
Video seputar keperawanan Erna jadi viral di medsos. Komentar-komentar yang bernada miring dan sok tahu pun bertebaran menjelekan kepribadian Erna. Bahkan teman-teman sekolah mulai mencurigaiku sebagai perusak kehormatan Erna. Sampai kepala sekolah memanggilku dan meminta konfirmasi langsung dariku seputar isi video itu, terutama anggukan kepala Erna yang sambil melirik ke arahku.
“Demi Allah, Pak, aku juga tidak tahu maksudnya,” ujarku jujur.
“Tetapi anggukan kepala Erna sebagai jawaban dari pertanyaan lelaki itu, yang disertai lirikan ke arahmu membuat Bapak bertanya-tanya apa maksudnya?” sahut kepala sekolah serius. “Nah, Man, coba apa maksud dari lirikan itu, kalau bukan mau mengabarkan jika dia telah khilangan keperawanannya karena kamu. Iya ‘kan?”
Aku mengangguk membenarkan logika kepala sekolah.
“Berarti kamu telah melakukannya. Benar, Man?” tanya kepala sekolah melihatku mengangguk.
“Demi Allah, Pak, aku tidak pernah melakukan itu.”
“Lalu kenapa tadi kamu mengangguk?”
“Karena aku membenarkan asumsi logika Bapak, makanya aku mengangguk,” ujarku. “Bahkan bukan cuma Bapak saja yang mempunyai asumsi logika seperti itu, aku juga, Ibuku juga, teman-temanku juga dan bahkan semua orang yang pernah melihat video itu, pasti juga punya asumsi logika seperti itu, dan itu terbukti dari komentar-komentar yang mereka tulis di medsos. Tapi masalahnya, apakah asumsi logika itu sesuai dengan kenyataan atau tidak? Jika asumsi logika itu tidak sesuai dengan kenyataan, berarti salah. Hanya saja, kita selalu berpatokan pada apa yang dilihat tanpa berusaha menggalih lebih jauh kemungkinan-kemingkinan yang lainnya.”
“Tetapi asumsi logika mereka tidak salah ‘kan?” sahut kepala sekolah dengan senyum lebar mendengar keteranganku itu.
“Memang tidak salah, Pak,” jawabku membenarkan. “Tapi akan menjadi salah kalau hal itu terus dibiarkan dan menjadi fitnah. Bukankah agama kita melarang kita menfitnah, apalagi menyebar futnah?”
Senyum kepala sekolah semakin lebar. Lalu sambil mengangguk-anggukan kepala dia beujar, “Baiklah, Bapak percaya sama kamu, Man. tapi Bapak ingin semuanya jadi lebih transparan. Panggil Erna.”
“Baik, Pak,” ujarku sambil mengangguk. Lalu aku pun berjalan keluar ruangan kepala sekolah dan kulihat Erna sudah menunggu di luar.
“Erna, ayo masuk,” ujarku.
Erna mengangguk dan berjalan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
“Ada satu pertanyaan yang harus kamu jawab dengan jujur, Erna,” ujar kepala sekolah setelah aku dan Erna berdiri di depan meja beliau.
“Silakan, Pak,” sahut Erna tetap tenang.
__ADS_1
Aku merasa salut dengan ketenangan yang dimiliki Erna.
“Apa kamu pernah tidur sama Saman?” tanya kepala sekolah tanpa basa-basi.
Aku sontak terkejut mendengar pertanyaan beliau yang sangat berterus-terang itu. Namun ketika kulirik Erna tetap tenang dengan senyum lebarnya, keterkejutanku pun berangsur-angsur sirna dan berganti keterbengongan.
“Bagaimana, Erna, apakah kamu pernah tidur sama Saman?” kepala sekolah mengulangi pertanyaannya.
“Tidak pernah, Pak,” jawab Erna tenang tapi tegas.
“Tetapi kenapa di dalam video itu, saat kepalamu mengangguk matamu melirik ke arah Saman?” kembali kepala sekolah bertanya.
Erna tersenyum sambil melirikan matanya ke arahku. Sedangkan aku dengan perasaan tidak nyaman hanya diam menunggunya bicara.
“Bagimana, Erna, apa alasanmu melakukan itu?” tanya Kepala Sekolah.
“Aku hanya sedang menggoda dia, Pak,” jawabnya ringan.
“Dan aku tidak menyangka kalau peristiwa itu ada yang merekam, lalu menguploadnya ke medsos hingga jadi viral,” lanjut Erna.
Kepala sekolah mengaangguk-anggukan kepalanya. “Hmm, jadi begitu,” ujar beliau dengan nada bijak. “Baiklah, lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi kalau bercanda, jangan sampai hal ini terulang lagi. Mengerti?”
“Iya, Pak,” jawab Erna.
“Ya sudah, silakan kembali ke kelas,” ujar Kepala Sekola.
Aku dan Erna mengangguk, lalu melangkah keluar ruang Kepala Sekolah.
Selama berjalan ke kelas masing-masing, aku masih diluputi rasa penasaran dengan alasan yang diungkap Erna itu.
“Betulkah itu?” bisik batinku bertanya.
__ADS_1
Sungguh, aku masih meragukan alasan Erna itu. Akhirnya dalam perjalanan pulang, aku pun menanyakannya, “Apa benar kamu hanya bermaksud mnencandaiku saja, Erna?”
Erna yang duduk membonceng di belakangku menjawab ringan, “Emang kamu pernah tidur denganku?”
“Aku serius, Erna,” sahutku.
“Aku juga serius, Man,” sahut Erna.
Kalau sudah begitu, aku jadi diam. Dalam hati jujur kuakui kalau aku salut pada ketenangan Erna dalam menghadapi masalah viralnya video itu.
“Kok, kamu tenang-tenang saja menghadapi viralnya video yang semakin mencoreng nama baikmu itu, Erna?” tanyaku lagi.
“Emangnya aku harus bagaimana, Man? Menangis? Atau mengurungkan diri di dalam kamar? Gitu?” sahutnya santai.
“Yaa minimal teganglah, atau merasa tidak nyaman gitu,” sahutku sekenanya.
“Hiyy, lebay ah,” sahutnya sambil mencubit pinggangku.
“Aduh!” pekikku spontan membuyarkan konsentrasiku, hingga membuat laju motor jadi oleng. Aku dengan sigap menstabilkan kembali laju motor, dan kudengar Erna tertawa cekikikan.
“Bahaya tau,” ujarku setengah menggerutu.
“Habisnya kamu lebay sih,” sahut Erna.
“Lho, kok, bisa lebay?”
“Ya iyalah, Man, lebay,” sahutnya ringan. “Orang kita tidak melakukan kesalahan apa-apa, kok, harus merasa tidak nyaman. Tidak enak kalee.”
“Tetapi ‘kan mereka berkomentar buruk tentangmu.”
“Ya, biarin saja mereka berkomentar buruk tentangku, toh, mereka ‘kan tidak tahu kejadian yang sebenarnya,” ujar Erna santai. “Lagian, man, kalau mereka tidak segera menghapus komentar-komentar yang bersifat menfitnah itu, nanti di akherat aku tinggal tuntut mereka di hadapan Allah. ‘Kan, beres, Man.”
__ADS_1
Aku cuma senyum-senyum sendiri mendengar jawaban Erna itu sambil terus melajukan motorku dengan santai menuju rumahnya.