
Sepasang kekasih berjalan bergandengan tangan menikmati udara sore di taman kota. Keduanya lalu duduk bersebelahan si pemuda menautkan tangannya ke tangan si gadis. Seolah enggan untuk melepaskan tautan tangannya.
" Di, lepasin dong udah pegel nih tangan " si gadis berusaha lepas dari genggaman kekasihnya.
" Biarkan begini Ri, setelah ini aku tidak bisa sering bertemu dengan mu. Dan itu sangat menyiksaku " melas si pemuda.
Si gadis terpaksa senyum.
" Iya deh " pasrah si gadis.
" Nah gitu dong " si pemuda tersenyum lebar.
Si pemuda mengusap lembut tangan si gadis.
" Kamu tahu nggak Ri apa yang membuat ku tersiksa " tanya si pemuda.
Si gadis menggeleng.
" Menahan rindu " kata si pemuda.
" Ih gombal " si gadis tersipu malu.
" Beneran Ri menahan rindu tidak bertemu dengan mu itu berat lho. Sehari nggak ketemu rasanya setahun gimana seminggu " melas si pemuda.
Ya itulah ungkapan hati yang diucapkan oleh Adi pada Maria sore itu. Karena sebentar lagi Adi akan disibukkan dengan kegiatan kuliah nya. Dan otomatis mengurangi pertemuan nya dengan kekasihnya. Meski berat jauh dari kekasihnya tapi ia sebagai anak harus patuh pada orangtuanya. Meneruskan pendidikan itulah hal yang utama. Karena di keluarga nya dialah satu-satunya laki-laki yang nantinya meneruskan usaha keluarga nya.
Adi dan Maria beranjak dari taman kota. Sepasang kekasih itu menghabiskan waktu bersama. Keduanya masuk ke mall dan mencari restoran cepat saji kesukaan kekasihnya. Selesai makan keduanya berkeliling mall sekedar menghabiskan sisa waktu kebersamaan mereka. Karena
Maria bukan gadis yang konsumtif. Hidupnya sederhana sebab ia tinggal dengan paman dan bibinya membuatnya harus berhemat. Meski Adi bersedia membelikan barang mewah dan mahal tapi Maria selalu menolak nya. Pemborosan katanya lebih baik uangnya buat tambahan biaya kuliah dan bla bla bla lainnya. Itu yang selalu Maria katakan bila Adi hendak membelikan sesuatu pada kekasihnya. Hal itu membuat Adi bertambah cinta pada Maria.
Langkah Keduanya sampai di kedai ice cream Adi kemudian berhenti. Ia lalu membeli ice cream untuk dirinya dan kekasih nya. Selesai makan ice cream Adi mengantar Maria pulang.
Hari-hari selanjutnya Adi disibukkan dengan kegiatan kuliah. Hanya di hari sabtu dan minggu ia bisa bertemu Maria.
Satu tahun telah berlalu sejak Adi lulus dan mulai menapaki bangku kuliah.
Siang itu Adi baru saja keluar dari kelasnya. Lelaki berkulit sawo matang itu berjalan ke kantin di sana sudah ada teman-temannya.
' Tuh, kembaran mu dah datang " bisik Kiara.
" Kembaran apaan " dahi Diana mengkerut.
Kiara lalu menunjuk dengan dagunya. Diana mengikuti arahan Kiara. Diana melihat Adi berjalan ke kantin. Diana mendengus kesal kenapa temannya selalu mengolok dia dan Adi sebagai kembaran padahal nggak ada mirip-mirip nya sama sekali. Orang tua dia dan Adi saja beda kembar dari mananya coba. Dasar teman menyebalkan, sungut Diana.
Adi duduk di depan dua gadis yang tadi membicarakan tentang dirinya.
" Lagi ngapain " tanya Adi.
" Ya lagi makanlah masak di kantin tawuran yang bener saja ' jawab Diana.
" Kirain nungguin orang ganteng " Adi tersenyum tipis.
" Mana orang ganteng nya " tanya Diana celingukan.
" Nih orangnya " tunjuk Adi pada dirinya sendiri.
Diana mendelik sebal.
" Hoek pengin muntah rasanya " sahut Diana.
Kiara tertawa cekikikan.
" Heh busyet deh nggak pernah lihat orang ganteng kayak aku " kata Adi percaya diri.
" Enggak " sahut Kiara sambil masih cekikikan.
" Wah mana ada orang muji diri sendiri ganteng ck ck ck " Diana geleng-geleng kepala.
" Ada tadi barusan " seru Adi.
" Percaya diri sekali tuan " ejek Diana.
