MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
SEPERTI ORANG LAGI NGIDAM (POV AUTHOR)


__ADS_3

''Siang mang, teteh'' sapa Dea pada mang Ardi dan istrinya.


''Siang neng, wah ramai-ramai nih'' ujar mang Ardi.


''Iya mang, kita mau makan mie ayam, masih ada kan?''


''Masih neng, ayo silahkan duduk semuanya''


''Siang mang Ardi'' sapa Marvel saat memasuki kedai.


''Siang aden, ternyata ada aden juga''


''Iya mang, kasi aja yang mereka mau nanti saya yang bayar''


''Baik den''


Mereka semua duduk di satu bangku panjang tak terkecuali Marvel, dia ikut duduk di samping Dea.


''Ada apa De?'' Tanya Darmi melihat ekspresi wajah Dea.


''Kayaknya aku benaran lagi datang bulan deh, kamu punya pembalut ngak?''


''Ngak ada De, mau aku belikan ngak?''


''Ada apa sayang?'' Tanya Marvel melihat Dea yang duduk tak nyaman.


''I-itu... ehm'' Dea jadi bingung harus mengatakan apa pada Marvel.


''Aku belikan dulu ya De'' ujar Darmi berdiri.


''Beli apa?'' Tanya Marvel.


Darmi memandang ke arah Dea meminta persetujuan, apa ia harus mengatakan pada Marvel atau tidak.


''Duduk aja Mi, nanti aja''


''Ada apa sayang? Kamu butuh sesuatu?''


''Sebenarnya saya...'' ujar Dea terhenti kala perutnya terasa sakit.


''Kamu kenapa sayang? Tidak usah malu mengatakannya jika kamu butuh sesuatu, ingat aku suami kamu secara adat'' bisik Marvel.


''Sa-saya sedang datang bulan pak, tapi saya ngak bawa pembalut''


''Oh gitu sayang'' ujar Marvel tenang, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan membuat kedua mata sipit Dea membulat sempurna.


''Kamu butuh ini kan? Sekarang sana pakai di toilet, ini juga jaket saya buat nutupin rok kamu, jaga-jaga jika kamu tembus'' ujar Marvel yang membuat pipi Dea merona. Ia tak tahu harus berkata apa pada Marvel, ternyata Marvel sudah menyiapkan pembalut di tasnya. Semua itu ia lakukan setelah menceritakan keadaan Dea yang suka marah-marah akhir-akhir ini kepada ibunya. Ibu Valencia mengatakan kemungkinan Dea akan datang bulan jadi ia menyarankan agar Marvel menyediakan pembalut di tasnya jaga-jaga jika suatu saat Dea membutukan seperti saat ini.


...****************...


''Mah, Marvel mau cerita boleh?'' Ujarnya menemui sang ibu yang sedang menikmati acara di televisi.


''Mau bicara apa sayang?''


''Aku mau bicara soal Dea mah''


''Dea? Emang Dea kenapa? Kamu ngak macam-macam kan vel?''


''Ngak mah, Marvel ngak akan berani''


''Terus kenapa dengan Dea? Apa Dea sakit?'' Tanya bu Valencia dengan raut kekhawatiran yang terpancar jelas di wajahnya.


''Ngak mah, tapi kahir-akhir ini aku liat Dea sering marah-marah tidak jelas, mau makan ini dan itu, juga sering nangis tanpa sebab''


Bu Valencia terkejut mendengar ucapan anaknya, segala kemungkinan terburuk sudah ada dalam pikirannya.

__ADS_1


''Kamu ngak tidur bareng Dea waktu bermalam di rumahnya kan?''


''Ngak mah, emang kenapa?''


''Koq ciri-ciri Dea tadi seperti orang lagi ngidam, kamu ngak ngapa-ngapain menantu mama kan? Awas kamu kalau menantu mama kenapa-kenapa''


''Ngak mama''


''Tapi mama juga yakin Dea ngak mungkin begitu kecuali kalau kamu yang maksa. Mungkin Dea mau datang bulan Vel, biasanya perempuan begitu kalau mau datang bulan''


''Oh gitu mah, terus Marvel harus apa? Soalnya beberapa hari ini Dea terus menghindar dari ku''


''Kamu harus sabar Vel, mama juga dulu gitu kalau mau datang bulan, bawaannya pengen marah-marah terus tapi ngak tahu mau marah sama siapa. Coba kamu sediain pembalut di tas kamu jaga-jaga jika Dea butuh''


''Oh gitu mah''


''Iya sayang''


...****************...


Dari pembicaraannya dengan sang ibu akhirnya Marvel memutuskan untuk terus menyiapkan pembalut di dalam tasnya kemana pun ia pergi bersama Dea.


''Silahkan dinikmati semuanya'' ujar mang Ardi meletakkan pesanan mereka di atas meja.


''Terimakasih mang''


Teman-temannya menikmati mie ayam mereka sementara Dea masih berada di toilet.


