
Sudah cukup lama Dea tak mengunjungi rumah sang ibu, bukan tanpa alasan ia melakukannya. Ibunya tak mengininkan Dea kesana terkecuali ada hal penting.
Meski merasa agak takut untuk datang kesana, namun ia memberanikan diri terlebih sekarang dia di temani oleh sang kekasih.
''Bapak ngak keberatan kan temani saya ke rumah ibu?''
''Tidak sayang, dia ibu ku juga sekarang''
''Terimakasih pak''
''Terimakasih juga sayang'' ujar Marvel sembari mengusap kepala sang kekasih.
Sepanjang jalan tak ada pembicaraan yang berarti, Dea terlihat selalu melamun dan sesekali terlihat mengbuang nafas. Marvel terus memperhatikan sang kekasih yang terlihat sedang tak baik-baik saja.
''Loh koq berhenti pak?'' Tanya Dea ketika Marvel menghentikan laju mobilnya.
''Ayo turun'' ujar Marvel turun lebih dulu dari mobil.
''Tapi kita belum sampai pak''
''Iya sayang, ayo turun dulu'' ujar Marvel yang sudah membuka pintu mobil di samping Dea.
''Ayo'' Marvel menarik tangan Dea dan membawanya duduk di sebuah kursi yang ada di tempat itu.
Dea yang sejak tadi melamun langsung tersenyum bahagia begitu melihat pemandangan di depannya.
''Ini'' ujar Dea merasa bahagia karena tempat dimana ia duduk sekarang adalah tempat yang sangat ia sukai jika sedang merasa sedih. Dea bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk duduk di tempat itu jika sedang merasa sangat sedih.
''Ada apa sayang?''
''Tidak ada apa-apa pak''
''Jangan bohong sayang, aku tahu kamu memikirkan sesuatu'' ujar Marvel sambil menggenggam tangan Dea.
''Saya cuma kepikiran ibu pak, apa ibu tidak akan marah jika aku kesana. Selama ini aku ke rumah ibu hanya kalau ibu yang panggil, jika tidak aku tak kesana pak''
''Kenapa begitu sayang?''
''Karena ibu pernah bilang aku tak boleh datang ke rumahnya jika bukan ibu yang panggil atau karena ada hal yang penting'' ujar Dea dengan raut muka sedih.
Marvel yang kembali melihat raut wajah Dea yang kembali sendu, berusaha untuk menghiburnya.
''Jangan sedih sayang mama pasti akan senang dengan kedatangan kita''
''Pak'' ujar Dea menatap wajah Marvel.
''Iya sayang, ada apa?''
''Di kampung ibu, aku biasanya tidur di rumah nenek yang sudah kosong pak. Aku tak di ijinkan tidur di rumah ibu, apa bapak tidak keberatan? Soalnya rumahnya sudah agak tua dan lumayan jauh juga dari rumah ibu dan tak ada tetangga juga tak ada listrik disana''
''Tak apa sayang'' ujar Marvel mencoba untuk tersenyum, meski dalam hati ia sangat prihatin mendengar ucapan sang jekasih.
'Entah apa yang harus aku katakan, rasanya tak cukup terimakasih yang aku ucapakan karena Tuhan memberikan aku pasangan seperti mu' batin Marvel.
''Kalau begitu ayo kita jalan lagi'' ujar Marvel.
''Iya pak, boleh kita singgah di pasar sebentar pak?''
''Iya sayang, kamu mau beli apa?''
''Aku mau beli minyak tanah pak'' kening Marvel berkerut mendengar ucapan Dea.
''Buat apa?''
__ADS_1
''Buat bikin pelita pak, di rumah nenek kan ngak ada listrik pak''
''Oh iya aku lupa''
Keduanya melanjutkan perjalanan, setelah membeli beberapa barang di pasar mereka kembali melanjutkan perjalanan, tak lama setelahnya mereka tiba di rumah ibu Dea.
Ayah Dea tersenyum melihat kedatangan anak dan menantunya, ''siang ayah'' ujar Dea dan Marvel. Mereka bergantian mencium tangan ayah David.
''Ibu mana yah?'' Tanya Dea.
''Ibu kamu ada di dalam nak sedang tidur, ayo masuk nak''
''Kami disini saja yah''ujar Dea.
''Masuk saja nak, ayah panggilkan ibumu dulu ya nak''
''Tak apa ayah, Dea disini saja''
Marvel menurunkan paketan sembako yang ia bawa dari rumah Dea.
''Loh, pak koq ada yang di karung?''
''Itu untuk di rumah ini sayang, yang di plastik untuk tetangga ibu''
''Itu rumah bibi semua pak, adik-adik ibu pak''
''Oh gitu sayang''
Rumah ibu Dea memang bertetangga dengan adik-adiknya.
''Ada apa Dea?'' Tanya ibu Dea tanpa basa-basi.
''Apa kabar bu?'' ujar Dea menyalami ibunya bergantian dengan Marvel.
Ucapan ibunya membuat mata Dea berkaca-kaca, entah bagaimana ia menggambarkan perasaannya saat ini. Di satu sisi ia bahagia karena ibunya mau berbicara dengannya di sisi lain ia sedih dengan ucapan ibunya.
Marvel menggenggam tangan Dea, ''Kami membawa sedikit paket semabako bu'' ujar Marvel.
''Oh ya udah, taruh saja di situ nanti ayah yang kasi masuk ibu mau istirahat. Jika mau mau tinggal, kamu ingat tempat kamu kan Dea, jika mau pulang terserah saja'' ibu Dea meninggalkan keduanya masuk ke dalam rumah.
