
Pagi harinya Chris sudah rapi dan sudah ada di ruang makan. Di sana juga ada Bu Rina yang menanti sepasang suami istri itu untuk sarapan. Sepuluh menit kemudian sepasang suami istri itu keluar dari kamar. Dan tak lupa si mungil baby Zane dalam gendongan papa Adi.
Chris melirik sekilas pasangan yang baru keluar kamar itu lalu kembali dengan menu makanan di hadapannya. Bu Rina menyuruh anak dan menantunya untuk sarapan. Sementara bu Rina mengambil nasi dan lauknya lalu menaruh ke piring.
Shasha mengambilkan sarapan untuk suaminya lalu untuk dirinya sendiri. Terakhir Chris yang mengambil sarapan lalu menyantap hidangannya.
" Mas makan dulu biar baby Zane sama mbak Tari " Shasha memanggil mbak Tari.
Mbak Tari bergegas ke ruang makan ketika namanya dipanggil.
" Mbak Tari bawa baby Zane " suruh Shasha.
" Iya non " sahut mbak Tari.
" Nggak pa pa baby Zane biar di sini saja " Adi memangku baby Zaneta.
" Tapi mas " Shasha tak melanjutkan ucapannya.
" Sudah mbak Tari lanjutin saja kerjaan di belakang " mbak Tari mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Batita cantik itu seolah senang duduk di pangkuan ayahnya dan tertawa khas bayi. Adi pun menanggapi nya dengan mengusap lembut pipi gembul baby Zane dengan jari telunjuk nya. Batita mungil itu memukul- mukul dada ayahnya dengan tangan kecilnya. Menggemaskan sekali. Shasha yang melihat tersenyum melihat kedekatan anak dan suaminya.
Selesai sarapan Chris berpamitan hendak berangkat kerja. Langkah Chris terhenti saat Adi memanggilnya.
" Chris " Chris berhenti dan menoleh.
" Ya kak " sahut Chris.
" Berangkatlah dulu " Chris mengangguk lalu melanjutkan langkahnya.
" Mas nggak bareng sama Chris " Shasha menyela.
" Nanti saja masih ada waktu satu jam " Adi melirik istrinya.
__ADS_1
Adi berjalan ke ruang keluarga diikuti Shasha. Sedangkan bu Rina memanggil mbak Tari untuk membereskan meja makan.
Adi bermain dengan baby Zaneta, Shasha yang duduk di sebelah suaminya hanya memperhatikan keduanya. Setelah satu jam Adi memberikan baby Zaneta pada Shasha. Sebelum berangkat Adi mencium kening dua wanita yang sangat berarti di hidupnya itu.
Chris telah sampai di kantor lebih dahulu lalu masuk ke ruangannya. Di sana sudah ada Diana yang duduk di sofa menantikan dirinya. Chris melewati mantan sekretaris kakaknya itu lalu menuju mejanya. Chris menyiapkan berkas yang akan digunakan untuk rapat sebentar lagi. Chris sibuk dan mengabaikan Diana yang sedari tadi diam sambil memperhatikan lelaki muda itu.
Diana merasa sebal lalu memanggil lelaki muda itu.
" Chris " seru Diana.
Chris mengangkat wajahnya sedetik kemudian melanjutkan pekerjaannya. Diana menghentakkan kakinya ke lantai tapi Chris seolah menulikan telinganya.
Chris bangkit hendak menuju ruang rapat saat berada di depan Diana, Chris berhenti.
" Tunggu di sini jangan cari masalah " Chris berlalu menuju ruang rapat.
Diana menatap jengah pada lelaki muda itu ia harus sabar menghadapi lelaki itu. Karena hanya pada lelaki itu ia menaruh harapan agar tetap bisa bekerja di perusahaan ini. Sabar, sabar, sabar, gumam Diana.
Chris keluar ruangannya bertepatan Adi yang keluar dari ruangan presdir. Keduanya menuju ruang rapat. Setelah satu jam rapat selesai Adi kembali ke ruangannya diikuti Chris di belakang.
Sebenarnya Chris sedikit repot dengan pekerjaannya saat ini. Sebab tugas ini harusnya Diana yang mengerjakannya. Tapi karena Diana berhenti jadi sekretaris Adi, kini dia yang sibuk sendiri. Chris memijat dahinya menutup berkas di tangannya lalu pamit pada Adi. Chris berdiri melangkah keluar ruangan presdir.
