Masih Adakah Cinta

Masih Adakah Cinta
Episode 2


__ADS_3

“Uf, udaranya cerah sekali, ya Man,” ujar Anjas temanku seusai latihan karate sambil melepas sabuknya.


Aku mengangguk sambil mengambil kaos dan meletakan baju karate yang barusan kulepas ke atas tas punggungku.


“Ngomong-ngomong, lu pacaran ama tuh cewek?” tanya Anjas yang telah melepas baju karate.


“Cewek mana?” tanyaku sambil mengenakan kaos.


“Itu, yang sering nungguin lu saat latihan,” terang Anjas.


“Oo, maksud lu Erna?”


Anjas mengangguk.


Aku hanya tersenyum melihat anggukan kepalanya.


“Jadi benar lu pacaran ama dia?” tanya Anjas melihatku tersenyum.


“Ah, ngaco lu,” sahutku sambil memasukan baju karateku ke dalam tas. “Mana mungkin dia mau ama gue, Jas.”


“Emang kenapa?” sahut Anjas bertanya.


“Gue itu jauh di bawah standar dia, jauh, Jas!”


“Tapi kok dia sering nungguin lu latihan?” tanya Anjas masih penasaran. “Jarang loh, Man, ada cewek yang mau nungguin cowok latihan kalo tidak ada hati.”


“Ah, lu aja yang kagak tahu masalahnya, Jas,” sahutku santai.


“Emang apa?”


“Gini, ya Jas,” ujarku sambil memakai tasku ke punggungku, “kedua orangtuanya ‘kan sibuk kerja dan baru pulang jam lima. Nah, daripada di rumah sendirian dan ngelamun yang kagak jelas, dia ngerasa mendingan di sini nungguin gue latihan.”


“Ah, itu ‘kan alasan lu aja, Man,” sela Anjas.


“Lho, itu bukan alasan gue, Jas, dia sendiri yang bilang gitu ama gue,” ujarku serius. “Awalnya gue juga kagak enak ditungguin ama dia. Lu sendiri ‘kan tahu itu.”


Anjas mengangguk.


“Gue udah berusaha mencegah dia supaya jangan nungguin gue latihan, tapi dia tetap maksa dan memberi alasan seperti itu,” lanjutku. “Yaa udah, mau tidak mau gue setuju-setuju aja.”


“Tapi apa lu kagak coba tembak dia?” tanya Anjas sambil mengedipkan mata kanannya.


Aku cuma ketawa kecil


“Siapa tahu dia mau terima lu,” ujar Anjas.


“Kalo pun dia mau ama gue, Jas, walau itu sangat amat tidak mungkin, gue bisa mati dibunuh ayah gue kalo tahu gue pacaran,” sahutku serius dan kulihat kepala Anjas manggut-manggut, soalnya dia tahu betul bagaimana kerasnya ayahku melarangku pacaran. Sampai-sampai ayah pernah berrpesan sama dia untuk melapor kalau ketahuan aku punya pacar.


“Jadi jangankan nembak, Jas, bayanginnya aja gue kagak berani,” ujarku lagi.


“Kasian lu ya, Man,” sahut Anjas.


“Lho, kenapa kasian, Jas?” tanyaku bingung.

__ADS_1


“Ya, karena lu kagak akan pernah ngerasain bagaimana rasanya pacaran,” jawab Anjas. “Itu yang buat gue kasian ama lu.”


Aku tersenyum dan menyahut dengan entengnya, “Nanti juga gue rasain.”


“Kapan?” tanya Anjas menatapku dengan serius. “Lu ‘kan kagak boleh pacaran, Man.”


“Ya, nanti kalo gue udah nikah.”


“Yaa beda dong, Man,” sahutnya.


“Apanya yang beda, Jas?”


“Bedanya…”


“Hey, Man! Cepetan dong!” seru Erna dengan wajah cemberut. “Aku sudah laper nih!”


“I-iya, sebentar,” sahutku. “Gue cabut dulu ya,” ujarku sama Anjas.


Anjas hanya mengangguk.


Aku pun lari menghampiri Erna.


“Lama banget sih?” ujar Erna setelah aku berada di dekatnya. “‘Kan sudah sejak tadi selesai latihannya.”


“I-iya, maaf,” ujarku minta maaf. “Oya, mau makan apa?”


“Baso, tapi kamu yang bayar sebagai hukumannya,” jawab Erna.


