Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 19 Nathanael


__ADS_3

Pagi menjelang siang suasana di kedai kopi Dini begitu ramai. Karena jam makan siang masih lama. Sementara itu tampak laki-laki muda sudah sejak tadi duduk di kedai itu.


Menghadap jalan raya entah apa yang dinanti karena sedari tadi laki-laki itu sibuk dengan ponsel ditangan. Sudah tiga kali Anita mendatangi meja tempat laki-laki itu berada selalu jawaban sama yang keluar dari mulut laki-laki itu.


Anita dibuat jengkel dengan sikap laki-laki itu. Sambil menggerutu dan muka ditekuk Anita kembali ke belakang. Shasha yang melihat merasa kasihan lalu mendekati Anita.


"Ngapain sih dari tadi ngomel terus" seru Shasha pada Anita.


"Tau tuh orang nyebelin banget" kata Anita masih cemberut.


"Nyebelin gimana?" tanya Shasha mendekat ke arah temannya.


"Udah tiga kali lho mbak aku ke sana eh...tuh orang nggak pesan apa-apa. Nggak ada manis-manisnya lagi" kata Anita masih tetap cemberut.


"Gula kali manis" dan Shasha pun tertawa renyah.


"Ih mbak seneng ya liat orang susah dibantuin kek apa gimana gitu" sahut Anita lagi.


"Iya-iya sini..." kata Shasha sambil meminta daftar menu yang dipegang Anita. "Yang mana orangnya?"


"Itu tuh orangnya" tunjuk Anita ke laki-laki yang memunggungi keduanya. Wajah laki-laki itu tak kelihatan karena duduk menghadap ke jalan raya.


Shasha pun berlalu ke depan menghampiri tempat duduk laki-laki muda itu. Setelah dekat Shasha mencoba menawarkan menu di kedai milik sahabatnya itu.


"Ada yang bisa saya bantu" kata Shasha setelah dekat.


Laki-laki itu yang tadi sibuk dengan ponselnya menoleh ke arah Shasha.


Laki-laki itu terkejut sekaligus senang setelah melihat siapa yang datang.

__ADS_1


" Hai ... " sapa laki-laki itu mengembangkan senyumnya.


" Kau ... "


Shasha tampak terkejut masih menatap laki-laki di depannya. Sedetik kemudian senyum mengembang di bibirnya.


" Kapan datang " tanya shasha.


" Baru saja " masih menatap wajah cantik di depannya.


" Gimana kabarmu " tanya shasha sambil menarik kursi lalu mendudukinya.


" Kabarku baik gimana denganmu " sahut Nathanael.


" Sama aku juga baik " kata Shasha.


" Suami mu " tanya Nathanael.


" O... " jawab Nathanael.


Nathanael menatap lekat wanita di depannya dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.


' Apaan senyum-senyum terus " seru Shasha heran.


" Kamu tidak berubah ... " ucapnya menggantung.


" Apanya yang tidak berubah " kata Shasha.


" Kamu tetap cantik seperti waktu pertama aku melihatmu " katanya.

__ADS_1


" Ih, gombal " seru Shasha tersenyum menatap lelaki yang telah lama tak dijumpainya itu.


Dalam hati Shasha berkata andai saja itu suaminya yang mengatakannya betapa bahagianya dirinya. Shasha bergelut dengan pikirannya sampai tepukan di bahunya menyadarkannya.


" Memang aku tampan nggak usah ngeliat kayak gitu entar kangen " sahut Nathanael tersenyum jahil.


Ck ! Shasha berdecak sebal, ia akui Nathanael memang tampan. Tapi hatinya telah terpaut dengan suaminya dan menganggap lelaki di depannya ini hanya sahabatnya.


" Ih, siapa yang kangen sama kamu" sahut Shasha mendelik.


Laki-laki itu tertawa tertahan senang ia menggoda Shasha. Sudah lama ia tak melihat Shasha seperti itu. Terakhir ia melihat di pesta pernikahan wanita itu.


Sikap Shasha tak berubah meski beberapa tahun tak bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Ya, wanita yang memenuhi seluruh ruang di hatinya. Yang telah memporak-porandakan hatinya, memberi warna di kehidupannya. Yang hanya bisa mencintainya dalam diam. Dan membiarkan bayangan Shasha menari-nari di mimpinya di setiap malam menemaninya tidur.


Ingin rasanya memeluk wanita pujaannya yang sekarang duduk di depannya. Rasa hatinya membuncah ada bahagia terselip di relung hatinya.


Laki-laki itu yang tak lain adalah Nathanael, sepupu Daniel. Mengenal Shasha ketika pertama kali berkunjung ke rumah sepupunya itu. Daniel tetangga Shasha dulu sebelum akhirnya pindah dan memilih hidup sendiri di sebuah kontrakan sederhana sampai sekarang.


Walau jarang berkunjung ke tempat sepupunya itu, tapi sejak bertemu Shasha pertama kali Nathanael telah jatuh hati pada Shasha. Pada akhirnya Nathanael sering berkunjung ke rumah Daniel dengan berbagai alasan. Hanya untuk bertemu dengan pujaan hatinya itu. Laki-laki tampan bermata sipit berkulit putih bersih seperti Daniel itu bisa menyembunyikan perasaannya terhadap semua orang tapi tidak dengan Daniel.


Sepupunya ini sering meledeknya saat Nathanael bertandang ke rumahnya. Hingga suatu hari Nathanael mendengar kabar wanita pujaannya akan menikah.


Dan dia mendapat undangan pernikahan dari wanita itu. Hancur hatinya saat itu tapi ia menguatkan dirinya untuk pergi ke pesta pernikahan Shasha. Di sana ia melihat wanitanya tampak tersenyum bahagia di samping suaminya. Dia menatap wanitanya dengan hati yang remuk redam. Setelah itu dia memutuskan untuk pergi ke kota lain.


Mencoba melupakan wanita pujaan hatinya. Sayangnya semakin ia melupakan semakin besar rasa cintanya pada Shasha. Dan Nathanael mulai menyibukkan diri dengan berbagai kesibukan yang menyita waktunya. Hanya di malam hari menjelang tidur ia teringat bayangan wanita pujaannya itu. Tapi karena kelelahannya seharian bekerja dan meneruskan pendidikannya membuatnya cepat terlelap tidur.


Begitulah keseharian Nathanael hampir empat tahun lamanya meninggalkan kota kelahirannya. Dan hari ini ia kembali menapakkan kakinya di kota kelahirannya. Mengurai kembali cintanya yang tak berbalas.


Mungkin suatu kebetulan yang tak disengaja ia memarkir mobilnya asal saja. Dan masuk ke kedai itu duduk dengan santainya. Di sinilah rasa yang tersimpan rapi di sudut hatinya melompat kegirangan.

__ADS_1


Ingin rasanya Nathanael mencurahkan segenap asa pada wanita di depannya itu. Sesaat ia tersadar wanita itu sudah menikah. Ah..., ya kembali ia harus menyembunyikan perasaannya membungkusnya dengan senyuman.


********************


__ADS_2