
Hari-hari berlalu begitu cepat.Fatma dan Mila semakin tua sedangkan Gio sudah berpulang terlebih dahulu. Ibra hanya memiliki dua orang anak. AL menjadi pemuda yang sangat tampan. Begitu juga dengan Lea anak dari Izar menjelma menjadi gadis yang cantik.
Begitu juga dengan Aurel,Alisa. Ziva dan Fariz anak dari Azza dan Zyan. Sedangkan Nai dan Rayyan hanya memiliki seorang anak, yaitu Aras pun menjadi pemuda tampan.
Mila bahagia melihat kebahagiaan semua anaknya. Mila masih menunggu, menunggu untuk bertemu kembali dengan Dewa. Tapi hingga rambutnya memutih dan dirinya sudah tak muda lagi.
Pagi ini semua berkumpul di kediaman Mila. AL yang baru tadi malam tiba dari Eropa pun memilih menginap di kediaman sang Oma. Al akan menggantikan Ibra untuk memimpin perusahaan. Karena Fariz kelak akan menggantikan Zyan. Sedangkan Aras akan menggantikan Rayyan. Ziva ingin menjadi dokter anak, Sedangkan Alisa, Aurel memilih melanjutkan Butik dan perusahaan distributor milik Mila. Ya Mila yang awalnya hanya memiliki toko kini memiliki perusahaan distributor sendiri semenjak di alihkan ke tangan Nai. Sedangkan Kafe Azza akan di pegang oleh Celine Anak dari Galen.
Walau pun masih terlalu dini, namun semua orang tua mereka membiarkan anak-anaknya menentukan pilihan mereka, Kecuali Anak laki-laki. Karena memang mereka harus di ajarkan tanggung jawab. Untungnya mereka punya anak yang mengerti. Namun selain meneruskan perusahaan. Baik AL, Aras dan Fariz tetap boleh melanjutkan cita-cita mereka.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga.
" Al... kapan kamu akan mulai membantu papa?" tanya Ibra kepada sang anak
" Lusa pa... AL mau lihat apartemen dulu" jawab Ibra
" Kenapa kamu nggak di sini saja sayang?" tanya Mila
" Oma... kalau dari Apartemen hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit, kalau dari Sini kan lebih lama" jawab Al sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang Oma
" Tapi Al...nanti kamu jadi sarang pulang" ujar Azizah
" Al pulang saat akhir pekan ma... atau kalau Al kangen ya Al pulang ma" jawab Al
__ADS_1
" Kalau gitu nanti Aras kalau sudah pegang perusahaan Juga tinggal di apartemen aja sama kayak bang Al" ujar Aras
" Ya enggak lah sayang mommy gimana kalau Aras nggak ada" tanya Nai
" Kan ada Kak Lea" jawab Aras santai
Nai dan Rayyan tak akan pernah setuju kalau Aras akan tinggal jauh dari mereka, karena Aras anak mereka satu-satunya.Terkadang saja jika Fariz mengajaknya Mabar. Nai akan meminta Fariz yang menginap.
Di tempat yang berbeda,di sebuah Asrama seorang gadis yatim piatu yang di besarkan di lingkungan militer,membuatnya seperti seorang anak laki-laki. Bagaimana tidak diusianya yang kedelapan tahun dia sudah menjadi atlit taekwondo. Dan kini di usianya yang ke 18 tahun dia sudah banyak membawa pulang mendali emas dan perak juga perunggu. Dulu dia anak yang sangat pendiam,kini dia menjelma menjadi gadis yang kuat,namun satu hal yang tak pernah berubah darinya adalah kalung yang dia pakai. Kalung pemberian dari seseorang yang hingga kini dia Nanti kedatangannya.
" Kak Fariz... kapan kakak akan datang mengunjungi Rere lagi" gumam gadis itu.
Fariz memang tidak pernah berkunjung ke sana karena kesibukannya. Fariz yang memang satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, harus banyak belajar mengenai bisnis, sehingga dirinya tak memiliki waktu untuk sekedar berjalan-jalan.
