membuat hatinya menghangat.


Obrolan ringan disertai canda dan tawa membuat mereka tak menyadari kalau sudah menghabiskan waktu selama dua jam lamanya. Lalu Dimas membayar makanan yang telah mereka makan. Setelah ini mereka berniat jalan-jalan di sekitar mall.


Baru saja Dimas berbalik dan hendak mendekati Shasha dan adiknya. Sebuah suara membuat Dimas menghentikan langkahnya.


" Sayang ternyata kamu di sini " orang itu mendekat ke arah meja Shasha.


Deg.


Setelah mendengar panggilan yang tak asing lagi ditelinga nya Shasha pun menoleh. Benar ternyata itu suaminya, Shasha berdiri menghampiri suaminya dan mengandeng lengan suaminya. Lalu melangkah beriringan dan duduk di sebelah kiri Shasha. Di sebelah kanan Dimas dan adiknya Sekar.


Dimas diam sambil menatap orang yang baru datang itu. Ada hubungan apa orang itu dengan Shasha. Kenapa orang itu memanggil Shasha dengan sebutan ' sayang '. Sementara Sekar diam sambil memperhatikan ketiganya. Dan hal yang tak terduga membuatnya terlonjak kaget. Perkataan Shasha membuatnya tersenyum miris meratapi kekecewaan yang baru saja menorehkan luka di hatinya.


" Kenalkan ini suamiku " kata Shasha pada Dimas dan Sekar.


Byuur!! ucapannya membuatku terjun bebas ke dasar laut tanpa penghalang. Membuat angan ku untuk duduk bersanding dengannya lenyap seketika itu juga. Dan jangan ditanya hatiku saat ini yang benar-benar hancur.


" Dimas."


" P pak Adi "


Sahut Adi dan Dimas berbarengan. Adi terkejut ternyata teman istrinya adalah orang yang menggantikan Daniel ditempatnya bekerja. Dan Dimas lebih terkejut lagi karena suami Shasha orang yang baru dikenalnya ditempat kerjanya yang baru.


" Kalian sudah saling kenal " tanya Shasha melihat keduanya.

__ADS_1


" Iya sayang dia menggantikan Daniel yang waktu itu keluar " jelas Adi menggenggam tangan Shasha.


Adi tersenyum ke arah istrinya sementara Dimas melirik tangan Adi yang menggenggam erat tangan Shasha. Dimas tersenyum kecut melihat pemandangan yang menyakiti matanya itu. Shasha membalas senyuman suaminya.


" Kita pulang sekarang " kata Adi. Shasha mengangguk lalu beralih ke Dimas dan Sekar.


" Dim, aku pulang dulu ya " kata Shasha dan beralih pada Sekar.


" Sekar kalau masih kangen sama kakak suruh kak Dimas yang ngantar ke rumah kakak " kata Shasha tersenyum menatap gadis belia itu.


" Ya kak " sahut Sekar sambil melebarkan senyumnya.


Setelah berpamitan Adi dan Shasha melangkah bersama dengan tangan Adi melingkar di pinggang istrinya. Sementara Dimas menatap nanar pada dua orang yang telah menjauh dari hadapannya. Sampai bayangan keduanya menghilang diantara orang-orang yang berlalu-lalang di dalam mall itu.


" Kakak suka ya sama kak Shasha " tanya Sekar pada Dimas.


" Anak kecil sok tahu " jawab Dimas ketus.


" Hei kak biar pun aku anak kecil tapi aku dah mau SMA lho " kata Sekar tak terima dibilang anak kecil.


" Hah, sudahlah ayo pulang bikin pusing saja " seru Dimas bangkit berdiri meninggalkan adiknya.


" Yang pusing kan kakak aku nggak tuh " jawab Sekar santai.


Sekar melihat kakaknya berjalan menjauh membuat ia berteriak.


" Kak kakak jangan tinggalin Sekar " Sekar berlari mengejar Dimas.


Dimas yang berjalan di depan menutup telinganya dengan kedua tangannya.


**********


Gimana sampai di sini sudah nggak penasaran lagi kan tentang perasaan Shasha yang sesungguhnya. Kalau masih ragu ikuti terus ceritanya di Maafkan Aku, Istriku....


Terimakasih yang sudah memberi like dan komen, semoga author tambah semangat lagi nulisnya.

__ADS_1


♥️♥️♥️ selalu.


__ADS_2