Masih Adakah Cinta

Masih Adakah Cinta
Episode 3: Berhati-hati dihadapan Sosial Media


__ADS_3

Kemarahan Erna di kantin itu menjadi peristiwa yang tidak kusangka-sangka. Sebab baru pertama kali itu aku melihat Erna semarah itu. Bahkan tidak hanya itu, tanpa sepengetahuanku ada orang yang merekam peristiwa itu dan menyebarkannya ke sosmed, hingga jadi viral. Dan yang lebih hebohnya lagi, judul dari rekaman video itu adalah “Wanita marah karena diputusin pacarnya”, sehingga berbagai komentar pun bermunculan.


Viralnya peristiwa itu tidak hanya terjadi di dunia medsos, melainkan juga dalam kehidupan nyata, terutama di lingkungan sekolah, sungguh sangat viral sekali. Sehingga banyak tatapan dan lirikan penuh arti dari teman-teman sekolah ketika berpapasan denganku dan Erna.


“Apa kamu tidak tertekan dengan apa yang sekarang tengah terjadi?” tanyaku pada Erna.


Erna menggelengkan kepala ringannya dengan senyum menghias bibirnya.


“Benar?” tanyaku untuk memastikan.


Erna mengangguk. “Kamu sendiri gimana, Man?” tanyanya kemudian.


“Aku juga tidak masalah,” sahutku jujur. “Hanya aku tidak tega kamu jadi bahan olok-olokan mereka di medsos.”


“Yah, biarin aja, mereka ‘kan tidak tahu masalah yang sebenarnya,” ujar Erna ringan.


Aku mengangguk dan berkata, “Rasanya aneh juga ya kehidupan di dunia sosmed itu. Orang-orang yang tidak tahu apa-apa dari sebuah peristiwa, jadi sok tahu dan ikut berkomentar dengan penuh semangat, seolah-olah mereka tahu betul peristiwanya. Tapi ternyata komentar mereka salah. Seperti api jauh dari panggan. Apa mereka tidak takut komentar sok tahu mereka itu akan jadi fitnah?”


“Ya itulah dunia sosmed, Man, dipenuhi orang-orang yang sok tahu,” ujar Erna. “Oya, nanti pulang sekolah kamu ada latihan karate ‘kan?”


Aku mengangguk.


“Kali ini aku tidak bisa nungguin kamu ya,” ujarnya dengan nada merasa bersalah.


“Memang ada acara?”


Erna mengangguk. “Mama mengajakku main ke rumah Om Sigit,” jelasnya.


“Ya udah, tidak apa-apa,” ujarku.


...


Seusai latihan karate…


“Hey, ada apa ini, kok, enggak pada bubar, malah pada ngeliatin aku seperti itu?” tanyaku heran. “Ada apa ini, Bang Jajang?”


Bang Jajang, sang pelatih, menyahut, “Mereka ingin tahu peristiwa yang sebenarnya, Man.”


“Peristiwa? Peristiwa apaan?” tanyaku curiga, tapi pura-pura tidak tahu.


“Peristiwa yang viral di medsos itu, Kak,” sahut salah satu dari mereka.


“Udah, Man, lu ceritain aja, mumpung cewek lu kagak ada,” celetuk Anjas sambil tersenyum dan mengerlingkan mata kanannya.


Aku langsung memberinya ekspresi mengancam padanya.


Anjas hanya tertawa.


“Ayo, Man, ceritain kejadian yang sebenarnya,” seru salah satu dari mereka, yang kemudian di susul oleh teman-teman lain.


Menyaksikan keseriusan mereka ingin tahu cerita yang sebenarnya, akhirnya aku pun bersedia untuk bercerita, karena ada beberapa dari mereka satu sekolah denganku, hingga itu bisa dijadikan penangkal dari komentar-komentar miring teman-teman sekolah. Maka aku pun mulai menceritakan peristiwa itu dari A sampai Z, tapi tanpa menyinggung secuil pun percakapan tentang keperawanan.


“Oo, jadi lantaran Erna menolak cinta si Jaka,” sahut Wendi yang satu sekolah denganku setelah aku selesai bercerita.


Aku mengangguk.


“Tapi, Kak, judul video itu wanita marah karena diputusi pacar?” tukas Neneng dari sekolah lain yang satu tahun di bawahku.


