
“Masih adakah cinta?”
Pertanyaan itu selalu dilemparkan Erna setiap ada lelaki yang menyatakan cinta padanya. Hal itu disebabkan dia sudah tidak percaya kalau cinta itu masih ada. Jika lelaki yang telah menyatakan cinta itu menjawab masih ada, maka dia kembali bertanya, “Seperti apa dan bagaimana perwujudan dari cinta itu?”
Namun jika lelaki yang telah menyatakan cinta itu terdiam, seperti Roy saat ini, Erna mendesaknya dengan bertanya, “Bagaimana, Roy, masih adakah cinta?”
Roy menghela nafas panjang dan balik bertanya, “Apakah penting jawaban dari pertanyaan itu, Erna?”
Erna mengangguk seraya berujar dengan nada serius, “Iya, Roy, itu sangat penting bagiku.”
“Kenapa?” tanya Roy penasaran.
“Karena jawaban dari pertanyaan itu akan menjadi alasan bagiku untuk menerima atau menolak cintamu itu,” terang Erna. “Bagaimana, Roy, masih adakah cinta?”
Roy terdiam. Dia terlihat bingung.
“Kalau kamu tidak bisa menjawabnya, berarti kamu sendiri belum paham apa itu cinta, Roy,” ujar Erna melihat kebingungan Roy. “Jadi buat apa kamu menyatakan cinta kalau kamu sendiri tidak paham apa itu cinta?”
__ADS_1
“Karena aku ingin kamu jadi pacarku, Erna,” jawab Roy dengan nada serius.
Erna hanya tersenyum di ujung bibir mendengar ucapan Roy.
“Aku serius, Erna, aku ingin kau jadi pacarku,” ujar Roy menandaskan.
“Jadi pacarmu?” ujar Erna seperti pada diri sendiri. “Apakah hanya karena itu kamu menyatakan cinta padaku, Roy?” Erna bertanya.
Roy terdiam.
Roy masih terdiam.
“Serendah itukah arti cinta bagimu, Roy?” Erna bertanya lirih.
“Tapi itu ‘kan yang biasa dipahami oleh teman-teman, Erna,” tukas Roy membela diri. Lalu dia menyebutkan satu per satu teman-temannya yang sudah pacaran.
Erna hanya menggeleng-gelengkan kepala saat Roy menyebutkan beberapa temannya yang sudah pacaran. Wajahnya terlihat mendung. Barulah setelah Roy selesai menyebutkan semua teman-temannya yang sudah pacaran, Erna angkat bicara, “Kamu semakin merendahkan hakikat cinta, Roy. Kamu tidak punya prinsip, kamu tidak punya pegangan, kamu hanya ikut-ikutan dalam hal cinta, Roy.”
__ADS_1
“Tetapi bukankah seperti itu juga anggapan orang yang melihat dua sejoli yang lagi pacaran?” tukas Roy. “Mereka pasti berpikir bahwa berpacaran itu terjaling karena cinta, karena saling jatuh cinta, atau karena saling mencintai. Bukankah itu artinya, sekarang cinta sudah dipahami sebagai aktifitas pacaran? Tanpa pacaran tidak ada cinta!”
Erna diam. Wajahnya semakin muram. Perlahan-lahan tapi pasti mata Erna berkaca-kaca.
Melihat perubahan pada diri Erna, aku yang semenjak tadi hanya diam menyaksikan dan mendengar pembicaraan antara Erna dan Roy spontan berseru dengan perasaan khawatir, “E-Erna, ka-kamu tidak apa-apa?”
Erna seperti tidak mempedulikan seruan kekhawatiranku. Dia dengan suara berat berujar, “Ya, kita akan berpikir bahwa mereka saling jatuh cinta dan saling mencintai. Tetapi kemudian kita menyaksikan banyak tragedi yang memimpah perjalanan cinta mereka. Ada yang hamil lalu dikeluarkan dari sekolah, ada yang bunuh diri karena diputusin pacarnya, ada yang ditangkap polisi karena membunuh pacaranya selingkuh, ada juga yang jadi cabe-cabean karena merasa dikhianati pacarannya, ada yang putus lalu saling bermusuhan dan masih banyak lagi tragedi lainnya. Apakah seperti itu cinta, yang pada akhirnya untuk saling menyakiti?”
Roy bungkam.
“Apakah untuk itu cinta, Roy?” tanya Erna yang kali ini sudah dihiasi isak tertahan. “Apakah cinta untuk saling menyakiti?”
Roy semakin bungkam, lalu pergi tanpa seucap kata pun.
Erna yang sudah tidak kuasa menahan isak langsung menangis sepeninggal Roy. Di sela-sela tangisannya, beberapa kali meluncur nama Rita dari mulutnya.
Sedangkan aku hanya diam, bingung dan tidak tahu mesti berbuat apa. Dalam diamku, kupandangi wajah Erna dengan tatapan sayu…
__ADS_1