Masih Adakah Cinta

Masih Adakah Cinta
Masih Adakah Cita


__ADS_3

Setelah beberapa saat bicara dengan dokter, Dewa masuk keruangan dimana Mila tengah berbaring, tak lama Mila sadar dari pingsannya.


"Mas, aku dimana?"


"Kamu sudah sadar Mil, kita lagi dirumah sakit kamu tadi pingsan"


"Aku kenapa mas, kenapa bisa pingsan?"


Dewa yang duduk disebelah Mila pun mengelus perut rata Mila


"Disini ada buah cinta kita Mil"


Mila terkejut merasa tak percaya, Allah memberi sekali lagi keprcayaan padanya,menitipkan seorang malaikat kecil dirahimnya


"Bener mas apa aku salah dengar?"


"Nggak Mil, tapi kata dokter kita harus temui dokter kandungan untuk mengetahui lebih lanjut"


"Kapan kita kesana mas"


"Sebentar ya mas ambil kursi roda dulu"


Dewa segera keluar mengambil kursi roda untik Mila, dan tak lama dia sampai diruangan Mila dan mengangkat Mila untuk duduk dikursi roda.


Dewa mendorong kursi roda Mila menuju ruang Dokter Kandungan yang direkomendasi Dokter Arfan.


Dewa dan Mila masuk keruangan Dokter yang bernama Dokter Sinta Arayu karena sudah dipanggil oleh Perawat, Dewa dan Mila segera duduk dikursi seberang Dokter Sinta


"Sudah berapa lama ibu telat menstruasi?"


"Saya sebenarnya baru lepas alat kontrasepsi 3 bulan yang lalu Dok, dan saya belum sempat menstruasi" jawab Mila


"Ok baiklah ibu Mila kita coba periksa ya mari"


Seorang suster membantu Mila berbaring dan mengoles gel diperut Mila, dan Dokter mulai memutar alatnya memperlihatkan pada Dewa dan Mila


"Ini janjinnya ya pak, bu usianya sekitar 10 minggu, dan janinnya sehat" Dokter menjelaskan kondisi ibu dan babynya.


Dewa mencium puncak kepala Mila dia sangat berterima kasih dan mengucap syukur,setelah Dokter memberikan resep Vitamin dan apa saja yang tidak boleh Mila lakukan Dewa berpamitan dengan Dokter dan membawa Mila menuju Apotik


Sambil menunggu obat Dewa terus saja menggenggam tangan Mila, setelah selesai menebus obat Dewa segera membawa Mila pulang kerumah


Sampai dirumah Dewa segera membawa Mila ke lantai 2 dimana kamar mereka berada Dewa meminta Mila untuk istirahat,nggak boleh kerja yang berat, nggak bolek kecapean

__ADS_1


" Mas aku nggak apa- apa"


"Iya aku tau Mil tapi kata dokter kamu harus banyak istirahat"


Tak lama terdengar pintu kamar diketuk dan terdengar suara Nai memanggil, mas Dewa segera berdiri membuka pintu dan Nai segera berhambur kedalam pelukan mas Dewa


"Bunda kenapa yah, bunda sakit ya?"


"Nggak sayang bunda nggak sakit" jawab mas Dewa sambil membawa Nai digendongannya mendekat kearahku


"Nai sudak makan sayang" tanyaku


"Sudah bunda, bunda kenapa pingsan tadi bunda sakit karena Nai nakal ya?"


Aku segera mengambil Nai dan memeluknya,


"Nggak sayang, bunda sakit karena diperut bunda ada dedenya, Nai mau nggak punya dede" mas Dewa yang bicara


"Benar bun, Nai berarti sebentar lagi jadi kakak dong, yeee"


Aku dan mas Dewa tersenyum melihat Nai, dia sangat senang akan menjadi kakak


"Bunda sekarang Nai nggak akan buat bunda capek lagi biar dedenya sehat dan Nai akan jadi kakak yang baik"


"Aduh pinternya anak ayah dan bunda ini" jawab Dewa


"Assalamualaikum" sapa kedua putraku


"Waalaikum salam" jawab kami bersama


"Bunda sakit apa bun sampai bunda tadi pagi pingsan" tanya Ibra


"Bunda ngga sakit bang tapi kita mau punya adek ada diperut bunda" jawab Nai dengan raut bahagia begitu juga Izar


Tapi Ibra terlihat diam saja, "apakah Ibra nggak suka kalau aku hamil lagi". batin Mila


Dewa yang faham dengan tatapan Mila, mencari cara bicara dengan Ibra


" Ibra, Izar kalian sudah makan?"