''Sudah sayang?''Tanya Marvel saat Dea sudah keluar dari kamar mandi.


''Iya pak, Terimakasih''


''Sama-sama sayang, ayo kita makan juga ntar dingin mienya''


Dea mengangguk dan keduanya kembali ke tempat duduk mereka, ''dari mana De?'' Tanya Darmi berbisik.


''Dapat dari mana?''


''Tuh'' ujar Dea melirik ke arah Marvel yang sedang menikmati mie ayam miliknya.


''Serius kamu?''


''Iya Mi, ayo makan ntar keburu dingin mienya''


Mereka semua menikmati mie ayam masing-masing, Marvel beberapa kali mengerjai dengan dengan menukar mangkok miliknya dengan Dea atau menukar sendoknya ketika Dea sedang berbicara dengan temannya.


Dea tak menyadari hal itu, namun Sukma dan Gema melihatnya, mereka berdua hanya tertawa melihat tingkah sang guru.


''Ternyata sesayang itu pak Marvel pada Dea, jadi pengen aku punya pasangan seperti pak Marvel'' ujar Sukma.


''Kamu mah menghayal terus''


''Ngak apa-apa kali, siapa tahu jadi kenyataan''


''Iya juga sih''


Setelah mereka semua menghabiskan mie ayam, mereka segera bersiap untuk pulang.


''Terimakasih pak atas traktirannya'' ujar Gema.


''Sama-sama anak-anak kalian hati-hati di jalan''


''Baik pak''


''De, kami pulang dulu ya hati-hati di jalan'' ujar Darmi.

__ADS_1


Marvel dan Dea naik ke angkutan umum yang berbeda arah dengan teman-temannya di karenakan jalan ke rumah mereka yang memang berbeda arah.


''Pak'' ujar Dea setelah mereka turun dari angkot dan berjalan menuju ke rumah.


''Iya sayang, ada apa?''


''Ehm, i-itu.. terimakasih pak''


''Untuk apa sayang?''


''Untuk semuanya dan maaf beberapa hari ini saya sering marah-marah sama bapak. Saya juga tidak tahu kenapa, bahkan menginjak semut atau rumput kadang saya menangis''


''Ngak apa-apa sayang. Kata ibu itu semua wajar-wajar saja untuk seorang perempuan jika tamu bulanannya akan datang'' ujar Marvel. Ia terus menggenggam jemari Dea sejak mereka turun dari angkot tadi.


''Kenapa bapak punya pembalut di tas?'' Tanya Dea bingung karena Marvel membawa pembalut di tasnya.


''Itu memang aku siapkan khusus buat kamu, supaya kalau butuh tiba-tiba sudah ada''


''Terimakasih pak'' ujar Dea langsung memeluk Marvel.


''Ciee... udah ngak malu peluk-peluk aku'' goda Marvel yang membuat Dea langsung melepas pelukannya dengan pipi yang merona.


''Kamu semakin membuat ku gemas dengan pipi merah begitu, tidak usah malu-malu sayang aku ini milik kamu jadi kamu mau apain juga boleh''


''Maaf ya pak''


''Tidak apa-apa sayang aku suka''


''Siang nek'' ujar Dea masuk ke dalam rumah berbarengan dengan Marvel.


''Siang nak'' ujar nek Diah yang sedang menganyam tikar.


''Duduk dulu pak, saya mau ganti baju'' ujar Dea berlalu ke dalam kamar mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi.


''Nak Marvel sudah makan? Kalau belum makan siang dulu nak, tapi lauk nenek ala kadarnya saja''


''Terimakasih nek, tadi kami sudah makan sama teman-teman Dea, kebetulan ada teman Dea yang ulang tahun''


''Oh gitu, mau nenek buatkan teh''


''Tidak usah nek terimakasih, nanti Marvel bikin sendiri kalau mau nek''


''Baiklah nak, istirahatlah dulu di kamar Dea. Nenek mau istirahat dulu''


''Baik nek'' ujar Marvel. Ia juga segera masuk ke kamar Dea setelah nenek masuk ke kamarnya.


Saat Dea sudah selesai mandi ia tak mendapati Marvel dan neneknya saat keluar dari kamar mandi.


''Loh kemana pak Marvel dan nenek?''


Setelah menjemur handuk dan pakaiannya yang ia cuci saat mandi tadi, ia masuk ke kamar dan mencari sisir.


Saat duduk di kursi tempatnya biasa belajar Marvel datang menghampirinya.


''Loh bapak ada disini?''


''Iya sayang, kamu sih terlalu serius sampai ngak liat aku''


''Hehehe maaf pak''


''Aku numpang tidur ya De''


''Iya pak''


Marvel segera membaringkan dirinya di atas kasur milik Dea, ia merasa sangat nyaman ketika berada di rumah Dea. Rumah Dea merupakan tempat ternyaman baginya selain rumah ibunya.

__ADS_1


Setelah selesai menyisir rambut Dea segera keluar dari kamar dan membiarkan Marvel untuk beristirahat.


__ADS_2