...


“Aku serius, Erna, aku cinta kamu,” ujar Jaka mengungkap perasaannya.


Erna diam. Dia tampak santai mengaduk minuman es yang ada di depannya.


“Bagaimana, Er, apakah kamu mau menerima cintaku?” tanya Jaka.


“Masih adakah cinta?” sahut Erna balik tanya dengan nada ringan.


“Apa?” seru Jaka bertanya.


“Masih adakah cinta?” ujar Erna mengulang pertanyaannya.


“Oo, pasti masih, Erna,” jawab Jaka cepat dengan nada optimis. “Cinta akan selalu ada selama kehidupan di dunia ini masih ada.”


“Kalau masih ada, seperti apa dan bagaimana perwujudannya?”


“Pacaran, itulah perwujudan dari cinta, Er,” jawab Jaka mantap. “Dengan pacaran, perasaan cinta, seperti kangen, rindu dan selalu ingin bertemu bisa tersalurkan. Pokoknya, Er, dengan pacaran seluruh perasaan cinta bisa diwujudkan dalam aktifitas nyata.”


“Seperti pegangan tangan?” tanya Erna.


Jaka mengangguk dengan gerakan anggun.


“Berpelukan?”

__ADS_1


“Kenapa tidak?” sahut Jaka. “Bahkan tidak hanya berpelukan, Er, berciuman juga. Dan jika perlu, menyatukan jiwa raga dalam gairah cinta.”


“Maksudmu…bercinta?”


“Ya, bercinta,” ujar Jaka membenarkan.


Erna mengangguk-angguk. Sedangkan aku melihat ada percikan-percikan api di dalam sorot matanya.


“Seperti suami istri?”


“Secara natural aktifitas pacaran pasti akan sampai ke situ,” jawab Jaka. “Terutama di hari valentine, atau di hari ulang tahun atau…”


“Bagaimana kalau ternyata wanitanya sudah tidak perawan?” potong Erna.


Jaka tersenyum nakal mendapat pertanyaan seperti itu dan balik bertanya,


“Maksudnya…kamu sudah tidak perawan, Erna?”


Erna mengangguk sambil melirik ke arahku.


HAH?! Aku kaget setengah mati melihat anggukan kepala Erna itu.


“Kalau kamu sudah tidak perawan, maka aktifitas pacaran kita akan lebih romantic dan menggairahkan,” ujar Jaka dengan senyum semakin nakal.


“Maksudmu…?”


“Bukankah bumbu terindah dan tersedap dari cinta yang diwujudkan dalam aktifitas pacaran adalah bercinta?” sahut Jaka. “Dan bumbu itu akan cepat tercecap rasanya jika kamu sudah ti…”


Byurrr…


“Pergi!” seru Erna setelah menyiramkan air es minumannya ke wajah Jaka.


Aku yang sudah tersadar dari rasa kagetku oleh anggukan Erna tadi jadi bengong melihat aksi wanita itu.


“Ka-kamu…”


“Pergi kataku!” bentak Erna memotong omongan Jaka dengan tatapan jijik.


Jaka mau buka mulut, tapi Erna sudah lebih dulu bicara dengan nada mengancam, “Kalau tidak pergi, aku lempar gelas ini ke wajahmu!”


Melihat ada kemarahan di wajah Jaka, instingku berbisik akan terjadi sesuatu. Maka cepat-cepat aku bangkit dan berjalan menghampiri Jaka dan memeluk pundaknya.


“Ayo, Jak, pergi,” ajakku lembut dengan wajah serius.


Awalnya Jaka mau menolak. Namun begitu melihat keseriusanku, akhirnya dia mengalah. Sebelum pergi, kulihat tatapannya yang penuh ancaman di arahkan ke Erna.


“Apa?!” seru Erna sambil mau melempar gelas yang ada di tangannya.


Aku dengan sigap merebut gelas yang ada di tangan Erna sambil menyuruh Jaka cepat pergi.


Erna langsung menangis sambil kembali duduk di kursinya begitu gelasnya sudah beralih ke tanganku.


Aku diam dan bingung mendapati Erna menangis. Apalagi kulihat para pengunjung lain melayangkan pandangan penuh tanya ke arahku dan Erna, semakin membuatku bingung. Akhirnya aku hanya bisa duduk seperti patung di kursi bekas Jaka, menunggu tangis Erna reda.

__ADS_1


__ADS_2