" Ya harus percaya diri dong " sahut Adi santai.
Diana menatap Adi jengah.
" Sudah sudah ayo makan keburu dingin " kata Kiara menyantap bakso yang tadi ia pesan.
Diana langsung menyantap bakso yang belum sempat ia makan. Adi lalu memesan es teh saja karena udara siang ini cukup panas.
Dari jauh datanglah Ricko mendekati mereka dan langsung bergabung.
" Orang ganteng mau duduk dulu ah " Ricko mendaratkan pantatnya ke kursi.
" Ini nih orang ganteng satu ini percaya dirinya selangit " Kiara menanggapi.
__ADS_1
" Nah benar pasti kamu ngaku juga kan kalau aku ganteng " kata Ricko.
" Iya in sajalah Ki biar beres urusan nya " sahut Diana malas.
Kiara mengangguk cepat lalu sibuk dengan makanan nya. Sedangkan Ricko mendengus kesal.
" Hei itu siapa ya aku baru lihat " Ricko menunjuk seorang gadis yang mendekat ke kantin.
" Mana " tanya Adi.
Adi mengarahkan pandangannya ke gadis itu.
Kiara dan Diana melihat seorang gadis melenggang santai ke kantin. Setelah tahu keduanya kembali asyik dengan makanan nya.
" O itu mahasiswi pindahan " kata Kiara.
" Kok tahu " tanya Ricko.
" Ya tahulah dia satu kelas dengan kita. Tadi barusan masuk " Diana mengiyakan ucapan Kiara.
" Wah wah wah " Ricko berbinar ceria.
Kiara dan Diana geleng-geleng kepala.
Ricko melihat gadis itu melangkah mendekat ke meja nya. Adi melirik sekilas gadis berkulit putih bersih itu lalu tersenyum tipis. Pandangan gadis berkulit putih bersih itu tertuju pada Adi. Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan Adi.
" Boleh gabung di sini " tanya gadis mengedarkan pandangannya.
" Oh boleh boleh silakan nona duduk di sini " Ricko menarik kursi untuk gadis itu.
Ricko menatap tak berkedip gadis yang baru saja duduk. Sementara dua gadis itu sedikit mengangguk. Adi yang berhadapan dengan gadis itu hanya diam saja.
" Boleh tahu nama nona yang cantik ini " Ricko tersenyum ramah.
Gadis itu mengangguk.
" Kenalkan namaku Meutia " kata gadis itu.
" Wah, nama yang cantik secantik orangnya " puji Ricko.
" Aku Kiara kita kenalan kan tadi " Meutia tersenyum sejuk.
" Kamu tahu aku Diana kita satu kelas " sahut Diana.
Meutia beralih menatap Adi.
" Adi " Adi mengulurkan tangannya.
" Dan aku Ricko " Ricko menjabat erat tangan Meutia.
Ricko menahan tangan Meutia.
" Nona, kamu seperti matahari yang bersinar bila di deket nona hati ini jadi meleleh " ujar Ricko.
Kiara mencibir.
" Nggak usah di dengerin dia Tia " seru Kiara.
" Bener tuh kata Kiara dan satu lagi jangan tergoda mulut manis nih orang " tunjuk Diana pada Ricko.
" Ck, kamu tuh ya temen lagi usaha ya mesti di dukung " sungut Ricko.
" Heh, Naomi mau dikemanakan mau dibuang ke laut " peringat Kiara.
" Kamu tuh ya pelan dikit suaranya bantu dapetin simpati Meutia " bisik Ricko.
" Heh, kamu nggak nyadar kalau Naomi orangnya kayak gimana " bisik Kiara.
Ricko mengusap tengkuknya menyadari kekasihnya Naomi berhati lembut. Dan mau menerima Ricko dengan segala kekurangannya.
Sedangkan Ricko sedikit mengabaikan ucapan Kiara.
" Nah kan nggak nyadar juga entar ditinggal Naomi baru tahu rasa " Kiara menatap jengah.
Ricko hanya tersenyum kecut lalu melirik ke Meutia.
Meutia tersenyum manis semanis gula membuat Ricko menatap gadis itu sedikit lama.
" Boleh dong entar abang yang ngantar nona pulang " tatap Ricko tak beralih pada Meutia.
Saat Meutia hendak bicara ponsel Ricko berdering. Ricko berdecak sebal melihat nama yang berkedip di layar ponselnya.
" Siapa Rick " tanya Kiara.
" Sudah angkat saja " seru Diana.
__ADS_1
" Dia sudah di parkiran " lirih suara Ricko.
