
Tibalah hari pernikahan Rayyan dan Nai. Setelah pagi tadi mereka melakukan proses ijab kabul dikediaman Mila. Saat ini mereka sedang berada dihotel tempat acara resepsi digelar. Nai sedang dihias dengan MUA,make up sederhana, namun menambah kecantikan Nai, yang memang terlihat cantik walaupun tanpa makeup
" Aduh kakak siapa sih ini cantik banget, pantes aja kak Rayyan klepek-klepek" ujar Azza
" Kamu cantik banget dek" puji Azizah dan Renata
" Ih...mba bisa aja, mba Zizah sama mba Rena juga" ujar Nai
Ya... Nai memang sudah memanggil Renata mba, walaupun mereka sahabat, tapi Mila mengajarkan, bahwa Renata sudah menjadi kakak iparnya.
Rayyan yang sudah lebih dulu selesai kembali masuk kekamar dimana sang istri dihias. Sebenarnya Ibra sudah melarangnya, namun Rayyan sudah tak sabar melihat sang istri.
Rayyan segera masuk kedalam ruangan sang istri. Namun Rayyan tak berkedip, saat melihat wajah sang istri.
" Bang... bang Rayyan " panggil Azza sambil menepuk pundak Rayyan
" Eh... iya ada apa dek" tanya Rayyan
" Kak Nai cantikkan? " tanya Azza yang dijawab Rayyan dengan angguka
" Jadi jangan pernah nyakiti kakaknya Azza, kalau sampai kak Rayyan nyakitin Kak Nai, kak Rayyan berhadapan sama Azza" pesan Azza.
Setelahnya mereka semua mulai berjalan menuju ballroom hotel. Dimana sudahvramai tamu undangan, mulai dari dokter pengusaha dan masih banyak lagi. Nai sampai kelelahan menyalami tamu yang mengucapkan selamat pada mereka.
" Kenapa sayang kamu cape? " tanya Rayyan
" Iya mas Nai sedikit pegel" jawab Nai jujur
" Ya sudah kamu duduk aja dulu,biar mas yang menyalami mereka" perintah Rayyan
Nai sangat beruntung dapat menikah dengan Rayyan. Apa lagi Nai tau, kalau Rayyan begitu menyayanginya.Mila,Fatma,dan Jelita berbaur dengan para tamu undangan, begitu juga Ibra,Galen, Gio dan Izar mereka pun berbaur dengan para tamu undangan. Sedangkan Azza duduk dengan ke2 kakak iparnya dan juga sang sepupu Luna.
Teo datang ditemani oleh Eva karena, dia meminta gadis itu menemaninya, dan Eva mengiyakan sebagai ucapan terimakasih, karena saat itu Teo mau menolongnya.
__ADS_1
Azza yang melihat Asisten pribadinya bersama asisten pribadi kakak iparnya, membuat Azza memicingkan matanya. Eva yang melihat sang bos segera mendekat.
" Anda cantik sekali nona, "puji Eva
" Jangan pura-pura memujiku Eva, dan sejak kapan kamu dekat dengan Kak Teo? "tanya Azza
" Oh... itu, saat ibu masuk kerumah sakit, kak Teo yang mengantar saya nona"jawab Eva
" Ih... Eva kamu bisa nggak,nggak usah terlalu formal biasa aja kenapa sih" ujar Azza
Eva yang mendengar sahabat sekaligus temannya protes membuatnya tersenyum. Eva sangat merasa beruntung bertemu sahabat seperti Azza. Karena kalau tidak ada Azza entah bagaimana kehidupannya.
Hanya Azza yang saat itu mau berteman dengannya. Eva yang terlahir dari keluarga tak mampu, membuatnya dijauhi oleh teman-teman sedangkan Azza, dia mau berteman bahkan menjadi sahabat Eva sang anak miskin, walau terkadang Azza harus mendengar sindiran dari teman-teman yang lain. Namun Azza tidak perduli.
Saat Azza mulai membuka kafenya, dia mengajak Eva untuk bekerja dengannya, dan dengan senang hatu Eva menerimanya. Karena Eva ingin membantu sang ibu. Dan mulai saat itu la, Eva bekerja dengan Azza, dan mengenal keluarganya.
