
Setelah kepergin pak Marvel, ketiga teman ku yang tadinya duduk di pojokan datang menghampiri ku.
''Ngomongin apa tadi sama pak Marvel sampai kamu natap dia?''
''Ngak ngomongin apa-apa cuma bahas tentang lomba''
''Emangnya ada masalah?''
''Ngak ada Gem, hanya saja kami berangkatnya itu besok''
''Jadi besok kalian udah pergi?''
''Kata pak Marvel sih gitu, katanya pak Marvel minta sama pak Bimo agar kami berangkat lebih awal supaya bisa istirahat sebelum lomba agar saat hari perlombaan tiba kami sudah benar-benar siap tak lelah karena perjalanan jauh''
''Apa iya? Aku rasa bukan karena itu kalian berangkat lebih awal''
''Terus apa?'' Tanya ku penasaran.
''Pak Marvel pengen ngajak kamu jalan-jalan dulu disana'' ujar Darmi di ikuti tawa kedua teman ku.
''Kamu ini pikirannya kemana-mana, kami itu pergi buat lomba bukan buat liburan''
''Iy..iya.. aku juga tahu, tapi percaya sama aku selama disana pasti pak Marvel akan terus berusaha dekati kamu''
''Ngak mungkin, udah ahh... kalian nih setiap kumpul pasti bahas pak Marvel, ngak ada bahan lain apa?''
''Ngak ada'' jawab ketiganya serentak.
Aku hanya menghela nafas pelan mendengar ucapan mereka.
Tak henti-hentinya mereka menggoda ku bahkan saat kami berpisah di gerbang sekolah mereka terus meledek ku.
Sore hari sekitar pukul 3, bibi datang ke kamar ku dan mengatakan ada seseorang yang mencari ku.
''Siapa bi?'' Tanya ku.
''Tidak tahu De, coba kamu lihat dulu''
Aku keluar dan mencoba mengintip dari jendela rumah, terlihat seorang wanita duduk di kursi yang ada di halaman rumah.
''Ayo buruan di temui De'' ujar bibi.
''Iya bi''
Aku keluar dan menemui orang tersebut, aku tak mengenal siapa wanita ini tapi anehnya dia tersenyum sangat ramah saat melihat ku. Ku perkirakan beliau berusia 50 tahunan.
''Sore bu, apa ibu yang mencari saya?''
''Iya nak, apa kamu Dea?''
''Iya bu, saya Dea. Jika boleh tahu apa yang bisa saya bantu?''
''Saya hanya mengantarkan tiket bus dan beberapa keperluan saat kamu ikut lomba nanti'' ia mengeluarkan selembar tiket juga sebuah koper berukuran sedang.
''Terimakasih bu, maaf jika saya sudah merepotkan ibu''
__ADS_1
''Tidak nak, ibu tidak merasa repot''
''Saya buatkan minum bu, ibu mau minum apa?''
''Tidak usah nak, ibu hanya mengantarkan ini. Dalam koper itu ada keperluan kamu selama disana. Kamu bisa periksa nanti dan tambahkan jika kamu merasa ada yang kurang''
''Sekali lagi terimakasih bu''
''Sama-sama nak, ibu permisi dulu ya. Salam dari anak ibu'' ujar ibu itu tersenyum.
''Hati-hati di jalan bu'' ujar ku mengantar beliau keobilnya, saat beliau akan naik ke mobil beliau berbalik kemudian memeluk ku.
''Sampai jumpa besok Dea'' ujar pak Marvel dari dalam mobil saat ibu tadi sudah duduk di dalamnya.
''I..iy..iya...iya pak, hati-hati di jalan''
Mobil yang membawa pak Marvel dan ibu tadi berlalu meninggalkan pekarangan rumah.
''Neng Dea, tadi siapa?'' Tanya bu Weni.
''Itu guru saya bu''
''Ada apa koq nganterin koper?''
''Oh itu bu, besok saya akan ke kota M mengikuti lomba, jadi koper itu berisi keperluan kami saat disana juga tiket bus''
''Oh gitu neng, neng Dea wakili sekolah lagi?''
''Iya bu''
''Terimakasih bu, saya permisi dulu mau nyiapin keperluan untuk besok''
''Silahkan neng Dea''
''Mari bu'' ujar ku masuk ke dalam rumah menarik koper tadi.
''Tadi siapa De?''
