
Sesakit itu mencintai tanpa balasan.Andai saja... Andai saja Marco tidak meninggalkan Dara sendiri untuk melanjutkan studi keluar negri. Andai.... Dia memperjuangkan cintanya, mungkin saat ini Dara masih ada disisinya.
"Dara andai dulu kamu memilihku, pasti aku akan mencarikan obat agar kau dapat sembuh, walau aku harus keujung dunia" batin Marco
Saat ini Marco sedang duduk dibalkon kamarnya, menikmati malam yang gelap bertabur bintang.Marco terbang kemasa yang lalu, masa dimana dia dan Dara bermain bersama, dan Marco selalu ada untuk melindungi Dara.
"Marco ayo kejar aku.... ayo" pinta Dara sambil berlari mengelilingi rumah pohon.
"Tunggu Dara aku akan menangkapmu" jawab Marco sambil mengejar Dara
"Wle... kau lemah tidak bisa menangkapku" ucap Dara sambil menjulurkan lidahnya
Namun saat sedang asik berlari kaki Dara tersandung batu dan berdarah, membuat Dara menangis, Marco yang melihat segera menghampiri Dara dan membantunya berdiri. Setelah mendudukkan Dara di bangku bawah rumah pohon, Marco masuk mengambil kotak P3K. Dan mulai mengobati luka Dara.
"Terima kasih Marco" ucap Dara disertai senyum manis
Saat itu usia meraka masih 10 tahun. Marco dan Dara selalu satu sekolah, karena rumah Marco dan Dara hanya berjarak 2 rumah. Dan kebetulan orang tua mereka berteman.
Marco tertarik dari lamunanya saat mendengar dering ponselnya, yang ternyata telpon dari orang kepercayaannya.
"Ada apa? " tanya Marco dingin
".........."
"Pinta mereka berhati-hati, jangan sampai tertangkap"ujar Marco
".........."
"Buat seolah-olah itu murni kecelakaan" perintah Marco
Setelah lama berbincang Marco menutup telponnya,Marco tersenyum menyeringai.Ya... Marco ingin membuat Mila kecelakaan, karena bagi Marco Mila adalah orang yang membuat Dewa melupakan Dara. Tanpa Marco tau Mila tidak pernah membuat Dewa melupakan Dara, karena bagi Mila pasti Dewa memiliki tempat tersendiri untuk Dara dihatinya.
Pagi ini Mila berencana kedaerah C, karena sudah lama sekali dia tidak melihat cabang tokonya yang ada disana.
"Nai apa hari ini kamu sibuk nak? "tanya Mila
"Enggak ada bun, Nai hari ini free,karena desain kemarin sudah selesai, tinggal pengerjaannya saja, tapi sudah Nai pinta mba Monik menyelesaikannya"ujar Nai menjelaskan
"Kalau begitu Nai bisa temani bunda kedaerah C,bunda ingin melihat kondisi disana" tanya Mila
__ADS_1
"Ya udah... ayo bun,Nai temani" jawab Nai
Akhirnya selesai sarapan Mila dan Nai pergi kedaerah C dengan diantar pak Ujang.Namun ditengah perjalanan tiba-tiba pak Ujang merasa ada yang tak beres dengan mobil mereka, tak lama dari lawan arah ada sebuah sepeda motor yang melintas mendadak membuar pak Ujang harus membanting stirnya kekiri, yang membuat mobil yang di kendarai pak Ujang menabrak pembatas jalan.
Hal itu mengakibatkan Pak ujang, Mila Mengalami luka ringan dan Nai mengalami Luka yang cukup serius,Karena benturan itu cukup kuat.Ibra yang mendengar kabar itu segera meminta Romi mengantarnya kerumah sakit. Sedangkan Izar yang mendengar sang bunda dilarikan kerumah sakitnya, segera berlari ke UGD dan membantu menangani sang bunda.
Ibra meminta Romi segera mencari tau penyebab kecelakaan itu terjadi.Dan Romi langsung menjalankan perintah bosnya.
Didepan ruang UGD Ibra, Azizah, Galen, Fatma, dan Gio sedang menunggu dengan harap-harap cemas. Azizah yang melihat kepanikan suaminya, berusaha menenangkan. Baby AL dititipkan pada Bi Asih yang dibantu oleh pengasuh.
Tak lama Izar keluar dari ruang UGD,dengan wajah cemas.
"Bang kita harus mendonorkan darah buat Nai bang"ujar Izar
Ibra tidak menjawab atau pun lagi, dia langsung meminta suster untuk mengambil darahnya. Nai memang terluka agak parah karena dia duduk disebelah kiri mobil.
Setelah mendonorkan darahnya Ibra kembali kedepan ruang UGD. Tak lama Izar keluar dari ruangan dengan raut tak bisa di jelaskan.
