MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
INSIDEN SEBELUM LAMARAN


__ADS_3

Marvel tak melepaskan tatapannya dari Dea ketika mereka sudah berganti pakaian dengan pakaian yang akan mereka gunakan saat lamaran nanti. Ia begitu bahagia sebab kini impiannya untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis bersama Dea sudah berada di depan mata.


Matanya berkaca-kaca melihat Dea dalam balutan gaun berwarna putih yang melekat indah di tubuh Dea.


''Sekarang kita ke rumah, Dea dan para wanita akan ke suatu tempat lebih dahulu'' ujar Josep mengajak Marvel dan Gema untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, sedangkan Dea, bu Valencia, Febi, Amelia, Darmi dan juga Sukma akan menyusul nantinya.


''Apa ngak bisa kita pulang bareng-bareng?''


''Ngak bisa Vel''


''Tapi..''


''Ayo, nanti juga ketemu sama Dea, ayo'' ujar Josep menarik tangan Marvel yang terlihat enggan meninggalkan Dea.


''Aku duluan ya Dea'' ujar Marvel menatap ke arah Dea.


''Iya kak'' ujar Dea tanpa menatap kembali ke arah Marvel.


Setelah kepergian Marvel, Dea segera di bawa ke suatu ruangan, disana ia di dandani meski hanya memakai riasan tipis-tipis namun ia terlihat sangat cantik sebab sudah dasarnya Dea memang sangat manis dan cantik.


''Lihatlah calon menantu anda nyonya terlihat sangat cantik dan manis. Percayalah jika tuan muda Marvel tak akan bisa melirik perempuan lain''


''Tentu saja An, Dea memang cantik luar dalam. Sebab itulah Marvel kami sudah mencintainya sejak bertahun-tahun dan tak ada wanita yang bisa menggantikan posisinya di hatinya Dea'' ujar bu Valencia memeluk Dea dengan sayang.


''Apakah anda punya saudara nona Dea, jika ada bolehkah saya jodohkan dengan anak saya?'' Ujar sang perias bernama Aneta menggoda Dea.


Dea hanya tersenyum menanggapi ucapan Aneta sebab ia tahu jika Aneta hanya bercanda. Setelah merias Dea, giliran bu Valencia dan juga kawan-kawan Dea yang di rias.


sekitar tiga jam kemudian mereka smeua telah selesai di rias dan kini sedang bersiap untuk menuju ke tempat dimana acara lamaran akan di laksanakan yakni di rumah Marvel.


Di dalam mobil Dea terus di goda oleh keempat wanita yang ada bersamanya hingga membuat semburat merah di pipi Dea.


''Bu'' ujar Dea tiba-tiba ketika mereka hampir tiba di kediaman Marvel.


''Ya sayang, ada apa?''


''Dea koq deg-degan ya bu'' ujar Dea membuat ketiga sahabatnya tertawa.


''Santai saja sayang jangan terlalu serius, ini hari bahagia'' ujar bu Valencia membelai lembut rambut Dea.


Mobil sudah terparkir dengan sempurna di halaman samping rumah Marvel, keempat wanita yang bersama Dea segera turun dari mobil sedangkan Dea diminta untuk tetap berada di dalam mobil dahulu karena Marvel yang akan menjemputnya nanti.


''Kamu jangan kemana-mana ya sayang''


''Baik bu''


''Jangan panggil ibu sayang, tapi mama ok'' ujar bu Valencia.


''Iya Ma''

__ADS_1


Ketika keempat wanita itu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja ada beberapa orang berjalan menghampiri mobil dimana Dea berada membuat Dea sangat ketakutan.


Dea ingin bertanya pada sopir yang mengantar mereka namun ternyata sopir itu sudah tidak ada di tempatnya, ia sudah di ikat di sebuah pohon tak jauh dari mobil.


Dea semakin merasa ketakutan sebab ia tahu jika orang-orang itu pasti memiliki niat jahat, sebab Dea melihat beberapa di antara mereka membawa balok kayu dan juga sejata tajam.


