
Sabtu pagi ini Adi bangun dari tidurnya dengan perasaan gembira karena sebentar lagi ia akan menemui istrinya. Tadi pagi Adi mendapat pesan singkat dari bi Ani art di rumah mertuanya. Mengatakan bahwa nona nya ingin makan siomay yang dijual disebelah minimarket dekat komplek perumahan mereka. Ah, itu mudah sekali tapi tunggu dulu jam segini mana sudah matang siomay nya. Harus menunggu agak siangan baru penjualnya datang. Baiklah bersiap-siap dulu lalu membeli pesanan istrinya, pikir Adi.
Dan di sinilah Adi berada sedang memesan tiga porsi siomay. Setelah menunggu beberapa saat pesanannya sudah datang lalu Adi membayarnya. Kembali melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
Beberapa saat sebelum Adi datang.
Pintu rumah Shasha diketuk dari luar bi Ani melihat siapa yang datang. Bi Ani membuka pintu buat tamunya.
" Eh, den Nathan silakan masuk " kata bi Ani ramah. Nathanael yang masih di depan pintu mengangguk pada bi Ani.
" Siapa bi " tanya Shasha menyembul dari belakang mengagetkan bi Ani.
Belum sempat bi Ani menjawab Shasha sudah berada di sebelah bi Ani.
" Kau rupanya ayo bantu aku " kata Shasha pada Nathanael.
Nathanael menatap bingung tapi mengikuti ibu hamil itu dari belakang. Bi Ani yang melihat melongo dibuatnya. Ah, tingkah nona nya pagi ini sungguh merepotkan. Pagi tadi menyuruh pak Udin untuk memindahkan pot-pot bunga di halaman belakang rumah. Lalu menyuruhnya membeli beberapa tanaman beserta pot nya sampai sekarang belum kembali.
" Ayo angkat pot-pot itu pindahin ke sana " tunjuk ibu hamil itu.
Nathanael hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dan pasrah saja menuruti perintah Shasha. Ternyata ibu hamil yang satu ini sungguh merepotkan, pikirnya. Mengangkat pot besar sesuai perintah ibu hamil itu lalu meletakkan ditempat yang ditunjuk. Huh! berat juga pot ini mau nggak mau Nathanael mengangkat pot besar yang berat itu. Kenapa ia terjebak dengan ibu hamil ini kata Nathanael dalam hati. Belum sempat ia mengatakan maksud kedatangannya ke rumah shasha. Sementara ibu hamil itu dengan santainya duduk sambil menikmati cemilan.
Beberapa saat kemudian selesai juga pot-pot itu dipindahkan. Peluh membasahi di wajah tampan Nathanael yang putih bersih itu. Selesai mencuci tangannya yang terkena tanah Nathanael pun duduk di sebelah ibu hamil yang tetap cantik itu.
" Capai ya " tanya Shasha.
" Pakai nanya lagi " sungut Nathanael. Shasha melihat Nathanael langsung tertawa.
__ADS_1
" Ada yang lucu " kata Nathanael mengerutkan dahinya.
" Ha ha ha... itu hidung kenapa mau nyaingin monas " seru Shasha masih tertawa.
Nathanael mengelap hidungnya yang masih ada sisa tanah dengan tangannya lalu menempelkan ke pipi Shasha.
" Ha ha ha..." tawa Nathanael puas.
" Kau sengaja ya " seru Shasha terkejut.
" Impas kan " kata Nathanael masih tertawa. " Tapi masih cantik kok " katanya lagi.
" Aish, kau ini ... eh sebentar aku panggilkan bibi dulu " kata Shasha mencari bi Ani.
Dari arah dalam rumah bi Ani membawa nampan berisi minuman dan cemilan lalu menaruh di meja. Lalu kembali lagi ke dapur melanjutkan memasak untuk makan siang. Pak Udin yang baru pulang dari membeli tanaman pesanan nona nya langsung menemui bi Ani.
" Aduh gimana ini soalnya non Shasha di belakang sama den Nathan " bi Ani nampak cemas.
" Wah, bisa ribut lagi ini gimana An " kata pak Udin ikutan cemas.
" Aku juga nggak tahu Din " bi Ani menengok ke pintu depan.
" Aku tadi yang bukain pintu gerbang terus ke sini. Sudah ya aku mau ke belakang dulu " kata pak Udin ngeloyor bersembunyi.
" Eh eh Din Udin ... yah pergi deh gimana ya bukain pintu tidak " bingung bi Ani.
Tok tok tok.
__ADS_1
Terdengar pintu diketuk dari luar.
Bi Ani menghela nafas dan membuangnya. Menghilangkan kecemasan di hatinya semoga tidak terjadi keributan di rumah ini. Pinta bi Ani sambil menadahkan tangannya dan mengusap wajahnya yang berkeringat dingin. Lalu melangkah kakinya membuka pintu.
" Selamat siang, bi " sapa Adi ramah.
" S siang den Adi silakan masuk " kata bi Ani gugup.
" Shasha ada bi " Adi melangkah masuk ke dalam.
Seperti biasa menuju meja makan dan menaruh bungkusan siomay pesanan istrinya. Bi Ani mengikuti melangkah ke meja makan.
" Non Shasha ya em eh a ada den " kata bi Ani.
" Bibi kenapa " Adi menoleh ke bi Ani.
" Eh nggak den sebentar bibi ambilkan minum dulu " sahut bi Ani lalu menuju dapur membuat minuman.
Ketika Adi hendak duduk terdengar samar suara tawa seseorang. Karena penasaran Adi mendekat ke arah suara itu yang arahnya dari halaman belakang.
***************
Sebenarnya mau dijadikan satu bab tapi segitu dulu ya.
Pengin tahu lanjutannya ikuti terus kisah Maafkan Aku, Istriku...
Jangan lupa like dan komennya ya serta vote nya.
__ADS_1
Terimakasih.