
Daniel melajukan motornya menuju tempat kerja sepupunya kafe Dini. Setelah sampai di kafe Dini, Daniel memarkirkan motornya. Lalu langsung masuk ke dalam menanyakan pada pegawai di sana. Pegawai tersebut mengatakan bahwa Nathanael sudah lama tidak bekerja di kafe Dini. Daniel tampak kecewa setelah mengucapkan terimakasih pada pegawai tersebut Daniel keluar dari kafe.
Ketika hendak mengambil motornya Daniel melihat seseorang yang dikenalnya memasuki kafe itu. Lalu Daniel berbalik dan menghampiri orang itu. Daniel mengedarkan pandangannya mencari orang tadi. Orang yang dicari Daniel itu sedang menikmati capuccino pesanannya. Daniel melangkah menuju meja orang tadi dan duduk disebelahnya.
" Steve " Daniel menyapa.
Ya, orang itu adalah Steve, Daniel mengenalnya karena Steve teman dekat sepupunya. Steve menoleh dan terkejut setelah tahu siapa yang memanggil namanya.
" Eh, kak Daniel ada apa mencari ku " tanya Steve.
Steve menebak kalau Daniel saat ini sedang mencari sepupunya itu. Steve hanya diam lalu minum cappuccino pesanannya sambil menunggu Daniel bicara. Dia agak gugup duduk dekat Daniel, si jomblo yang irit bicara itu. Meski pembawaan Daniel tenang tapi dia orangnya tegas.
" Dimana Xander " tanya Daniel.
Di kalangan teman dan sahabatnya Nathanael dipanggil dengan sebutan Xander. Kepanjangan dari nama ayahnya Alexander. Hanya dengan menyebut nama ayahnya orang akan segan pada Nathanael. Pengusaha kaya setara dengan papa Sam. Tapi tidak dengan Nathanael, ia ingin dikenal oleh teman-temannya sebagai Nathanael saja tanpa embel-embel nama besar ayahnya dibelakang namanya. Ok, sedikit saja cerita tentang Nathanael besuk dilanjut lagi. Kembali pada Daniel dan Steve.
" T tidak tahu " sahut Steve gugup.
" Dari nada bicaramu, kamu pasti tahu dimana Xander kini berada " kata Daniel menatap tajam ke arah Steve.
Steve diam tampak berpikir dan menimbang-nimbang apakah akan memberitahu Daniel atau tidak tentang keberadaan sahabatnya itu. Karena Nathanael sudah berpesan padanya untuk tidak mengatakan di mana dia sekarang.
" Gimana " tanya Daniel.
Steve menghela nafas perlahan sesaat kemudian.
" Kenapa kak Daniel mencarinya bukannya Xander ada di tempat kakak " kata Steve.
" Kalau dia ada di tempatku, aku tidak akan mencarinya " seru Daniel melirik tajam ke Steve.
Steve mengusap tengkuknya yang tidak gatal menghilangkan kegugupannya. Kenapa dia begitu menyeramkan, batin Steve bergidik ngeri.
" Dimana Xander ? " tanya Daniel lagi.
Setelah beberapa saat diam.
" Baiklah, datanglah di restoran xx dia ada di sana " kata Steve akhirnya.
" Terimakasih " Daniel bangkit dari duduknya dan berlalu dari kafe Dini.
Daniel telah sampai di restoran yang ditunjukkan oleh Steve. Lumayan ramai juga restoran ini, pikir Daniel. Meski restoran ini terbilang baru tapi banyak peminatnya terutama di kalangan anak muda. Apalagi saat ini Sabtu malam minggu. Masih sore tapi sudah ramai apalagi kalau malam hari. Mungkin lebih banyak pengunjungnya lagi. Daniel teringat sesuatu lalu mencari seseorang yang pastinya sangat ia kenal. Karena setahu Daniel ini adalah restoran milik Leo teman Steve dan sepupunya.
Saat itu Leo sedang berbicara dengan salah satu pegawai. Ketika ia hendak ke ruangannya sekilas melihat Daniel yang berjalan ke arahnya. Leo menghampiri Daniel dan keduanya duduk saling berhadapan.
" Kak Daniel apa kabar " kata Leo basa-basi.
" Kabarku baik, kamu tahu dimana Xander " tanya Daniel.
__ADS_1
Leo menatap Daniel lalu beralih ke ponsel yang ada dibalik saku bajunya. Ada notifikasi masuk sebuah pesan dari Steve. Setelah membacanya tanpa membalas Leo tahu Daniel ke sini karena diberitahu oleh Steve. Lalu Leo mengajak Daniel ke sebuah ruangan di dalam restoran itu. Leo masuk terlebih dulu diikuti Daniel dibelakangnya.
" Xander " kata Leo pelan.
" Ada apa " tanya Nathanael tanpa menoleh ke asal suara.
Nathanael tahu hanya orang terdekat dan sahabatnya yang memanggilnya seperti itu. Lelaki itu masih menatap berkas-berkas di atas mejanya. Lama tidak ada suara dari Leo, ia menoleh ke arah pintu. Lalu meletakkan kertas itu di atas meja menatap Leo beralih ke sepupunya.
" Tinggalkan kami berdua, Leo " katanya lagi.
Leo pergi dari ruangan teman sekaligus sahabatnya itu.
