
Setelah mendengarkan cerita dari Dea, Amelia akhirnya mengerti kenapa temannya itu menangis.
'Aku tahu kamu masih mencintai pak Marvel Dea' batin Amelia.
Malam telah berlalu dan kini berganti pagi, semalaman Amelia berada di kamar kos Dea, ia ingin memastikan jika temannya itu baik-baik saja.
''Dea bangun Dea, kamu ngak kuliah katanya ada kelas pagi'' ujar Amelia membangunkan Dea sebab jam sudah menunjukkan pukul 6 dan Dea belum bangun juga.
''Iya Mel, sebentar lagi ya aku masih ngantuk''
''Katanya kamu kuliah jam 7, nih udah jam 6 loh''
''Astaga aku lupa'' ujar Dea segera bangkit dari tidurnya.
''Kamu mandi sana, habis itu sarapan nanti kamu lambat''
''Aku belum masak Mel cuma ada nasi''
''Tenang nanti aku buatkan telur ceplok hehehe'' ujar Amelia.
Dea segera menyambar handuk yang tergantung di pintu dan masuk ke kamar mandi. Ia mandi hanya beberapa menit saja sampai membuat Amelia yang sedang membuat telur dadar terkejut.
''Loh kamu mandi atau cuma main air sebentar amat''
''Aku mandi koq liat nih rambut aku aja basah''
''Iya.. iya, sekarang kamu pake baju terus makan, nih dah jadi telur dadar spesial buatan Amel cantik''
''Iya..iya''
Setelah berpakaian Dea segera mengambil nasi dan telur dadar yang di goreng oleh Anelia.
''Aku berangkat dulu ya Mel makasih telur dadarnya, kamu istirahat aja di kamar aku'' ujar Dea segera berlari keluar tanpa menyadari jika handuk masi menempel di kepalanya.
''Dea'' panggil Amelia namun tak terdengar oleh Dea yang kini semakin menjauh.
Semua orang yang berpapasan Dengan Dea di jalan tertawa melihat Dea.
''Ada apa ya? Kenapa semua orang di jalan tertawa melihat ku'' ujar Dea ketika ia sudah masuk ke kampus melalui pintu gerbang samping.
''Dea tunggu'' ujar Marvel yang entah dari mana kini sudah berada di sampimg Dea.
''Ada apa pak?'' Tanya Dea.
''Ayo ikut aku'' ujar Marvel menarik tangan Dea.
''Tapi pak...''
''Ayo''
Marvel menarik Dea masuk ke dalam mobilnya sebelum ada yang melihatnya membuat Dea merasa agak takut. Ia khawatir Marvel akan berbuat sesuatu padanya meski ia tahu itu tak mungkin sebab ia tahu betul bagaimana Marvel memperlakukannya
''Bapak mau ngapain?'' Tanyanya ketakutan.
''Aku ngak akan ngapa-ngapain kamu sayang, nih lihat kepala kamu'' ujar Marvel memperlihatkan layar ponselnya berisi foto kepala Dea yang masih terlilit handuk.
''Astaga'' ujar Dea. Ia langsung menutup wajahnya karena merasa malu.
''Nih sisir rambut kamu baru masuk kelas, handuknya kamu simpan saja di sini nanti kamu ambil kalau sudah pulang''
''Tapi pak...''
__ADS_1
''Ngak ada tapi-tapian, kamu mau masuk ke kelas pake handuk begitu?'' Tanya Marvel dan Dea menggeleng.
''Ya sudah kalau begitu sisir rambut kamu''
Dea segera menyisir rambutnya kemudian hendak membuka pintu mobil Marvel.
''Tunggu Dea, ini milikmu'' ujar Marvel memberikan kembali cincin emas yang pernah ia sematkan di jari dea pada hari pertungangan mereka. Cincin itu di ambil oleh ibu Dea saat Dea akan di bawa oleh bu Wayna dulu dan di kembalikan pada keluarga Marvel saat Marvel akan menikah.
''Maaf pak, saya tidak bisa menerimanya. Saya sudah punya suami dan anak begitupun dengan bapak''
''Kamu jangan bohong Dea, aku tahu kamu sudah bercerai dari suamimu dan aku juga tahu jika anakmu sudah pergi menghadap sang pencipta. Aku turut berduka untuk itu'' ujar Marvel yang membuat Dea terkejut.