"Bagaimana bunda,Nai dan pak Ujang Zar? " tanya Ibra
Izar menghela nafas berat sebelum menjawab " Bunda dan pak ujang nggak apa-apa bang....tapi" Izar menjeda ucapannya sejenak
"Nai... mungkin akan mengalami kelumpuhan bang, karena tadi saat kecelakaan, terjadi cedera pada tulang belakang akibat benturan keras" jelas Izar
Hal itu membuat semua yang ada disana terdiam. Apa yang akan mereka katakan saat Nai sadar. Diantara mereka bertiga Nai yang terluka lebih parah, karena saat kecelakaan Nai duduk disisi kiri. Kepala Nai terkena serpihan Kaca, dan mengeluarkan banyak darah, itulah sebabnya Nai membutuhkan donor.
Sedangkan di suatu tempat Marco tersenyum bahagia,setelah mendapat kabar dari anak buahnya, tentang kecelakaan yang terjadi.
"Bagus kalian akan mendapatkan bonus kalian" ujar Marco
"Lihat Dar... aku sudah membalas mereka sedikit demi sedikit" ujar Marco sambil menatap foto Dara.
Kembali kerumah sakit
Mila dan Nai diletakkan di satu ruangan, sedangkan pak Ujang diruangan yang berbeda, namun sama-sama ruang VVIP. Mila sudah sadar dan sudah mendengar tentang Nai. Mila menyesal meminta Nai menemaninya
"Ini salah bunda bang, kalau saja tadi bunda nggak ajak Nai pasti Nai nggak akan lumpuh" ujar Mila menangis
Fatma memeluk Mila dan menggosok punggungnya dan memberi ketenangan.
__ADS_1
"Tenang Mil Izar bilang Nai masih bisa berjalan asal Nai rajin terapi"ucap Fatma menenangkan
Sedangkan Nai sendiri saat ini belum sadar. Azza yang mendengar kalau bunda dan kakaknya kecelakaan, segera kerumah sakit.Sampai dirunah sakit dan ruang rawat sang bunda, Azza memeluk sang bunda.Setelah dirasa puas Azza beralih melihat sang kakak yang belum sadarkan diri.
Hari sudah beranjak malam, Fatma, Gio, Galen,Azza dan Azizah sudah pulang sedangkan Ibra memilih menunggu bunda dan sang adik yang akan diperkirakan sadar esok pagi.
Sebenarnya Azizah dan Azza ingin menginap dirumah sakit, tapi karena ada baby Al dan Azza besok akan bersekolah, akhirnya mereka pulang.Saat sedang istirahat Romi menelpon Ibra dan meminta Ibra keluar dari ruang rawat.
Tak lama Ibra sudah sampai ditaman rumah sakit dan sedang duduk bersama Romi.
" Bagaimana... apa sudah dapat kabar? " tanya Ibra dengan wajah datar
"Sudah bos.... seperti perkiraan anda kecelakaan itu memang disengaja, dan mobil yang dikendarai pak Ujang pun sudah di rusak" jawab Romi
Ibra mengepalkan tangannya, Ibra yakin orang yang melakukannya sama dengan yang mencelakai sang ayah.
Setelah bertemu dengan Romi, Ibra memutuskan kembali kekamar rawat sang bunda dan adiknya. Ibra duduk disamping sang bunda yang terlelap, sesekali melirik brangkar sang adik.
"Bun.... mereka sudah keterlaluan,entah apa motif mereka,tapi abang akan mencarinya sampai ketemu,bun doa kan abang ya bun" ujar Ibra
Pagi hari menyapa Mila sudah terbangun sejak subuh begitu juga Ibra. Dan saat ini mereka sedang sarapan bersama, sambil sesekali melirik ranjang tempat dimana Nai tidur. Namun saat sedang makan Mila tiba-tiba- tiba berhenti menyuapi makanannya.
"Bang apa yang harus kita jawab saat Nai tanya kenapa dengan kakinya" tanya Mila sendu dan setetes air matanya mengalir
"Tenang bun Nai anak yang kuat, abang akan cari dokter terbaik agar Nai bisa berjalan lagi" ucap Ibra menggenggam tangan sang bunda
Tak lama Izar masuk kedalam ruangan bersama Renata sang istri. Renata memang tidak datang semalam karena saat ini Rena sedang mengalami ngidam.
"Assalamualaikum bun, bang" ujar Izar, dan Renata sambil men ium punggung tangan keduanya
"Waalaikum salam nak, kamu apak kabar sayang bagaimana ngidamnya? apa masih muntah-muntah? " tanya Mila kepada Renata
"Masih bun tapi Rena menikmatinya bun" jawab Renata sambil menggenggam tangan sang mertua
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba tangan Nai bergerak dan akhirnya membuka matanya secara perlahan. Izar yang melihat segera memeriksa keadaan sang adik.
*************************×********************
Hayo apa ya yang akan terjadi bagaimana nasib Nai setelah ini. Sampai disini dulu ya besok kita lanjut lagi jangan lupa like dan komen ya agar bunda semangat updatenya.
__ADS_1