
Hari ini sepasang suami-istri itu berada di kamar nya. Adi masih membujuk ibu hamil di sebelah nya untuk tidak pergi ke pernikahan sahabatnya.
" Sayang tidak usah datang ya " Adi bicara pelan agar tidak menyinggung ibu hamil yang moodnya naik turun ini.
" Aku ingin datang di hari penting sahabatku ini mas " kekeh Shasha.
" Tapi sayang harus jaga kesehatan juga ini tidak baik bagi ibu hamil seperti mu " jelas Adi.
" Tapi mas ... " Shasha berusaha kekeh dan tetap ingin datang di pernikahan sahabatnya.
" Tidak sayang mas tidak ijinkan nanti di sana pasti lama dan sayang bisa kelelahan " Adi memberi alasan pada istrinya.
Ibu hamil itu merajuk.
" Sayang " ibu hamil itu diam seperti nya marah.
Ups, Adi mengusap pangkal hidungnya. Ia memijat dahinya berpikir mencari cara agar istrinya bisa dibujuk dan tidak marah lagi.
Adi mengusap lembut punggung tangan istrinya.
" Sayang, mas akan mengutus seseorang ke sana dan sayang bisa lihat dari sini secara langsung gimana " Adi menatap Shasha berharap istrinya itu setuju dengan ide nya.
Shasha masih diam sedetik kemudian menatap wajah suaminya.
" Iya mas " Shasha mengangguk setuju.
Adi menghela nafas lega.
" Sebentar ya sayang " Adi beranjak mengambil ponselnya.
Adi menghubungi seseorang beberapa saat sambungan telepon pun tersambung. Adi berbicara dengan orang itu tidak lama kemudian Adi menutup ponselnya.
" Tunggu sebentar ya sayang " Adi mengecup kening istrinya lalu keluar menuju ruang kerjanya.
Shasha menatap suaminya yang keluar dari kamar. Tidak berapa lama Adi kembali ke kamarnya sambil membawa laptop nya.
Beberapa saat ada pesan masuk dari seseorang. Lalu Adi menyalakan laptopnya yang sudah tersambung dengan ponsel orang yang diutus Adi.
Shasha melihat sahabatnya dan Dimas berdiri di depan altar. Shasha menyaksikan sahabatnya menikah meski tidak secara langsung. Shasha terharu dan bahagia melihat sahabatnya tersenyum bahagia.
Selamat ya Din semoga Dimas bisa membahagiakan mu, gumam Shasha. Kini Dini dan kekasihnya telah resmi menjadi sepasang suami-istri.
Shasha telah selesai melihat pernikahan sahabatnya. Layar laptop pun telah dimatikan tapi ibu hamil itu sedang menangis sesenggukan. Membuat Adi yang duduk di samping istrinya itu mengeryit heran.
" Sayang ada apa " Adi menyeka air bening yang menetes di kedua pipi istrinya.
Adi sedikit khawatir melihat istrinya menangis. Adi menyingkirkan laptop ke meja dekat ranjang. Adi meraih tubuh istrinya lalu membawanya dalam dekapannya. Setelah istrinya tenang Adi mengurai pelukannya. Adi menatap istrinya seolah bertanya mengapa istrinya itu menangis. Shasha lalu tersenyum sambil menghapus sisa air matanya yang menetes.
" Aku terharu mas sekaligus bahagia melihat sahabatku kini tidak jomblo lagi. Dia menikah dengan orang yang dicintai dan mencintai dirinya " Shasha bicara sambil tersenyum bahagia.
Adi menatap lekat istrinya, ia merasa tersindir dengan ucapan istrinya. Maafkan mas ya sayang mas tidak peka sehingga tidak bisa melihat betapa besar cinta mu dulu pada mas. Sampai sekarang pun cinta mu tetap untuk mas. Maafkan mas ya sayang, gumam Adi.
Adi mengusap pipi istrinya dengan punggung tangannya. Menyelipkan anakan rambut ke belakang telinga istrinya. Adi mengecup kening istrinya dan memeluk erat istrinya.
