Maafkan Aku, Istriku...

Maafkan Aku, Istriku...
Bab 56 Pagi Shasha


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah mentari bersinar menyapa jagad raya. Di sebuah kamar lantai satu tampak ibu hamil itu tersenyum ceria. Menggandeng tangan suaminya melangkah pelan melewati ruang tamu menuju pintu depan.


Sampai di teras depan rumah pak Udin dengan sigap membuka pintu pagar untuk nona dan suaminya. Dengan sarung yang masih melingkar di badannya ia taruh di pundak dan mengucek matanya agar terbuka sempurna. Menyapa nona dan suaminya dengan senyuman dan sedikit membungkukkan badannya.


Pagi ini dengan kantuk yang masih melekat di kedua matanya Adi menemani istrinya untuk jalan-jalan di sekitar komplek perumahan. Tujuannya adalah ke taman dekat komplek perumahan. Karena di sana banyak sekali orang yang berolahraga, sekedar jalan-jalan atau menikmati sarapan paginya dengan berbagai macam pilihan menu masakan. Sebab di taman itu banyak pedagang yang menjual berbagai macam jajanan untuk sekedar pengisi perut yang lapar di pagi hari. Ada juga pedagang mainan yang menjajakan dagangannya berkeliling.


Ternyata papa Sam juga tak mau kalah dengan putri dan menantunya. Papa Sam sudah sedari tadi bangun. Memakai stelan kaos putih, celana training panjang putih dan sepatu sneaker warna putih juga menambah kesan gagah dan seksi lelaki paruh baya itu. Meski usianya hampir setengah abad tapi masih terlihat segar dan gagah. Tak lupa di sebelahnya istri tercinta yang selalu setia menempel bak perangko menemani papa Sam. Bu Santi memakai baju yang sama dengan suaminya. Keduanya berlari kecil mengelilingi komplek perumahan. Sapaan para tetangga disambut senyum ramah dari papa Sam. Juga capitan lembut dari istrinya bila ada ibu-ibu komplek atau para wanita yang menyapa mereka berdua. Sengaja atau tidak keramahan papa Sam membuat ibu-ibu atau para wanita itu betah berbincang walau hanya sekedar menyapanya saja. Dan mengagumi wajah tampan papa Sam yang mempesona meski usia sudah tak muda lagi.


Jangan ditanya raut wajah bu Santi yang melihat suaminya beramah-tamah dengan para wanita dan ibu-ibu komplek itu. Dengan senyum terpaksa bu Santi menyapa mereka dan sedikit paksaan mengajak papa Sam pulang meninggalkan taman itu. Wah, bener-bener ya bu Santi ini ckckck.


Beralih ke Adi yang dengan setia menemani Shasha istrinya jalan-jalan berkeliling taman. Dan tak lupa juga menjawab sapaan para tetangga yang mengenal mereka sebagai putri dan menantu pengusaha kaya tapi terkenal keramahannya itu.


" Pagi mbak Shasha " sapa ibu-ibu itu.


" Pagi juga bu " sahut Shasha ramah.


" Makin cantik saja " kata ibu A.


" Kelihatan segar dan berisi " kata ibu B.


" Seperti nya mbak Shasha hamil ya " kata ibu C.


" Berapa bulan mbak " kata ibu D.


" Jalan empat bulan bu " kata Shasha menanggapi ibu-ibu itu.


" Kok masih rata ya tapi badannya agak gemukan dikit sih " kata ibu yang lain.


" Ssst " sahut ibu lainnya menyenggol lengan temannya.


" Maaf mbak Shasha " kata ibu itu.

__ADS_1


" Tidak apa-apa bu " sahut Shasha sambil tersenyum.


" Maaf kami pergi dulu silakan melanjutkan jalan-jalannya " kata ibu-ibu itu.


Mereka pun undur diri dan memberi jalan pada Adi dan Shasha untuk melewati mereka. Adi tersenyum canggung pada ibu-ibu itu dan merangkul pinggang istrinya melanjutkan acara jalan-jalannya lagi.


Meski usia kehamilan Shasha mencapai 14 minggu tapi perutnya masih tampak rata. Dan tubuhnya tak banyak berubah. Bagi sebagian wanita hamil juga mengalami hal seperti Shasha. Dan sejak Shasha hamil aura kecantikannya menyeruak keluar. Dia tampak cantik meski tanpa makeup.


" Mas, kita duduk di situ yok " ajak Shasha pada suaminya. Adi pun mengiyakan saja.


