
18 jam waktu yang dibutuhkan Mila, Gio dan Kevin untuk membawa pulang jenazah Dewa.Sampai dikediaman Dewa, sudah sangat banyak pelayat yang berdatangan.Jenazah segera dimandikan dan dikafani.Tangis anak dan para saudara pecah, saat melihat jenazah Dewa yang selesai dikafani.Begitu juga Azza yang masih terlalu kecil ditinggal sang ayah.
"Bunda kenapa ayah bobonya lama,itu kenapa ayah dimandiin ayah nggak bisa mandi sendili ya" tanya Azza
"Ayah.....ayah bangun, ayo kita jalan- jalan kan ayah sudah lama nggak pulang, ayah janji kalau ayah pulang, ayah ajak Azza sama mba Nai jalan- jalan.Ayo bangun ayah"
Azza beralih menatap Fatma " Tante kok ayah nggak bagun- bangun.Kan ayah janji mau ajak Azza dan Mba Nai jalan- jalan".
Mereka yang mendengar perkataan Azza tidak bisa membendung air mata mereka.Tapi Mila segera menarik sang anak dalam pelukannya.Membisikan kata - kata yang menenangkan.
"Azza sayang.....Azza maukan jadi anak solehanya ayah" Azza mengangguk memberi jawaban " Kalau Azza mau jadi anak soleha, doa in ayah ya.Sekarang Allah mau ketemu sama ayah Allah mau ayah jadi bidadari Surganya Allah" jelas Mila dan Azza yang memang anak yang cerdas tidak lagi bertanya
Azza hanya diam, memandangi sang ayah yang sedang dikafani.Azza yang berada didelam pelukan Mila memeluk sang bunda kuat.
Fatma,Ibra,Izar, Nai dan Azza memeluk Mila. Bagi mereka, lebih baik melihat Mila yang menangis, dari pada seperti saat ini.Mila hanya diam, sambil sesekali mencium Nai dan Azza.Mila harus kuat,Karena bagi Mila, mereka berdua akan sangat rapuh, bila melihat Mila menagis .Mila harus berusaha menguatkan kedua putrinya, mengatakan bahwa semua akan baik- baik saja.Walau Mila sendiri merasa tidak baik- baik saja. Mila bukan hanya kehilangan suami tapi kehilangan belahan jiwanya Tapi karena itu yang diinginkan Dewa,Mila akan melakukannya.Mila akan kuat, tegar dan tidak akan meratapi.
Nai pun sangat bersedih, karena Dewa yang dengan tangan terbuka menerima Nai.Dari dia masih belum bisa berjalan, sampai Nai sudah sebesar ini, membuat Nai lebih merasa sangat kehilangan Dewa, dari pada saat kepergian Anto untuk selamanya.Karena panggilan Ayah pertama diucapkan Nia pada Dewa.Yang mengajarkan berjalan pertama adalah Dewa.Yang membimbingnya belajar pertama adalah Dewa dan Cinta pertamanya pun adalah Dewa bukan Anto ayah kandungnya.
Apalagi Azza buah cintanya bersama Dewa, Azza masih terlalu kecil untuk kehilangan sosok ayah.Cinta pertamanya,tapi dia belum cukup mengerti,dan disinilah Mila harus berperan menguatkan mereka.
Para pelayat wanita bergantian memeluk Mila, menyalurkan kekuatan kepadanya.Sedangkan Ibra dan Izar duduk disamping jenazah Dewa dengan fikiran jauh menerawang.
__ADS_1
"Yah kenapa begitu cepat ayah meninggalkan kami, bagaimana kami tanpa ayah, bagaimana bunda yah.Izar tak tega melihat bunda seperti ini yah. Tapi Izar tidak bisa melawan kehendak Allah yah.Izar janji akan jagain bunda dan adik- adik.Izar akan membuat ayah bangga kepada Izar,Sama seperti ayah bangga kepada bang Ibra.Sampai ketemu di Surganya Allah yah" ucap Izar lirih
Sedangkan Ibra masih termenung mengingat bagaimana pertama kali bertemu, bagaimana Dewa begitu menyayangi mereka yang bukan darah dagingnya.Bagaimana cara Dewa mencintai bunda mereka.
Ibra merasa masih butuh bimbingan Dewa.Tapi ternyata Allah lebih sayang kepada Dewa.Ibra merasa memikul tanggung jawab yang besar, dan Ibra berjanji akan memegang tanggung jawab itu, Demi membalas semua yang sudah Dewa lakukan untuk mereka.
