MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
TIDAK CINTA LAGI (POV AUTHOR)


__ADS_3

Marvel terus mengikuti Dea dari belakang dengan menjaga jarak agar Dea tak menyadari keberadaannya.


''Dea'' panggil seorang gadis Menghampiri Dea yang kino sudah sampai di depan kamar kosnya, gadis itu menyapa Dea dengan senyuman di wajahnya.


''Siapa gadis itu?'' Gumam Marvel, '''sepertinya wajahnya tidak asing''


Marvel langsung meelompat ke dalam semak-semak yang ada di samping kosan Dea begitu Amelia mendekati Dea, ia tidak ingin jika aga yang melihat ia mengikuti Dea.


''Eh Amel, dari mana Mel?''


''Habis dari kios mamang Yunda, kamu baru pulang?''


''Iya, aku baru pulang. Kamu beli apa tuh harum banget jadi laper aku'' ujar Dea.


''Heleh, kalau soal nyium bau makanan yang enak-enak aja kamu gercep amat''


''Iya dong, biar aku juga bisa gemuk dikit'' ujar Dea yang membuat Amelia tertawa terpingkal-pingkal.


''Hahahha, emang kamu bisa gemuk? Udah makan 4 porsi mie ayam juga tiap hari ngak pernah tuh berat badan kamu nambah'' ujar Amelia menertawakan Dea yang sedang berkhayal menjadi gemuk.


''Mel, kalau aku gemuk, pasti aku kelihatan jelek kan?'' Tanya Dea yang membuat kedua alis Amelia mengkerut.


''Kenapa memangnya?"


"Ya ngak apa-apa sih, aku pengen genuk aja. Barangkali jika aku gemuk dan kelihatan jelek pak Marvel ngak akan mendekati ku lagi" ujar Dea yang membuat Marvel yang sedang bersembunyi di balik semak-semak merasa heran kenapa Dea ingin ia menghindarinya.


"Niat banget sih mau jauhin pak Marvel"


"Iya Mel, aku ngak mau pak Marvel buang-buang waktunya hanya untuk orang seperti ku. Masih banyak wanita lain yang kebih pantas mendapatkan pak Marvel daripada aku Mel"


"Tapi kan pak Marvel cintanya sama kamu Dea, lagi pula kamu kan juga masih cinta sama pak Marvel. Ngak ada salahnya kan kalau kalian berhubungan lagi"


"Ya iya sih Mel, tapi aku merasa tidak pantas Mel, aku sudah gagal menjaga diri ku Mel" Ujar Dea memandangi cincin yang kini melingkar di jari manisnya.


"Hush jangan ngomong gitu, itu kan bukan kesalahan kamu Dea, itu semua sudah takdir dan ketika kamu dan pak Marvel kembali bertemu sekarang setelah banyak cobaan yang kalian lalui, itu berarti Tuhan memang ingin kalian bersatu" ujar Amelia.


"Ngak Mel, aku ngak berjodoh dengan pak Marvel. Aku dan dia sangatlah berbeda Mel, bagaikan langit dan bumi yang ngak akan pernah bisa bersatu. Lagi pula aku akan bahagia jika pak Marvel bahagia"


"Tapi kamu masih cinta sama pak Marvel kan Dea?"


"I-iya Mel"

__ADS_1


''Terus kenapa kamu harus menjauh Dea?"


"Terkadang cinta itu tak harus bersatu Mel, cukup melihat orang yang kita cintai bahagia itu sudah cukup membuat kita bahagia. Jadi aku hanya ingin pak Marvel bahagia dengan begitu aku juga bahagia" ujar Dea yang tanpa sadar memutar-mutar cincin di jari manisnya.


"Eitzzz, tunggu-tunggu itu apaan?" Tanya Amelia yang menyadari jika ada sebuah cincin di jari manis temannya itu. Dea yang selama ini paling anti memakai hal seperti itu dan kini tiba-tiba memakai senuah cincin membuat Amelia tersenyum.


"Ini..ini cincin aku Mel, cincin pertunangan aku dan pak Marvel dulu"


"Hah, serius kamu Dea, bukannya kamu bilang cincin itu sudah hilang?"


"Iya Mel, tapi ternyata cincin itu tidak hilang dan kini malah kembali pada ku"


"Nah, itu satu tanda lagi jika kamu dan pak Marvel berjodoh Dea"


"Tidak Mel kami tidak berjodoh, lagi pula meski aku masih mencintai pak Marvel belum tentu pak Marvel juga sama. Apa lagi status yang kini aku sandang Mel, aku hanya seorang janda, aku tidak ingin membuat pak Marvel merasa malu memiliki pasangan yang berstatus janda" ujar Dea dengan beberapa tetes air mata yang sudah mulai kekuar.


