
Berbekal informasi dari dokter Renata, Marvel segera menghubungi Boy untuk meminta bantuannya mencari informasi mengenai Dea.
Tut
Tut
Tut
Hanya terdengar suara panggilan yang terhubung namun tak ada respon membuat Marvel sedikit kesal.
''Si Boy kemana sih, koq ngak di angkat-angkat panggilannya'' ujar Marvel kesal kemudian mencoba kembali menghubungi Boy hingga entah panggilan yang keberapa Boy mengangkat telponnya.
''Lama amat sih Boy'' ujar Marvel membuat Boy mengerti jika sahabatnya itu sedang kesal.
''Santai bro, ada apa sih pagi-pagi udah nyerocos aja kayak ibu-ibu lagi gosip'' ujar Boy kemudian terkekeh.
''Gimana ngak kesel coba dari tadi aku hubungi ngak di angkat-angkat''
''Hehehe, ada apa Vel?'' Tanya Boy.
''Aku sudah menemukan Dea'' ujar Marvel dengan suara serak.
''Hah??'' Teriak Boy dari ujung panggilan, ia terkejut mendengar apa yang Marvel katakan.
"Serius? Kamu ketemu dimana Vel?''
''Aku ketemu di rumah sakit Pertiwi''
''Ngapain kamu ke rumah sakit Vel?''
''Regina sudah melahirkan Boy, dan kau tahu, Dea juga melahirkan tadi. Regina dan Dea melahirkan bersamaan di dalam ruang bersalin, aku sangat sedih mendengar suara rintihan Dea'' ujar Marvel menangis.
''Dea melahirkan?''
''Iya boy, tapi dia melahirkan sendirian Boy tanpa ada keluarga yang mendampingi''
''Sendirian? Suaminya kemana?''
''Aku tidak tahu Boy, tolong bantu aku cari tahu tentang Dea. Apapun akan aku lakukan untukmu tapi tolong cari informasi tentang Dea''
''Iya Vel, tapi apa istrimu tak marah?''
''Aku tak peduli dia marah atau tidak Boy, yang pasti aku ingin tahu segalanya tentang Dea''
"Baiklah aku akan bantu kamu, coba kamu kirim alamatnya aku akan cari informasi tentang Dea"
"Ok" ujar Marvel.
Ia mematikan panggilan kemudian langsung mengirimkan pesan pada Boy berisi segala informasi tentang Dea yang ia dapatkan dari dokter Renata.
"Kebiasaan nih anak langsung matikan telpon" ujar Boy.
"Ada apa sih mas, kamu menggerutu" ujar Siska datang menghampiri suaminya.
"Nih si Marvel matiin telpon seperti di kejar hantu, ngak pamit"
"Sepertinya ada yang lagi urgent, dia kan kebiasaan begitu kalau lagi dalam masalah" Ujar Siska.
"Memang ada, D..." ucapan Boy terhenti karena mendapat pesan dari Marvel.
"Si Marvel ngirim apa?''
"Ini kan alamatnya di rt sebelah, ini alamat siapa sayang?" Tanya Siska melihat alamat yang di berikan Marvel.
Mereka memang kini tinggal di kota U, sebab keduanya sudah di pindahkan untuk mengajar di salah satu sekolah di kota U.
"Itu alamat Dea"
__ADS_1
"Dea?"
"Iya"
"Dari mana Marvel dapat alamat ini? Apa Marvel yakin jika ini benar alamat Dea?"
"Iya sayang"
"Emang Marvel ketemu sama Dea dimana?" Tanya Siska.
"Katanya Regina sudah melahirkan sayang di rumah sakit Pertiwi dan ternyata saat di ruang bersalin Dea juga sedang melahirkan bersamaan dengan Regina" ujar Boy yang sukses membuat Siska menganga.
"Jadi selama ini Dea tinggal di kota ini? Lalu kenapa sekarang Marvel mau mencari informasi tentang Dea, bukankah Dea sudah melahirkan? Berarti benar kata orang jika Dea memang sudah menikah dan ia meninggalkan Marvel untuk menikahi laki-laki lain" ujar Siska, ia merasa kesal saat Dea menghilang tepat beberapa hari sebelum pernikahannya dengan Marvel.