Meski Dea memiliki ilmu beladiri yang cukup mempuni, namun ia tahu jika ia tak akan mampu menghadapi mereka semua. Ia memutuskan untuk melepas gaun yang ia kenakan kemudian mengunci pintu mobil dan bersembunyi di bawah jok mobil.


Beruntung Dea memiliki tubuh yang mungil sehingga dengan mudahnya ia bisa masuk dan bersembunyi disana sedangkan gaun yang sudah ia lepas ia peluk dengan erat. Ia berusaha bersikap tenang agar para penjahat itu tak tahu jika ia berada di dalam sana bahkan untuk bernafaspun Dea sangat hati-hati.


Dea bisa mendengar suara para penjahat itu, bahkan ia juga mendengar suara pecahan-pecahan kaca mobil. Beberapa pecahan kaca bahkan mengenai kaki Dea namun untung saja para penjahat itu tak menyadari dimana Dea berada.


''Dimana wanita itu? Apa supir bodoh itu sudah membodohi kita?'' ujar salah satu penjahat itu.


''Mobilnya kosong bos, todak ada siapapun di dalamnya''


''Sial!! Dimana gadis itu, harusnya kita cegat saja di jalan tadi dan kita habisi wanita itu sesuai perintah bos, kan kita bisa nikmati dulu gadis itu''


Dea merinding mendengar ucapan para penjahat, ia merasa sangat ketakutan dan meneteskan air matanya. Tak lama setelahnya siara gaduh terdengar membuat Dea menutup mulutnya dengan tangan.


Benerapa kali terdengar suara letusan senjata api, membuat Dea tambah merinding badannya bergetar namun sekuat tenaga ia berusaha mencoba untuk tenang.


Setelah terdengar beberapakali letusan senjata api dan juga suara orang-orang yang sedang berkelahi, akhirnya terdengar suara serine mobil polisi.


Meskipun merasa lega namun Dea masih gemetar dan ia juga belum berani untuk keluar dari tempat persembunyiannya.


Suara serini mobil polisi terdengar menjauh membuat Dea merasa tak terlalu khawatir, karen ia tahu jika itu salah satu pertanda jika ia sudah aman.


''Dea, sayang'' teedengar suara Marvel memanggil namamya namun ia belum berani keluar, ia khawatir jika itu hanya halusinasinya saja.


''Sayang, sayang'' ujar Marvel lagi, ia membuka pintu mobil mencari sang kekasih.


Marvel ketakutan saat tak memdapati Dea di dalam sana, ia begitu kacau karena berpikir jika Dea di bawa oleh salah satu penjahat yang kabur tadi.


''Sayang, kamu dimana'' ujar Marvel mulai menangis membuat Dea memberanikan diri untuk mengintip dari tempatnya bersembunyi. Ia ingin memastikan jika keadaan diluar sudah benar-benar aman.


Setelah melihat jika semua orang yang ia kenal berdirii di sekeliling mobil sambil memanggil namnya akhirnya ia berani bersuara.


''Ka-kak'' lirih Dea. Ia bahkan bergetar saat berbicara.


Mendengar suara Dea Marvel kembali melihat ke dalam mobil dan mendapati wajah Dea yang pucat.


''Sayang'' Marvel segera masuk ke dalam mobil dan membersihkan serpihan kaca yang berada di dekat kursi dimana Dea bersembunyi.


''Kak, aku.. aku takut'' ujar Dea mulai menangis.


''Marvel langsung memeluk kepala Dea bahkan mencium keningnya beberapa kali sangking bahagianya ia melihat keadana Dea yang baik-baik saja.


''Aku.. aku'' Marvel tak mampu berkata-kata, ia sangat bahagia mendapati kekasih hatinya baik-baik saja tak seperti kata penjahat tadi.