"Tapi aku masih mencintai kamu Dea, apapun keadaannya" Ujar Marvel yang kini berada di belakang Dea. Ia keluar dari persembunyiannya begitu melihat air mata Dea.


"P-pak Marvel?" Ujar Dea dan Amelia bersamaan.


"Se-sejak kapan bapak disana?" Tanya Dea.


"Se-jak aku tahu jika orang yang sangat aku cintai ternayata juga masih sangat mencintai ku, benarkan sayang?" Tanyanya memegang tangan Dea. Ia kini berhadapan dengan Dea, Amelia yang melihat hal ini sontak tersenyum, sedangkan Dea sudah tak dapat lagi menahan rasa malunya. Pipinya kini sudah berwarna kemerah-merahan, dan ia terus menunduk tak berani untuk menatap Marvel sebab itu salah satu kelemahannya.


"Saya ngak bilang itu kamu loh" Ujar Marvel menggoda Dea yang membuatnya menunduk semakin dalam juga semakin merasa malu.


"Kalau begitu saya masuk dulu pak" ujar Dea ingin melepaskan tangannya dari genggaman Marvel.


"Ngak boleh, aku ingin dengar langsung jika kamu sudah tidak cinta sama aku, tapi kamu harus menatap mataku dan katakan jika kamu tidak mencintai ku kagi" Ujar Marvel yang membuat Dea kelimpungan.


'Aku harus apa sekarang, tak mungkin aku bisa lari lagi'


''Jangan berpikir untuk lari lagi, kamu lupa ya aku bisa tahu apa yang kamu pikirkan''


"Saya ngak lari koq pak"


"Sekarang tatap mata saya dan katakan kamu sudah tidak mencintai saya lagi"


Dea bergeming ia tak bergerak ataupun mengatakan sesuatu, di genggam oleh Marvel seperti ini membuat hati Dea selalu merasa nyaman.


"Aku masuk dulu ya Dea" ujar Amelia. Ia ingin memberikan waktu untuk Marvel dan Dea.

__ADS_1


"Tapi.."


"Bagimana Dea, ayo katanan"


"Sa-saya, saya.." ujar Dea bingung harus berkata apa.


'Aku harus apa sekarang?' batin Dea


"Katakan saja jika kamu masih mencintai saya" Ujar Marvel yang masih terus menatap wajah Dea.


Dea terus berusaha mengalihkan tatapannya ia tak berani untuk menantap kembali wajah Marvel. Amelia tersenyum dari dalam kamarnya melihat Dea yang tidak berkutik berhadapan dengan Marvel.


Beberapa orang melihat Dea dengan tatapan aneh, entah apa yang di pikirkan oleh orang-orang itu.


"Banyak yang melihat kita pak" ujar Dea menyadari jika banyak orang yang sedang melihat mereka.


"Biar saja, biar mereka tahu jika aku masih cinta sama kamu dan kamu juga benarkan?"


"Saya..."


"Baiklah saya akan kembali dulu, nanti sekitar jam 7 malam saya kesini lagi" ujar Marvel yang membuat mata Dea terbelalak.


"Untuk apa bapak kemari lagi?"


"Nanti juga kamu tahu, yang pasti saya akan datang nanti jam 7 malam. Aku pulang dulu ya sayang" ujar Marvel melepas genggaman tangannya pada Dea kemudian mengusap lembut kepala Dea. Hal yang selalu ia lakukan dahulu ketika akan berpisah dengan Dea, entah itu karena Marvel akan ke suatu tempat atau setelah mengantarkan Dea pulang ke rumahnya.


"I-iya pak" ujar Dea pelan.


Setelah mendapat jawaban dari Dea, Marvel segera berbalik badan dan pergi dari tempat itu. Dea menatap punggung Marvel yang semakin menjauh hingga menghilang di ujung jalan.


"Hemhem, orangnya udah ilang Dea, masih aja di pandangi tuh jalan. Kenapa kamu ngak ngomong aja sih sama pak Marvel tadi?"


"Aku ngak bisa Amel, entahlah.. aku juga tidak tahu. Mel, tadi pak Marvel bilang nanti malam dia akan datang lagi jam 7, aku tidak tahu untuk apa dia datang Mel"


"Serius Dea?"


"Iya Mel"


"Kalau gitu kamu jangan kemana-mana nanti, siapa tahu ada yang penting makanya pak Marvel mau datang ke kosan kamu"


''Aku juga ngak tahu Mel, moga-moga saja pak Marvel ngak aneh-aneh, meski aku tahu dia ngak akan pernah berbuat yang tidak-tidak padaku, dia menjaga ku dengan sangat baik"

__ADS_1


"Tuh kamu tahu, trus apa yang kamu khawatirkan?''


''Aku.. aku ngak tahu Amel''


__ADS_2