
Marvel membawa koper milik Dea ke kamar yang akan di tempati Dea bersama temannya selama berada di kota ini.
Setelah meletakkan koper Dea, ia juga membawa kopernya ke kamar yang akan ia tempati. Pak Bimo meminta semuanya membersihkan diri sebelum makan malam.
Dea berserta teman-teman sekamarnya segera menuju ke ruang makan setelah mandi dan berganti pakaian.
Dea melihat teman-temannya memakai baju yang bagus sedangkan dirinya hanya memakai baju kaos yang kebesaran dan celana olahraga. Ia merasa minder saat melihat teman dan guru-guru mereka memakai pakaian yang layak.
'Pakaian mereka bagus-bagus, aku merasa tak pantas berada di tengah-tengah mereka' batin Dea merasa rendah.
''Cantik'' ujar Marvel dari arah belakang Dea.
Ia langsung menggenggam tangan Dea dan berjalan beriringan menuju ke meja makan.
''Coba bayangin kalau sekarang kita lagi jalan menuju altar'' bisik Marvel yang mampu membuat Dea merasa malu.
Sesaat sebelum mereka tiba di meja makan Dea melepaskan tangannya dari genggaman Marvel. Tanpa mereka berdua sadari jika hal itu di lihat oleh murid lain yang sudah lebih dulu mengambil tempat duduk.
Dea ingin duduk di kursi kosong samping temannya namun langsung di duduki oleh bu Siska, akhirnya yang tersisa hanya kursi yang berada di samping Marvel.
Dea tak tahu jika bu Siska sudah merencanakan semuanya bersama murid-murid yang lain. Mau tak mau Dea harus duduk di kursi yang berada di samping pak Marvel.
''Sebelum kita makan mari kita berdoa...'' ujar pak Bimo memimpin doa makan.
Mereka semua makan dalam diam, namun tatapan orang-orang di meja makan terfokus pada dua insan yang ada di tengah-tengah mereka.
Marvel terus menatap Dea yang sedang sibuk dengan makanannya, hal itu di sadari oleh pak Bimo dan bu Siska.
Setelah makan malam semuanya kembali ke kamar mereka terkecuali Marvel dan pak Bimo.
''Pak Marvel, bagaimana perjuangannya?''
''Sementara berjuang pak'' ujar Marvel.
Mereka berbincang-bincang dengan mang Dirman hingga pukul 10 malam, setelahnya mereka memutuskan untuk istirahat juga.
Pagi berikutnya Dea dan yang lainnya memutuskan untuk berjalan-jalan mengunjungi tempat perlombaan.
Setelah mengunjungi tempat perlombaan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat, terkecuali Dea dan Marvel.
Marvel meminta ijin pada pak Bimo untuk membawa Dea ke suatu tempat. Ia mengatakan pada yang lain jika mereka berdua akan pergi mencari buku yang mereka butuhkan untuk besok.
''Baiklah pak Marvel, hati-hati di jalan'' ujar pak Bimo saat mereka berpisah di jalan.
''Hati-hati Dea'' ujar teman-teman Dea.
__ADS_1
''Iya'' ujar Dea.
Setelah mobil yang membawa pak Bimo dan yang lainnya berlalu, Marvel langsung menggenggam tangan Dea dan menariknya masuk ke sebuah pusat perbelanjaan disana.
''Buku apa yang akan kita cari pak?'' Tanya Dea.
''Kita ngak akan cari buku Dea, sebenarnya aku pengen ngajak kamu jalan-jalan saja'' ujar Marvel .
''Jadi bapak bohong pada pak Bimo dan yang lain?''
''Ngak Dea, ini semua sudah atas persetujuan dan saran dari pak Bimo''
''Tapi..''
''Ngak ada tapi-tapi, ayo jalan. Aku ingin hari ini bisa kita lewati dengan bahagia, aku ingin menghabiskan hari bersamamu''
Dea hanya memandang sang guru yang juga memandangnya dengan tatapan yang sangat teduh membuat hati Dea bergetar.
''Jangan liat aku begitu Dea, nanti kamu bisa jatuh cinta dan aku bisa cium kamu lagi'' ujar Marvel yang mampu membuat Dea tersipu malu.
Marvel sangat senang menggoda Dea, ia merasa sangat bahagia jika melihat pipi gadis itu bersemu merah karenanya.
''Pak, semua orang menatap kita'' ujar Dea ingin melepaskan genggaman tangan Marvel.
Ia mengajak Dea ke salah satu taman yang berada di belakang pusat perbelanjaan itu. Disana ia meminta Dea untuk duduk di salah satu bangku taman sedangkan ia pamit untuk membeli sesuatu.
