
Pagi ini Azza sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan ASM grup. Perusahaan yang sang suami nya tinggalkan untuk ke dua buah hatinya. Azza tidak ingin apa yang menjadi hak anak-anaknya di ambil alih oleh orang lain. Setelah selesai bersiap Azza keluar dari kamarnya, berjalan menuruni tangga menuju ruang makan dimana kedua buah hatinya sudah menunggunya.
Fariz dan Ziva memang masih berusia hampir 3 tahun, namun mereka sangat cerdas dan mandiri.
"Pagi sayangnya mami" ujar Azza seraya mencium puncak kepala kedua anaknya
" Pagi mami..." jawab mereka bersama
" Wah... anak-anaknya mami sudah tampan dan cantik" ujar Azza sambil menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya
" Iya dong Mi, kalau Ziva cantik nanti bang AL mau sama Ziva"jawab Ziva seraya mengunyah makanannya sedangkan Fariz hanya diam sambil memakan sarapannya.
Walaupun mereka saudara kembar namun mereka berbeda. Fariz lebih pendiam, sedangkan Ziva lebih periang. Selesai sarapan, Azza membawa kedua anaknya menuju rumah sang bunda, menitipkan mereka disana, karena hari ini Azza akan sedikit sibuk.
Sedangkan Ibra sudah menunggu sang adik agar bisa berangkat bersama menuju ASM grup milik Zyan. Ibra harus membasmi tikus yang bermain-main dengannya.
Azza tiba di kediaman sang bunda Fariz dan Ziva sangat senang ketika berada di kediaman sang Oma. Kedatangan mereka di sambut sang Oma. Fariz dan Ziva bergelayut manja. Mila mengajak kedua cucunya untuk masuk kedalam rumah.
" Abang Fariz sama Adek Ziva sudah sarapan?" tanya Mila pada kedua cucunya
" Sudah Oma tadi kita sarapan sama mami" jawab Ziva
" Bunda.... apa sekarang bunda nggak sayang anak bunda ini lagi" ujar Azza mendramatisir
Ibra dan Azizah yang melihat kelakuan Azza hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka tau kalau Azza hanya mencoba tampak bahagia di depan sang bunda. Karena terakhir kali Azza hampir depresi, karena kehilangan Zyan, membuat Mila sampai di larikan ke rumah sakit.
Tak lama Nai dan Aras datang, karena hari ini Aras tidak bersekolah. Azza dan Ibra Pamin untuk pergi. Sedangkan kedua anak Azza sudah berada di Playground yang memang di sediakan Mila untuk para cucunya.
* * * * * * * * * * * * * * *
Kini Azza, Ibra, Arya, Heru dan kuasa hukum keluarga Nugraha dan Malik juga hadir disana. Semua karyawan menunduk hormat melihat kedatangan para atasan mereka. Walaupun Ibra bukan pemilik ASM grup, tetapi semua karyawan mengenalnya,karena Ibra termasuk salah satu pemegang saham di perusahaan tersebut.
__ADS_1
Kini mereka semua berada di ruang metting, begitu juga para pemegang saham. Heru memulai rapat tersebut. Azza, Ibra dan kedua kuasa hukum keluarga mereka masih menyimak jalannya rapat. Ibra pun masih melihat siapa tikus yang berani mengusik sang adik.
Saat Heru masih menjelaskan tiba-tiba ada yang menyela, Hal itu membuat Ibra menyeringai.
" Keluar juga kamu akhirnya" gumam Ibra sambil menyungging senyum menyeramkan tapi tidak ada yang menyadarinya
"Pak Heru.... Bukannya pak Arya hanya sebagai ayah sambung Almarhum tuan Zyan" ujar seorang yang bernama tuan Julio Orang yang merupakan anak buah Toni.
Azza tidak terima sang suami dianggap telah meninggal dunia. Dia ingin berdiri, namun tangan Ibra menahan dan menggeleng kecil.
