MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
PAKET SEMBAKO (POV DEA)


__ADS_3

Setelah kepergian pak Marvel dan ibunya, ada sebuah mobil pickup yang berhenti di halaman rumah kami.


Di bak mobil itu terlihat ada banyak sekali bahan pokok seperti beras, telur, minyak dan bumbu dapur juga ada beberapa pakaian anak-anak yang sudah di bungkus dalam plastik berwarna merah.


Seorang pemuda turun dari mobil itu menggunakan masker dan kaca mata, aku tak dapat mengenalinya.


''Selamat siang dengan nona Dea dan nenek Diah?''Tanyanya menghampiri aku dan nenek


''Iya pak, saya Dea dan ini nenek saya. Ada yang bisa kami bantu?'' Ujar ku.


''Saya ingin mengantarkan barang-barang ini'' ujar pemuda itu menunjuk ke arah bak mobilnya.


''Tapi kami tak memesan barang-barang ini pak'' ujar ku.


''Bu Valencia yang memesannya dan meminta kami mengantarnya ke alamat ini''


''Mamah''


''Saya telpon mama dulu ya pak''


''Silahkan nona''


Aku mencari bibi dan meminjam ponselnya untuk menelpon mama.


''Bibi'' panggil ku melihat bibi sedang ada di kebun.


''Iya De, ada apa?''


''Ponsel bibi sudah bagus belum? Saya mau pinjam bi mau telpon mama''


''Sudah De, ada apa?''


''Di depan ada mobil pickup bawa sembako, katanya mama yang pesan suruh antar kemari. Aku mau pastikan saja sama mama benar apa ngak?''


''Ya udah kamu telpon cepat, biar bibi yang ke depan'' bibi memberikan ponselnya kepada ku.


Aku langsung mencari nomor mama yang memang aku simpan di ponsel bibi karena aku sendiri tak punya ponsel dan tak berniat memilikinya.


''Halo mah, maaf Dea mengganggu mama menyetir''


''Ngak apa-apa sayang, mama juga lagi istirahat di jalan. Ada apa sayang?''


''Di rumah ada mobil pickup bawa sembako, katanya mama yang minta antar''


''Iya sayang itu dari mama, yang ada di plastik merah kamu bagikan sama tetangga-tetangga yang bantu-bantu waktu lamaran sayang. Kalau yang di karung itu untuk di rumah nenek sayang untuk kalian'' aku terkejut mendengar ucapan mama.


Aku bahkan tak bisa lagi berkata apa-apa.


''Kamu masih disana sayang''


''Eh, iya mah masih''


''Ya udah kamu bagiin gih sama tetangga kamu, mudah-mudahan cukup karena mama cuma pesan 60 paket''


''Itu sudah lebih dari cukup mah, tetangga Dea ngak sampai 60. Dea ngak tahu mau ngomong apa mah, Terimakasih banyak mah, maaf Dea ngak bisa bantu apa-apa''


''Tidak apa sayang itu memang harusnya sudah dari dulu tapi mama belum sempat, itu salah satu tradisi di keluarga mama, kamu panggil tetangga kamu terus bagikan, sisanya kamu apain terserah kamu sayang''


''Baik mah, terimakasih''


''Iya sayang mama tutup ya''


''Iya mah''


Setelah panggilan terputus aku segera ke depan rumah menemui bibi dan nenek.


''Gimana De?'' Tanya bibi.


''Itu memang dari mamah bi, kata mama itu untuk tetangga yang bantu-bantu waktu acara lamaran''


''Hah? Serius kamu De?''


''Iya bi katanya itu tradisi di keluarga mereka, jika anak bungsu lelaki melamar maka mereka akan membagikan sembako kepada tetangga si calon pengantin perempuan''


''Tapi kenapa mereka tidak kasi tahu kita nak, kita kan bisa bantu''


''Kata mama itu memang harus di rahasiakan dari keluarga perempuan karena tak boleh ada bantuan dari pihak perempuan''

__ADS_1


Bibi hanya menghembuskan nafas berat, kemudian meminta ku untuk ke rumah pak rt meminta bantuan mengumpulkan tetangga di rumah.


Aku segera menuju ke rumah pak rt untuk meminta bantuannya.


''Pagi pak rt'' ujar ku melihat pak rt yang sedang duduk di teras rumahnya sembari meminum kopi.


''Pagi juga neng Dea, ada yang bisa bapak bantu?''


''Saya mau minta bntuan sama pak rt''


''Bantuan apa De?''


''Ibu pak Marvel mengirim sembako untuk di bagi-bagi ke warga pak, saya ingin minta tolong pak rt buat ngumumin''


''Baik nak Dea, tunggu sebentar ya''


''Baik pak terimakasih''


Pak rt segera mengumumkan apa yang aku sampaikan melalui pengeras suara yang memang terpasang di rumah pak rt.


''Bapak dan bu rt juga ke rumah ya nanti''


''Emang bapak juga kebagian?''


''Iya pak, tentu saja. Terimakasih ya pak, saya permisi dulu''


Aku bergegas untuk pulang ke rumah karena mungkin saja sudah banyak orang yang menunggu di rumah.


Benar saja saat aku tiba di rumah, sudah ramai tetangga yang berkumpul disana.