Kini sepasang suami-istri itu sedang menanti kelahiran anak kedua mereka. Shasha sudah dibawa masuk ke ruang operasi. Sebelumnya Adi menghubungi dokter Laras tetapi temannya itu sedang menangani pasien yang berada di ruang operasi.
__ADS_1
Dengan terpaksa Adi mengijinkan dokter Steve yang akan menangani istrinya.
Semua keluarga tengah berkumpul di depan ruang operasi. Adi tidak bisa tenang sedari tadi ia hanya mondar-mandir seperti setrikaan.
Ya meski ini merupakan kelahiran anak keduanya tapi saat ini adalah hal pertama yang dialami oleh Adi. Yaitu menunggu istrinya melahirkan ternyata menegangkan sekali.
Adi sangat khawatir dan gugup membuat ia tidak sabar. Sesekali Adi melirik pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Dan sudah berungkali Adi menghela nafasnya berusaha tenang namun tidak bisa.
Ibu Rina menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya itu. Sudah mau punya anak dua tapi tingkahnya masih seperti anak kecil, gumam ibu Rina.
Untung saja Zane tidak ikut bisa heboh anak itu ribut pengin minta gendong papanya. Sementara papanya saja lagi kacau begitu. Ibu Rina mendekati anaknya lalu menuntun Adi untuk duduk.
Ibu Rina mengusap punggung Adi memberi kenyamanan pada anak lelaki nya. Sedetik kemudian lelaki berkulit sawo matang itu mulai tenang. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. Ibu Rina mengerti apa yang dirasakan anaknya ia menggenggam tangan Adi memberi kekuatan pada anak lelaki nya.
Setelah menunggu beberapa saat pintu ruang operasi itu terbuka. Dokter tampan itu keluar dan menanyakan keluarga pasien.
" Suami dari ibu Shasha " dokter tampan itu menengok ke arah Adi.
Adi bangkit bergegas mendekat.
" Iya dokter " sahut Adi pelan.
" Selamat pak Adi atas kelahiran putranya " dokter tampan itu menyalami tangan Adi.
Adi merasa terkejut dan senang lalu membalas menyalami dokter tampan itu. Adi sampai lupa kalau ia memegang tangan dokter tampan itu erat sekali.
" Terimakasih kasih dokter " Adi tersenyum bahagia.
" Eh iya pak Adi tapi tangan saya " tunjuk dokter tampan itu pada tangan nya yang di pegang erat oleh papa Zane.
Dokter Steve hanya tersenyum saja.
" Lalu gimana dengan istri saya dokter " tanya Adi.
" Tidak usah khawatir istri anda sehat dan sekarang masih di ruang pemulihan. Sebentar lagi akan dipindah ke ruang perawatan. Putra anda juga sehat dan tampan seperti anda " puji dokter tampan itu lagi.
Dokter Steve pamit undur diri untuk memeriksa pasien yang lain.
Shasha sudah sadar dan berada di ruang perawatan. Shasha dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dirinya. Ada papa Sam, mama Santi, Andrew, ibu Rina dan suami tercinta Adi. Semua yang hadir mengucapkan selamat pada Shasha.
" Selamat ya sayang " mama Santi memeluk putri kecilnya yang kini sudah menjadi ibu dari dua orang anak yang cantik dan tampan.
Papa Sam memilih mendekati box bayi dan melihat bayi tampan yang tertidur pulas.
" Oh cucu opa yang tampannya seperti opa " papa Sam menatap gemas bayi laki-laki dalam box itu.
" Ck, Sam Sam emang ya narsisnya nggak berubah dari dulu " ejek bu Rina.
Papa Sam hanya tertawa tanpa suara. Lalu kembali melihat cucu tampan nya itu. Papa Sam mengangkat cucu yang baru dilahirkan oleh putrinya beberapa jam yang lalu. Papa Sam menggendong cucunya itu lalu mendekat ke arah mama Santi.
" Lihatlah ma cucu kita tampan sekali " ucap papa Sam.
Mama Santi melihat cucunya yang berada dalam pangkuan suaminya.
" Iya pa cucu kita tampan kalau dipikir-pikir tampannya mirip papa " mama Santi membenarkan ucapan suaminya.
