
Mungkin sudah menjadi hukum alam bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal. Dan itu terbukti terhadap kericuan di medsos seputar video Erna yang viral itu. Seiring berjalannya waktu, kericuan video viral itu surut dengan sendirinya dan berganti dengan kericuan pada video viral lain dengan peristiwa dan tokoh yang lain pula.
Namun dari peristiwa keviralan video itu, ada yang menjadi pelajaran berharga bagiku, yaitu sikap Erna yang tetap tenang dalam menghadapinya. Dan itu membuatku merasa salut terhadap sikapnya. Bahkan menjadi acuanku dalam menghadapi segala masalah.
“Aku harus tetap tenang,” ujarku pada diri sendiri setiap menghadapi masalah. Apalagi masalah yang kuhadapi itu berkenaan dengan masalah yang tidak pernah aku lakukan, maka semakin santai aku menghadapinya.
Ya, aku ingin seperti Erna yang tetap tenang dalam menghadapi masalah.
Sewaktu istirahat pertama, Erna langsung mendatangiku. Tanpa basa-basi dia langsung bertanya, “Gimana ceritanya saampai kamu dituduh mencuri hapenya Binsar, Man?”
Aku tersenyum mendapat pertanyaan itu. Sedangkan ingatanku melesat ke peristiwa tadi pagi, yaitu ketika aku baru saja sampai di kelas Wendi menghampiriku dan langsung menarik tanganku keluar kelas.
Dengan perasaan bingung aku mengikuti langkah Wendi. Dia membawaku ke teras Masjid.
“Ada apa, Wen?” tanyaku penasaran.
Wendi diam dengan tatapan mata yang tertuju ke wajahku.
“Ada apa sih, Wen?” tanyaku semakin penasaran.
“Ka-kamu…” Wendi tidak meneruskan perkataannya.
“Kenapa dengan aku?” tanyaku tegas.
Wendi diam.
“Ayo, katakan padaku, Wen, ada apa dengan aku?” ujarku dengan nada semakin tinggi melihatnya diam.
__ADS_1
“Tapi kamu jangan marah ya, Man.”
Aku langsung mengangguk.
“Tadi aku dengar selentingan di kelas bahwa kamu telah mencuri hapenya si Binsar,” ujar Wendi menerangkan.
Aku terkejut. Beberapa saat aku terdiam sambil menatap wajah Wendi. Belum juga aku mengucapkan sepatah kata pun bel tanda masuk berbunyi.
Wendi beranjak pergi menuju kelas. Aku mengikutinya dari belakang.
Ketika kakiku melangkah masuk ke dalam kelas…
Aku mendapati semua pandangan mata tertuju ke arahku. Untuk beberapa saat aku berdiri mematung. Namun ketika tatapan mataku menangkap sosok Binsar, spontan kakiku melangkah menuju ke arahnya. Ada perasaan marah dan bingung mengiringi langkah kakiku. Belum lagi sampai di hadapan Binsar, guru yang mengajar pelajaran pertama datang. Spontan aku membalikan tubuh dan berjalan ke arah tempat dudukku.
Selama pelajaran pertama berlangsung, aku kurang begitu memperhatikan penjelasan sang guru karena terlalu sibuk memikirkan tuduhan yang dilontarkan padaku.
“Saman!”
“Saman!”
“Emang aku pencuri?”batinku kembali bertanya.
“SAMAN!!”
“I-iya! Aku bukan pencuri, Pak,” seruku spontan karena kaget.
Pak Hidayat menatapku dengan penuh tandatanya.
__ADS_1
“Eh, maaf, Pak,” ucapku dengan nada bersalah.
“Kamu melamun ya, Man?” tanya Pak Hidayat.
Aku tersenyum bersalah dan berujar, “Maaf, Pak.”
“Aku bukan pencuri…” ujar Pak Hidayat meniru ucapanku. “Kenapa kamu mengatakan itu?”
Dengan polos aku menjawab, “Karena aku dituduh telah mencuri hapenya Binsar, Pak.”
Pandangan Pak Hidayat tertuju ke arah Binsar dan bertanya, “Benar begitu, Binsar?”
Binsar mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena hapeku hilang, Pak.”
“Kapan?”
“Kemarin, Pak.”
“Lalu kamu menuduh Saman yang mengambilnya?”
Binsar mengangguk.
“Kenapa kamu punya pikiran kalau Saman yang mengambilnya?”
__ADS_1
“Awalnya aku tidak punya pikiran kalau Saman yang mengambilnya, Pak,” terang Binsar.
“Terus darimana pikiran itu muncul?”