
Selama dua hari ini, Dea sibuk dengan berbagai kegiatan baik itu di kampus maupun kegiatan di luar kampus. Ia juga mulai menata hatinya untuk kembali membina hubungan bersama Marvel, meski awalnya ia masih ragu sebab ia masih ragu dengan statusnya kini, namun bu Valencia dan juga bi Tina serta sahabat-sahabtnya terus meyakinkan dirinya akhirnya ia memilih untuk kembali membuka hati untuk segala hal baru yang akan ia lalui bersama Marvel nantinya.
Kini harinya sudah tiba, hari bahagia dimana Marvel akan kembali melamar Dea. Bi Tina beserta suami dan anaknya sudah sejak kemarin tiba di kota M.
Mereka sekeluarga bermalam di rumah Marvel dimana acara lamaran akan di gelar, sedangkan Dea masih berada di kosanya. Segala persiapan sudah dilakukan sejak kemarin, persiapan untuk lamaran kali ini lebih banyak karena acara lamarannya akan lebih mewah dari lamaran sebelumnya.
Sanak saudara dan juga teman-teman Dea dan Marvel turut di undang serta dalam acara lamaran kali ini. Beberapa dosen dan mahasiswi teman kelas Dea turut undang.
"Cie... yang mau jadi nyonya Geraldi" ujar Tini menggoda Dea yang kini sedang mengerjakan tugas.
Dea hanya membalasnya dengan senyuman, ia tak tahu apa yang harus ia katakan, di satu sisi ia bahagia sebab kini impiannya untuk berbahagia bersama Marvel sudah di depan mata, di sisi lain ia merasa diri tak pantas untuk bersanding dengan seorang Marvel yang dimata semua orang terlihat sempurna baik fisik dan sifatnya.
"Koq melamun sih, mikirin apa ayo?" Goda Tini melihat Dea sedang melamun.
"A-aku lagi mikirin tugas, ada yang aku belum paham" ujar Dea gugup membuat Tini dan teman kelas Dea yang duduk bersamanya tertawa.
"Kenapa kalian tertawa?" Tanya Dea.
"Gimana kita ngak ketawa Dea, kamu bilang ada yang kamu ngak paham, padahal semua tugas kamu udah kamu kerjain" ujar Elsa teman sekelas Dea.
Deapun melihat lembaran kertas berisi tugas yang tadi ia kerjakan ternyata semuanya sudah ia kerjakan, ia hanya bisa tersenyum kikuk ke teman-temannya karena sudah ketahuan berbohong.
"Kamu ngak bisa berbohong Dea, kamu ngak punya bakat. Oh iya kita benaran di undang nih ke acara lamaran nanti?" Tanya Budi teman sekelas Dea.
"Iya, kalian semua datang ya"
"Aku pasti datang, kali aja aku ketemu jodoh ku disana" ujar Ilham.
"Tapi aku punya permintaan sama kalian semua, jika bisa tolong jangan katakan pada siapapun kecuali yang hadir di acara besok jika aku dan pak Marvel punya hubungan, aku tidak ingin ada masalah lagi" ujar Dea membuat teman-temannya bingung.
"Masalah gimana maksudnya Dea?" Tanya Tini
"Oh iya aku belum cerita ya sama kalian, dulu aku dan pak Marvel kenal saat aku jadi siswi di sekolah tempatnya mengajar, disana banyak kakak kelas yang suka sama pak Marvel bahkan guru-guru wanita juga, namun karena pak Marvel dekat dengan ku alhasil aku di bully sama mereka bahkan aku sampai masuk rumah sakit karena disiram air es dan aku tidak mau itu terulang kembali" ujar Dea dengan wajah sendu.
"Baiklah, kami ngak akan bilang siapa-siapa. Tapi tunggu deh, tadi kamu bilang kalau kamu dan pak Marvel udah saling kenal? Berarti sudah lama dong?"
"Iya"
"Terus dulu kamu juga punya hubungan spesial dengan pak Marvel atau hanya sebatas guru dan murid?" Tanya Ilham.
"Dulu aku dan pak Marvel sudah tunangan dan tinggal menghitung hari kami menikah namun takdir tidak kengijinkan kami menikah saat itu" ujar Dea, ia mulai menerewang kejadian beberapa tahun silam yang membuatnya hampir meneteskan air mata karena merasa sangat sedih.
"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu, ingat ya kalian datang nanti jam 7 di alamat yang aku kasih, jangan lupa loh"
"Iya Dea sayang, kami pasti datang koq" ujar Budi yang mendapatkan hadiah pukulan pada kepalanya dari Tini.
__ADS_1
"Hush jangan ngomong sayang-sayang entar pak Marvel dengar habis kamu" ujar Tini melihat Marvel berkalan ke arah mereka.
"Siang pak" ujar mereka serempak.
"Siang, apa sedang sibuk? Bapak mengganggu ya?"
"Tidak pak, apa bapak butuh bantuan?" Tanya Ilham.