"Belum yah, kita langsung kesini saat tau bunda sudah pulang" jawab Ibra datar


"Ayok kita makan dulu kebetulan ayah juga belum makan" Dewa mengjak Ibra dan Izar makan bersama

__ADS_1


Mereka sudah sampai meja makan, dan mereka makan dalam diam, hanya terdengar suara sendok yang beradu, setelah selesai makan Izar kembali kekamar mengerjakan tugas, sedang Ibra baru mau beranjak ditaha oleh Dewa


"Bang apa ayah bisa ajak abang bicara berdua"


Sebelum menjawab Ibra tampak berfikir dan menjawan


"Baik yah"


"Ayo ikut keruang kerja ayah"


Dewa dan Ibra berjalan menuju ruang kerja Dewa, setelah sampai Dewa membuka pontu ruang kerja dan menyuruh Ibra masul dan duduk di sofa


"Abang boleh ayah tanya sesuatu, tapi abang jawab yang jujur ya, ayah nggak akan marah kok"


Ibra tampak berfikir dan kemudian mengangguk tanda dia setuju


" Ibra nggak suka ya kalo kita mau punya adek lagi"


Ibra hanya diam dan kemudian menggeleng,dari sorot matanya Dewa melihat ada ketakutan yang disimpan rapat oleh Ibra


"Lalu kenapa Ibra diam saja saat, abang tau bunda hamil abang diam saja, ayah minta maaf kalau ayah sama bunda salah" dengan sabar Dewa berbicara kepada Ibra


Ibra menarik nafas sebelum menjawa pertanyaan dari Dewa, sebenarnya dia sangat bahagia tapi ketakutan akan dicampakkan seperti dengan ayahnya Anto membuat dirinya takut


" Abang seneng yah mau punya adik bahkan sangat senang tapi......, apa nanti saat adik lahir ayah akan tidak perduli lagi dengan kami bertiga, karena kami bukan anak ayah?"


"Ya Allah bang jadi itu yang abang fikirkan, maafkan ayah yah bang, ayah pernah bilang kan pada abang ayah nggak mau berjanji tapi ayah akan buktikan kalau kalian juga anak ayah" Dewa menjeda sesaat ucapannya


"Kamu anak tertua ayah jangan lupakan itu, bagi ayah kamu,Izar dan Nai adalah permata ayah walau kalian bukan darah daging ayah"


Ibra segera berlari memluk Dewa, dia hanya takut karena yang dia dan adik- adiknya punya hanya bunda, tapi sekarang dia tau dia juga punya ayah Dewa yang bisa melindungi mereka


" Makasih yah, makasih karena ayah sudah sayang dengan Ibra dan adik- adik, ibra juga akan jaga adik yang ada diperut bunda sama seperti adik yang lain"


Dewa membalas pelukan Ibra dengan perasaan haru, dan dalam hati dia berdoa bisa menjaga amanah yang Allah titipkan padanya, melalui Mila istri tercintanya


Dewa melepaskan pelukannya pada Ibra


" Abang sekarang temui bunda ya tadi bunda sedih lihat abang"


"Baik ayah, Ibra sayang ayah"


"Ayah juga sayang kalian semua, Ibra harus jadi anak yang bisa menjadi kebanggan ayah dan bunda ya dan nanti jika suatu saat ayah nggak ada Ibra harus janji jagain bunda dan adik- adik"

__ADS_1


" Tanpa ayah minta Ibra akan menjaga bunda dan adik-adik"


Ibra segera berjalan menuju kamar ayah dan bundanya melihat keadaan bundanya, sampai dikamar ternyata bunda sedang tidur ditemani Nai, Ibra segera keluar karena tidak mau mengganggu bundanya


__ADS_2