Setelah Leo pergi Daniel duduk didepan sepupunya itu berbatas meja kerja. Daniel mengitari pandangannya di ruangan sepupunya itu. Ruangan yang tak begitu luas hanya ada meja, kursi, sebuah sofa dan lemari pendingin. Tak ada lukisan atau pigura yang menempel di dinding. Ruangan itu bercat hitam dan putih. Dan di meja ada sebuah laptop dan pigura kecil. Daniel mengambil pigura kecil di atas meja sebuah foto Shasha di dalamnya sedang tersenyum. Lalu meletakkan kembali ke meja.
" Kamu masih menyimpannya " kata Daniel.
" Hanya sebuah foto " kata Nathanael.
" Kamu masih mencintainya " kata Dimas.
" Sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya dengan cara yang lain " kata Nathanael menatap foto Shasha sendu.
Seolah foto itu mewakili Shasha yang tersenyum manis kepadanya. Nathanael masih memandangi foto di depannya.
" Kenapa nomormu tak bisa dihubungi " Daniel mengalihkan pembicaraan.
Ia tak tega melihat sepupunya bersedih. Ia juga tidak bisa menasihati sepupunya itu. Karena nasibnya juga sama seperti sepupunya. Hanya saja gadis itu entah dimana keberadaannya saat ini.
" Pantas saja tidak bisa dihubungi pasti ada alasannya " Daniel menerima ponsel Nathanael dan mengetikan nomor sepupunya di ponselnya.
" Sebelum aku punya bukti aku akan menghindar untuk sementara waktu dari pantauan papaku " kata Nathanael.
" Bukti apa " kata Daniel.
" Tentang Jessica " lanjutnya.
Daniel menatap sepupunya mencari tahu tapi Nathanael mengabaikan.
" Ayo " kata Nathanael mengambil kunci mobil dan berjalan keluar ruangannya.
Daniel mengikuti sepupunya dari belakang melangkah keluar ruangan sepupunya. Nathanael berbicara sebentar pada Leo lalu melangkah menuju mobilnya. Nathanael masuk ke mobil diikuti Daniel kemudian mobil melaju di jalan raya.
Beberapa menit kemudian mobil berbelok di sebuah perumahan dan berhenti di depan sebuah rumah sederhana berpagar rendah. Sepertinya rumah itu baru saja direnovasi terlihat dari material yang ada di halaman rumah itu yang belum dibersihkan.
Nathanael melangkah menuju pintu lalu membukanya. Lalu masuk ke dalam rumah diikuti Daniel di belakang. Di ruang tamu rumah itu hanya ada satu sofa dan meja di depan sofa. Lalu di tengah ruangan itu masih kosong disebelahnya dapur kecil dan ada lemari pendingin. Di depan dapur ada dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Di belakang rumah masih ada sisa tanah berpagar tembok tinggi sekitar dua meter. Daniel menatap ke arah sepupunya meminta penjelasan.
" Ini rumah siapa? " tanya Daniel pada sepupunya.
__ADS_1
" Rumahku " kata Nathanael.
Lalu membuka lemari pendingin dan mengambil minuman dingin dari dalam lemari pendingin itu. Kemudian menyodorkan minuman itu pada Daniel. Daniel meneguk minuman yang disodorkan sepupunya. Nathanael duduk di sofa lalu menyalakan tv.
" Kapan membelinya " tanya Daniel.
" Sudah lama tapi baru aku perbaiki beberapa waktu yang lalu " kata Nathanael.
" Jadi waktu kamu pulang rumah ini sudah ada " kata Daniel.
Nathanael mengangguk.
" Selama menghilang kamu tinggal dimana " tanya Daniel.
" Di rumah Steve " sahut Nathanael. " Dan beberapa waktu yang lalu di restoran."
" Restoran " Daniel mengerutkan dahinya.
" Bukannya restoran itu milik Leo. "
" Aku pemilik sebenarnya aku hanya berdiri dibalik layar. Dan orang tahunya restoran itu milik Leo " jelas Nathanael.
" Oh ya tadi kamu mencari ku ada apa ? " tanya Nathanael.
Daniel yang duduk bersandar pada sofa menegakkan tubuhnya. Dan menatap serius pada sepupunya itu. Lalu Daniel menceritakan kondisi keuangan usaha yang dikelola papanya yang kini diberikan padanya. Nathanael mendengarkan dengan serius. Selesai bercerita Daniel berharap sepupunya itu bisa membantunya.
" Berapa yang kamu butuhkan " tanya Nathanael.
Daniel menyebutkan nominalnya. Lalu Nathanael mengetikan sesuatu di ponselnya. Ting, terdengar notifikasi pesan masuk dari ponsel Daniel sejumlah uang yang ditransfer dari Nathanael ke rekening Daniel.
" Terimakasih kalau kondisi keuangan sudah membaik nanti aku kembalikan " kata Daniel.
" Terserah kamu saja " kata Nathanael.
Setelah beberapa saat ngobrol akhirnya keduanya kembali ke restoran. Lalu Nathanael kembali ke restoran untuk mengantar sepupunya karena motor sepupunya ada di sana. Karena Daniel menolak untuk menginap dirumahnya. Sebenarnya Nathanael pun jarang sekali tidur di rumah yang sudah dibeli dari hasil kerjanya selama ini. Ia lebih sering tidur di restoran miliknya. Hanya sesekali saja tidur di rumahnya kalau suasana hatinya sedang suntuk.
*************
Ini sebenarnya mau dijadikan dua bab tapi nanti ceritanya bisa lama. Sebenarnya cerita tentang Nathanael mau dipisah tapi belum punya waktu luang. Maaf lama menunggu up- nya. 🙏🙏
Tentang Kinanti sabar ya, masih ada kok di bab menjelang akhir cerita.
Visual Nathanael
Visual Daniel
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia dengan ceritaku ini.