
Sesampainya di rumah…
“Assalamu’alaikum,” ujarku memberi salam pada ayah dan ibuku yang tengah duduk di teras rumah.
“Wa’alaikumussalam,” sahut ayahku.
Aku pun menyalami tangan kedua orangtuaku dan menciumnya.
“Sana ganti baju,” ujar ibuku.
Aku mengangguk sambil melirik ke arah hape yang tergeletak di atas meja yang dilayarnya tampak gambar Erna, Jaka dan aku. Aku pun langsung bisa menebak dan itu membuatku tegang. Namun aku tetap terus melangkah sambil menahan perasaan tegangku.
“Hey, Man, nanti kalau sudah ganti baju, cepat ke sini lagi ya,” seru ayah ketika aku sudah masuk di dalam rumah.
“I-iya, Yah,” sahutku tanpa menghentikan langkahku. Sesampainya di kamar, aku langsung menghempaskan pantatku di atas tempat tidurku. Ada perasaan takut menyatroni hatiku.
Apakah ayah akan marah padaku? tanya batinku sambil melemparkan pandangan ke cermin lemari yang memantulkan sosokku. Cukup lama kupandangi sosokku, sampai kudengar seruang ayahku:
“Man!”
“I-iya, Yah,” sahutku. Lalu aku pun langsung bangkit dan ganti baju sambil berujar pada diri sendiri, “Kenapa aku mesti takut? Aku ‘kan tidak salah, jadi buat apa takut. Aku harus berani menghadapinya. Harus berani!”
__ADS_1
Kemudian setelah selesai ganti baju, aku cepat-cepat mendatangi ke dua orangtuaku yang sedang menungguku di teras rumah.
“Duduk, Man, ada yang mau Ayah tanyakan sama kamu,” ujar ayah tegas tanpa ada nada marah atau kesal.
Aku mengangguk dan duduk di kursi yang menghadap ayah.
“Kamu sudah nonton video yang ada di hape?” tanya ayah.
Aku kembali mengangguk.
“Coba kamu ceritakan sama Ayah dan Ibu dengan jujur semua peristiwa yang sebenarnya terjadi di….mana itu?”
“Di kantin sekolahnya Erna dulu, Yah,” jawabku.
“Cerita yang sebenarnya begini, Yah,” ujarku mulai bercerita dengan nada setenng mungkin. Aku bercerita secara detail dari awal sampai akhir peristiwa yang terjadi di kantin itu.
Ayah dan ibu mendengarkan ceritaku dengan cermat dan penuh perhatian.
“Begitulah ceritanya, Yah, Bu,” ujarku setelah selesai bercerita.
“Ayah percaya, Man, ayah percaya sama ceritamu itu,” sahut ayah sambil mengangguk-anggukan kepala. “Cuma ada satu pertanyaaan yang mengganjal di hati Ayah.”
__ADS_1
“Apa itu, Yah?” tanyaku.
“Apakah kamu pernah tidur sama Erna?” tanya ayah tanpa tedeng aling-aling.
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu dan spontan menjawab, “Demi Allah, Yah, jangankan tidur dengannya, pegang tangannya saja kalau tidak dalam keadaan darurat, aku tidak berani melakukannya.”
Ayah tersenyum bangga sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ya, ya, Ayah percaya, Ayah percaya sama kamu, Man,” ujarnya kemudian.
Plong! Aku merasa lega mendengar ucapan ayah itu.
“Tetapi kenapa, Yah,” sahut ibu, “ketika Erna mengangguk, lirikan matanya tertuju ke arah Saman, seolah-olah ingin mengabarkan jika Saman telah merenggut keperawanannya?”
“Yaa…mungkin lirikan itu hanya kebetulan saja, Bu,” jawab ayah ringan sambil mengangkat kedua bahunya.
“Iya, juga sih,” sahut ibu sambil mengangguk-angguk.
“Oya, Man, kamu harus tetap jaga Erna baik-baik apapun yang terjadi,” pesan ayah dengan mimik serius.
“Iya, Yah,” ujarku.
__ADS_1
“Kalau Ibu tidak salah ingat, bukankah Erna itu yang pernah kamu tabrak dulu, Man?” tanya ibu.
Aku mengangguk. Serta merta peristiwa itu pun kembali melintas dalam ingatanku…