"Saya mau pinjam Deanya sebentar boleh, lima menit saja" ujar Marvel menunjukkan 5 jari tangan kanannya.
"Boleh banget pak, lama juga ngak apa-apa pak, iya kan Dea?" Tanya Tini menaik turunkan alisnya menggoda Dea yang kini sedang tertunduk malu. Pipinya sudah berwarna merah, ia masih tak bisa untuk tidak merasa gugup dan merona jika berada di dekat Marvel.
"Baiklah saya pinjam sebentar ya, ayo sa.. Dea" ujar Marvel menarik tangan Dea membuat Dea harus mengikutinya.
Marvel duduk di salah satu kursi yang ada di sudut kantin, ia terlihat memberikan sesuatu pada Dea. Mereka berbicara cukup lama, teman-teman Dea penasaran apa kiranya yang mereka berdua sedang bicarakan. Namun melihat ekspresi Dea yang terlihat malu dengan pipi merah merona membuat teman-taan Dea tertawa cekikikan, sebab mereka tahu jika Marvel pasti sedang menggoda Dea.
Setelah berbicara cukup lama ia bersama Dea kembali ke tempat Dea dan teman-temannya duduk.
"Saya kembalikan ya Deanya, maaf lama napak pinjamnya, bapak permisi dulu"
"Iya pak"
Melihat Marvel sudah menjauh dari tempat mereka duduk, teman-teman Dea mulai menggodanya.
"Cieee.... habis ngomongin apa tadi sama pak Marvel sampai muka kamu merah-merah gitu" goda Tini.
Mata teman-teman Dea membulat sempurna melihat alamat yang ada di kertas itu dan juga kartu berwarna hitam yang ada di saku Dea kemudian menatap ke arah Dea.
''Ini se-serius Dea, kamu mau ke alamat ini?" Tanya Budi.
"Iya emangnya kenapa dengan alamat itu?" Tanya Dea bingung.
"Kamu tahu ngak alamat ini dimana?"
"Ngak" ujar Dea kemudian tertawa.
Dea benar-benar tidak tahu alamat itu dimana, sebab ia belum pernah sekalipun pergi ke tempat itu atau mendengar nama tempat itu.
"Kamu benar-benar ngak tahu alamat ini Dea?"
"Ngak, aku ngak tahu, emangnya kenapa sih koq kalian heboh sekali, oh iya hampir lupa, kak Marvel juga ngasih ini katanya aku perlu kartu ini jika ingin kesana" Dea meletakkan kartu itu di hadapan teman-teamnannya membuat mereka terkejut.
"Ka-kar-kartu VVIP" ujar Ilham.
Mereka semua menetap ke arah Dea, membuat Dea yang merasa jika dirinya sedang menjadi pusat perhatian teman-temannya merasa canggung.
__ADS_1
"Ka-kalian kenapa?"
"Sebenarnya pak Marvel itu kerjanya apa sih Dea?" Tanya Ilham.
"Setahu aku ya pak Marvel itu dosen sekarang, emangnya ada apa?"
"Kamu yakin?"
"Iya, emangnya ada apa sih?"
"Ini kartu VVIP loh Dea, dan kartu ini hanya di miliki oleh pemilik perusahaan yang mengelolah pusat perbelanjaan tersbesar di kota ini, juga pemilik perusahaan tekstil terbesar di negara kita. Kartu ini hanya di miliki oleh keluarga inti pemilik perusahaan" ujar Ilham dan di angguki oleh teman Dea yang lain.
Dea belum mampu mencerna apa yang di maksud oleh Ilham.
"Ya, terus kenapa?" Tanyanya polos.
"Ya ampun Dea, itu berarti pak Marvel itu juga keluarga inti dari pemilik perusahaan industri tekstil terbesar di negara kita dan juga pemilik pusat perbelanjaan terbesar di kota ini"
"Apa iya, sepertinya ngak mungkin" ujar Dea.
"Terus kamu mau naik apa kesana Dea, katanya tidak sembarang kendaraan bisa masuk ke sana"
"Nanti, kak Josep yang akan jemput aku"
"Siapa lagi Josep?"
"Dia kakaknya pak Marvel"
"Oh gitu"
"Iya, oh iya kita ngak ada kelas lagi kan, aku mau pulang duluan soalnya ada yang mau aku urus" ujar Dea.
"Iya, terus kamu pulang sama siapa?"
"Ada Sukma, Darmi dan Gema. Mereka udah nunggu aku di depan"
"Ok, hati-hati Dea"
"Iya, kalian juga hati-hati"
"Wah, aku ngak nyangkaloh pak Marvel yang kelihatannya sederhana ternyata.."
"Begitulah orang kaya yang sesungguhnya Ham, mereka ngak nunjukin di depan orang-orang jika mereka berada"
"Iya, ya. Semoga Dea dan pak Marvel berjodoh dan hidup bahagia selamanya"
__ADS_1
"Amin"