''Benar neng Dea mau bagi-bagi sembako?'' Tanya bu Tiwi.


''Bukan saya bu, tapi ibu mertua saya'' ujar ku.


''Sama aja atuh neng''


Aku hanya tersenyum mendengarnya karena memang bukan aku yang memberikannya.


Semua tetangga yang datang masing-masing mendapatkan satu paket sembako tiap satu rumah tangga.


''Terimakasih neng Dea''


''Semoga umur panjang''


''Semoga cita-citanya tercapai''


''Semoga sehat selalu''


''Semoga hubungannya langgeng''


Itulah ucapan beberapa tetangga ketika mereka menerima paket sembako. Aku mengaminkan dalam hati apa yang mereka ucapkan karena semuanya mendoakan yang terbaik untuk kami semua.


Semua orang bahagia menerimanya, namun ada satu orang yang membuat ku terfokus. Chelsy anak bu Weni terlihat lain di mata ku namun berusaha tak ku hiraukan.


''Koq Chelsy agak gemukan ya sekarang?'' Tanya bu Mira.


''Iya bu'' ujar bu Tiwi.


''Terimakasih ya neng Dea, bi Tina dan nek Diah semoga selalu di berkati. Sampaikan terimakasih kami pada pak Marvel dan ibunya''


''Iya bu sama-sama, nanti saya sampaikan''


Setelah semua mendapatkan bagian, terlihat masih ada 5 paket yang tersisa, aku memberikan 2 paket kepada supir yang mengantar dan 3 paket lagi aku simpan dan akan aku bawa ke rumah ibu ku.


Meski pak supir itu menolak namun aku tetap memaksanya karena dia sudah banyak membantu ku.


''Terimaksih banyak pak maaf saya sudah merepotkan''


''Sama-sama neng, bapak tidak repot ini sudah tugas saya. Kalau begitu saya pamit ya bu, neng''


''Iya pak, sekali lagi terimakasih. Hati-hati di jalan''


Setelah mobil itu berlalu, aku segera masuk ke rumah membawa 3 paket yang tersisa.


''Ini buat siapa De? Kan kita ada yang di karung?'' Tanya bibi.


''Ini mau aku bawa ke rumah ibu bi''

__ADS_1


''Kapan kamu mau pergi?''


''Mungkin nanti bi''


''Sama siapa?''


''Sendiri bi''


''Ya sudah, kamu siap-siap kalau begitu nanti tidaka ada mobil''


''Iya bi Dea mau mandi dulu''


''Iya''


Aku segera berlalu ke dalam rumah dan mandi setelah menyiapkan beberapa lembar baju untuk pakaian ganti aku segera keluar. Aku membawa dua pasang baju ganti karena berencana akan menginap di rumah ibu jika tak ada halangan.


Saat ke luar rumah aku terkejut melihat pak Marvel sudah duduk manis di teras rumah.


''Loh bapak, bukannya tadi balik?''


''Iya tapi aku datang lagi''


''Tapi maaf pak saya mau pergi jadi tak bisa temani bapak''


''Aku mau ikut kamu''


''Tapi...''


''Bibi yang telpon nak Marvel De, bibi tidak mau kamu pergi sendiri. Maaf merepotkan nak Marvel''


''Tidak bi saya senang bisa pergi dengan Dea, lagi pula saya belum pernah ketemu mama''


''I-iya pak. Kalau begitu ayo kita berangkat pak nanti tak ada mobil jika kita terlambat, mobil ke kampung hanya sampai jam 1''


''Tak usah khawatir sayang, kita naik mobil mama saja'' ujar pak Marvel sambil meminum tehnya dengan santai.


''Mobil mama?''


''Iya sayang'' ujar Marvel menunjuk ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah.


''Bapak serius?''


''Iya sayang, emang kenapa?''


''Tapi aku suka muntah kalau naik mobil pak''


''Ngak apa-apa sayang, nanti kita pelan-pelan saja''


''Baik pak''


''Sudah makan siang nak Marvel?''


''Sudah bi, terimakasih''


''Kalian hati-hati kalau berangkat ya''


''Iya bi''


Aku duduk menemani pak Marvel yang masih sibuk menikmati teh hangat.


''Enak betul kayaknya''


''Iya dong, kamu mau?''


''Ngak pak''


''Ayo kita berangkat sayang, tehnya dah habis. Kita pamit sama nenek dulu ya''


''Iya pak, saya bawa gelas dulu masuk'' ujar ku membawa gelas bekas minum pak Marvel dan mencucinya sebelum kami pergi.


''Nek, kami mau ke rumah ibu dulu, jika tak ada halangan aku akan bermalam sehari atau dua hari nek''


''Iya nak, hati-hati. Jika ibumu marah-marah kamu pulang saja ke sini ya''


''Iya nek'' aku sangat mengerti dengan ucapan nenek.


''Ayo sayang'' panggil Marvel yang sedang memasukkan paketan sembako tadi ke dalam mobil.

__ADS_1


''Hati-hati nak Marvel, tolong jaga Dea''


''Iya nek, kami pamit ya'' aku dan pak Marvel naik ke mobil, kemudian mobil perlahan mulai meninggakkan halaman rumah.


__ADS_2