
Binsar mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena hapeku hilang, Pak.”
“Kapan?”
“Kemarin, Pak.”
“Lalu kamu menuduh Saman yang mengambilnya?”
Binsar mengangguk.
“Kenapa kamu punya pikiran kalau Saman yang mengambilnya?”
“Awalnya aku tidak punya pikiran kalau Saman yang mengambilnya, Pak,” terang Binsar.
“Terus darimana pikiran itu muncul?”
“Begini, Pak,” ujar Binsar mulai menerangkan, “sewaktu aku mengabarkan hapeku telah hilang pada beberapa teman, Santi langsung berpendapat kalau yang mengambil hape itu Saman.”
Pandanganku langsung tertuju ke Santi dengan penuh tandatanya.
“Pada mulanya aku menentang pendapat Santi itu,” lanjut Binsar. “Namun setelah Santi memberikan alasannya, barulah aku mempercayainya, walaupun masih ada keraguan jika Saman yang telah mengambil hapeku.”
“Santi, coba kamu jelaskan alasanmu menuduh Saman yang telah mengambil hape Binsar?” tanya Pak Hidayat pada Santi.
__ADS_1
“Begini, pak Guru,” ujar Santi penuh percaya diri, “kemarin waktu istirahat kedua saya lihat Saman membuka tas Binsar. Awalnya sih saya tidak curiga apa-apa, tapi setelah Binsar bercerita kalau hapenya hilang, baru saya menaruh curiga sama Saman, kalau dialah yang mengambil hapenya Binsar.”
Seketika semua pandangan tertuju kepadaku.
Mendapat tatapan seluruh teman sekelas membuatku merasa terhina, hingga muncul dorongan kuat untuk langsung membela diri atas tuduhan yang diucapkan Sinta itu. Namun ketika ingat ketenangan Erna dalam menghadapi keviralan video itu, aku pun menahannya, dan berbisik dalam hatiku,
“Aku harus tenang…aku harus tenang.”
“Benar, Saman, kamu telah membuka tasnya Binsar?” tanya Pak Hidayat.
Aku menganguk. “Tetapi yang kulakukan itu atas sepengetahuan Binsar, Pak,” ujarku setenang mungkin.
“Maksudnya?”
“Begini, Pak…” aku pun lalu menerangkan alasanku membuka tas Binsar dari A sampai Z. Di akhir penjelasan aku kembali menegaskan, “Jadi, Pak, aku membuka tas Binsar kemarin itu untuk mengambil buku yang dia pinjam dariku, dan itupun atas permintaan Binsar supaya aku mengambil sendiri bukuku itu di tasnya.”
Binsar mengangguk.
“Berarti…”
ucapan Pak Hidayat ituJJJJJJJJJGGGGGG
Bersamaan dengan itu, terdengar pengumuman dari ruang TU melalui pengeras suara yang mengabarkan telah ditemukannya sebuah hape.
“Bagi yang merasa kehilangan, silakan datang ke ruang TU.”
Lees, aku merasa lega mendengar pengumuman itu.
__ADS_1
Pak Hidayat memerintah Binsar untuk ke ruang TU.
“Mudah-mudahan hape itu milik Binsar,” ujar Pak Hidayat seperginya Binsar.
Tidak lama kemudian Binsar kembali ke kelas dengan wajah yang bersinar-sinar. Dia langsung menunjukan hape yang kini ada di tangannya sambil tersenyum lebar. Dia berjalan ke arahku.
“Maafkan aku, Man, karena telah menuduhmu mengambil hapeku,” ujarnya tulus setelah berada di hadapanku sambil menyodorkan tangannya.
Aku menganguk sambil berdiri dan menyambut uluran tangannya serta memeluknya.
Santi pun itu meminta maaf padaku.
Aku menerima juga permintaan maafnya.
“Jadi benar kamu dituduh mencuri hapenya Binsar?” tanya Erna lagi.
Aku hanya mengangguk kecil.
“Tapi syukurlah hapenya telah ditemukan,” ujar Erna lega.
Aku kembali mengangguk. Dalam hati aku berbisik, “Terimakasih, Erna, berkat kamu aku tetap tenang dalam menghadapinya…”
...
Entah sudah berapa cowok yang telah mengungkapkan cinta pada Erna, namun ada tidak satu pun yang diterimanya. Bahkan selama SMA, dia tidak pernah menerima cinta seorang lelaki pun dan itu berkelanjutan sampai kuliah. Hal itu terbukti beberapa mahasiswa yang tertarik dan menyatakan cinta padanya, selalu saja ditolaknya.
Catatan: sebentar lagi habis
__ADS_1