'Dari mana kak Marvel tahu jika aku sudah bercerai dengan suami ku dan dari mana juga ia tahu jika Sion sudah tidak ada?' batin Dea bertanya-tanya.
''Kamu tidak perlu tahu aku tahu dari mana, yang pasti kali ini aku tidak akan melepaskan kamu. Aku akan selalu menjagamu aku tidak akan lalai seperti dulu lagi''
''Maaf pak saya benar-benar tidak bisa'' ujar Dea segera keluar dari mobil meninggalkan Marvel dengan seribu pertanyaan.
''Kenapa kamu menghindari ku Dea, apa kau tahu sudah berapa lama aku menunggu saat ini, saat dimana kita akan bertemu kembali? Apa kau tidak tahu jika belum ada yang bisa menggantikanmu di hati ku'' gumam Marvel kemudian menangis.
''Maafkan aku kak, aku sudah tidak pantas untukmu meski cinta di hatiku memang masih sama seperi dulu tak berkurang sedikitpun'' gumam Dea terus berjalan menuju ke kelasnya.
''Pagi Dea'' Sapa Tini.
''Pagi juga Tin, udah datang aja kamu?''
''Iya dong, sekarang aku mau rajin belajar ah siapa tahu bisa dapat pangeran tampan''
''Pangeran tampan? Siapa lagi itu?''
''Ya pak Marvel, siapa lagi. Sekarang kan beliau jadi idaman cewek-cewek di kampus kita ini, bukan hanya mahasisiwi tapi juga dosen-dosen wanita yang masih lajang'' ujar Tini.
'Lihatlah kak, begitu banyak yang ingin menjadi pendampingmu, mereka sangat jauh berbeda dengan ku kak. Aku tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan mereka semua' batin Dea.
''I-iya Tin''
''Kamu kenapa sih bengong mulu dari kemarin?''
''Ngak apa-apa koq aku hanya kurang sehat saja''
''Oh gitu, oh iya apa kamu benaran ngak kenal sama pak Marvel?''
''Ngak, aku juga baru kenal kemarin. Emang kenapa?''
''Ya ngak apa-apa, aku hanya merasa jika kalian sudah saling kenal dan sudah lama''
''Ngak koq''
''Ya iyalah, anak kampung mana kenal dengan orang seperti pak Marvel yang seperti pangeran itu. Ngak levellah pak Marvel bergaul dengan gadis macam dia, eh maksud ku janda hahahaha'' ujar seorang teman kelas Dea bernama Wati.
''Apa?''
''Ja-jan-janda?'' Ujar teman kelas Dea yang lain.
''Iya, Dea ini janda loh teman-teman'' ujar Wati lagi.
Dea hanya terdiam tak menanggapi ucapan Wati, ia tidak tahu harus berkata apa, sementara teman-teman sekelasnya kini sudah memandang rendah dirinya.
''Pantas saja kemarin pura-pura sakit, ternyata mau menggaet pak Marvel sebagai target barunya. Ngak semudah itu Dea, sainganmu itu banyak dan kamu ngak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan mereka'' ujar teman kelas Dea yang bernama Selina.
''Benar Dea, kamu itu janda?'' Tanya Tini.
__ADS_1
''Iya Tin'' ujar Dea.
Tini refleks menutup mulutnya tak percaya tentang apa yang di katakan oleh Dea. Ia berpikir jika Dea juga masih gadis seperti mereka.
''Hati-hati aja teman-teman, jangan sampai pacar kalian di rebut sama janda gatal'' ujar Wati memprovokasi teman sekelasnya.
''Hati-hati loh nanti yang ngomong yang jadi pelakunya'' ujar Tini kesal.
''Eh, maksud lu apa?'' Tanya Wati.
''Ngak maksud apa-apa koq, cuma ya, biasanya yang suka koar-koar itu yang menjadi pelaku kejahatan'' ujar Tini.
''Udah Tin ngak usah di ladeni, nanti juga mereka capek sendiri''
''Tapi aku ngak terima mereka ngatain kamu Dea.''