“Bisa jadi yang ngevideo itu kagak tahu peristiwa yang sebenarnya, Neng,” sahut Endang, teman sekolahnya.


Teman-teman yang lain mengangguk-angguk membenarkan ucapan Endang.


“Emang kejadiannya di mana, Man?” tanya Bang Jajang.


“Di kantin tempat sekolah Erna dulu sebelum pindah, Bang,” jawabku.


“Oya, Man, si Jaka itu ‘kan terkenal playboy di sekolahan kami,” sahut Fahmi, teman sekelas Erna saat kelas satu dulu. “Dia itu.suka ganti-ganti pacar.”


“Oo, begitu…” seru teman-teman lain sambil mengangguk-anggukan kepala.

__ADS_1


“Bahkan temannya si Jaka, yang sama-sama playboy, mantan pacarnnya ada yang meninggal setelah beberapa hari putus,” lanjut Fahmi. “Menurut selentingan-selentingan yang beredar sih, dia mati karena bunuh diri.”


Semua teman-teman terdiam, hingga tempat latihan jadi sunyi.


“Siapa namanya, Fahmi?” tanya Bang Jajang.


“Kalau tidak salah, namanya…” lanjut Fahmi berusaha mengingat nama wanita yang meninggal itu. “Namanya kalau tidak salah Ri…Ri…”


“Rita,” celetukku spontan Dan semua mata tertuju ke arahku.


“Ya benar, Rita namanya,” sahut Fahmi sambil mengangguk-anggukan kepala. “Kok, kamu bisa tahu, Man?”


“Ya asal tebak saja,” ujarku senormal mungkin, sebab di dalam hatiku telah berkecamuk berbagai perasaan.


“Betul, Man,” seru Anjas tersenyum sambil mengacungkan jempol, “kalau bukan Rita, ya Rina, kalau bukan Rina, ya Rindu, kalau bukan Rindu, ya…”


“Risma!” sahut teman-teman lain serentak.


“Hus!” bentak Anjas sambil melototin teman-temannya. Tapi begitu matanya tertuju ke cewek yang duduk di sampingnya, sorot matanya langsung berubah dan disusul dengan anggukan serta senyuman semanis mungkin.


Teman-teman tertawa melihat tingkah Anjas itu. Sedangkan cewek yang ada di sampingnya melotot.


“Sudah, Risma, pukul saja si Anjas itu,” celetuk Bang Jajang di sela-sela tawanya. “Dia berharap kamu mati bunuh diri.”


“Demi Allah, Ris, tidak ada sedikit pun pikiran Bang Anjas seperti itu,” sahut Anjas. “Ah, Bang Jajang, jangan mengail di air keruh dong.”


Semetara teman-teman riuh dengan tawa dan celetukan-celetukan, aku hanya diam dengan sebuah pertanyaan dalam hati,


“Apakah Rita yang dimaksud Fahmi itu adalah Rita yang disebut Erna dalam tangisannya dulu?”


Lalu muncul keinginan kuat dalam hatiku setiap kali bertemu Erna bertanya tentang Rita. Namun ketika bersama Erna, aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya. Akhirnya aku hanya memendamnya dalam hati sambil memandang wajahnya.


...


“Kenapa sih beberapa hari belakangan ini kamu sering memandang wajahku seperti itu, Man?” tanya Erna suatu hari.


Aku yang sedang memandang wajahnya terkejut dan cepat-cepat membuang pandanganku.


Aku menggelengkan kepala.


“Lalu kenapa kamu sering memandangin wajahku, Man?”


Aku diam, bingung menjawabnya.


“Hati-hati, Man, jangan sering memandangin wajah cewek kayak gitu,” ujarnya dengan nada serius.


“Lho, emang kenapa?” tanyaku tanpa berani mengangkat paandangan.


“Bisa membangkitkan nafsu tau,” sahutnya.


“Maksudnya?” tanyaku masih belum paham.


“Ya ampun, cowok yang satu ini bebal banget sih,” ujar Erna jengkel. “Maksudnya…kalau kamu sering pandangin wajah cewek kayak gitu, kamu bisa nafsu sama tuh cewek. Ngerti?!”


Oo, seruku paham sambil menganggukan kepala/


“Nah, kalo kamu sudah nafsu sama tuh cewek, maka pikiranmu jadi ngeres, mesum. Ngerti?!”


Aku kembali mengangguk.


