Masih Adakah Cinta

Masih Adakah Cinta
Masih Adakah Cinta


__ADS_3

Hari-hari saat kehamilan di lalui Azza di lalu begitu berat di awal semester. Azza harus batres, karena untuk berdiri saja dirinya tak sanggup. Semua orang menjaga Azza dengan cara bergantian, Sella pun sering datang menjaga sang menantu. Sedangkan Zyan selalu menjadi suami siaga. Walau terkadang Zyan harus meninggalkan Azza untuk pekerjaan yang tak bisa di wakili oleh Heru atau Arya sekali pun.


Seperti hari ini Zyan harus melakukan metting dengan beberapa investor asing, yang bekerja sama dengan ASM grup. Mereka tak ingin Zyan di wakilkan.


" Sayang.... mas pergi dulu ya....selesai metting mas langsung pulang" janji Zyan dan saat ini Zyan mencium perut rata Azza


"Sayang anak papi jangan nakal ya, kasihan mami kalau Dede buat mami sakit, anak papi kan anak yang kuat, sekarang papi pergi dulu ya" ujar Zyan di perut Azza dan menciumnya tak lupa juga Zyan mencium sang istri


Setelah berpamitan kepada sang istri, Zyan keluar dari kamar. Saat menuruni tangga Zyan bertemu dengan Ibra, yang juga akan berangkat ke kantor.


" Bagaimana Azza hari ini Zy, apa Azza sudah sarapan?" tanya Ibra kepada Zyan


" Seperti biasa bang, Azza akan memuntahkan semua makanan yang sudah di makannya" jelas Zyan sendu


" Enggak apa-apa Izar bilang itu hal biasa pada ibu hamil" ujar Ibra menenangkan


Zyan menghampiri Mila dan berpamitan kepada sang mertua.


" Bun Zy titip Azza ya Bun,Zy akan cepat pulang kalau metting bersama klien sudah selesai" ujar Zyan pada Mila


" Iya kamu konsentrasi saja pada pekerjaan, disini banyak yang menjaga Azza, sebentar lagi juga mama kamu datang" jelas Mila menenangkan Zyan


Kini Zyan di kawal beberapa bodyguard, menuju kantor. Karena Zyan hanya ingin menjaga keamanan dirinya demi sang istri juga calon anaknya. Namun tanpa Zyan sadar dari kejauhan ada sebuah mobil yang selalu mencari cela untuk membuat Zyan celaka.


Sampai di perusahaan Zyan berjalan menuju lift di sambut Heru. Heru menjelaskan semua dan kini mereka menuju keruangan Zyan, sebelum memulai metting hari ini.


" Bos Minggu depan anda harus keluar kota menyelesaikan masalah disana" ujar Heru terpaksa


" Apa... kamu nggak bisa menggantikan saya Ru, kamu tahukan bagaimana kondisi Azza" ujar Zyan pada Heru

__ADS_1


" Saya juga harus mengecek proyek kita yang mengalami keterlambatan itu pak dan itu juga Minggu depan, karena kita masih memantau keadaan" jawab Heru


Zyan menghela nafas, apa yang harus dia lakukan. Sang istri sangat memerlukan dirinya, namun perusahaan juga menjadi tanggung jawabnya.Para Karyawan menggantungkan hidup mereka pada perusahaan.


Pintu ruangan Zyan di ketika oleh sekertaris nya, mengatakan para investor sudah datang dan berada di ruang meeting.


* * * * * * * * * * * * * * * * * *


Di tempat yang berbeda Toni menyeringai, karena dia akan segera menjalankan rencananya.


"Pantau terus jangan sampai, Kita melewatkan kesempatan yang ada" ujar Toni pada anak buah yang dia perintahkan untuk mengawasi Zyan.


" Baik bos... kali ini nggak akan gagal" jawab sang anak buah Toni


Metting berjalan selama 2 jam banyak hal yang di Bahas dalam metting kali ini. Banyak rencana pengembangan yang akan sangat menguntungkan untuk para investor.


Selesai metting Zyan mengantarkan para investor hingga loby perusahaan. Setelahnya Zyan kembali ke ruangannya, karena ada beberapa berkas yang harus di periksa dan di tandatangani oleh Zyan.