Ricko menunjuk ponselnya kepada dua gadis di sampingnya.
" Samperin sana " sahut Diana.
" Kamu nggak kasihan sama dia " kata Kiara.
Ricko menghela nafasnya ia tak rela pergi dari kantin tapi ia kasihan juga kalau Naomi nunggu lama. Terpaksa Ricko melangkah menuju mobilnya terparkir.
Kini tinggal Kiara, Diana, Adi dan Meutia. Mereka berempat berbincang akrab sampai akhirnya Kiara dan Diana pamit pulang. Tinggal Adi dan Meutia duduk berhadapan. Adi yang tidak banyak bicara melihat jam di tangannya. Adi bangkit hendak pergi tapi Meutia menahan langkah lelaki berkulit sawo matang itu.
" Boleh nebeng sampai depan perempatan " tanya Meutia.
" Ya boleh " sahut Adi sedikit menganggukkan kepalanya.
Adi berjalan bersisian dengan Meutia sampai ke parkiran motornya.
" Maaf aku hanya punya motor kamu nggak malu naik motor bareng aku " tanya Adi.
" Nggak " Meutia menggeleng pelan.
" Ya udah ayo " ajak Adi.
Adi menunggu Meutia naik ke motornya. Adi melajukan motornya keluar dari kampus. Motor Adi telah melewati perempatan.
" Eh udah lewat harusnya aku turun di sana " kata Meutia.
" Aku antar sampai rumah mu em rumah mu dimana " tanya Adi.
Meutia girang di dalam hatinya karena itu yang ia mau sebenarnya. Akhirnya Meutia memberitahukan alamat rumahnya. Adi mengantar Meutia sampai ke rumah nya. Setelah berpamitan Adi menjalankan motornya keluar dari perumahan menuju jalan raya.
Adi melajukan motornya sampai di pertigaan jalan menuju rumah nya. Sampai di lampu merah ia bertemu sahabatnya Daniel. Daniel memberi kode pada Adi untuk mengikuti dirinya. Adi mengangguk setuju.
Setelah lampu berubah hijau Adi mengikuti motor sahabatnya menuju tempat keduanya biasa nongkrong.
Adi dan Daniel masuk ke kafe keduanya duduk berhadapan lalu memesan minuman. Tidak berapa lama pesanan datang. Adi minum lemon tea dan menaruh kembali ke meja. Daniel masih diam menatap tajam ke arah sahabatnya.
" Kamu serius sama Maria " tanya langsung Daniel.
" Iya, emang ada apa " jawab Adi.
" Kalau serius sama Maria siapa gadis itu " tanya Daniel.
" Gadis yang mana " Adi mengeryit heran.
Adi jarang sekali bertemu dengan sahabatnya. Sekalinya ketemu diberi pertanyaan yang tidak ia mengerti
" Jangan pura-pura nggak tahu " seru Daniel.
Adi terhenyak kaget mendengar suara sahabatnya yang meninggi.
" Beneran aku nggak ngerti yang kamu omongin " jujur Adi.
" Baik aku beritahu agar kamu ngerti " kata Daniel tanpa melepas pandangan sedetikpun dari sahabatnya.
Daniel membuang nafas kasar.
" Siapa gadis yang barusan kamu antar " Daniel menelisik sahabatnya.
Barulah Adi paham apa yang membuat Daniel mengajaknya ke kafe. Saat Adi mengantar Meutia tadi kemungkinan sahabatnya itu melihat. Sehingga sahabatnya beranggapan ia melupakan Maria.
" Oh itu Meutia " jawab Adi.
" Jadi namanya Meutia ada hubungan apa kamu sama dia " tanya Daniel.
" Nggak ada hubungan apa-apa cuma ngantar doang. Lagian dia mahasiswi baru di kampus " jujur Adi.
" Jangan macam-macam ingat aku ngalah sama kamu bukan berarti aku nggak peduli sama Maria. Aku nggak mau dia sakit hati karena ulah kamu " peringat Daniel.
" Iya tenang saja " sahut Adi.
" Ya udah aku pergi dulu " Daniel menepuk bahu sahabatnya.
Sebelum pergi Daniel menaruh sejumlah uang ke meja dan berlalu dari sana.
Adi masih duduk di sana merenungi ucapan sahabatnya. Hm sudah lama aku tidak ketemu Maria, gumam Adi. Baiklah aku akan ke sana sekarang. Adi bangkit melangkah pergi dari kafe.
*********
Up lagi.
Yok beri like, komen dan vote nya ya.
Terimakasih ...❤️❤️❤️
__ADS_1