Saat Chris membuka pintu ruangannya Chris langsung menuju mejanya. Chris meletakkan berkas yang tadi ia bawa. Andai Diana masih menjadi sekretaris kakaknya ia tidak perlu sibuk seperti ini.
Huh! merepotkan, gumam Chris menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ketika pandangannya tertuju pada sosok yang duduk di sofa barulah ia menyadari keberadaan Diana. Kenapa aku bisa lupa, gumam Chris kembali menegakkan tubuhnya.
Sementara Diana yang tadi sendirian di ruangan Chris. Untuk menghilangkan kebosanan Diana memainkan game di hp nya. Terlalu asyik dengan permainan di layar hpnya. Sehingga Diana tidak menyadari Chris sudah duduk dan memperhatikan dirinya. Cukup lama Chris memandang wajah cantik yang ia kagumi secara diam-diam itu. Chris mengamati sosok itu dari atas sampai ke bawah. Diana memang cantik dan menarik tapi bukan itu yang membuat Chris menyukai wanita itu.
Chris mengenal wanita itu saat dulu masih di kampung. Diana menjajakan dagangannya keliling kampung untuk membantu ibunya. Selepas sekolah Diana berkeliling kampung berjualan untuk membantu ibunya. Uang hasil berjualan selain untuk kebutuhan sehari-hari juga untuk membayar sekolahnya dan adiknya.
Pertemuan sederhana saat Chris membeli dagangan yang dijual oleh Diana. Chris selalu menanti Diana lewat di depan rumahnya lalu membeli jajanan dan diselingi obrolan ringan. Pertemuan singkat dan sebentar itu yang membuat Chris mencari tahu sosok wanita itu.
Ternyata setelah beberapa waktu Chris baru tahu tempat tinggal Diana. Diana tinggal di kampung sebelah. Dia tinggal bersama ibu dan seorang adik yang masih sekolah. Ayahnya sudah meninggal dan dia membantu ibunya berjualan sepulang sekolah. Diana juga kerja serabutan untuk membayar biaya sekolahnya. Hingga dia bisa lulus kuliah dan membiayai sekolah adiknya.
__ADS_1
Chris masih memandang tak berkedip sosok di depannya hingga wanita itu menyadari sesuatu. Diana mendongak dan melihat lelaki muda itu sedang duduk melamun. Eh, bukan sedang menatap dirinya seketika Diana gugup dan merona. Ada gejolak aneh saat matanya beradu pandang dengan mata hitam milik lelaki itu. Diana ter batuk untuk menetralkan dirinya dari rasa yang datang nya tiba-tiba ini.
Chris kembali pada kesadarannya lalu mengusap tengkuknya. Chris salah tingkah karena kepergok oleh Diana. Chris berdehem lalu mengalihkan perhatiannya pada berkas di mejanya.
Beberapa saat hening.
Setelah dapat menguasai dirinya Chris memeriksa berkas yang belum ia kerjakan. Meski ragu Chris meminta bantuan pada Diana untuk menyalin hasil rapat tadi.
Kini keduanya duduk di sofa Chris menjelaskan secara singkat hasil rapat. Diana menyimak kemudian menyalin catatan yang sudah dibuat oleh Chris. Diana memang pintar dan cekatan itu dulu yang membuat Chris memilih nya menjadi sekretaris kakaknya.
Diana mengumpulkan berkas itu lalu diberikan pada Chris. Chris lalu menerima dan kembali ke mejanya. Saat itu Diana menanyakan pekerjaan yang dijanjikan oleh lelaki itu.
" Tunggu setelah makan siang " ucap Chris santai.
Lelaki itu berucap tanpa beban membuat Diana membulatkan matanya.
" Maksudnya apa " tanya Diana.
" Temani aku makan siang " Chris tanpa menatap Diana.
Lelaki itu sibuk dengan pekerjaannya saat Diana hendak protes Chris kembali berbicara.
" Ingat apa yang kau katakan kemarin " Chris menatap wanita di depannya.
Diana akhirnya pasrah karena dia sudah berjanji untuk menuruti lelaki muda itu.
Diana melangkah lesu dan duduk di sofa. Chris tersenyum tipis melihat wanita itu mau menurut.
**************
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya ya....
__ADS_1
Terimakasih ... ♥️♥️♥️