Zyan segera meninggalkan ruangannya, berjalan menuju lift. lantai dasar, dan berjalan menuju Loby kantor dimana disana sudah menunggu sang sopir yang merangkap bodyguard.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mobil yang membawa Zyan tiba di kediaman Mila. Di sana Zyan juga melihat mobil sang mama.


Zyan keluar dari mobil, dengan membawa pesanan sang istri yang menginginkan buah-buahan yang segar. Juga bakso yang ada didekat kampusnya dulu. Zyan selalu menuruti apapun yang Azza inginkan selagi Zyan bisa melakukannya.


Setelah mengucapkan salam Zyan segera menuju ruang keluarga di mana sudah berkumpul, Mama, sang mertua dan ke 3 iparnya. Tak lupa juga sang istri yang tetap terlihat cantik walau dengan wajah sedikit memucat.


Azza mencium tangan Zyan dan di sambut Zyan dengan mengecup kepala sang istri sayang. Zyan duduk di samping Azza.


" Bunda ....mama.... ada yang mau Zyan bicarakan" ujar Zyan pada kedua wanita yang ada dihadapannya saat ini

__ADS_1


" Apa apa Zy?" tanya Mama Sella


" Minggu depan Zyan harus berangkat ke luar kota, karena perusahaan disana bermasalah, dan harus Zyan yang menyelesaikan nya" jelas Zyan dan di tatapnya wajah sang istri


Sedangkan Azza yang di tatap memberikan senyum terindah kepada sang suami. Azza tau Zyan memiliki tanggung jawab kepada seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan miliknya.


" Mas Zyan kalau mau berangkat nggak apa-apa, disini banyak kok yang akan jaga Azza" menenangkan sang suami. Walaupun entah kenapa dirinya merasa berat kalau Zyan berangkat ke luar kota.


" Apa nggak bisa di gantikan saja Zy, kasihan Azza kalau kamu tinggal" ujar Sella mencoba mengubah keputusan Zyan, karena entah kenapa dirinya juga merasakan berat untuk mengizinkan Zyan keluar kota.


" Enggak bisa ma.... Karena masalah ini harus Zyan yang tangani sendiri" jelas Zyan


" Enggak apa-apa ma... jangan khawatir kan mama juga sering kesini"


Sedangkan Mila hanya diam, entah kenapa Mila merasa flashback saat Dewa izin untuk menyelesaikan masalah yang membuat Mila kehilangan Dewa untuk selamanya. Tetapi Mila harus menjadi kekuatan sang putri.


Tepat pukul 5 sore semua orang pulang dari aktivitas masing-masing. Saat ini mereka masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri. Zyan dan Azza pun sudah berada di dalam kamarnya. Saat ini mereka duduk di sofa kamar mereka sambil menonton televisi, dengan Zyan memeluk Azza dari belakang.


"Sayang... kamu nggak apa-apa kan kalau mas ke luar kota?" tanya Zyan memastikan


" Iya mas inikan sudah tugas mas sebagai pemilik, sekaligus pemegang ASM grup" jelas Azza


" Mas janji kalau urusan mas disana sudah selesai, mas segera pulang, karena mas juga tak bisa jauh-jauh dengan kalian lama-lama" ujar Zyan mengeratkan pelukannya pada sang istri


Azza merasa bahagia, memiliki suami seperti Zyan. Zyan selalu ada dan mengerti keadaan dirinya. Dan sebagai seorang istri Azza juga harus bisa mengerti keadaan sang suami.


Kini Zyan membantu Azza untuk turun menuju ruang makan. Mereka makan malam bersama dengan suara riuh dua bocah yang kini ikut makan bersama mereka, siapa lagi kalau bukan AL dan Lea.


Bersambung....

__ADS_1


Part selanjutnya menuju konflik, tapi disinilah cinta itu di pertanyakan. Terimakasih untuk para reader yang sudah mendukung karya author. Dan terimakasih bagi yang sudah komen karya author, karena dari komen kalian author bisa mematangkan lagi tulisan ini. Sekali lagi author ucapkan terimakasih.


__ADS_2