''Bapak mau kemana?'' Tanya Dea, ia takut di tinggal sendirian di tempat yang asing baginya.
''Saya mau beli sesuatu, kamu tunggu disini jangan kemana-mana, saya hanya sebentar''
''Baik pak''
Marvel berjalan ke arah sebuah toko bunga, ia membeli sebuket bunga mawar putih. Ia juga menuju ke sebuah kafe yang menyediakan makanan dan minuman. Ia berencana untuk mengajak Dea kesana, namun sebelum itu ia ingin menyiapkan sesuatu terlebih dahulu.
Setelah di rasa semuanya sudah cukup ia kembali ke taman menemui Dea, bunga yang ia beli tadi ia simpan di kafe yang tadi.
''Ayo Dea, kita makan dulu disana'' Marvel menggenggam tangan Dea membawanya menuju ke kafe tadi.
Ia tersenyum sepanjang jalan, Dea hanya menatap Marvel, ia heran akan sikap gurunya itu.
Setelah sampai disana Dea dan Marvel memilih kursi yang berada dekat dengan panggung mini dimana ada beberapa anak muda yang sedang bernyanyi dan memainkan alat musik.
''Kamu tunggu sebentar ya Dea, saya ke toilet dulu, makanan kita sudah aku pesan sebentar lagi akan di antar oleh pelayan''
''Baik pak'' Dea menikmati alunan musik yang ia dengar.
__ADS_1
Marvel sendiri menuju ke tempat ia menyimpan bunga tadi, ia memesan semangkuk mie ayam dan meminta pelayan mengantarnya ke tempat Dea. Ia juga meletakkan setangkai mawar putih di nampan bersama mangkuk berisi mie ayam itu.
''Tolong antarkan mie ayam ini sama gadis berbaju putih yang duduk disana'' Marvel menunjuk kursi dimana Dea duduk.
''Baik pak, ada lagi?''
''Tidak ada terimakasih'' ujarnya memberi dua lembar uang merah pada pelayan itu.
Pelayan menatap heran uang yang di berikan Marvel, ''itu ucapan terimakasih kami berdua'' ujar Marvel membuat pelayan itu tersenyum.
Ketika pelayan itu menuju ke meja Dea, Marvel menuju ke arah belakang panggung dan meminta bantuan untuk mengiringi dia bernyanyi.
''Permisi nona, ini pesanan mie ayam nona''
''Saya tidak memesan mbak, mungkin mbak salah orang''
''Tidak nona, pacar nona yang memesannya beserta setangkai mawar putih itu'' Dea semakin di buat bingung dengan ucapan sang pelayan.
Tiba-tiba saja bayangan wajah pak Marvel melintas di pikirannya, ia tersenyum dan berterimakasih pada pelayan itu.
''Selamat siang pengunjung kafe MG, hari ini ada seorang pengunjung yang akan mengungkapkan isi hatinya kepada kekasihnya lewat sebuah lagu'' ujar pemuda yang ada di atas panggung mini itu dan menarik perhatian semua orang yang ada di sana tak terkecuali Dea.
Riuh suara tepuk tangan mendengar kabar itu, semua yang ada di sana penasaran dengan orang yang akan bernyanyi dan pasangannya.
''Mia, cowok keren tadi ngomong apa sama kamu?'' Tanya Bulbul pada pelayan yang dimintai tolong Marvel tadi.
''Dia minta aku ngantarin mie ayam sama mawar putih ke gadis yang pake baju putih disana, aku rasa gadis itu kekasihnya''
''Apa iya kelihatannya gadis itu lebih muda dari kita sedangkan cowok tadi jauh lebih tua dari kita''
''Tapi cinta tak memandang usia Bul, bagiku mereka cocok yang satu ganteng yang satu manis, terus sama-sama ramah orangnya''
''Aku aja kalau jadi cowok pasti naksir sama gadis itu, dia sangat manis apa lagi kalau tersenyum lesung pipinya bikin dia tambah manis''
''Yang benar kamu?''
''Iya benar, oh iya bukannya itu cowok yang minta tolong sama aku tadi? Koq dia ada di atas panggung?''
''Iya benar, mau nyanyi kali, uuuuu... sosweetttt banget sih''
Kedua pelayan terus membicarakan Dea dan Marvel, sedangkan Dea sendiri terkejut melihat pak Marvel naik ke atas panggung dengan sebuket bunga mawar putih ditangannya.
''Inilah kawan kita yang ingin bernyanyi untuk kekasihnya, silahkan''
Musik mengalun dengan indah dan sekali lagi terdengar riuh tepuk tangan dari pengunjung di tempat itu.
__ADS_1