“Jadi aku berpesan sama kamu, Man, jangan pandangi wajah cewek kayak gitu. Ngerti?”


Kembali aku mengangguk.


“Janji?”


“I-iya, aku janji,” jawabku.


“Bagus,” sahut Erna sambil mengacungkan jempolnya. “Itu baru namanya cowok sejati.”

__ADS_1


Setelah itu Erna diam sambil tersenyum memandangi wajahku.


Aku jadi diam dan salah tingkah.


Tidak beberapa lama kemudian, tiba-tiba…


“Erna, kamu dipanggil Bapak Kepala Sekolah,” ujar Pak Hadi, Guru IPA.


Aku dan Erna terkejut. Lalu spontan aku bertanya,


“Memang ada apa, Pak Hadi?”


Pak Hadi hanya mengangkat kedua pundaknya.


Aku dan Erna saling berpandangan.


“Cepat, Erna,” ujar Pak Hadi.


Erna mengangguk, lalu bangkit dan berjalan menuju ke ruang Kepala Sekolah diantar Pak Hadi. Sedangkan aku berjalan di belakang keduanya.


Teman-teman sekolah yang melihat Erna berjalan di samping Pak Hadi menuju ruang Kepala Sekolah memandangku dengan pandangan penuh tanya. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban dari tatapan penuh tanya mereka.


Ketika Erna masuk ke ruang Kelapa Sekolah, aku menunggu di luar ruangan Kepala Sekolah.


“Hey, ternyata lu ada di sini, Man,” ujar Wendi saat melihatku.


“Lha, emang ada apa, Wen?” tanyaku.


“Ada yang ingin gue tunjukan ama lu,” jawabnya sambil mengacungkan hapenya. “Ayo sini, ikut gue.”


Aku pun berjalan mengikuti temanku itu.


Wendi berjalan ke arah mushalah sekolah yang letaknya tidak jauh dari ruang Kepala Sekolah. Dia berhenti sesampainya di teras mushalah.


“Nih, lihat,” ujarnya setelah mengaktifkan hapenya dan menyodorkannya ke padaku.


Aku yang sudah penasaran langsung menerima hape itu dan…


Di hape itu telah berputar sebuah video tentang percakapan Erna dan Jaka sampai pada kemarahan Erna. Video ini adalah versi lain dari video yang sempat viral sebelumnya. Karena video kali ini durasinya lebih panjang dari sebelumnya. Jika video sebelumnya di awali dengan adegan kemarahan Erna, namun video kali ini di awali dengan percakapan sebelum kemarahan Erna.


Aku merasa tegang menyaksikan video itu, sebab di dalam video itu ada pengakuan Erna tentang keperawanan yang hilang.


Adegan di dalam video itu di awali dengan pertanyaan Erna,


“Bagaimana kalau ternyata wanitanya sudah tidak perawan?"


Adegan berlanjut ketika Jaka bertanya dengan senyum nakal,


“Maksudnya…kamu sudah tidak perawan, Erna?”


Di video itu sangat terlihat jelas Erna menganggukan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Jaka sambil melirik ke arahku…


Ah…aku menghela nafas panjang sambil menyerahkan hape itu kembali ke Wendi.


“Emang bener apa yang ada di video ini, Man?” tanya Wendi setelah menerima kembali hapenya.


Aku hanya mengangguk lemah.


“Berarti…” Wendi tidak melanjutkan perkataaannya. Dia menatapku dengan tatapan penuh tanya. Lalu dengan nada ragu dia bertanya “Apakah…lu yang…?”


Aku menggelengkan kepala lemah. Ketika kulihat Erna keluar dari ruangan Kepala Sekolah, aku pun langsung pamitan sama Wendi dan berlari kecil mendatangi Erni sambil bertanya dalam hati,


“Apakah karena masalah yang ada di video itu Erna dipanggil Kepala Sekolah?”


“Gimana, Erna?” tanyaku dengan nada sebiasa mungkin.


“Ah, masalah sepele, Man,” sahutnya sambil tersenyum, seperti tidak terjadi apa-apa.


“Emang masalah apa sih kok sampai lama sekali?” tanyaku lagi.

__ADS_1


“Nanti juga kamu akan tahu, Man,” sahut Erna ringan.


Ya, aku sudah tahu, Erna, aku sudah tahu…


__ADS_2