
Chris melajukan mobilnya di jalanan yang tidak begitu padat menuju rumah. Chris melirik sepupunya yang hanya diam saja sedari pulang makan malam. Chris kembali fokus dibalik kemudi.
Hening.
Beberapa saat kemudian sebuah suara memecahkan keheningan.
" Chris apa yang harus aku lakukan " Adi tetap melihat ke depan.
Chris melirik ke arah sepupunya.
" Maksud kakak " tanya Chris.
" Apa aku harus membatalkan kerjasama dengan Ardian grup " kata Adi.
" Kenapa mesti dibatalkan " Chris menatap bingung pada sepupunya.
" Kau lihat adik dari presdir Dean tadi " Adi menoleh.
Chris melirik ke arah sepupunya lalu mengangguk pelan.
" Cantik " ucap Chris.
" Bukan itu, kau tahu apa yang diinginkan dia dari kerjasama ini " Chris menggeleng.
Ck, Adi berdecak sebal. Adi diam melihat lalu lintas yang mulai lengang sejurus kemudian Adi bersuara.
" Dia menginginkan aku itu yang membuat ku berpikir untuk membatalkan kerjasama dengan Ardian grup " kata Adi.
Chris menganggukkan kepalanya barulah ia mengerti apa yang dipikirkan sepupunya dari tadi.
" Kakak tidak perlu membatalkan kerjasama itu " Adi menatap sepupunya.
" Kerjasama itu ada sedikit perubahan yang tadinya akan dilaksanakan satu bulan dipercepat menjadi dua minggu. Jadi kita harus mempersiapkan secepatnya dan selama proyek itu berlangsung aku dan Sarah akan sering bertemu karena dia yang bertanggungjawab pada proyek ini " Adi menjelaskan.
" Gimana kalau aku yang menangani proyek ini " Chris berkata sambil tetap fokus di kemudi.
" Serius " Chris mengangguk.
" Baiklah aku serahkan proyek ini padamu Adi tersenyum lega.
Chris melirik sepupunya dan tersenyum samar.
Tak terasa sampailah keduanya di rumah mas Agus membuka pintu gerbang. Chris melajukan mobilnya dan berhenti di depan rumah. Keduanya masuk ke rumah Chris menuju kamarnya di lantai atas. Adi masuk ke kamarnya di lantai bawah.
Setelah undangan makan malam itu proyek kerjasama dengan Ardian grup diwakili oleh Chris. Dari pihak Ardian grup proyek itu ditangani langsung oleh presdir Dean. Sedangkan Sarah masih melanjutkan liburannya di Bali.
__ADS_1
Selama tiga bulan lamanya proyek itu berlangsung. Dan kini proyek itu sudah selesai dengan hasil yang memuaskan untuk kedua belah pihak. Adi sendiri yang datang untuk bertemu dengan presdir Dean. Keduanya berjabat tangan sebagai tanda keberhasilan kerjasama yang dilakukan oleh perusahaan Nugroho dan perusahaan Ardian grup.
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa hampir satu tahun lamanya Adi memimpin perusahaan Nugroho. Saat ini lelaki berkulit sawo matang itu tengah duduk di kursi presdir. Lelaki itu sedang memeriksa setumpuk berkas di meja kerjanya.
Hari beranjak siang tetapi Adi masih sibuk bekerja. Sementara sepupunya keluar kantor menghadiri pertemuan dengan klien. Tak berapa lama masuklah sekretaris Diana ke ruangan Adi. Diana melangkah perlahan dan berdiri di depan meja Adi. Diana mengamati bosnya yang terlihat tampan saat serius bekerja. Diana tersenyum menatap wajah tampan bosnya dari dekat. Sekian lama Diana mengenal Adi tapi baru kali ini Diana menyadari ketertarikan dengan teman sekaligus bosnya itu.
Uh, andai saja saat itu aku lebih dulu tertarik padamu mungkin saat ini akulah yang menjadi nyonya Adi. Diana memandang bosnya yang begitu menggemaskan di matanya. Perlahan Diana bergeser dan sekarang jaraknya hanya beberapa centi dari bosnya. Diana mengusap lembut lengan kekar Adi.
Adi menyadari ada seseorang yang mengganggu pekerjaannya. Sehingga membuat Adi tidak fokus bekerja. Adi mengalihkan pandangannya ke lengannya. Dan menatap tajam pada sekretaris nya. Sementara sekretaris Diana tersenyum tanpa merasa bersalah.
