
Seiring berjalannya waktu hubungan Shasha dan suaminya semakin membaik. Adi berusaha menyenangkan hati istrinya meski belum mencintainya.
Di kala senggang ia mengajak Shasha pergi keluar rumah sekedar jala-jalan saja. Menyempatkan waktu untuk sekedar membeli kebutuhan dapur di minimarket dekat rumah. Kebiasaan baru yang akhir-akhir ini mereka lakukan adalah olahraga di minggu pagi mengelilingi taman dekat perumahan mereka.
Seperti pagi ini keduanya sudah berpakaian olahraga lengkap keluar rumah. Berlari berkeliling taman dekat perumahan. Hampir setengah jam lari keliling taman peluh telah membasahi wajah keduanya. Shasha yang jarang berolahraga terlihat keletihan mengatur nafasnya. Lalu menghentikan larinya dan duduk di rerumputan. Menyusul Adi menghampirinya masih berlari kecil mengajak istrinya lari.
"Ayolah sayang masih beberapa putaran lagi" ajak Adi bersemangat.
" Sudah mas, aku capai" sahutnya sambil menahan nafas memburu." Mas saja sendiri yang lari aku tunggu di sini ya" lanjutnya lagi.
" Ah, kamu payah " kata Adi lalu melanjutkan larinya lagi tanpa Shasha istrinya.
__ADS_1
Shasha membiarkan suaminya berlari sendirian. Ia lebih asyik melihat para pedagang makanan di sekitar taman perumahan. Dan mendekat ke salah satu pedagang di sana. Memesan dua porsi bubur ayam dan air mineral lalu menikmati bubur ayam yang masih agak panas. Sambil ditiup-tiup menghilangkan uap panasnya lalu memakannya.
Shasha melambaikan tangannya ke arah suaminya menyuruh mendekat. Memberikan bubur ayam pada suaminya. Adi pun makan bubur ayam menirukan Shasha istrinya. Ditiup dulu baru dimakan, akhirnya habis sudah bubur ayam buat mengganjal perut yang lapar.
Shasha menatap Adi suaminya sejenak berpikir. Ia kepikiran sejak Dini sahabatnya mengajaknya bekerja di kedai kopi miliknya. Bisnis yang ditekuni sahabatnya itu maju pesat dan membuka cabang di kota ini. Dan mengajak Shasha untuk bergabung. Shasha belum bisa memberi keputusan ia mesti minta ijin dulu pada suaminya.
Beberapa saat berpikir ada keraguan untuk mengatakan pada suaminya. Ia menghela nafas perlahan memainkan kuku jarinya. Beralih melihat ke orang-orang yang sedang berlari di taman.
" Ijinkan aku bekerja" mohon Shasha pada suaminya. Adi menautkan alisnya ucapan istrinya mengagetkannya. Tiba-tiba saja ingin bekerja apa tak salah pendengarannya. Lalu menoleh ke istrinya.
" Tidak cukup uang yang ku beri" meraih botol mineral dan meneguk isinya.
__ADS_1
" Nanti ku tambah lagi, " serunya menatap lekat Shasha.
" Bu bukan begitu ..." menelan ludahnya.
Gimana ngomongnya ya, Shasha berpikir sebentar. Lalu Shasha mengatakan secara jujur tentang sahabatnya yang memintanya membantu usahanya yang baru dirintis di kota ini. Adi mendengarkan cerita Shasha dan tidak berkomentar. Adi hanya diam menggoyang-goyangkan botol minuman di tangan membuat Shasha sedikit gelisah. Menunggu jawaban suaminya yang di nantinya tak kunjung menyetujui membuat Shasha agak kecewa. Tapi ia akan menerima apa pun yang menjadi keputusan suaminya.
Hari mulai merambat siang Adi mengajak Shasha pulang. Shasha menurut saja. Direngkuhnya bahu istrinya sambil tersenyum mengajak Shasha berjalan pulang. Menggenggam erat tangan istrinya, menikmati suasana pagi yang mulai ramai dengan kegiatan orang-orang di sekeliling.
Di sepanjang jalan yang dilalui berjalan berdua bergandengan tangan seperti ini hal yang jarang sekali ia lakukan. Rutinitas kerja dan kisah cintanya yang rumit telah menyita waktunya. Meninggalkan hal sepele menurutnya, yang sebagian orang menjadi hal menyenangkan.
Hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Melangkah tanpa beban sangat ringan dan di samping orang yang setia menantinya. Entah kapan ia akan bosan menanti dirinya di perjalanan panjang menuju kebahagiaan.
__ADS_1