MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
EMANG BAPAK BISA MASAK? (POV AUTHOR)


__ADS_3

''Ayo De, ini giliran kita'' ujar Darmi menarik tangan Dea.


'Mungkin dia sibuk Dea, jangan patah semangat hanya karena dia tak ada' batin Dea.


''Ayo''


Dea dan teman-temannya mulai maju ke depan di iringi alunan musik lagu tradisional daerahnya. Dengan penuh semangat mereka menunjukkan hasil kreasi tarian mereka.


Dea fokus menari sehingga tak menyadari keberadaan Marvel disana yang diam-diam merekamnya.


''De, ada yayang tuh'' ujar Darmi melihat keberadaan pak Marvel setelah mereka tampil.


''Mana?'' Tanya Dea bersemangat.


''Cie.... yang udah ngak malu lagi'' goda Darmi.


''Apa sih mi''


''Udah sana temui, lagian pengumumannya masih nanti, masih ada 2 kelas lagi yang mau tampil''


''Ngak ah, yok balik ke bangku kita'' ujar Dea menarik tangan Darmi dan duduk di bangku tempat mereka duduk sebelum tampil tadi.


''Tapi..'' ujar Darmi melihak ke arah pak Marvel.


''Udah, nanti juga nyamperin kita kalau ada perlu'' ujar Dea.


Baru saja mereka duduk dan benar saja ucapan Dea, Marvel sudah duduk di bangku yang tepat berada di belakangnya.


''Kalian hebat''ujar Marvel membuat Dea dan semua temannya berbalik.


''Terimakasih pak'' ujar mereka semua termasuk Dea.


''Pak, boleh ngak kami pakai baju ini saja buat jam bapak nanti. Malas rasanya mau ganti baju'' ujar Rosa.


''Boleh saja'' ujar Marvel tanpa melihat siapa yang mengajaknya berbicara, ia fokus menatap Dea dengan satu tangan menggenggam tangan Dea.


''Ngapain liat aku kayak gitu?'' Tanya Dea dengan nada berbisik.


''Ngak apa-apa sayang aku suka aja ada dekat kamu'' ujar Marvel membuat Darmi dan ketiga teman mereka menoleh karena suara Marvel dapat mereka dengar.


Pipi merona Dea membuat ke empat temannya tertawa, ''udah De, ngak usah malu-malu kita udah tahu koq'' ujar Rosa.


Rosa, Darmi, Oliv dan Leni terus menggoda Dea yang wajahnya kini sudah seperti tomat matang. Marvel yang tadinya berada di bangku belakang Dea, kini sudah berada di sampingnya.


''Bapak ngapain disini? Nanti kalau yang lain liat gimana?''


''Aku masih pengen duduk sama kamu sayang''


''Ini kita di sekolah loh pak, nanti kita masih pulang sama-sama koq. Bapak balik sana nanti juga masuk di kelas ku lagi''


''Iya sayang, sampai nanti ya. Ingat pulang sama-sama Ok''


''Ok sayang'' ujar Dea langsung menutup mulutnya karena keceplosan memanggil Marvel dengan sayang.


''Hayo loh.... Cieeeeee..... sayang-sayangan'' Goda Rosa.


''Em.. itu... sudahlah tadi hanya salah ngomong'' elaknya.


''Udah ngaku aja. Cieee..... yang mau pulang bareng yayang''


''Apa sih, udah ah. Liat tuh, mereka udah mau ngumumin pemenangnya. Ayo kita dengerin, kalian sih ngomongin pak Marvel mulu''


''Ya ngak apa-apa kali De, biar kita ngak ngantuk nunggu''


Mereka semua mendengarkan apa yang panitia lomba ucapkan. Dea dan teman-temannya meraih juara kedua di lomba seni tari kali ini. Mereka semua bahagia karena awalnya mereka mengira jika mereka tak akan mendapatkan juara karena lawan mereka bagus-bagus tariannya.


''Kita menang teman-teman, meski hanya juara 2 tapi kita tetap menang'' ujar Darmi.


''Iya kalian hebat'' ujar Dea.


''Kamu juga De''


Mereka berempat saling berpelukan karena merasa bahagia, salah satu di antara mereka akan mewakili sekolah untuk mengikuti lomba antar sekolah yang akan dilaksanakan pada bulan agustus nanti.


Mereka menikmati jam istirahat dengan duduk di taman sambil makan cemilan, sesekali mereka terus menggoda Dea.

__ADS_1


Saat bel tanda pelajaran terakhir akan dimulai berbunyi, mereka bergegas masuk kedalam kelas. Setelah mengetahui hubungan Dea dan Marvel, hampir semua teman kelas Dea menyukai mata pelajaran bahasa inggris. Bukan karena mereka ingin belajar, melainkan karena ingin melihat interaksi antara Dea dan Marvel, juga karena mereka sangat suka menggoda Dea.


Sepanjang pelajaran berlangsung tak ada yang tak bertanya seperti biasanya, mereka berlomba-lomba menanyakan hal yang menurut mereka mereka tak mengerti. Meski bukan itu penyebabnya, mereka hanya ingin menggoda Dea ketika Marvel meminta Dea membantu temannya yang tidak mengerti.