''Udah ngak apa-apa, lagi pula aku memang seorang janda dan aku juga tahu diri jika aku memang tidak pantas buat orang-orang seperti pak Marvel'' Ujar Dea berusaha tersenyum meski hatinya menangis.
Sepanjang hari di kampus, Dea tak henti-hentinya di ejek oleh teman-temannya, hanya karena status Dea yang seorang janda.
''Kamu ngak apa-apa Dea?''
''Ngak apa-apa koq Tin, kamu pulang duluan saja aku mau ke perpus dulu mau nyari buku''
''Ok'' ujar Tini melambaikan tangannya meninggalkan Dea di halaman kampus.
Dea menuju ke ruang perpustakaan untuk meminjam sebuah buku yang ia perlukan untuk menyelsaikan tugasnya.
''Nah ketemu'' ujar Dea berjinjit hendak mengambil buku di rak bagian atas sebab ia tak sampai.
''Duh, kenapa naruh bukunya tinggi amat, aku kan ngak sampai'' gerutu Dea yang sudah berusaha mengambil buku namun tangannya tak sampai.
''Kamu ngak bertambah tinggi ya'' ujar Marvel yang kini berada di belakang Dea dan mengambilkan buku untuknya.
''Terimakaih pak'' ujar Dea menerima buku dari tangan Marvel.
''Jangan pergi dulu aku mau bicara''
''Tolong jangan dekat dengan saya pak, saya tidak ingin kejadian sewaktu smk terulang lagi disini. Lagipula banyak yang lebih baik dari saya pak, bapak tidak perlu susah-susah menunggu saya karena mungkin kita tidak berjodoh''
''Tapi Dea..''
''Maaf pak'' Dea ingin berlalu namun kembali di tahan oleh Marvel.
''Baiklah, tapi setidaknya ambillah kembali cincin ini, itu milikmu dan ini milikku'' ujar Marvel memperlihatkan cincin pasangan miliknya yang masih ia pakai di jarinya.
''Bapak masih memakainya?''
''Tentu saja, tak akan ada yang bisa menggantikanmu meski kita tak berjodoh'' ujar Marvel meletakkan cincin itu di tangan Dea.
''Tapi.. pak'' Dea belum menyelesaikan ucapannya Marvel sudah menghilang di balik rak buku dan saat Dea ingin mengejar ia tak punya keberanian sebab banyak mahasiswa dan mahaaiswi lain yang berada di tempat itu.
Setelah keluar dari perpustakaan Dea duduk di bangku taman kampus sambil memandangi cincin yang ada di tangannya kemudian memasangkannya di jari manisnya, tempat cincin itu sebelumnya.
''Kamu kembali kepada ku lagi. Aku memang tak bisa melupakan mu kak, aku juga masih mencintaimu kak, tapi aku sudah tidak pantas lagi untukmu. Aku sudah gagal menjaga diriku kak, lupakanlah aku carilah wanita yang sepadan dengan kakak, aku bahagia jika melihat kakak bahagia'' Gumam Dea kemudian menangis sambil memeluk jari manisnya.
Dea tak menyadari jika di balik pohon yang ada di sampingnya ada Marvel yang mendengarkan semua ucapannya.
''Bukan kamu yang gagal Dea, aku yang sudah gagal menjagamu. Aku pastikan kali ini aku akan melindungimu dan tak akan aku biarkan siapapun menyakitimu. Sudah cukup kamu menderita selama ini, aku bahagia mengetahui kau juga masih menyimpan cinta untuk ku. Aku akan membuatmu kembali ke pelukan ku dan akan mengikatmu dalam ikatan pernikahan, aku tak ingin kehilanganmu lagi'' gumam Marvel.
Ingin rasanya ia menemui Dea dan memeluknya, namun ia ingin membuat Dea merasa nyaman dulu. Ia ingin memberikan Dea ruang untuk sendiri sebelum ia kembali meminta Dea menjadi pendampingnya.
__ADS_1
Merasa cukup puas menangis, Dea segera bergegas untuk pulang, Marvel mengikuti Dea dari belakang dengan menjaga jarak agar Dea tak melihatnya. Ia ingin tahu dimana sang kekasih kini tinggal, sebab ia akan menempatkan seseorang untuk menjaganya.