"Ayah...tentu berat rasanya kehilangan ayah.Ayah mengembalikan tanggung jawab dipundak Ibra.Tapi Ibra berjanji pada ayah, akan berusaha menerima tanggung jawab yang ayah berikan.Tapi Ibra tidak tau harus bagaimana membuat bunda tersenyum lagi.Karena ayah tau, ayah adalah dunia bunda selain kami.Apakah Ibra mampu membuat bunda kembali tersenyum". Jeda sejenak Ibra menarik nafas "Tapi Ibra akan berusaha agar bunda tidak bersedih,itu janji Ibra.Ayah yang tenang ya disana, dan sampai berjumpa lagi di Surganya Allah.
Kini jenazah Dewa sudah selesai dishalatkan,banyak para pelayat yang mengantarkan Dewa ketempat peristirahatan terakhir.Mereka semua sangat kehilangan sosok Dewa.Sedangkan Mila tak ada setitik air mata pun yang jatuh.Mila berusaha menahan semua gemuruh dihatinya.Mila berusaha menahan sesak didadanya.Bukan tanpa alasan mila melakukan semua itu, semua demi Nai dan Azza.Mereka berdua butuh ketegaran Mila.Karena sekali Mila rapuh dihadapan mereka, maka mereka akan lebih rapuh.Selesai prosesi pemakaman, semua meninggalkan pemakaman kecuali keluarga.
Mila masih menatap gundukan tanah yang ada dihadapannya.Walau tak ada air mata, tapi mereka yang ada disana bisa melihat kesedihan yang mendalam.Kesedihan seorang istri yang ditinggalkan oleh suami tercintanya.Tapi mereka semua akan membantu menguatkan Mila dan anak-anaknya.
Fatma dan Gio tau,Ibra yang sudah dewasa pun, saat ini rapuh kehilangan Dewa.Tapi dia berusaha kuat, karena bunda dan adik- adiknya membutuhkan dia.Oleh sebab itu mereka akan selalu ada buat Mila dan anak- anaknya.
"Iya bunda,ayo kita pulang hari sudah mau maghrib dan nanti kita juga akan mengadakan tahlilan buat ayah" tambah Ibra
Tanpa bantahan Mila berdiri dari depan makam sang suami.Masih dengan menggendong Azza,dan bergandengan dengan Nai dan Ibra.Mila berjalan keluar dari makam sang suami.Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai dihalaman rumah yang masih ramai dengan para pelayat begitu juga saudara yang lain.
Mereka masuk kedalam rumah, dan segera membersihkan diri.Saat berjalan melewati para saudara, ada juga yang bergunjing tentang Mila.Dia adalah Ani,saudara jauh dari Fatma, yang dulu pernah mau menjodohkan anaknya dengan Dewa.Tapi di tolak karena Dewa sudah mencintai Mila.Makanya hingga sekarang dia tidak suka dengan Mila.
"Lihat si Mila enak banget ya dia sekarang Dewa sudah meninggal, hartanya jadi milik dia dan anak- anaknya.Padahal anak Dewa cuma Azza loh" yang lain juga melirik Mila
__ADS_1
"Sebelum Dewa meninggal pun anaknya yang diminta memimpin perusahaan, pasti dia memaksa Dewa, kalau nggak, nggak mungkun Dewa mau".
"Iya juga ya" jawab bu Yuni " Lihat Dewa meninggal saja dia nggak mengeluarkan sedikit pun air mata pasti dia senang Dewa meninggal jadi dia bisa menguasai semua hartanya" tambah bu Yuni melanjutkan persepsinya.
Fatma sangat geram dengan ucapan Ani dan Yuni,tapi Mila tetap berlalu tidak perduli apa kata orang lain.Karena Mila tidak perlu menunjukkan seberapa besar kesedihan kehilangan belahan jiwanya.Cukup bagi Mila berbagi kesedihan kepada sang pemilik hidup.
Sedangkan Fatma segera mendatangi Ani dan Yuni.
"Hai... tanteAni, tante yuni, kalau kalian ingin menghujat orang lain, jangan disini.Karena disini sedang dalam suasana duka.Dan kalau kalian tidak tau apa-apa lebih baik kalian diam dan jangan asal bicara" ujar Fatma ketus
"Eh...Fatma tante kan nggak asal bicara buktinya si Mila itu nggak nangis dan nggak sedih ditinggal Dewa" Jawab bu Ani tal kalah ketus
Fatma yang sudah malas meladeninya pergi meninggalkan mereka.Fatma segera mencari keberedaan Gio sang suami membicarakan tentang acara tahlilan malam ini.
**********************************************
Hai para raiders terima kasih yang sudah baca karya aku ya.Dan dukung terus karya aku karena tanpa dukungan kalian karyaku tak akan berarti.
Dan mohon maaf apabila karyaku masih belum membuat kalian puas karena disini aku masih tahap belajar dan maaf jika masih banya typo dan masih banyak cerita yang tidak beraturan.
Salam sayang selalu dari
__ADS_1
bunda Dee~Vie