
Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus Romi kerjakan, terlebih lagi Ibra memintanya mengurus perpindahan perusahaan yang dipegang oleh Galen. Hal itu membuat Romi sering kali terlambat untuk makan siang. Gisel yang melihatnya berinisiatif membawakan makan siang untuk Romi.
"Mas Romi... makan dulu nih Gisel bawain nasi padang"ujar Gisel sambil membuka makanan yang dia bawa dan meletakkannya di atas meja.
Romi yang semula fokus pada Laptop dihadapannya,mengangkat wajahnya dan melihat Gisel yang sedang membukakan makanan yang dia bawa. Romi segera berdiri dan berjalan menuju sofa dimana Gisel saat ini duduk.Romi memperhatikan setiap gerakan Gisel.
Gisel adalah gadis cantik,muda dan cekatan. Gisel selalu bisa mengimbangi cara kerja Ibra dan Romi. Gisel tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang diberikan oleh Ibra maupun Romi. Gisel anak pertama dari 3 bersaudara, ayahnya telah berpulang akibat sakit kanker paru dan saat ini dialah yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Sebenarnya sudah lama Romi menyatakan menaruh hati pada Gisel, namun Gisel selalu menganggap itu semua hanya candaan Romi.Gisel tidak berani bermimpi karena dia sadar siapa dia dan siapa Romi.
"Kamu sudah makan? "tanya Romi sambil mengambil makanan yang ada didepannya
"Sudah mas tadi Gisel makan dikantin"jawab Gisel dan hendak berdiri
"Temani saya makan"Ujar Romi
Gisel pun akhirnya duduk kembali disamping Romi. Romi yang melihat Gisel telah duduk mengarahkan sendok yang telah berisi nasi dan lauk kedepan mulut Gisel. Gisel pun terkejut tapi melihat tatapan Romi membuat Gisel membuka mulutnya.
Setelah selesai makan siang bersama versi Romi,Gisel segera membersihkan meja dan bekas makan mereka. Setelah selesai Gisel kembali keruangannya dan Romi kembali berkutat didepan Laptopnya. Tak lama telpon dimeja Romi berdering,yang ternyata Ibra memintanya untuk keruangan Ibra segera.
Tok
Tok
Tok
Romi mengetuk pintu ruangan Ibra. setelah mendengar suara Ibra yang memintanya masuk Romi segera masuk keryangan Ibra.
"Rom... bagaimana proses pemindahannya? " tanya Ibra
"Sudah selesai pak tinggal menunggu kepulangan pak Galen"jawab Romi
"Apa kamu sudah mengabari Galen Rom? "
"Belum pak karena saya kira bapak yang akan mengabarinya"
"Dan bagaimana penyelidikan kamu tentang orang itu? " tanya Ibra
"Dia memang kembali pak, setelah sekian lama bersembunyi"
"Apa benar dia dalang dari meninggalnya ayah Dewa?"
"Sepertinya benar pak"jawab Romi
__ADS_1
Ibra menghela nafas. Ya.... selama ini tidak ada yang tau bahwa Ibra kembali menyelidiki tentang kecelakaan yang membuat Dewa meninggal. Dulu memang mereka semua mengira itu hanya kecelakaan, karena kecurangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun tepatnya setahun yang lalu Ibra menemukan kejanggalan dan diperkuat dengan pesan yang Ibra terima.
Di lain tempat. Seorang pria sedang menghisap rokok ditangannya. Duduk dikursi kebesarannya.
"Sepertinya ditangan anak itu perusahaan Dewa lebih berkembang"
"Benar bos dan dia juga mempunyai kecerdasan dan ketelitian yang luar biasa"jawab seseorang yang menjadi tangan kanannya
"Beruntung sekali Dewa, walau dia sudah tiada perusahaannya bertambah maju. Andai aku lebih cepat melenyapkannya"
"Iya pak... dulu kita mengira setelah kepergian nona Dara dia terpuruk, namun kita salah pak, Dewa orang yang cerdas walau perusahaannya sudah hampir hancur ternyata dia bisa bangkit dan tambah berjaya setelah anaknya membantu perkembangan perusahaan tersebut" ujar tangan kanan sang pria
Pria tersebut adalah Marco pria yang pernah mencintai Dara sedari mereka kecil, namun Dara lebih memilih Dewa lelaki yang dia cintai.Dan hal itu membuat Marco dendam kepada Dewa, terlebih lagi saat mendengar kabar bahwa Dara telah tiada.
Marco mengira semua itu karena Dewa. Marco masih setia memandangi foto seorang wanita cantik. Ya....foto Dara saat masih memakai seragam sekolah.
"Andai kamu memilihku, mungkin saat ini kau masih ada disini. Tapi kau lebih memilih dia, dibandingkan aku yang lebih dulu mengenal dan mencintai mu" ucap marco sambil mengelus bingkai foto Dara.
Flasback
"Dara nanti saat kita sudah besar aku akan melamarmu" ujar Marco kecil
"Kamu ini ada-ada saja kita ini masih kecil kenapa bicara menikah"ujar Dara kecil
Saat itu mereka duduk dirumah pohon di halaman rumah Dara.
