
Peristiwa itu terjadi kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya satu tahun lebih satu bulan. Saat itu aku duduk di awal-awal kelas dua SLTA dan ada seorang murid baru pindahan dari sekolah lain. Murid itu bernama Erna. Menurut kabar yang aku dengar, karena aku sendiri belum pernah melihatnya, orangnya cantik, tubuhnya seksi dan kalau senyum manis.
“Sumpah, Man, dia itu cantik sekali,” ujar Wendi yang saat itu satu kelas dengan murud baru itu dengan ekspresi membayangkan.
“Terus kalo cantik, kenapa?” tanyaku enteng saja.
“Gue yakin, seyakin-yakinnya, kalo lu melihatnya, lu pasti langsung jatuh cinta padanya,” jawab Wendi dengan penuh keyakinan.
“O, ya?” sahutku.
“Kenapa sih, Man, kalau bicara masakah cewek lu kagak pernah tertarik?” tanya Wendi agak jengkel. “Ah, jangan-jangan, lu…”
“Ah, ngaco, lu,” sahutku cepat. “Gue itu normal tau.”
“Kalo lu normal, terus kenapa lu kagak tertarik ama cewek?”
“Gue bukannya lagak tertarik ama cewek, Wen, cuman gue selalu jaga hati nih supaya kagak tertarik ama cewek,” jawabku.
“Lha, emang kenapa?”
“Karena Ayah gue pasti bakalan marah besar kalo sampe tau gue senang ama cewek, apalagi pacaran,” terangku.
“Kok, bisa?” tanya Wendi sambil mengerutkan dahinya.
“Iya,” sahutku.
“Alasannya apa?” tanya Wendi masih belum paham.
“Karena kata Ayah gue, pacaran itu hanya akan membuat derajat wanita jadi rendah,” jawabku. “Padahal surga itu ‘kan berada di bawah telapak kaki ibu.”
“Terus, apa hubungan antara surga yang di bawah telapak kaki ibu dan merendahkan derajat wanita dalam berpacaran?”
“Gue juga dulu tanya gitu ama Ayah.”
“Terus apa jawaban Ayah lu?”
“Ayah gue bilang, bukankah ibu itu seorang wanita? Dan bukankah seorang wanita nantinya akan menjadi seorang ibu?”
“Iya, juga sih.”
“Nah, terus Ayah bertanya pada gue waktu itu.”
“Apa pertanyaannya?” tanya Wendi semakin penasaran.
“Nanti lu jawab ya, Wen,” sahutku meminta.
Wendi mengangguk.
“Gini, jika ada seorang wanita pacaran ama seorang lelaki, lalu hamil. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh keluarga wanita itu?”
“Ya, pasti menuntutlah,” sahut Wendi tegas.
“Nah, kalau wanita itu ternyata Ibu lu, gimana?”
“Akan gue bunuh tuh lelaki,” sahut Wendi dengan penuh kemarahan.
“Kalau ternyata wanita itu adalah kakak perempuan lu, gimana?”
“Gue pasti marahlah.”
“Kalau ternyata cewek itu adalah adik wanita lu?”
“Oo, pasti marah sekali dan menuntut dia untuk menikahi adik gue.”
“Kalo ternyata lelaki itu menolak menikahi adik lu?”
“Gue pukul dia.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Karena dia telah melecekan harga diri adik gue sebagai wanita.”
“Nah, itu yang dimaksud Ayah gue jika pacaran itu hanya akan merendahkan atau melecehkan harga diri wanita.”
Wendi mengangguk-angguk paham.
“Gimana? Apakah gue mesti tertarik ama Erna, si murid baru itu?”
“Tetaplah jadi Saman yang gue kenal,” sahut Wendi sambil menepuk-nepuk pundakku saat itu.
Beberapa hari setelah perbincanganku dengan Wendi, motor yang kukendarai menabrak seorang cewek dari arah yang berlawanan. Tubuh cewek itu jatuh terduduk tepat di depan motorku.
Untung waktu itu aku mengerem kuat-kuat motorku, hingga motorku terhenti tepat di tengah-tengah kakinya yang terlentang. Aku langsung tarik mundur motorku. Setelah menstandar motorku, aku pun cepat-cepat mendekati cewek itu.
“Ka-kamu tidak apa-apa?” tanyaku panik karena melihat wajah cewek itu meringis menahan sakit. “A-aku bawa ka-kamu ke rumah sakit ya?”
Cewek itu hanya mengaduh-aduh.
Kulihat airmatanya sudah meleleh membasahi pipinya.
“A-yo, a-aku bawa ka-kamu ke rumah sakit,” ujarku lagi tegang.
Aku semakin panik ketika melihat ada darah merembes membasahi rok atas seragamnya. Maka tanpa pikir panjang aku langsung membopong tubuhnya dan mendudukannya di jok depan motorku, sedangkan aku duduk di belakangnya.