''Itu guru Dea bi, nganterin tiket bus sama koper ini, katanya keperluan untuk kami disana''
''Oh gitu, ya udah bawa masuk kamar terus siapin semua keperluan kamu jangan sampai ada yang lupa atau tertinggal''
''Iya bi'' aku membawa koper itu masuk ke kamar dan membukanya perlahan-lahan. Di koper itu tertulis nama sekolah juga nama ku.
''Kira-kira apa ya isinya?'' Tanya ku pada diri sendiri.
Saat membukanya aku melihat ada beberapa pasang pakaian yang bergambar logo sekolah dan nama ku. Ada juga dua pasang sepatu beserta beberapa pasang kaos kaki dan sebuah tas ransel ukuran kecil.
''Jadi aku tinggal tambahin baju untuk di rumah aja dan pakaian dalam hehehe'' ujar ku mengingat saat aku tak memakai pakaian dalam ketika baju ku basah akibat ulah bu Selvy.
Aku teringat akan jaket pak Marvel yang aku pakai, ku buka lemari dan mencari baju itu. Jaket itu ikut aku masukkan kedalam koper, setelah memastikan semuanya siap aku membantu bibi dan nenek di dapur.
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, aku ingin menyerahkan tugas terlebih dahulu sebelum aku pergi. Bahkan aku juga berniat untuk mengikuti satu mata pelajaran sebelum kami berangkat.
''Kamu masih masuk De?'' Tanya Darmi melihat ku duduk di kelas saat dia baru datang.
__ADS_1
''Iya Mi, lumayan kan satu mata pelajaran''
''Dasar kutu buku''
''Biarin''
''Dea, koq kamu pakai baju biasa?'' Tanya Ros teman sekelas ku yang baru datang.
''Iya'' ujar Leni.
''Iya, hari ini kami berangkat buat lomba, karena kami perginya siang aku memutuskan untuk ikut belajar dulu meski cuma satu''
''Oh gitu, semangat ya Dea. Berapa orang yang pergi?''
''Murid ada 4 orang, guru ada 5 orang dengan pak Bimo.
''Guru pembimbing ikut?''
''Iya Ros, semua guru pembimbing ikut, karena mereka harus mendampingi murid bimbingannya selama di sana''
''Baguslah kalau begitu, semangat ya Dea. Semoga kamu bisa menang'' ujar Ros.
''Iya terimakasih''
Satu mata pelajaran bisa aku ikuti sebelum kami berangkat, saat kami akan berangkat semua murid di kumpulkan di lapangan dan kami berdoa bersama.
''Hati-hati ya De'' ujar Darmi, Sukma dan Gema. Secara bergantian sukma dan Darmi memeluk ku saat kami akan berangkat.
''Doain aku ya'' ujar ku.
''Iya kami doakan perjuangan mu dan perjuangan yang sudah dapat restu bisa terwujud'' ujar Darmi saat aku sudah masuk ke dalam bus.
''Amin'' ujar pak Marvel yang berdiri di sebelah ku.
''Ayo Dea'' aku ikut naik ke atas bus bersama pak Marvel, ternyata bangku untuk ku dan pak Marvel berseblahan.
'Aduh koq kursinya sebaris sama pak Marvel' batin ku.
''Ayo duduk'' ujarnya menarik tangan ku agar duduk di kursi di sampingnya.
''Kenapa kursi saya dan bapak berseblahan?'' Tanya ku pelan.
''Agar saya bisa lebih mudah menjaga kamu, saya tahu kamu suka mabuk perjalanan''
''Iya pak, terimakasih''
''Sama-sama Dea, kamu minum dulu obat ini, biasanya ini mampu membuat orang tak mabuk perjalanan, setelah itu kamu tidur saja. Nanti saya bangunkan ketika kita singgah makan'' ujar pak Marvel memberikan sebutir obat untuk mencegah mabuk perjalanan.
Aku meraihnya kemudian meminumnya dan mencoba tidur sesuai arahan pak Marvel. Kami berangkat sekitat pukul 10:35.
Beberapa menit setelah mobil berjalan aku mulai merasa mengantuk, ku rebahkan kursi ku agar aku bisa lebih nyaman untuk tidur.
"Kamu ngantuk Dea?" Tanya pak Marvel.
Aku hanya mengangguk karena aku benar-benar mengantuk, setelahnya aku tak merasakan apa-apa lagi.
__ADS_1