
Karena Adi belum mendapatkan sekretaris baru jadi untuk sementara waktu Chris lah yang menjadi sekretaris kakaknya itu. Hari-hari dilalui Chris dengan kesibukan melebihi hari biasanya yang hanya sebagai asisten Adi. Setelah berpikir cukup lama akhirnya Chris memanggil Diana untuk membantu pekerjaannya.
Dan kini Diana bekerja satu ruangan dengan Chris. Meski bekerja di ruangan yang sama Diana harus menuruti apa kata Chris. Chris berbeda dengan Adi, Chris seorang yang dingin dan tegas seperti ayahnya membuat Diana tunduk pada semua yang dikatakan oleh Chris.
Sore harinya sepulang kerja Chris menemui Will di kafe dekat kantor. Chris menghentikan mobilnya di depan kafe. Lelaki muda itu turun dari mobil dan mencari temannya. Setelah melihat sosok temannya Chris mendekat ke meja Will. Lelaki tampan sebaya Chris itu duduk santai sambil menghisap sebatang benda bernikotin. Chris duduk di depan Will.
" Gimana Will " tanya Chris.
" Kalau yang kau minta itu seperti Diana nggak ada " sahut Will.
" Hai aku minta seorang sekretaris bukan seorang seperti Diana " Chris geram.
" Belum ada " jawab Will.
" Will, kau tahu kan akhir- akhir ini kerjaan ku numpuk " Will mengangguk.
Will menatap temannya ada rasa kasihan juga melihat Chris melakukan tugas sebagai asisten sekaligus sekretaris Adi. Will tampak ragu untuk mengatakan pada temannya.
" Ada apa Will " tanya Chris.
Will menekan pelipisnya tampak berpikir sejenak.
" Ada sih dia .... " Will tak melanjutkan ucapannya.
" Cepat katakan " Chris tak sabar.
" Meira " Will melirik Chris.
Chris tertegun mendengar nama Meira disebut oleh Will.
" Gimana ' Chris masih diam.
Sejurus kemudian.
" Selain dia " Chris menoleh ke arah Will.
" Hanya dia yang pintar dan cekatan seperti Diana ' ucap Will.
Hm, Chris mendengus pelan. Sebaliknya Will aku dulu memilih Diana sebagai sekretaris kakakku karena dia pintar dan cekatan seperti Meira, gumam Chris.
" Cari yang lainnya " sahut Chris.
Ck, Will berdecak sebal.
" Kenapa kau takut kakakmu akan tertarik padanya " seru Will.
" Bu bukan itu " Chris mengusap tengkuknya.
" Lalu " Will menelisik Chris.
__ADS_1
" Cari yang lain aku tunggu kabar darimu seminggu lagi " Chris kekeh.
" Nggak bisa pak Chris yang terhormat minggu ini aku sibuk " Will memberi alasan.
Memang Will berkata begitu bukan tanpa alasan. Karena seminggu ke depan Will sangat sibuk untuk persiapan audit perusahaan.
Huh, Chris menghela nafas kasar.
" Aku nggak mau tahu aku tunggu kabar dari mu seminggu lagi " Chris tetap kekeh.
Kini Will yang mendengus sebal pada temannya yang nggak mau dibantah.
" Okey okey " sahut Will akhirnya.
" Ya sudah aku pulang dulu " Chris bangkit meninggalkan kafe.
Sementara di tempat lain.
Adi telah sampai di rumah dan masuk ke kamar. Lelaki berkulit sawo matang itu melihat istrinya dan baby Zaneta berada di ranjang. Shasha mengawasi baby Zaneta yang sedang bermain. Shasha menoleh saat suaminya membuka pintu kamar.
" Eh papa dah pulang " Shasha meraih baby Zaneta.
Baby Zaneta tertawa riang sambil mengangkat mainan nya. Adi meletakkan tas kerjanya lalu duduk di sofa melepas sepatunya. Dia tidak mendekat ke arah Shasha dan baby Zaneta karena istrinya pasti marah.
" Sebentar ya sayangnya papa " lalu Adi melangkah menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan berganti baju Adi mendekati istrinya yang duduk di sofa sambil memangku baby Zaneta.
Adi mencium pipi gembul putri kesayangannya itu. Baby Zaneta menanggapi dengan menepuk wajah papanya dengan tangan mungilnya. Adi memangku baby Zaneta dan duduk di sebelah istrinya.
" Mas cepat sekali pulangnya " tanya Shasha.
" Ya sayang kerjaan kantor mas bawa ke rumah " Shasha melihat suaminya.
" Kenapa nggak diselesaikan di kantor " tanya Shasha.
" Sudah mas periksa tinggal diberikan pada Chris " Adi meraih pinggang istrinya dan mencium sekilas bibir tipis istrinya.
Shasha kaget lalu mendorong pelan suaminya.
" Mas ada baby Zane " baby Zaneta tertawa melihat tingkah papa dan mamanya.
" Nggak pa pa sayang " sahut Adi.
Shasha tersipu malu sementara Adi terkekeh pelan.
" Aku siapkan makan malam dulu ya mas " Shasha hendak bangkit.
Tapi Adi memegang tangan istrinya.
__ADS_1
" Nggak usah di sini saja dulu " cegah Adi.
" Tapi mas aku mau bantu ibu ... " Adi menggeleng.
Shasha kembali duduk di sebelah suaminya.
Hening sejenak.
" Sayang " panggil Adi.
" Ya mas " sahut Shasha.
" Kita sudah lama nggak jalan-jalan " Shasha menatap suaminya.
Ya lama sekali bahkan hampir nggak pernah mas, gumam Shasha.
" Gimana kalau kita jalan-jalan " Adi menoleh ke istrinya.
" Lalu baby Zane sama siapa ? " tanya Shasha.
" Kita bawa baby Zane dia sudah cukup kuat berada diluar rumah. Baby Zane pasti senang ya kan sayangnya papa " Adi mengusap lembut kepala baby Zaneta.
Batita mungil itu tertawa sambil memukul-mukul lengan papanya. Shasha tersenyum dan tampak senang menanggapi ucapan suaminya.
" Kapan mas " sahut Shasha.
" Besuk " jawab Adi.
" Mas nggak ke kantor " tanya Shasha.
" Ada Chris " sahut Adi.
" Kasihan Chris gimana kalau akhir pekan ini " tawar Shasha.
" Tenang saja Chris bisa menghandle semuanya " jawab Adi.
Shasha melihat suaminya lalu mengangguk.
" Ayo pasti ibu sudah menunggu di ruang makan " ajak Adi.
Sepasang suami-istri itu bersama baby Zaneta dalam gendongan Adi keluar kamar menuju ruang makan.
*****************
Wow papa Adi mau bawa Shasha dan baby Zaneta jalan-jalan ke mana ya...
Yang penasaran ikuti kelanjutannya di Maafkan Aku, Istriku....
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya ya.
__ADS_1
Terimakasih....♥️♥️♥️