" Sejak kapan kau ada di ruangan ku" Adi menepis kasar tangan Diana.
" Sejak tadi " jawab Diana santai.
" Kenapa tidak bilang " sahut Adi.
" Kau terlalu sibuk dengan pekerjaan jadi tidak mendengar ku datang " Adi mengerutkan dahinya.
Huh, lama-lama sekretaris nya ini makin ngelunjak saja. Adi berusaha menahan diri untuk tidak marah lalu mengusap dahinya dengan jari tangannya.
" Begitu ya " Adi menatap lekat Diana.
" Iya benar aku hanya ingin menawari mu makan siang " bohong Diana.
Adi melihat jam di pergelangan tangannya hampir lewat jam makan siang. Adi merapikan berkasnya lalu bergegas keluar ruangan.
Diana mengikuti Adi hingga keduanya masuk ke mobil. Adi memilih kafe di dekat kantor nya. Setelah sampai Adi dan Diana masuk ke kafe. Suasana kafe terlihat ramai karena masih jam makan siang.
Setelah mendapat tempat duduk yang kosong Adi dan Diana memesan makanan. Pesanan makanan sudah datang Adi makan dalam diam dia masih kesal dengan Diana. Sementara di depannya sekretaris Diana ikut menikmati makanan sambil sesekali mencuri pandang pada bosnya.
Selesai makan Adi bergegas membayar makanan dan langsung masuk ke mobilnya. Diana tampak sebal melihat Adi yang mendiami nya.
" Adi kau kenapa " Diana bertanya saat keduanya masuk ke mobil.
Adi tidak menanggapi lalu melajukan mobilnya menuju kantor. Setelah memarkirkan mobilnya Adi melangkah ke lift diikuti Diana di belakang nya.
" Adi " Diana mengikuti masuk ke lift.
Adi diam sambil melihat pintu lift tertutup dan membawa nya ke lantai empat. Diana mendekati Adi dan memberanikan diri menyentuh tangan Adi.
" Kenapa sih " Diana menatap wajah tampan di depannya.
" Jaga sikap mu Di " ucap Adi pelan.
" Kenapa aku mesti menjaga sikap " sahut Diana.
__ADS_1
" Kau tahu nggak sih sikap mu sudah keterlaluan " seru Adi.
" Apanya yang keterlaluan " Diana tersenyum tipis.
Ck, Adi mendengus kasar.
" Ini di kantor dan ku ingatkan kalau aku atasanmu " Adi mengingatkan.
" Ya aku juga tahu kau atasan ku lalu apa masalah nya " tanya Diana.
" Selain teman kita hanya terpaut pekerjaan kau sekretaris dan aku bos mu " tekan Adi.
" Bisakah kita lebih dari teman " ucap Diana.
" Nggak " tegas Adi.
" Kenapa " tanya Diana.
" Apa perlu ku ingatkan lagi bahwa aku sudah punya istri " sahut Adi kesal.
" Aku bisa menjadi yang kedua " sela Diana.
Saat Diana mengutarakan keinginannya pintu lift terbuka. Adi melangkah keluar dari lift menuju ruangannya. Dengan langkah lebarnya meninggalkan Diana di belakang. Diana menyusul Adi masuk ke ruangan presdir.
Adi memandang jengah pada Diana yang baru masuk ke ruangan nya.
" Adi " Diana menghadang langkah Adi yang hendak duduk.
" Apalagi " jawab Adi malas.
" Kau belum ngasih jawaban " ucap Diana.
Adi merasa geregetan pada sekretaris nya. Saat bersamaan muncullah Chris tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Adi melihat sepupunya datang langsung memerintah pada Chris.
" Chris " orang yang dipanggil langsung berdiri di hadapan bos nya.
" Ya kak " Chris diam menunggu perintah.
" Urus dia dan cari sekretaris baru " Chris heran dengan bos sekaligus sepupunya itu.
Adi langsung duduk dan bergelut dengan berkas-berkas nya. Sementara Chris menyeret Diana keluar dari ruangan presdir.
************
Semoga suka dengan ceritanya.
__ADS_1
Dukung author dengan memberi like, komen dan vote nya ya...
Terimakasih....