__ADS_1
Andrew pun merasa penasaran lalu ikut mendekati keponakan nya. Ya keponakannya itu memang sangatlah tampan dan wajahnya mirip Shasha. Secara tidak langsung mirip dengan papa Sam. Sedang kulitnya persis sama seperti Adi.
Ibu Rina yang sekilas melihat cucunya membenarkan ucapan mama Santi dan papa Sam. Sementara Adi yang duduk di sebelah istrinya hanya mendengarkan perdebatan kecil antara ibunya dan mertuanya.
Adi memilih menatap Shasha dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasa bahagia melingkupi keduanya. Kebahagiaan Adi dan Shasha telah sempurna, keduanya sudah memiliki si cantik Zane. Dan sekarang ditambah bayi tampan yang baru dilahirkan oleh istrinya itu.
Papa Sam mendekati sepasang suami-istri yang sedang berbahagia itu. Demikian juga mama Santi mendekati Shasha yang bersandar pada bad rumah sakit.
" Sayang apa sudah ada nama untuk cucu mama yang tampan ini " mama Santi membelai lembut rambut Shasha.
Shasha menatap mamanya lalu beralih ke suaminya.
" Gimana mas " Shasha menepuk pelan punggung tangan suaminya.
" Sudah sayang mas sudah punya nama untuk adiknya Zane. Putri kita yang pertama yaitu Zaneta yang merupakan hadiah dari Tuhan buat kita. Dan sekarang Tuhan memberi kebahagiaan yang lengkap dengan adanya bayi tampan ini. Kalau mas memberinya nama Mateo apakah sayang setuju. Mateo artinya hadiah dari Tuhan. Jadi Zaneta dan Mateo merupakan hadiah terindah yang Tuhan berikan untuk kita sayang " Adi mengecup punggung tangan dan kening istrinya.
" Iya mas aku setuju dengan nama Mateo " Shasha tersenyum bahagia.
Batita cantik itu berlari mencari ruang rawat mamanya. Ia tidak menghiraukan teriakan suster Anna yang mencegah nya untuk berlari. Zane masuk ke ruang rawat mamanya lalu meminta gendong nenek nya. Zane merengek ingin duduk di ranjang dekat mamanya dan ingin melihat adiknya.
" Zane sini sama papa " Adi mengulurkan tangannya meraih tubuh mungil putrinya.
" Dedek ... dedek ... atu mau dedek " rengek Zane.
" Iya sayang dedeknya sama opa Sam " jelas papa.
Batita cantik itu menoleh ke arah papa Sam bertepatan dengan masuknya suster Anna ke ruang rawat Shasha.
" Maaf tadi Zane merengek minta diantar ke sini pak " suster Anna bicara sambil menunduk.
Suster Anna merasa takut dan gugup kalau nanti ia bakal dimarahi oleh pak Adi. Ibu Rina melangkah mendekati suster Anna.
" Tidak apa-apa mbak mungkin Zane kangen sama mama dan papanya " suster Anna mendongak.
Melihat ibu Rina tersenyum suster Anna bernafas lega.
Sekarang semua orang berkumpul di ruang rawat Shasha semua tersenyum bahagia menyambut baby Mateo. Terlebih lagi Adi dan Shasha yang diliputi kebahagiaan. Adi tak hentinya menggenggam tangan istrinya lalu mencium penuh kasih tangan istrinya.
Sedang Zane duduk di ranjang ikut menggenggam tangan mamanya. Baby Mateo ada dalam pangkuan papa Sam. Akhirnya ...semua orang yang ada di ruang rawat Shasha menyambut kehadiran penghuni baru di keluarga mereka dengan sukacita.
TAMAT
*************
Sudah tamat ya karya ku yang satu ini.
Semoga suka dengan ceritanya.
Mohon maaf bila tidak bisa memenuhi keinginan kalian semua. 🙏🙏🙏
Terimakasih atas dukungan like, komen dan vote nya.
Sekali lagi author ucapkan terimakasih ...
Shaloom ...❤️❤️❤️
__ADS_1