“Ta-tahan ya…tahan ya…” ujarku gugup sambil menjaga keseimbangan motorku dan menghidupkannya. Setelah motor menyala, perlahan aku jalankannya sambil berujar,
“To-tolong, ja-jangan banyak bergerak biar tidak jatuh. Diam…diam…”
Cewek yang duduk di depanku menangis karena sakit dengan menundukan kepala sambil bertumpu di atas meteran motorku.
Mendengar tangisan cewek itu aku semakin mengencangkan laju motorku. Karena bingung tak tahu harus kemana, akhirnya aku lajukan motorku menuju ke rumah. Ketika hendak memasuki gang yang menuju ke rumah, kulihat mobil ayahku melintas.
Aku pun menghentikan laju motorku tepat di tengah mulut gang.
“Ada apa, Man? Siapa dia?” tanya ayah setelah berada di dekatku dengan tatapan yang tertuju ke sosok cewek yang duduk di depanku yang tengah merintih dan menangis.
“Tolong, Yah, bawa dia ke rumah sakit,” ujarku tegang.
Ayahku langsung bergerak.
“Bawa dia ke mobil Ayah,” seru ayah tegas sambil berjalan kembali ke mobilnya.
Aku langsung turun dari motor, lalu membopong tubuh cewek itu dan membawanya menuju ke mobil ayahku. Dengan dibantu ayah, aku masukan cewek itu di jok belakang.
“Kamu duduk di samping dia, biar motornya Ayah titipkan ke rumah Haji Maksum,” perintah ayahku.
“I-iya, Ayah,” sahutku, lalu langsung masuk ke dalam mobil dan duduk sambil memangku kepala cewek itu.
“Ta-tahan ya, tahan ya, nanti Ayah akan membawa ka-kamu ke rumah sakit,” ujarku ketika melihat ayah berjalan menuju ke mobil.
Setelah duduk di belakang setir, ayah langsung melarikan mobinya ke arah rumah sakit. Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, ayah memintaku untuk menceritakan kronologis kejadiannya.
Aku pun dengan perasaan tegang dan suara bergetar menceritakan kronologis kejadiannya, tanpa menambah dan menguranginya, persis seperti yang aku alami sambil tanpa sadar tanganku terus membelai-belai kepala cewek itu yang ada di atas pangkuanku.
Ayah mengangguk-anggukkan kepala selama mendengar ceritaku.
Setelah aku selesai menceritakan semuanya, ayah berkata padaku, “Kamu harus tenang, Man, jangan tegang, jangan panik. Mengerti?”
“I-iya, Ayah,” sahutku sambil menganggukan kepala.
Sesampainya di rumah sakit, cewek itu langsung dibawa ke UGD.
Ayah dengan sigap dan cekatan mengurus semua keperluan administrasi yang berhubungan dengan cewek itu. Sedangkan aku hanya berdiri di luar ruang UGD dengan perasaan tegang dan takut. Beberapa kali aku melihat Ayah melintas hilir mudik antara ruang UGD dan tempat pendaftaran sambil bicara dengan seseorang melalui hapenya.
Selama menunggu, dalam hati aku terus menerus berdo’a meminta pada Allah supaya tidak terjadi hal-hal yang serius dengan cewek itu.
__ADS_1
“Pasti kamu yang bernama Saman ya, yang telah menabrak Erna putriku?” tanya seorang ibu dengan wajah agak panik.
Aku terkejut mendengar ibu itu bertanya dengan menyebut nama Erna, hingga membuatku melongo dan melihat ayah menghampiri ibu itu…
Uff…aku menghela nafas panjang setiap kali teringat peristiwa itu. Dan karena perisiwa itu, aku jadi selalu berada di samping cewek itu, yang ternyata adalah Erna, murid baru yang terkenal cantik dan manis itu.
...
Awalnya Erna tidak mau aku dekati. Tatapan matanya selalu terpancar penuh kebencian dan kemarahan setiap kali melihatku. Dia langsung menjauh kala melihatku berjalan mendekatinya. Tetapi aku tidak peduli dengan sikap benci dan marahnya padaku. Aku tetap berusaha mendektinya, karena ayah berpesan supaya aku selalu berada di dekat Erna dan melindunginya, apapun yang terjadi.
“Kenapa aku harus tetap mendekatinya, Yah, sedangkan dia selalu menjauhiku dengan tatapan yang penuh kebencvian?” tanyaku suatu ketika dengan nada protes pada ayah karena merasa putus-asa bisa mendekatinya.
“Karena dia wanita yang pernah kamu tabrak, Man,” jawab ayah enteng.
“Tapi dia selalu benci setiap kali melihat aku, Yah,” terangku memberi fakta.
Ayah tersenyum. “Sekeras apapun batu, Man, jika selalu terkena tetesan air, pasti akan berlubang juga,” ujarnya. “Jadi kamu jangan putus asa untuk selalu mendekati Erna. Teruslah berusaha. Ayah yakin kamu pasti bisa.”
