Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 61 Pasar Malam


__ADS_3

Sudah satu bulan lamanya sejak terakhir Dimas pergi bertiga bersama Shasha dan Sekar. Sejak saat itu pula dirinya tidak pernah bertemu dengan Shasha lagi. Hancur sudah impian masa depannya untuk bersanding dengan pujaan hatinya. Baru beberapa waktu yang lalu angannya dibawa melambung tinggi di awan. Begitu percaya diri bahwa impiannya akan menjadi nyata. Saat melihat kenyataan pujaan hatinya telah menikah dan parahnya lagi orang yang menjadi suaminya adalah teman kantornya. Yang beberapa waktu lalu menjadi teman kerja di tempat kerjanya yang baru. Dimas berusaha bersikap biasa saja bila bertemu Adi. Dimas berusaha untuk menyembunyikan luka hatinya di hadapan laki-laki itu yang berstatus sebagai suami Shasha.


Walau Dimas dapat menyembunyikan luka hatinya pada siapa pun juga tapi tidak bila ia sendirian. Sepulang kerja Dimas langsung masuk ke kamarnya. Dia akan keluar kamar ketika cacing diperutnya sudah mulai protes. Dan itu dilakukannya saat hari menjelang larut malam. Setelah adik dan neneknya mengarungi mimpi. Neneknya pun tidak dapat membujuk Dimas. Hanya Dimas sendirilah yang dapat mengatasi permasalahannya sendiri. Mungkin dengan menyendiri di kamar dapat menjernihkan pikirannya yang sedang kacau. Seperti saat ini Dimas sedang memandangi wajah cantik Shasha di layar ponselnya. Entah berapa lama ia termenung di kamarnya yang tak begitu luas ini. Kamarnya adalah tempat favoritnya di kala hatinya sedang tidak baik-baik saja. Beberapa saat berpikir ia tidak mungkin seperti ini terpuruk dalam kesedihan. Masih ada nenek dan Sekar yang menjadi tanggungjawabnya sekarang. Dan janjinya pada orangtuanya untuk menjaga nenek serta adiknya tak mungkin ia abaikan. Akhirnya Dimas bangkit dari duduknya masuk ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri dan berganti baju Dimas mengambil kunci mobilnya. Lalu keluar dari kamarnya melewati ruang tengah disana adiknya sedang nonton tv.


Sekar melihat kakaknya keluar kamar ia merasa lega karena kakaknya sudah mau keluar kamar. Itu tandanya suasana hati kakaknya sudah lebih baik dari hari kemarin. Sekar pun tak berani mendekat ke kamar kakaknya karena takut dimarahi. Meski mereka kakak beradik tapi Sekar tidak begitu akrab dengan kakaknya. Sekar lebih dekat dengan ayah dan ibunya mungkin karena ia anak bungsu jadi sangat manja. Tapi sejak tinggal bersama kakaknya ia tidak bisa bermanja-manja dengan kakaknya meski segala kebutuhannya terpenuhi. Dimas orangnya cuek meski terhadap adiknya sekalipun, tapi baik hati dan perhatian pada keluarga.


" Mau ikut " tanya Dimas pada adiknya.


Sekar seolah tak percaya dengan pendengarannya. Sekar menatap kakaknya heran.


" Kakak mengajak Sekar kemana " sahut Sekar.


" Mau ikut tidak " tanya Dimas lagi.


" Ya kak " sahut Sekar tersenyum girang.


Lalu Sekar berlari ke kamarnya.

__ADS_1


Jarang sekali kakaknya mengajaknya pergi. Apalagi merengek meminta sesuatu yang ada dimarahi dan nasihatnya melebihi panjangnya gerbong kereta api.


Setelah berganti baju dan berpamitan pada neneknya Sekar masuk ke mobil. Dimas menjalankan mobilnya keluar dari rumahnya menuju jalan raya yang mulai dipadati oleh mobil. Dimas melajukan mobilnya berkeliling kota. Saat ini suasana hatinya sedikit lebih baik. Ia berusaha untuk mengikhlaskan Shasha dimiliki oleh orang lain. Tapi untuk melupakannya masih terasa berat bagi Dimas.


Saat mobil melintasi pasar malam mata Sekar berbinar. Sekar hanya bisa menatap dari balik kaca mobil. Ia tak berani meminta kakaknya untuk menghentikan mobil. Dimas melirik adiknya lalu berputar arah dan kembali ke tempat pasar malam itu berada.


Setelah memarkirkan mobilnya Dimas mengajak adiknya untuk turun dan melangkah bersama ke pasar malam. Dimas melingkarkan tangannya ke pundak adiknya. Sekar menatap kakaknya tanpa berkedip baru pertama kalinya ia sedekat ini dengan kakaknya. Perubahan dari kakaknya membuat ia merasa senang. Tanpa terasa bulir bening menetes di kedua matanya. Secepatnya ia hapus dengan ujung jarinya sebelum kakaknya mengetahui.


" Kakak " lirih suara Sekar. Dimas menoleh.


Dimas tersenyum mungkin selama ini ia mengabaikan adiknya. Dimas memang jarang sekali berbicara dengan adiknya. Apa yang adiknya mau dan inginkan Dimas seolah tak peduli. Dimas hanya peduli pada kebutuhan adiknya setiap bulannya. Selama di kota ini Dimas hanya peduli pada perasaannya dan mengejar cintanya. Mungkin saat ini Dimas hendak menebus kesalahannya dengan mengajak adiknya jalan-jalan. Karena selama di sini adiknya hanya diam di rumah bersama neneknya.


Dimas mengajak adiknya masuk ke arena pasar malam. Berbagai permainan ada di sana. Seperti misalnya komedi putar, bianglala, ombak banyu dan masih banyak wahana lain yang tentunya ramai peminatnya. Ada juga pedagang yang menjual pernak - pernik khas daerah. Juga pedagang makanan dan minuman ada di sana. Setelah mencoba berbagai macam wahana yang ada di pasar malam itu akhirnya Dimas dan Sekar terduduk karena kelelahan.


Dimas bisa melupakan sejenak kesedihan di hatinya. Dia juga merasa senang melihat adiknya begitu menikmati hampir semua wahana di pasar malam ini. Sampai akhirnya terdengar bunyi suara kriuk-kriuk di perut keduanya. Dimas dan Sekar tertawa.


Dimas bangkit berdiri diikuti adiknya lalu mencari makanan untuk mengisi perutnya yang lapar. Keduanya masuk di sebuah kedai mie ayam lalu memesan dua mangkok mie ayam dan dua es teh. Setelah pesanannya datang keduanya menyantap makanan tersebut.

__ADS_1


Saat sedang menikmati makanannya tanpa sengaja Dimas melihat sepasang suami istri yang tidak ingin ia lihat untuk saat ini. Tatapannya nanar pada sepasang suami istri itu. Apalagi saat si lelaki menyuapi wanita nya membuat sesak di dadanya. Dimas secepatnya memalingkan mukanya menahan gejolak yang tiba-tiba datang menerpa hatinya.


Dimas menunggu adiknya selesai menyantap makanannya. Sementara Dimas sudah tidak berselera lagi. Mie ayam yang enak dan es teh yang menyegarkan tenggorokan terasa pahit di lidahnya. Setelah membayar pesanannya Dimas mengajak adiknya bergegas meninggalkan kedai mie ayam itu.


*******************


Segitu dulu ya karena saat ini author sedang tidak enak badan. Semoga secepatnya bisa melanjutkan ceritanya lagi.


Terimakasih.


Visual Dimas



Visual Sekar


__ADS_1


__ADS_2