
Setelah tidur cukup lama Nathanael pun terbangun karena bunyi ponselnya berdering. Ternyata hanya pesan masuk dari bosnya, Dini. Mengingatkannya untuk secepatnya ke rumah sakit. Barulah Nathanael tersadar bahwa sore ini Shasha akan pulang dan dia yang akan mengantar. Akhirnya Nathanael bersiap menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Nathanael bergegas menuju ruangan Shasha. Di sana hanya ada Shasha sementara Dini sedang menyelesaikan urusan administrasi. Setelah semuanya beres mereka bertiga menuju tempat parkir. Dini mendorong kursi roda yang diduduki Shasha ke tempat parkir. Sementara Nathanael lebih dulu ke tempat parkir mengambil mobilnya. Melajukan mobilnya pelan ke depan pintu rumah sakit. Di sana Dini dan Shasha sudah menunggu.
Setelah membuka pintu untuk Dini dan Shasha lalu Nathanael melajukan mobilnya ke rumah orang tua Shasha. Beberapa saat kemudian tibalah mobil Nathanael ke rumah orang tua Shasha. Rumah orang tua Shasha lebih bagus dari rumah Adi. Rumah tingkat dua itu lebih besar dan luas tapi hanya dihuni oleh dua art saja. Orang tua Shasha jarang ada di rumah karena mengurusi bisnisnya. Dan Shasha sendiri tinggal bersama Adi.
Kini Shasha kembali ke rumah tempat ia dibesarkan. Ada rasa haru menyelimuti hatinya ketika kenangan masa kecilnya berlalu-lalang di ingatannya. Tak terasa matanya berkaca-kaca mengenang masa kecilnya dulu. Tepukan lembut di lengannya menyadarkannya lalu Shasha keluar dari mobil dibantu Dini. Nathanael mengikutinya dari belakang.
Bi Ani bergegas membuka pintu ketika terdengar bel rumah berbunyi. Karena sudah diberitahu sebelumnya bahwa nona nya akan datang. Lalu bi Ani menyilakan nona nya masuk dan Dini yang sudah dikenalnya sebagai sahabat anak majikannya itu. Serta Nathanael menyusul kemudian ketiganya duduk di ruang tamu.
Bi Ani nampak terkejut melihat Nathanael yang mengantar nona nya. Kenapa tidak den Adi ya yang ngantar non Shasha. Dan siapa laki-laki itu sebenarnya, batin bi Ani bertanya-tanya. Lalu bi Ani ke dapur untuk mengambilkan air minum serta cemilan buat tamu nona nya.
Ketiganya berbincang hingga makan malam tiba. Lalu Shasha mengajak Dini dan Nathanael untuk makan malam. Selesai makan malam Nathanael pamit pulang sementara Dini menginap di rumah Shasha.
Lalu kedua wanita cantik ini menuju lantai dua karena tempat tidur Shasha ada di sana. Kamar Shasha sudah dibersihkan oleh bi Ani tampak masih sama seperti ketika ia terakhir meninggalkannya dan pergi ke tempat suaminya. Shasha naik ke ranjang bersandar pada kepala ranjang. Menikmati empuknya ranjang di kamarnya yang telah lama ia tinggalkan.
__ADS_1
" Dah malam nggak tidur " kata Dini menyusul Shasha naik ke ranjang.
" Belum ngantuk " sahut Shasha.
" Kamu nggak ngerasain sesuatu " kata Dini.
" Apaan " kata Shasha tak mengerti.
" Beneran nih nggak ngerasa gitu " kata Dini melihat sahabatnya. Shasha menggelengkan kepalanya.
" Ngaco kamu Din " kata Shasha.
" Ini tuh beneran " kata Dini.
" Dia itu sahabatku sejak dulu sama seperti kamu " kata Shasha.
__ADS_1
" Mungkin kamu menganggap dia sahabat tapi apakah ia juga menganggap mu sahabat. Dari sikapnya yang beberapa hari ini terhadapmu itu saja sudah menunjukkan dia sangat peduli padamu. Dari cara dia menatapmu bukan seperti seorang sahabat tapi lebih dari itu " kata Dini membuat Shasha terkejut.
Shasha menatap sahabatnya perkataan Dini barusan membuat Shasha sejenak berpikir. Benarkah apa yang dikatakan Dini tentang Nathanael. Apakah Nathanael menyukai dirinya lebih dari sahabat. Kenapa ia tidak tahu dari awal dan kenapa Dini yang beberapa waktu ketemu sudah bisa menebaknya.
Ah, Shasha kenapa kamu tidak peka sih. Atau karena kamu nggak peduli. Ya, karena selama ini hati dan pikiranmu hanya tertuju pada satu nama yaitu Adi tidak ada yang lainnya.
" Tidak usah dipikirkan sudah malam ayo tidur " kata Dini.
Dini merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya sedetik kemudian sudah terlelap. Lalu Shasha menyusul sahabatnya untuk tidur.
Sementara di tempat lain di sebuah kamar Adi mencoba untuk tidur tapi tak kunjung matanya terpejam. Ia membalikkan badannya untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tapi sampai larut malam matanya enggan terpejam. Biasanya ada Shasha istrinya yang menemaninya tidur. Adi menatap ke samping tempat istrinya biasanya tertidur. Membayangkan wajah istrinya yang tersenyum manis dan semua yang ada pada istrinya membuat ia merindukannya. Merasakan saat ia memeluk tubuh mungil istrinya yang memberinya kehangatan. Semua yang diberikan oleh istrinya tanpa penolakan. Semua itu berputar memenuhi pikirannya saat ini. Hingga hampir dini hari barulah Adi terpejam dan tidur.
*************
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya ya.
__ADS_1
Terimakasih.