"Entahlah sayang, aku sendiri bingung dengan jalan pikiran Marvel, dia sudah menikah tapi mengharapkan Dea yang juga sudah menikah dan jelas-jelas sudah meninggalkannya demi laki-laki lain" ujar Boy.
"Terus kamu mau bantuin si Marvel atau gimana? Kasian loh istrinya baru melahirkan malah suaminya sibuk ngurusin wanita lain" ujar Siska tak habis pikir dengan apa yang sedang Marvel pikirkan hingga ia meminta keduanya mencari informasi tentang Dea.
"Aku ngak tahu Sis, aku kasian sama si Regina baru lahiran tapi suaminya sibuk mengurusi istri orang" ujar Boy.
"Ya sudah ngak usah kamu bantuin saja Boy, meski Regina menikah dengan Marvel dengan cara yang tidak baik, tapi sekarang mereka sudah menjadi orangtua jadi akan lebih baik jika Marvel tak mencari Dea lagi"
"Iya sayang, kita ngak usah ngomong sama Marvel. Kalau dia nanya bilang saja jika kita belum ketemu sama orang yang tinggal di alamat itu"
Siska dan Boy memutuskan untuk tidak mencari tahu tentang Dea, sebab mereka tidak ingin jika Marvel meninggalkan Regina dan bayi mereka yang baru saja lahir demi mengurusi Dea.
Mereka berdua sudah membenci Dea meski mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dea sudah dicap buruk oleh keduanya bahkan semua teman-teman Marvel dan juga teman-teman sekolah Dea yang mendengar kabar jika Dea kabur dengan laki-laki lain meninggalkan Marvel.
Setelah tahu jika Regina sudah melahirkan keduanya berinisiatif untuk menjenguk Regina di rumah sakit.
"Kita bawa kado apa buat anaknya Marvel sayang?" Tanya Siska.
"Terserah kamu sayang, kamu lebih tahu. Oh iya kira-kira tante Valencia udah tahu belum yah kalau Regina udah lahiran"
"Sepertinya sudah mas, tadi aku liat bibi Valencia upload foto bayi Regina"
"Sepertinya iya"
"Gawat, jangan sampai Marvel kasi tahu bibi jika Dea juga ada di sana, jika itu sampai terjadi maka pasti akan ada kekacauan. Ayo kita siap-siap buat kesana" ujar Boy.
Keduanya bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit, secepat mungkin keduanya bersiap mereka tak ingin Marvel membuat suasana menjadi kacau jika sampai Marvel memberitahu jika Dea juga ada di sana.
Di rumah sakit Marvel terus tersenyum memandang bayi mungil yang ada di dalam inkubator. Bayi yang Regina lahirkan harus di masukkan ke dalam inkubator sebab sesaat setelah bayinya lahir tubuhnya menjadi kebiruan.
"Kamu harus sehat nak" ujar Marvel memandang bayi mungil itu.
"Regina, aku mau turun ke bawah cari makanan. Kamu mau aku belikan apa?"
"Apa saja mas, yang penting jangan yang pedas"
"Baiklah" ujar Marvel kemudian keluar dari ruangan dimana Regina dan bayi mungil mereka berada.
"Aku harus mencari dimana ruang perawatan Dea. Aku harus tahu bagaimana keadaannya sekarang, aku sangat khawatir padamu sayang" ujar Marvel sambil berjalan menuruni anak tangga.
"Kamu mau kemana Vel?" Tanya Imelda yang baru datang.
"A-aku mau ke kantin, iya ke kantin" ujar Marvel gugup membuat kakaknya curiga.
"Baiklah kalau begitu, kamu cepat kembali kasian istrimu kalau kamu tinggal-tingbal terus mungkin saja dia butuh sesuatu"
"Iya kak" ujar Marvel mempercepat langkahnya membuat Imelda semakin curiga sebab Marvel berjalan bukan ke arah kantin.
"Aku harus ngikutin dia, tingkahnya sangat mencurigakan" ujar Imelda memberikan anaknya pada Febi dan meminta mereka untuk berjalan lebih dulu ke kamar Regina ia beralasan ingin membeli sesuatu di kantin.
Dengan cepat Regina mengikuti kemana Marvel melangkah, "sebenarnya tuh anak mau kemana?" Tanya Imelda.