Dea hanya menatapa nanar kepergian sang ibu dan Marvel menatap sendu wajah sang kekasih.
''Iya bu'' ujar Dea lirih dengan setetes air mata di pipinya. Ia buru-buru menghapusnya tak ingin Marvel dan ayahnya melihatnya.
''Kamu ngak apa-apa sayang?'' Tanya Marvel.
''Tidak apa-apa pak'' jawab Dea dengan tersenyum manis berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
Tak lama setelah ibu Dea masuk ke dalam rumah, ayah Dea datang dengan dua gelas teh di atas nampan.
''Minum dulu nak''
''Terimakasih ayah, maaf sudah merepotkan ayah''
''Ayah tidak repot nak''
''Ayah ini ada sedikit sembako, buat ayah sama bibi. Yang di karung buat ayah yang di plastik buat bi Renata, bi Selmi dan bi Anggi''
''Ini dari mana nak?''
''Ini dari kami, sebagai ucapan syukur atas lancarnya lamaran waktu itu yah''
''Terimakasih nak'' ujar ayah David memeluk anak dan menantunya.
__ADS_1
''Sudah ketemu ibumu nak?''
''Sudah yah, tapi ibu sudah istirahat kembali mungkin sedang kurang sehat'' ujar Dea.
Marvel hanya menatap sendu sang kekasih yang tetap membuat sang ibu baik di mata sang ayah.
''Oh gitu, kalian mau bermalam atau mau pulang?''
''Dea mau bermalam yah''
''Ya udah kamu tidur disini saja, masih ada kamar kosong satu''
''Terimakasih ayah, aku mau bermalam di rumah nenek saja. Aku sudah lama tak kesana nanti rusak kalau tak di rawat.''
''Ya sudah terserah kamu saja nak, nanti malam ayah juga kesana''
''Iya yah''
Setelah cukup lama berbincang, Dea dan Marvel segera menuju ke rumah yang Dea maksud. Rumah ini cukup jauh dari rumah ibu Dea sekitar 3 kilo meter.
''Bapak ngak capek kan?'' Tanya Dea saat mereka sudah berjalan kaki menuju ke rumah itu. Mobil milik Marvel hanya sampai di rumah terakhir sebelum ke rumah nenek Dea. Mereka berjalan kaki sekitar 500 meter.
''Nah sudah sampai'' ujar Dea.
Rumah yang sangat sederhana, berdinding bambu dan beralaskan tanah. Namun terlihat sangat bersih dan rapi, tanah yang di dalam rumah pun terlibat sangat bersih dan tak lengket di kaki. Di dalam rumah hanya ada satu kursi, satu lemari kayu yang sudah usang, tikar gulung dan peralatan makan yang semuanya dari kayu. Alat-alat masak masih sangat sederhana, kuali dan belanga terbuat dari tanah liat.
Ia segera membuka kunci pintu rumah dan mempersilahkan Marvel untuk masuk.
''Bapak duduk dulu ya, bapak bisa duduk di kursi ini dulu, Dea mau bersihkan tempat untuk bapak istirahat'' ujar Dea.
Dea menuju ke kamar mandi yang ada di bagian dapur rumah ini, dan mengambil seember air dan sebuah kain lap. Di rumah ini hanya ada tiga ruangan, ruang depan tempat Marvel duduk saat ini, ruang dapur dan kamar mandi, tak ada kamar seperti rumah pada umumnya.
Setelah meletakkan tasnya, Dea segera membersihkan karpet dan menggantinya dengan yang baru. Ia juga mengganti sarung bantal dengan yang baru dan mengeluarkan selimut dari dalam lemari yang berada di samping Marvel.
''Kalau mau istirahat bapak istirahat saja dulu, saya mau masak dulu buat makan nanti malam. Bapak ngak apa-apa kan kalau kita bermalam disini?''
''Iya sayang, aku belum mau istirahat. Aku bantu kamu ya''
''Boleh pak, ayo kita cari ranting dulu buat bikin apinya''
Mereka berdua mencari ranting-ranting pohon di belakang rumah, setelah merasa sudah cukup banyak, keduanya segera membawanya ke dalam rumah.
''Bapak mandi duluan saja aku masak dulu''
''Iya sayang, aku ambil belanjaan kita dulu'' Marvel menuju ke tempatnya ia duduk tadi dan tak lama ia kembali dengan menenteng dua buah plastik besar.
''Loh bapak belanja banyak sekali tadi?''
''Iya sayang''
''Ini kita masak apa?''
''Terserah kamu aja sayang di situ ada ikan juga ayam dan sayur-sayuran. Kamu mau masak apa aja pasti enak'' ujar Marvel meletakkan belanjaan itu di atas meja di samping Dea.
''Ya udah bapak mandi dulu, di tas Dea ada sabun mandi pak'' ujar Dea.
''Iya sayang''
Marvel segera mengambil handuk dan perlatan mandi serta baju gantinya dan masuk ke kamar mandi.
''De, ini airnya ngalir terus'' ujar Marvel dari dalam kamar mandi.
''Iya pak, itu air dari gunung jadi mengalir terus, agak dingin juga airnya''
__ADS_1
''Ini bukan dingin De, tapi kayak mandi air dari kulkas'' ujar Marvel dan membuat Dea tertawa. Sebenarnya air itu tidaklah benar-benar dingin, hanya saja Marvel ingin menghibur Dea saja dan ia berhasil membuat Dea tertawa.