" Semua sudah jelas tuan walaupun tuan Arya adalah ayah sambung tuan Zyan, namun dia juga pemegang saham sekaligus orang yang di percaya tuan Ibra sebagai pemimpin selama nona Azza masih masa merawat anak-anaknya bersama tuan Zyan" terang Heru
" Kenapa kuasa ASM berada di tangan tuan Ibra yang bukan pemilik, padahal masih ada nyonya Azza sebagai istri sah tuan Zyan" bantah Julio lagi
Kini kuasa hukum Zyan yang berdiri, dan mulai membagikan, foto kopi dari surat wasiat Zyan.
" Di sana tertera tanggal dan tahun tuan Zyan membuat surat itu, dan anda bisa membaca apa isi dari surat wasiat terakhir tuan Zyan" ujar Felix
Ibra menggebrak meja. Membuat semua orang di sana begitu terkejut, mereka semua tau siapa Ibra Bahari Nugraha, dan tidak ada yang berani mengusiknya.
" Apa anda tidak paham maksud isi surat wasiat itu tuan, atau anda ingin menekan adik saya agar anda bisa dengan mudah memanipulasi semuanya" ujar Ibra menyeringai
Julio berubah pucat, namun dia belum menyerah.
" Maksud anda apa tuan Ibra?" tanya Julio
" Romi masuk" perintah Ibra pada sang asisten
Romi datang membawa sebuah map ditangannya menyerahkan map tersebut kepada Ibra. Ibra membanting map tersebut di hadapan Julio.
" Di sana tertera kecurangan anda tuan Julio, bagaimana anda mendapatkan saham di perusahaan ini. Dan bagaimana orang-orang anda menggelapkan dana perusahaan" jelas Ibra
__ADS_1
Hal itu membuat pemegang saham lainnya melihat ke arah Julio. Namun Julio segera membantah ucapan Ibra.
" Anda jangan asal bicara tuan Ibra dan untuk dokumen ini bisa saja anda yang merubah isinya" ujar Julio
"Tuan Frans...tuan Felix tolong periksa ke aslian dokumen-dokumen tersebut"pinta Ibra pada kedua pengacara
Frans dan Felix memeriksa dengan teliti dokumen-dokumen tersebut. Dan mereka berdua mengangguk.
"Dokumen-dokumen ini asli tuan dan semua yang ada didalamnya jelas dan berkaitan dengan dokumen yang lain"jelas Frans
Julio tak dapat lagi berkutik. Romi mengerti arti tatapan Ibra segera memanggil pihak kepolisian yang memang sudah di pinta sebelumnya. Dan akhirnya Julio di bawa kekantor polisi.
Rapat selesai Ibra, Azza ,Arya dan kedua pengacara tersebut keluar dari ruang rapat. Sedangkan Heru tadi pergi bersama Romi kekantor polisi memberikan keterangan.
Azza dan Ibra pamit untuk pulang, karena Ibra masih akan mengecek lokasi proyek pembangunan mereka selanjutnya, sedangkan Azza harus ke kafe mengecek semua kafe miliknya.
* * * * * * * * * * * *
Di tempat yang berbeda, Zyan saat ini sedang memeriksa lahan yang akan dibangun sarana dan pra sarana oleh Nugraha grup. Ibra yang akan turun langsung mengecek lokasi tersebut. Entah apa yang membuat Ibra sangat ingin kesana.
Zyan atau yang di kenal dengan Zen sangat sibuk. Setelah dari lokasi kini Zen kembali ke kantor kelurahan untuk memberi laporan pada kepala desa. Zen mengetuk pintu dan masuk setelah di persilahkan.
Zen menyerahkan laporan pada kepala desa. Pak Lurah menerima dan membaca laporan dari Zen. Setelah sebelumnya meminta Zen untuk duduk.
" Baiklah Zen tolong nanti kamu temani utusan dari perusahaan itu untuk melihat lokasi, karena saya akan ada rapat di kecamatan" ujar pak Lurah
" Baik pak kalau begitu saya permisi" pamit Zen
Zen kembali ke meja kerjanya. Sedangkan dari meja yang tak jauh dari sana Nurul terus memperhatikan Zen.
* * * * * * * * * * * *
__ADS_1
Terima kasih untuk pembaca setia membaca karya author. Dukungan selalu karya author ya Terimakasih.