''Cieee... pipinya merah''


''Cieee yang di ajari sama yayang''


''Ada yang mau pulang bareng nih''


''Kepo dong ama cincinnya, kayaknya sama tuh''


Seperti itulah kata-kata yang di ucapkan teman Dea untuk menggodanya dan ketika pipinya memerah teman-temannya tambah semangat untuk menggodanya.


''Jadi pulang bareng dong'' ujar Marvel setelah pelajaran usai dan Dea sudah bersiap untuk pulang.


''Iya pak''


''Eh koq pak lagi, sekali lagi kamu panggil aku pak....''


''Kenapa?''


''Aku cium kamu''


''Eh mana bisa begitu?''


''Biarin, suka-suka aku''


''Tapi..pak''


''Tuh mau di cium beneran nih''


''Ngak, ayok pulang pak''


Cup


''Bapak''


''Aku bukan bapak kamu sayang''


Bukannya takut karena Dea marah, Marvel semakin gemas melihatnya.


''Ayo pulang sayang, bisa terjadi sesuatu jika kita tetap disini'' ujar Marvel menarik Dea untuk segera pergi dari ruang kelas yang sudah sepi itu.


''Bapak ngak capek jalan kaki sama saya? Biasanya kan bapak naik motor''


''Ngak koq, apa lagi kalau jalan sama kamu, kita langsung pulang atau kemana dulu?''


''Boleh singgah di pasar sebentar ngak pak, saya mau beli bahan buat bikin kue''


''Boleh, emang kamu pintar bikin kue?''


''Tentu saja, saya selalu bantu bibi kalau lagi buat kue''


''Kamu bantu apa?''


''Ya bantuin bibi buat makan kuenya hehehehe'' ujar Dea kemudian tertawa.


''Dasar kamu ini, emang paling ngak ada lawan kalau masalah makanan''


''Iya dong pak, jadi kalau bapak nanti jadi jodoh saya, bapak harus siapkan makanan yang banyak buat saya''


''Tenang saja sayang, nanti aku yang masak buat kamu''


''Emang bapak bisa masak?''


''Bisa dong'' ujar Marvel. Ia memang pandai dalam hal memasak karena ia sangat suka menonton acara memasak di televisi juga sangat senang membantu ibunya di dapur.


''Yang benar?''


''Iya sayang mau buktinya?''


''He'em boleh''


''Ya udah kita beli bahan masakannya nanti kita masak di rumah kamu''

__ADS_1


''Eh, bapak serius?''


''Tentu saja sayang''


Setelah membeli bahan untuk membuat kue, Marvel benar-benar berbelanja kebutuhan dapur dan bahan untuk membuat masakan yang ia akan masak nanti.


''Bapak serius mau masak di rumah?''


''Iya sayang''


''Tapi di rumah nenek masih pake tungku kalau masak pak''


''Ngak apa-apa aku bisa koq''


''Ya udah nanti aku bantuin deh''


''Ok sayang''


Mereka berjalan pulang sambil bercanda, Marvel membawa semua belanjaan mereka di kedua tangannya, sedangkan Dea membawa tas laptop milik Marvel.


''Mungkin begini ya pak, kalau orang sudah nikah pulang belanja?'' Tanya Dea tiba-tiba.


''Tentu saja, kita kan memang sudah nikah sayang. Meski ya baru nikah secara adat saja, mudah-mudahan suatu hari nanti kita bisa seperti ini ya''


''Amin pak''


''Nah kan manggil pak lagi''


''Abis sudah kebiasaan, tak perlu panggil sayang yang penting aku sayang''


''Sudah berani ya menggoda saya sekarang''


''Hehehe ngak''


''Siang'' ujar keduanya memasuki rumah.


''Siang nak, siang pak Marvel''


''Panggil Marvel aja nek''


''Masuk pak Marvel, eh iya Marvel masuk nak''


''Terimakasih nek, nenek sudah makan?''


''Belum makan siang nak, nenek baru ingin mencari sayur''


''Nenek ngak usah cari sayur, tadi aku sama Dea belanja di pasar''


''Maaf merepotkan nak Marvel''


''Tidak nek''


''Aku ganti baju dulu ya pak, nek'' ujar Dea setelah menyimpan belanjaan mereka di dapur.


''Iya nak''


''Hari ini Marvel akan masak buat nenek, nanti nenek cobain ya masakan Marvel?''


''Apa tidak merepotkanmu nak?''


''Tidak nek, aku sangat senang jika nenek mengijinkan''


''Tentu saja nak, tapi nenek masih masak pakai tungku''


''Tak apa nek, justru masak pake tungku rasanya lebih enak''


''Minum dulu pak'' ujar Dea meletakkan segelas teh hangat.


''Terimakasih De, kita masak sekarang yuk''


''Ngak minum dulu pak''


''Ntar aja, bawa aja ke dapur. Nenek disini saja biar aku sama Dea yang masak''


''Baiklah nak''

__ADS_1


__ADS_2