"Baiklah aku percaya padamu, tapi aku masig mau mencapai cita-citaku dulu, dan kamu pasti juga begitu. Dan saat kamu dewasa pasti banyak wanita yang mendekatimu" ujar Dara sambil tersenyum
"Tapi aku akan tetap menunggumu Dara"
Dan saat mereka tamat sekolah menengah atas,Marco meneruskan kuliah diluar negri atas permintaan orang tuanya,sedangkan Dara memilih kampus yang ternyata Dewa pun menjadi mahasiswa disana.
Dara dan Dewa menjadi teman dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Dewa sangat mencintai Dara, begitu pun sebaliknya. Saat liburan Marco memilih pulang untuk menemui Dara. Namun siapa sangka Dara telah menjalin hubungan dengan Dewa
"Ra apa kabar?"tanya Marco saat dia menemui Dara dirumahnya
"Aku baik, kamu bagaimana kuliahnya? " tanya Dara dengan senyum diwajahnya
"Aku nggak baik-baik saja Ra"ujar Marco
"Loh kenapa? " tanya Dara yang belum mengerti
"Itu karena kamu Ra, disana aku selalu merindukan kamu" jawab Marco dengan wajah sendu
__ADS_1
"Cih... kamu ini disana pasti banyak bule cantik masak nggak ada yang bisa buat kamu nggak merindukan aku" ujar Dara
"Enggak ada yang bisa Ra" jeda sejenak Ra "Bagaimana kalau aku bilang kepapa kalau kita menikah biar kamu bisa ikut aku dan kita kuliah disana"
Dara terkejut mendengar penuturan Marco. Kamu ini ada-ada aja. Aku nggak ingin pindah kampus Marc, lagi pula kenapa kita harus menikah? " tanya Dara
"Apa kamu lupa Ra,bahwa aku pernah berjanji setelah dewasa aku akan menikahimu? "
Dara begitu terkejut, dengan perkataan Marco. Dara fikir itu hanya ucapan anak kecil yang belum mengerti arti menikah.
Marc kamu jangan bercanda, itukan perkataan kamu saat kita masih anak-anak, lagi pula maaf aku mencintai orang lain" jar Dara menunduk
Duar....
Marco terkejut dengan perkataan Dara, Marco fikir dara akan menunggunya. Karena saat iti Dara bilang dia percaya pada Marco.
Marco menguatkan hati untuk bertanya siapa pria yang bisa mengambil hati Dara.
"Siapa dia Ra, siapa pria yang beruntung itu? tanya Marco dengan wajah sendunya
"Dia pria yang baik, dia yang selalu menemani aku disaat aku membutuhkannya namanya Dewa" jawab Dara dengan wajah berbinar saat menjelaskan tentang Dewa kepada Marco
"Apa kamu mencintainya Ra?"tanya Marco masih belum percaya
"Sangat aku sangat mencintainya Marc, dia pria yang baik"jawab Dara
Marco yang melihat wajah bahagia Dara, merasa sedih. Dia yang telah menunggu Dara, dia yang tidak pernah membuka hati untuk wanita lain, karena cintanya pada Dara.
"Bolehkah aku bertemu dan mengenalnya Ra, aku ingin melihat apakah dia benar-benar mencintaimu? " tanya Marco
"Baiklah nanti aku akan bilang pada Dewa, kalau sahabat aku mau bertemu dengannya" ujar Dara tersenyum.
Akhirnya Marco dan Dewa bertemu, dan saat Marco bertanya Dewa bilang dia sangat mencintai Dara. Dan berjanji akan membahagiakan Dara. Marco yang melihat kesungguhan Dewa pun akhirnya mengalah.Namun Marco berkata.
"Jangan pernah kau menyakiti dia, jika itu terjadi aku akan mengambilnya dan akan menghancurkan mu"
Saat itu Dewa hanya tersenyum, Karena dia memang tulus mencintai Dara. Namun Allah lebih sayang padanya, dan mengambil Dara dari Dewa. Namun saat Marco mendengar kabar meninggalnya Dara Marco hancur, dan Marco menyalahkan Dewa yang tidak bisa menjaga Dara. Apalagi saat Marco mendengar kalau Dewa telah menikah lafi dengan Mila dan hidup bahagia, Hal itu yang membuat Marco sangat membenci Dewa.
Flasback of
"Kau lihat Ra saat kau pergi, Dia memilih menikah lagi dan hidup bahagia dengan istrinya. Namun sekarang aku telah mengembalikannya padamu Ra. Membawa bertemu denganmu" ujar Marco
Ya.... kecelakaan yang membuat Dewa meninggal itu adalah ulah anak buah marco, begitu juga kekacauan yang terjadi, hingga Dewa harus datang dan mengurusnya, semua ulah anak buah Marco.
__ADS_1
Dan Ibra sudah mengetahuinya. Namun Ibra belum tau apa motif dari orang tersebut, karena selama mengenal dan menjadi putra Dewa, Ibra tidak pernah melihat Dewa memiliki musuh.