
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 4 pagi, aku, Sukma Darmi, pak Marvel dan paman Zei berangkat ke pasar. Di pasar kami membeli begitu banyak bahan makanan, baik itu yang sudah setengah matang atau bahan masakan mentah.
Kami juga membeli banyak jenis kue, mulai dari yang berupa kue bolu maupun yang berupa kerupuk.
Setelah kami rasa semua sudah kami beli kami memutuskan untuk pulang, di perjalanan kami singgah di sebuah warung makan yang menyediakan makanan khas tanah minang untuk membeli sarapan.
Kami belum sempat sarapan saat berangkat tadi, jadi kami meutuskan untuk membelinya saja terlebih kami juga belum masak tadi.
''Kalian mau pesan apa?'' Tanya paman Zei pada kami semua.
''Kita ikut paman saja'' ujar ku dan di angguki oleh yang lainnya.
Paman memesan 10 bungkus nasi padang, entah untuk siapa saja karena kami hanya delapan orang di rumah, termasuk baby Zeina, tapi baby Zeina kan belum bisa makan.
Setelah membayar makanan pesanan kami, kami semua segera pulang karena matahari sudah mulai terbit.
''Dea, ajak teman-temanmu makan, ini biar aku yang bantu paman buat nurunin'' ujar pak Marvel mengeluarkan bahan makanan dari dalam mobil bersama paman Zei.
''Iya Dea, ajaklah teman-temanmu makan sekalian tolong antarkan buat bibi di kamar''
''Baik paman''
Aku, Sukma dan Darmi masuk ke rumah sambil membawa beberapa belanjaan yang kami rasa ringan. Setelah meletakkan barang belanjaan yang kami bawa, aku segera menyiapakan sarapan yang tadi kami beli.
''Kalian makan duluan saja, aku mau bawakan sarapan buat bibi dulu'' ujar ku pada Darmi dan Sukma yang sedang mencuci tangannya bersiap untuk makan.
''Ok De'' ujar Darmi mengambil dua bungkus nasi padang dan meletakkannya di atas piring.
Aku membawa sebungkus nasi padang tadi ke kamar bibi, ketika aku masuk ke kamar, bibi terlihat sedang menyusui baby Zeina.
''Maaf bi, aku lupa mengetuk pintu''
''Tak apa De, ada apa?''
''Ini aku bawakan sarapan buat bibi'' ujar ku meletakkan piring berisi nasi padang di atas meja yang ada di dekat ranjang.
''Terimakasih sayang'' ujar bibi merapikan bajunya setelah menyusui baby Zeina.
Baby Zeina terlihat menggeliat pelan setelah bi Tina bangun dari tempat tidurnya. Aku gemas melihatnya ingin rasanya aku mencubit pipinya yang gembul. Ia menggeliat beberapa kali sebelum ia tertidur nyenyak membuatku semakin gemas padanya.
''Bibi makanlah dulu biar aku yang jaga adek Zeina'' ujar ku pada bibi yang duduk di tepi ranjang.
Bi Tina mengangguk kemudian bergegas mencuci tangannya dan mulai makan. Dengan lahap bi Tina menyuapkan nasi padang itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
''Terimakasih ya De, maaf bibi ngak bisa bantu kalian di dapur, bibi lagi kurang enak badan'' ujar bi Tina setelah menyelesaikan sarapannya.
''Ngak apa-apa bi, lagi pula ada ibu-ibu yang bantuin disana. Bibi istirahat saja sama adek Zeina, aku bawa dulu piring bibi''
''Iya nak''
Aku segera keluar dari kamar dan menuju ke dapur, aku meletakkan piring bekas makan bi Tina di wastafel kemudian menuju keruang makan, di sana terlihat Darmi, Sukma, Gema dan paman Zei, mereka hampir menyelesaikan sarapannya.
''Ayo makan dulu nak'' ujar paman Zei.
''Iya paman. Oh iya kak Marvel mana?''
Uhuk,uhuk,uhuk
Darmi dan Sukma langsung terbatuk memdengar ucapanku entah apa yang salah dengan ucapan ku itu.
Segera kusodorkan air pada keduanya, ''kalian kenapa batuk-batuk bersamaan begitu?'' Tanya ku.
''Tadi kamu ngomong apa De?'' Tanya Darmi.
''Aku nanya kak Marvel kemana?''
''Cieeee.... ngak panggil pak lagi nih, sekarang manggil kakak''
Pantas saja keduanya bisa batuk bersamaan rupanya mereka terkejut mendengar panggilan ku pada pak Marvel. Hanya paman Zei, bi Tina dan Gema saja yang tahu jika aku memanggil pak Marvel dengan panggilan kakak sekarang.