" Capai " kata Adi menyelipkan anak rambut ke belakang telinga istrinya.


Shasha tak menanggapi.


" Lapar " sahut Shasha memandang ke arah penjual makanan itu.


Adi mengikuti ke arah mana istrinya melihat. Ternyata istrinya melihat ke pedagang cilok yang banyak dikerumuni anak-anak.


Hah! Adi mengusap wajahnya kasar. Harus mengantri di antara anak kecil dan juga ibu-ibu yang mengantar anaknya untuk membeli makanan berbentuk bulat dari bahan tepung itu. Ya Tuhan, mau nggak mau akhirnya Adi bangkit berdiri dan ikut mengantri bersama anak-anak dan ibu-ibu itu.


Tinggallah Shasha duduk sendirian sambil melihat sekeliling taman sambil menunggu suaminya. Lama menunggu membuat Shasha merasa bosan dan memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Dan sebuah sapaan menghentikan langkahnya.


" Pagi Shasha " sapa sebuah suara mampu membuatnya menoleh.


" Eh Dimas kok bisa ada di sini " kata Shasha setelah tahu siapa yang menyapanya.


" Oh itu aku sekarang tinggal di sebelah komplek ini " kata Dimas tersenyum sambil menatap wajah cantik di depannya.


" Gimana kabar om Hendy dan Tante Vika " tanya Shasha menatap lelaki tampan itu.


Ditatap wanita cantik di depannya itu membuat jantung Dimas berdetak lebih cepat. Dan secepatnya ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Huh, ada apa dengan jantungku ini, kata Dimas sambil membuang nafas untuk menetralkan jantungnya agar kembali seperti semula.

__ADS_1


" Orangtuaku sehat tapi mereka masih tinggal di kota G " kata Dimas.


" Di sini tinggal dengan siapa " tanya Shasha.


" Adik dan nenekku oh ya kita ke sana yok " ajak Dimas sambil menggandeng tangan Shasha.


Shasha tidak menolak dan masih memandang wajah tampan orang yang menggandengnya. Keduanya berjalan dengan Dimas menggandeng tangan Shasha dan saling melempar senyum. Keduanya berhenti di depan penjual pukis makanan kesukaan shasha. Dan Dimas memesan kue kesukaan wanita cantik di sampingnya itu.


" Kamu masih ingat kue kesukaanku ya " kata Shasha beralih ke penjual kue di depannya.


" Tentu saja aku masih ingat dan lagi aku juga ingat kamu takut sama kecoa " kata Dimas tersenyum simpul.


" Ih kamu ini aku geli ya bukan takut " elak Shasha.


" Mana ada geli sampai naik ke punggungku " kata Dimas sukses membuat dia kena pukulan Shasha.


Obrolan ringan disertai canda dan tawa mereka membuat senyum Dimas mengembang. Dimas merindukan tawa wanita itu sejak dia pindah ke kota G. Dan baru pagi ini tawa itu menghiasi bibir tipis orang yang sangat istimewa dihatinya.


Setelah menerima kue dan membayarnya Dimas dan Shasha berkeliling taman sesekali keduanya singgah ke pedagang dan membeli makanan yang dijual oleh para pedagang itu. Dan menikmati makanannya sambil bercerita bertukar kabar diantara keduanya. Setelah lelah berkeliling akhirnya Dimas mengantar Shasha pulang ke rumah sambil berjalan kaki. Kemudian Dimas berpamitan pulang ke rumahnya yang disebelah komplek perumahan elite itu.


Ketika sampai di depan pintu rumah barulah Shasha tersadar bahwa suaminya tidak ada di rumah. Oh my God, kenapa bisa lupa ya, katanya sambil bergumam sendirian. Lalu Shasha berbalik arah menuju ke taman lagi. Baru beberapa langkah kakinya berjalan dari arah depan Adi datang sambil membawa bungkusan yang berisi cilok pesanan istrinya.


" Sayang, kamu tidak kenapa-napa " tanya Adi khawatir sambil melihat dari bawah sampai ke atas tubuh istrinya.


" Maaf mas " kata Shasha merasa bersalah.


" Ya sudah ini " Adi memberikan cilok yang diminta istrinya tadi.


" Mas marah ya " kata Shasha mengambil makanan dari tangan suaminya. Adi menggelengkan kepalanya lalu mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.


************

__ADS_1


Adi tau nggak ya kalau Shasha jalan sama Dimas dan meninggalkan Adi yang sedang mengantri cilok. Hadeuh....!!!


__ADS_2