
Entah sudah berapa cowok yang telah mengungkapkan cinta pada Erna, namun ada tidak satu pun yang diterimanya. Bahkan selama SMA, dia tidak pernah menerima cinta seorang lelaki pun dan itu berkelanjutan sampai kuliah. Hal itu terbukti beberapa mahasiswa yang tertarik dan menyatakan cinta padanya, selalu saja ditolaknya.
Sudah bukan rahasia lagi bagiku, karena posisiku yang tidak jauh dari tempat pernyataan cinta, Erna selalu melemparkan sebuah pertanyaan sebelum menolak cinta seorang cowok:
“Masih adakah cinta?”
Setiapkali pertanyaan itu terlontar dari mulut Erna, selalu muncul perasaan kasihan di hatiku pada lelaki yang menyatakan cinta padanya. Sebab aku tahu setelah pertanyaan itu dilemparkan, maka penolakan cinta terjadi, baik dengan bahasa halus seperti “Kita berteman saja ya”, maupun dengan bahasa fulgar seperti “Maaf, aku tidak bisa menerima cintamu”.
Sama seperti saat ini, Erna melemparkan pertanyaan itu pada lelaki yang duduk di depannya, yang telah menyatakan cinta padanya.
“Masih adakah cinta?”
Lelaki itu mengaangguk.
“Seperti apa perwujudan cinta kalau memang masih ada?” tanya Erna kembali.
“Hmm, mungkin pacaran?” jawab lelaki itu ragu-ragu.
“Kita berteman saja ya,” sahut Erna pada lelaki itu.
“Kenapa?” tanya lelaki itu penasaran.
__ADS_1
“Karena kita masih belum tahu kalau cinta itu masih ada atau tidak,” jawab Erna sambil tersenyum.
Lelaki itu dengan kepala tertunduk beranjak dari hadapan Erna.
Aku yang semenjak tadi memperhatikan dari kejauhan, langsung mendatangi Erna yang telah sendirian duduk di taman kampus tempat kami kuliah.
Erna tersenyum melihat sosokku yang datang mendekat.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini, Erna?” tanyaku sambil duduk di hadapannya.
Erna tersenyum dan menjawab, “Sampai aku menemukan cinta sejatiku.”
“Bukan sepertinya, Man, tapi kedua kata itu memang indah dan dalam maknanya,” sanggah Erna.
“Hmm,” gumamku sambil menganguk-anggukan kepala, lalu berkata seperti pada diri sendri, “Alangkah bahagianya orang yang telah mendapatkan cinta sejati.”
“Ya, pasti sangat bahagia,” sahut Erna dengan senyum penuh kebahagiaan.
Aku senang melihat senyumnya itu. Namun selang beberapa saat kemudian sayup-sayup kulihat senyum itu sirna dan wajahnya berubah muram.
“Kenapa?” tanyaku khawatir.
__ADS_1
“Cinta sejati memang akan membahagiakan siapa saja yang mendapatkannya,” ujar Erna dengan suara lirih berujar, “tapi banyak wanita tertipu oleh anggapan yang salah tentang cinta sejati. Akibatnya bukan kebahagiaan yang didapatkan, melainkan kesengsaraan dan penderitaan. Itu dikarenakan…dikarenakan…”
Erna tidak melanjutkan ucapannya. Aku melihat matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar seperti tengah menahan gejolak yang ada di dalam dadanya.
“Mereka beranggapan jika lelaki yang dicintainya dan berstatus pacar adalah cinta sejatinya,” lanjut Erna dengan suara agak bergetar, “sehingga mereka jadi lupa pada norma-norma dan lepas kontrol dalam menjalani cintanya. Akibatnya mereka terpelosok dalam bencana cinta. Mereka tidak sadar telah menjadi santapan lezat oleh lelaki yang dianggapnya sebagai “cinta sejatinya”. Mereka biarkan tubuh mereka jadi pemuas syawat lelaki itu, sampai takdir menentukan akhir dari cerita cintanya. Ya, mungkin ada yang sampai menikah, namun tidak sedikit yang menderita dan ada yang sampai bunuh diri. Ah…”
Perkataan Erna kembali terhenti. Kulihat dia berusaha menahan tangisnya jangan sampai meledak. Tangannya tampak sibuk menghapus airmata dan ingusnya.
Aku cepat-cepat mengambil saputangan dan menyodorkan padanya.
Erna menerima saputanganku dan langsung mengelap mata beserta hidungnya.
“Apa kamu pernah mengalami hal yang buruk tentang cinta, Erna?” tanyaku setelah melihat dia mampu menguasai perasaannya.
Erna menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa kamu selalu berpikiran negatif tentang cinta?”
“Aku tidak berpikiran negatif tentang cinta, Man,” sahut Erna tegas, “Aku hanya tidak terima karena cinta banyak wanita jadi korban.”
“Maksudmu, cinta yang membuat wanita jadi korban?” tukasku kurang paham.
__ADS_1