" Nona saya pinjam dulu sahabatnya ya" ujar Teo
" Ih... kak Teo, orang Azza lagi cerita sama Eva" kesal Azza tapi tetap mengizinkan Eva pergi bersama Teo.
" Kak Luna... kenapa sih kakak jarang pulang? " tanya Renata
" Ya... bagaimana lagi suami Kakak perusahaan disana, dan kakak punikit membantunya" jelas Luna
" Zah ini sudah berapa bulan? " tanya Luna sambil mengelus perut Azizah
" Masuk delapan bulan mba" jawab Azizah sambil terus memasukan makanan kedalam mulutnya, dan sontak membuat Luna dan Renata hanya gelengkan kepala.
Tak lama Ibra mendekat kearah sang istri. Sedangkan Baby Al dan Lea sudah dibawa untuk beristirahat dikamar yang sudah mereka pesan.
" Sayang kamu makan apa?" tanya Ibra
" Ini..." tunjuk Azizah pada makann dihadapkannya "ini enak banget banig,abang mau?"tanya Azizah
__ADS_1
" Enggak sayang buat kamu aja" ujar Ibra sambil mengusap kepala sang istri
Azizah melanjutkan menyantap makanannya. Sedangkan Renata dan Luna hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Azizah.
Acara sudah selesai, mereka semua kembali kekamar masing-masing,begitu juga pasangan pengantin baru itu.Nai begitu gugup, karena ini baru pertama kali satu kamar bersama pria asing.
Nai berjalan kemeja rias membersihkan mukanya dari makeup yang menempel sedari tadi. Sedangkan Rayyan memilih membersihkan diri. Tak memerlukan waktu lama,akhirnya Rayyan selesai dengan urusan mandinya, dan kemudian Nai yang melanjutkan membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri Nai, menggunakan jubah mandi berjalan keluar. Disana tepatnya diatas ranjang Rayyan telah menunggunya. Jantung Nai berdegup kencang. Bagaimana tidak, Nai begitu gugup, dia bingung apa yang harua dilakukan.
Sedangkan Rayyan yang melihat sang istri,keluar dari kamar mandi segera meletakkan ponsel yang tadi dipegangnya,Dan mulai berjalan mendekati sang istri.
Sebenarnya Rayyan merasakan hal yang sama dengan Nai. Walaupun Rayyan bukan lelaki baik Namun Rayyan masih tau batasan, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
Malam yang penuh sahdu dimulai oleh kepada pasangan pengantin baru itu. Rayyan memeluk Nai dari belakang. Nai hanya diam merasakan pelukan hangan dari sang suami.
" Sayang mas bahagia sekali hari ini, orang yang mas sayang sudah menjadi istri mas, mas tak bisa berjanji apapun pada kamu, namun mas akan mencoba membuktikannya" ucap Rayyan
" Terimakasih mas, karena mas mau menjadikan Nai sebagai masa kini dan masa depan mas,menjadikan Nai istri mas" ujar Nai
Dan kini Nai membalas pelukan sang suami. Entah siapa yang memulai dan terjadilah apa yang harus terjadi. Entah sampai jam berapa mereka melakukannya, yang jelas mereka mengarungi surga dunia bersama.
Sedangkan didalam mobil saat ini Teo masih bersama dengan gadis, yang belakangan ini selalu hadir dalam fikirannya. Ya... Teo sedang bersama Eva. Dia mengantar Eva pulang hingga kerumahnya, seperti janjinya kepada ibu dari Eva. Perjalanan yang cukuo jauh hingga membuat mereka sampai rumah Eva hampir tengah malam.
Eva turun dari mobil mewah yang Teo bawa. Teo pun ikut turun, dan akan mengantarnya sampai kehadapan ibu sang gadis. Namun karena sudah sedikit mengantuk, Eva tidak melihat jalan dan akhirnya hampit saja terjatuh, namun sebuah tangan melingkar dipinggangnya.Untuk beberapa saat mereka saling pandang, menyelami mata masing-masing.
Mendengar kunci rumah diputar Eva segera tersadat dan segera berdiri.
" Ma....maaf ya kak, tadi aku ngantuk jadi nggak lihat jalan" jelas Eva
" Enggak apa-apa lain kali hati-hati" jlawab Teo.
Setelah berpamitan dengan Ibu dari Eva,Teo segera pulang kerumahnya lebih tepatnya apartemen miliknya.
__ADS_1
Bersambung.