''Tadi kita dengar loh, kuping kita berdua masih bagus koq'' ujar Darmi dan di angguki oleh Sukma.
''Lagi ngomongin apa nih serius amat kayaknya?'' Tanya pak Marvel yang datang dari arah pintu.
''Ngak ngomongin apa-apa kak, ayo makan'' ujar ku meletakkan sebungkus nasi padang ke atas piring yang ada di hadapannya.
''Kita lagi ngomongin bapak tadi'' ujar Darmi.
''Ngomongin saya? Emang ngomongin soal apa?''
''Ngak ada koq kak, ayo makan kita harus mulai kerja habis makan'' ujar ku agar tak ada lagi perbincangan yang ujung-ujungnya akan membuat ku mati kutu.
''Ya sudah kalau gitu, ayo makan''
''Kami sudah selesai makan nak Marvel, tinggal nak Marvel saja dengan Dea yang belum makan'' ujar paman kemudian meneguk air minumnya.
''Iya pak, kami sudah selesai nih. Gema, Sukma ayo kita mulai bongkar belanjaan tadi'' ujar Darmi mulai membereskan piring mereka.
__ADS_1
''Loh, koq aku di tinggal'' ujar ku.
''Kamu kan belum selesai makan De'' ujar Sukma dengan nada yang sedikit mengejek.
''Iya nak, kamu makanlah dulu dengan nak Marvel. Tidak usah buru-buru makannya, nikmati saja sarapan kalian'' ujar paman Zei menarik tangan Gema keluar dari ruang makan itu.
Kini hanya tinggal aku dan pak Marvel yang berada di ruang makan, aku mulai melahap makanan yang ada di piring ku. Saat hendak menyuapkan nasi yang ada di sendok ke dalam mulut ku pak Marvel langsung menyambarnya dan akhirnya makanan itu berakhir di mulutnya.
Aku menatapnya dengan kesal tapi dia malah tersenyum membuat ku semakin kesal di buatnya.
''Sudah makan cepat jangan marah-marah jika masih pagi-pagi nanti bisa cepat tua'' ujarnya kemudian menukar piringnya makannya dengan piring milik ku.
''Loh, loh koq makanan Dea di tukar sih pa.. kak?''
''Ayo mau bilang apa tadi'' pak Marvel mendekatkan wajahnya ke wajah ku membuat ku langsung menjauh darinya.
''Ngak ngomong apa-apa'' ujarku langsung fokus pada nasi yang ada di piring. Sudah 2 tahun kebersamaan kami, tapi jantungku masih terus berdetak kencang saat tatapan mata kami bertemu.
Ku lihat dari ekor mata ku pak Marvel terkekeh kemudian mulai menyuap makanan yang sudah aku makan sebagian.
Setelah menghabiskan makanan kami, aku segera membawa piring bekas makan kami ke dapur kemudian mencucinya.
''Sayang'' bisik pak Marvel yabg tiba-tiba ada di sebelah ku.
''Astaga kak, bikin aku kaget saja'' ujar ku mengusap dada karena terkejut.
''Lagian kamu aku panggil-panggil ngak menyaut malah asik menghayal. Khayalin apa sih sampai ngak dengar aku panggil, tuh Darmi sama Sukma aja udah habis suaranya manggil kamu'' tunjuk pak Marvel pada Darmi dan Sukma yang terkekeh di samping kanan ku.
''Eh, i-itu.... aku lagi bayangin aja kak seandainya nenek masih hidup dia pasti sangat bahagia melihat bi Tina sekarang'' ujar ku dengan mata yang mulai mengembun.
''Sudah jangan sedih lagi pasti nenek juga bahagia disana melihat orang-orang yang ia sayangi hidup bahagia'' ujar pak Marvel hampir memeluk ku andai Darmi tak bersuara.
''Ada kita loh pak, nanti kalau kita baper gimana?''
Pak Marvel hanya terkekeh kemudian berlalu meninggalkan kami bertiga dan membuat tawa kami bertiga pecah.
''Sepertinya pak Marvel itu selalu gemas kalau lagi berduaan sama kamu De, ada kita aja mau main peluk-pelukan'' goda Sukma.
''Tahu tuh, pak Marvel bikin kita yang jomblo cemburu aja'' ujar Sukma mengambil piring yang masing berada di tangan ku.
''Ini juga ngak tahu mikirin apa sampai piringnya ngak di bilas-bilas'' ujar Darmi mencolek pinggang ku.
Astaga aku sampai lupa untuk membilas piring yang sudah aku sabuni tadi, aku hanya bisa tersenyum kikuk ke arah keduanya.
__ADS_1