
Semenjak mertuanya ke kampung setiap pagi sebelum berangkat kerja dan sore sepulang kerja Shasha lah yang menyediakan sarapan buat Adi.
Di kampung mertua Shasha pamit cuma beberapa minggu saja tapi ternyata sejak di bantu bu Rina usaha pamannya Adi maju pesat. Pamannya itu meminta bu Rina untuk tinggal lebih lama di sana.
Setelah berangkat kerja tinggal Shasha sendirian di rumah. Kadang ia main ke rumah mamanya yang berjarak beberapa blok dari rumah suaminya.
Kalau lagi malas hanya duduk di ruang tengah sambil nonton tv saja. Sebenarnya bukan nonton tv ia hanya asyik dengan ponselnya. Entah berapa lama itu sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Bukannya tak ingin bekerja tapi karena
Adi suaminya tak mengijinkannya bekerja.
Seperti sekarang ini ia asyik dengan benda persegi di tangannya. Melihat sebuah aplikasi di ponselnya cara memasak, ya ia belajar dari situ.
Meski tak seenak masakan mertuanya paling tidak ia sudah bisa masak beberapa masakan favorit suaminya. Lagi asyik dengan ponselnya tiba-tiba benda persegi di tangannya bergetar.
Tut...
Tut...
Tut...
Terdengar nada panggil di sana. Shasha pun menempelkan benda persegi itu di telinganya. Siapa siang-siang begini menelponnya, apa suaminya.
Dilihatnya jam dinding di rumahnya menunjuk angka 11 masih satu jam lagi waktu istirahat. Masih menebak-nebak tentang siapa yang menelpon karena nomor itu tak dikenalnya, lalu dijawab juga oleh Shasha.
" Halo..."
"Shasha..." pekik suara dari seberang sana.
__ADS_1
"Dini... benarkan Dini" suara Shasha mereka-reka.
Shasha menebak suara diujung sana milik sahabatnya Dini. Sahabatnya yang suka heboh dengan hal-hal kecil dibuatnya besar seperti mamanya.
"Aku Dini sahabatmu" seru suara dari seberang sana.
" Shasha..." teriaknya lagi. Shasha menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Setelah tak terdengar lalu ditempelkan ke telinganya.
" Ya aku dengar..." sungut Shasha kesal. " Masih ingat aku..." tanyanya.
" Ngapain kamu selama ini" bukannya dijawab malah balik tanya.
Dih segitunya, lalu Dini menceritakan tiba-tiba dirinya harus pulang ke kota B tempat ia dilahirkan sehari setelah acara perpisahan di sekolahnya dulu. Ayah Dini yang terbaring sakit di rumah sakit.
Bundanya menyuruh anaknya pulang melanjutkan usaha keluarga. Sambil menemani bundanya yang sendirian merawat ayahnya.
Kakaknya Reno menolak pulang beralasan sibuk kuliah. Walau itu hanya alasan yang tak masuk akal menurut bundanya. Kuliahnya sudah selesai dan sudah bekerja di kota Y. Karena sesuatu hal menyebabkan hubungan ayah dan kakaknya renggang. Berkali-kali bundanya menghubungi Reno kakaknya tapi jawabannya selalu sibuk, sibuk dan sibuk. Akhirnya bundanya menyerah. Lalu memanggil Dini untuk pulang.
Setelah berbincang lama akhirnya Dini mengutarakan akan tinggal di kota ini. Hampir tak percaya Shasha dengan apa yang barusan ia dengar.
" Beneran Din kamu mau balik lagi ke sini?" senang Shasha mendengarnya. Sampai ia melompat kegirangan.
" Iya combro."
Shasha pun tertawa juga diseberang sana ada tawa dari sahabatnya. Akhirnya percakapan itu pun selesai. Shasha menutup layar ponselnya yang berwarna merah. Dan membayangkan kembali kehebohan sahabatnya dulu semasa sekolah.
***********************
__ADS_1
Di tempat lain di jam istirahat siang dua laki-laki dengan tinggi hampir sama. Kulit sawo matang mata teduh satunya lagi kulit putih bersih mata sipit berjalan santai menuju cafe sebelah.
Keduanya duduk di sudut ruangan menanti pesanan datang. Untung baru beberapa orang yang datang sebentar lagi penuh orang-orang dari kantor sebelah datang menikmati jam makan siang.
Sedetik kemudian dari arah depan cafe masuklah seorang gadis cantik tubuh semampai matanya bersinar terang.
Seorang gadis berambut panjang sebahu berlesung pipit nampak berjalan santai memasuki ruangan. Mencari sesuatu atau mungkin seseorang di sana.
Dia belum datang, ia mengitari pandangannya sudah penuh semua. Tapi yang dia cari belum juga ketemu. Dari jauh seseorang melambaikan tangan ke arahnya, ia pun tersenyum lalu mendekatinya.
" Yo....," senyumnya merekah. Seseorang yang melambaikan tangannya tadi Adi dan seorang lagi di sebelahnya Daniel sahabatnya.
" Ingat istri di rumah" celetuk Daniel mengingatkan sahabatnya.
" Lupa dikit gak papa kan" tersenyum Adi penuh misteri.
Daniel berdecak sebal melihat tingkah sahabatnya itu. Peringatannya tak berarti apa-apa untuk Adi. Awas saja kalau minta bantuannya lagi bikin repot saja, gerutu Daniel dalam hati. Setelah dekat wanita berlesung pipit itu duduk di samping Adi. Dekat teramat dekat malah menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum yang mematahkan kesetiaan Adi pada Shasha istrinya. Lama keduanya saling pandang melepas rindu yang tak bisa diungkapkan dengan kata- kata.
"Ah sudahlah" Daniel berniat pergi dari situ.
" Hai mau kemana kau" seru Adi menoleh pada sahabatnya.
" Di sini jadi obat nyamuk saja" seru Daniel melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Daniel melangkah pergi sambil ngedumel akan kelakuan sahabatnya yang belum berubah. Gimana kalau Shasha tahu.
Dih, ngapain aku mikirin si Adi geblek itu, batin Daniel lagi. Ngapain juga tadi aku ikut dia makan di cafe itu hanya memamerkan kemesraan mereka berdua.
__ADS_1
Ada rasa yang menghimpit di dalam sana. Sakit rasanya di dada. Hei.. hei..hei... ada apa dengan dirimu Daniel. Ah sudahlah lebih baik pergi ke kantin kantor saja. Karena tadi belum sempat makan pesanannya ia keburu pergi.
Sabar Daniel sabar, sungutnya lagi. Dan melangkah menuju kantin kantornya memesan makanan dan menikmatinya sendirian.