Imelda terus mengikuti Marvel menuju ke sebuah ruang perawatan dimana pasien yang habis melahirkan dirawat.
__ADS_1
"Mau apa Marvel kemari dan kenapa juga dia ngintip-ngintip di ruangan itu?" Gumam Imelda yang berdiri tak jauh dari arah Marvel.
Ia memperhatikan sang adik yang menangis di depan salah satu ruangan disana, Imelda semakin yakin jika ada yang tak beres dengan adiknya itu. Cukup lama Imelda berdiri di sana, ia bersembunyi saat Marvel berjalan kembali ke arahnya.
Setelah memastikan Marvel berjalan cukup jauh, Imelda berjalan ke arah ruangan dimana Marvel berdiri tadi.
"Marvel nangisin apa tadi disini?" Ujarnya sebelum ia juga terkejut melihat siapa yang ada di dalam sana.
"De-Dea" iya begitu terkejut melihat Dea terlebih lagi di sampingnya ada bayi mungil yang sedang tertidur lelap.
"Apa aku ngak salah lihat? Tapi itu memang Dea" ujar Imelda setelah beberapa kali mengucek matanya memastikan jika yang ia lihat benar-benar kenyataan.
"Permisi bu" ujar Jessy pada Imelda yang berdiri di depan pintu, Jessy hendak masuk ke ruangan Dea.
"Eh, maaf. Apa saya boleh masuk?" Tanya Imelda.
"Apa ibu kenal dengan kak Dea?"
"Jadi dia benar Dea?" Tanya Imelda dan Jessy mengangguk.
"Iya saya kenal, dia adik dan sahabat saya. Bolehkah saya menjenguknya?"
"Tentu, silahkan masuk" ujar Jessy mempersilahkan Imelda masuk ke ruang perawatan.
Dia menatap wajah Dea kemudian meneteskan air matanya, Dea sedang tertidur sebab ia merasa mengantuk setelah melahirkan tadi.
"Apa saya harus bangunkan kak Dea?"
"Tidak usah biarkan dia istirahat, apa ini bayi Dea?"
"Iya kak"
"Lalu dimana suaminya?"
"Kak Dea sudah ngak punya suami" ujar Jessy membuat air mata Imelda kembali memetes.
"Kasiahan kamu dek" ujar Imelda mengusap kepala Dea membuat Dea membuka mata.
"Ada apa bu?" Tanya Dea, ia menyangka jika yang mengusap kepalanya adalah mbok Namu.
"Kamu bangun dek?" Tanya Impeda yang sukses membuat kedua mata Dea membulat sempurna. Betapa ia sangat terkejut mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Ka-kak Imel" ujar Dea.
Imelda langsung memeluknya kemudian menangis membuat Dea ikut menangis.
"Kakak tahu dari mana aku disini?"
"Tadi kakak melihat Marvel mengintip dari luar kamar sambil menangis, jadi kakak penasaran apa yang membuat Marvel menangis dan ternyata kamu" ujar Imelda kemudian kembali memeluk Dea.
"Ini bayi kamu sayang?"
"Iya kak" ujar Dea.
"Hey, jangan menangis. Lihatlah betapa miripnya dia sama kamu, laki-laki atau perempuan dek?"
"Laki-laki kak" ujar Dea.
"Nanti kita cerita-cerita lagi ya, sepertinya orang-orang sudah nyari kakak disana. Kamu jaga kesehatan ya, nanti kakak kesini lagi" ujarnya memeluk Dea.
Imelda masih sangat menyayangi Dea, karena ia tahu jika kepergian Dea saat itu bukanlah keinginannya melainkan ada hal buruk yang terjadi padanya.
"Iya kak, tolong jangan katakan pada yang lain jika kakak bertemu dengan ku"
"Tentu sayang, aku pergi dulu ya sayang, anak ganteng tante pergi dulu ya nanti tante balik lagi"
Dengan perasaan bahagia Imelda menuju ke ruang perawatan Regina, ia tak berhenti tersenyum hingga membuat Marvel menjadi curiga pada kakaknya itu.
__ADS_1
'Apa kak Imel tahu tentang Dea?' Batin Marvel.