__ADS_1


'Kekasihmu sudah di bawa ketempat yang tidak akan siapapun temui dan teman-temanku akan membunuhnya disana, tapi sebelum itu teman-temanku akan menikmati tubuhnya' ujar salah seorang penjahat yang tertangkap polisi pada Marvel sebelum ia dibawa oleh polisi.


''Ayo sayang kita keluar dari sini'' ujar Marvel hendak menarik Dea keluar, hampir saja Dea mengiyakan jika tak segera sadar jika tubuhnya kini hanya memakai dalaman saja.


''Kak, bisa tolong panggilkan teman-teman Dea, biar mereka yang membantu Dea keluar'' ujar Dea.


''Tapi kenapa sayang!'' Tanya Marvel bingung.


Dea mengeluarkam gaun yang tadi ia lepas membuat Marvel mengerti jika saat ini Dea tak memakai pakaian luar.


''Tak apa aku saja ya'' goda Marvel mencoba mencairkan suasana agar sang kekasih tak khawatir lagi.


Pipi Dea bersemu merah membuat Marvel menciun pipi Dea lagi karena ia selalu gemas melihat pipi Dea yang bersemu merah ketika ia menggodanya.


''Sebaiknya kita langsung menikah saja sayang rasanya aku tak akan bisa terus menahan diri untuk tidak memakanmu. Kamu smagat menggemaskan apa lagi jika sedang merajuk seperti ini, ingin rasanaya aku mencium bibir yang maju lima senti itu'' ujar Marvel melihar bibir Dea yang mengerucut karena kesal Marvel terus menciumnya di depan banyak orang.


Marvel mendekat ke arah snag ibu kemudian membisikkan sesuatu, kemudian meminta yang lain masuk terlebih dahulu ke dalam rumah sebab ia tak mungkin membiarkan tubuh Dea di lihat oleh banyak orang sebab semua kaca mobil itu sudah pecah.


Bu Valencia meminta Febi mausk ke dalam rumah dan tak lama ia kembali dengan sebuah baju kaos dan juga celana kemudian memberikannya pada sang mertua.


''Sayang, ayo keluar kamu pakai ini dulu ya nanti baru kita ganti gaun di dalam rumah''


Perlahan Dea menggeser badannya keluar dari bawah jok mobil sambil menutup tubuhnya dengan gaun.


Dea segera memakai pakaian yang di berikan oleh bu Valencia kemudian keluar dari dalam mobil.


''Mah'' panggil Dea.


''Sudah sayang? Ayo kita masuk ke dalam'' bu Valencia menggandeng tangan Dea masuk ke dalam rumah melalui pintu samping dan masuk ke sebuah kamar.


Badan Dea masih bergetar hebat membuat bu Valencia memeluknya ketika ia sudah mendudukkan Dea di atas ranjang.


''Menangislah sayang mama tahu kamu syok'' ujar bu Valencia.


Setelah cukup tenang, Dea kembali di dandani dan berganti pakaian beruntung ibu Valencia membawa gaun cadangan tadi.


''Apa kamu sudah siap sayang? Jika kamu masih syok kita tunda saja dulu lamarannya''


''Tidak mah, Dea sudah siap. Tak baik menunda hal baik'' ujar Dea tersenyum meski ia masih merasa syok atas insiden menakutkan yang baru saja dia alami.


Bu Valencia dan Dea berjalan beriringan menuju ke ruangan dimana Marvel dan tamu sudah menunggu.


Semua orang terpesona melihat Dea yang berjalan dengan anggun didampingi bu Valencia masuk ke ruangan.


''Cantik sekali'' ujar seorang ibu mengagumi kecantikan alami Dea.


Tetua adat memulai prosesi lamaran setelah semua keluarga sudah nerkumpul di ruangan itu. Segala prosesi lamaran berjalan dengan lancar, bahkan penentuan tanggal pernikahan pun juga sudah selesai di laksanakan.


Pernikahan Marvel dan Dea akan di laksanakan tiga hari dari hari lamaran, semuanya di siapkan oleh Marvel dan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2