“Tapi bagaimana kalau aku sampai jatuh cinta padanya, Ayah?” tanyaku dengan harapan ayah setuju aku berhenti mendekatinya.
“Ayah percaya, kamu pasti akan selalu menjaga pesan Ayah, Man,” jawab ayah dengan nada yakin.
Akhirnya, mau tidak mau, aku terus berusaha mendekati Erna. Berbagai cara kulakukan supaya dia mau menerimaku sebagai sahabat. Dua bulan lamanya aku terus berusaha mendekatinya, sampai akhirnya dia mau menerima kehadiranku karena sebuah peristiwa yang tidak diduga-duga.
Waktu itu…
Aku mengantar ibu ke rumah paman Anto.
“Sudah, Man, kamu pulang saja, nanti Ibu pulangnya sama Ayah,” ujar ibu sesampainya di depan rumah paman Anto.
“Baik, Bu,” ujarku.
“Awas hati-hati, jangan ngebut, bahaya, apalagi sudah malam,” pesan ibu.
Aku mengangguk. Kemudian menyalami ibu dan mencium tangannya.
“Assalamu’alaikum,” ujarku berpamitan
“Ya, wa’alaikumussalam,” sahut ibu membalas salamku.
Tanpa bertemu paman Anto sekeluarga, aku langsung menjalankan motorku untuk pulang ke rumah. Entah kenapa, dalam perjalan ke rumah aku tidak melalui jalan utama, melainkan jalan pintas yang melintasi jalan-jalan permukiman warga.
Aku melajukan motorku dengan santai.
Saat melintasi kawasan yang sepi, aku melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan. Ketika aku melewatinya, serta merta telingaku mendengar suara teriakan minta tolong seorang cewek dari dalam mobil itu. Aku pun langsung menghentikan laju motorku tidak jauh dari mobil itu.
Baru saja aku mau mematikan mesin motorku, mobil itu bergerak. Spontan aku memutar balik motorku. Aku berniat mengejar mobil itu, tapi kulihat pintu belakang mobil itu terbuka dan berbarengan dengan itu meloncatlah sosok tubuh cewek dari dalam mobil.
Mobil itu kembali berhenti.
Aku lihat sosok tubuh cewek itu bangkit dan langsung lari ke arahku. Spontan aku standarkan motorku. Aku turun dari motorku begitu melihat cewek itu semakin mendekat. Lalu kulepas jaket kulitku karena kulihat pakaian yang dikenakan cewek itu sudah koyak moyak.
“Tolong aku! Tolong aku!” seru cewek itu padaku yang wajahnya tertutup rambutnya yang acak-acakan, lalu berdiri di belakangku.
Aku sepertinya kenal suara cewek yang kini berdiri di belakangku itu dengan penuh ketakutan. Namun karena fokusku tertuju pada dua sosok lelaki yang keluar dari dalam mobil itu, maka aku tidak berusaha mengingatnya lebih jauh.
Setelah memberikan jaket kulitku pada cewek itu, tanpa mengalihkan pandanganku dari kedua sosok lelaki yang berjalan menuju ke arahku, aku pun langsung lari ke arah kedua lelaki itu. Perkelahian pun tak terelakan antara aku dan kedua lelaki itu. Dengan gerakan-gerakan karate yang telah kuajari dari Bang Jajang lebih dari empat tahun, aku dengan mudah mematahkan setiap serangan kedua kelaki itu. Sehingga dalam waktu singkat aku mampu membuat kedua lelaki itu lari menuju mobilnya dan kabur.
Aku tidak berusaha mengejar kedua lelaki yang kabur dengan mobilnya itu, melainkan langsung bergegas melangkah mendekati cewek itu yang telah memakai jaketku. Tetapi langah kakiku langsung terhenti kala pandanganku dengan jelas menangkap wajah cewek itu.
E-Erna…bisik batinku tidak percaya.
Kemudian sambil mencopot helmku, aku melangkah perlahan-lahan dekati Erna yang masih berdiri gemetar ketakutan di samping motorku.
Tangis Erna langsung meledak dengan tubuh terduduk saat wajahku terbebas dari helm. Tangisnya terdengar pilu, hingga membuat hatiku teriris-iris, sakit…
Setelah kejadian itu, sedikit demi sedikit Erna mau menerima kehadiranku. Aku selalu berada di sisinya dan siap membantu atau mengantarnya ke mana pun tujuannya, sampai-sampai teman-teman memberiku title jongos Erna, tapi aku tidak mempedulikannya. Karena yang penting bagiku adalah menjalankan amanat dan perintah ayah untuk menjaga Erna sebaik-baiknya.
__ADS_1
“Sebagai permintaan maafmu karena telah menabraknya,” begitu ayah selalu memberi alasan kenapa aku harus menjaga Erna.