Namun dirinya tetap mengingat sosok mungil yang telah ia ikat sejak kecil itu.
Sedangkan Ziva tidak pernah berubah Dia akan selalu bergelayut manja kepada kakak idolanya, siapa lagi kalau bukan AL, dan Al pun tidak pernah keberatan.
" Bang Al... Nanti kalau Abang mau nikah, Nikah sama Ziva aja, kan sebentar lagi Ziva akan jadi dokter anak pasti keren" ujar Ziva
" Jadi kamu mau jadi dokter anak biar keren" tanya AL menggoda sang adik
" Ya nggak kak, tapi kan dokter anak itu memang keren" jawab Ziva yang di balaz gelengan kepala oleh AL
__ADS_1
Memang tidak ada yang pernah tau kalau Ziva menaruh hati pada AL. Dulu dirinya menganggap, kalau itu karena AL selalu menuruti apapun yang dia mau. Tapi setelah dia mulai mengenal cinta, Ziva memiliki rasa yang berbeda kepada Al. Tapi Ziva hanya menyimpannya dalam hati. Karena Ziva tau tak mungkin mereka bisa bersama karena mereka saudara.
* * ** * * ******
Pagi ini semua orang di kejutkan dengan kondisi Fatma yang drop dan harus di larikan kerumah sakit. Mila tau umur mereka tak lagi muda, tapi melihat keadaan Fatma tetap membuatnya bersedih.
Luna terbang ke Indonesia bersama keluarganya,saat mendengar tentang kondisi sang mama. Sedangkan Galen dan Rury begitu setia berdiri menunggu dokter memeriksa kondisi Fatma,yang saat ini harus di letakkan di ruang ICU. Mila yang memang sudah duduk di kursi roda pun menunggu.
Dokter ke luar dari ruangan dimana Fatma dirawat dengan wajah sedih.
" Bagaimana keadaan mama saya dok?" tanya Galen sedangkan Luna dan Rury saling berpelukan dengan air mata yang berderai, saat mendengar kalau Fatma telah meninggal dunia.
Kesedihan dirasakan oleh semua orang termasuk Mila. Memandangi jasad sang sahabat, ipar,saudara. Dengan senyum yang disertai air mata Mila berkata seraya berbisik di telinga Fatma yang tak mungkin lagi mendengar.
" Fat... ternyata kamu lebih dulu bertemu bang Gio, aku masih disini menunggu,semoga kalian bertemu di surganya Allah ya dan disana kita akan kembali menjadi hamba yang mang Allah tunggu kedatangannya" gumam Mila
Pemakaman di lakukan sore hari,Fatma di makamkan di sebelah makam Gio itu lah permintaan terakhir Fatma. Setelah para pelayat pergi, kini tinggal keluarga. Dan tepat sebelum Maghrib mereka memutuskan untuk pulang. Karena akan mengadakan tahlilan di kediaman Fatma.
Ibra merenung melihat Galen yang kehilangan sang mama. Dan Ibra tak tau apakan dirinya dan saudara yang lain akan sanggup jika Mila sang bunda meninggalkan mereka untuk selamanya. Ibra tak bisa bayangkan akan bertapa hancurnya perasaan mereka. Tapi mereka tak bisa mengelak dengan takdir Allah.
Galen dan Luna begitu kehilangan sosok yang lemah lembut. Begitu juga dengan menantu dan juga cucunya. Tapi hidup terus berjalan, kita tidak tau apa yang akan terjadi esok hari,tapi satu hal yang penting adalah tetap kan hati hanya percaya kepada ketentuan Allah.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Dan Mila pun juga kini sering sakit-sakitan. Dan semua memilih untuk tinggal sementara di kediaman Mila. Karena mereka ingin menyimpan memori indah terakhir bersama bunda dan keluarganya.
__ADS_1
* * * * * * * * *
Maaf ya baru up lagi karena author sakit mudah-mudahan suka ya dengan part malam ini Terimakasih.