MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
ORANG-ORANG BAIK (POV AUTHOR)


__ADS_3

Di atas taksi Dea meneteskan air matanya, ia mengusap perutnya yang masih rata.


"Maaf nona ingin di antar kemana?'' Tanya supir taksi.


"Tolong antarkan saya ke pelabuhan pak" ujar Dea.


"Baik nona" ujar supir taksi kemudian melajukan mobilnya perlahan menyusuri jalanan di kota itu.


Supir taksi itu melihat Dea yang terlihat gelisah dalam duduknya, kemudian menanyakan apa Dea apa ia ingin singgah di suatu tempat dahulu.


"Apa nona ingin mengunjungi suatu tempat lebih dahulu, atau kita langsung ke pelabuhan?" Tanya supir taksi itu.


"Apa boleh singgah di bidan sebentar pak?" Tanya Dea.


"Tentu saja nona" ujar supir taksi itu, ia tahu jika penumpangnya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja karena ia bisa melihat raut wajah sedih di wajah Dea.


Supir taksi segera mencari klinik bidan yang searah dengan jalan yang akan mereka lalui menuju ke pelabuhan. Sekitar 25 menit berkendara akhirnya mereka menemukan sebuah klinik bersalin. Dea segera turun dari mobil dan masuk ke rumah bersalin itu, sopir taksi dengan setia menunggu Dea yang sedang melakukan pemeriksaan.


Beruntungnya tak ada pasien saat itu sehingga Dea bisa langsung memeriksakan dirinya. Ia begitu bahagia saat mengetahui jika di dalam rahimnya kini sedang tumbuh janin yang kelak akan menjadi teman hidupnya.


Dia sudah menduga hal ini sebelumnya namun untuk memastikannya, ia perlu memeriksakan diri ke dokter.


"Selamat ya bu, ibu sedang mengandung dengan usia kandungan 10 minggu. Saya akan resepkan vitamin dan penambah darah buat ibu dan usahakan perbanyak istirahat" ujar dokter yang memeriksa Dea.


"Terimakasih dokter" ujar Dea.


Setelah menerima resep obat, Dea segera menebusnya di apotik yang berada di klinik bersalin itu kemudian menuju ke taksi yang masih tetap setia menunggunya.


"Maaf pak, saya sudah membuat waktu bapak terbuang"


"Tidak apa-apa nona, saya mengerti keadaan nona, kita ke pelabuhan sekarang?"


"Iya pak" ujar Dea.


Mobil kembali berjalan membelah jalanan kota menuju ke arah pelabuhan, sekitar 15 menit kemudian mereka akhirnya tiba di pelabuhan.


"Terimakasih pak sudah mengantar saya dengan selamat, berapa biaya taksinya pak?" Tanya Dea.


"Seratus ribu saja nona" ujar supir taksi bernama pak Ardi.

__ADS_1


Dea memberikan uang sebesar 500 ribu pada pak Ardi, "tolong di terima pak, ini ungkapan terimakasih saya sama pak Ardi karena sudah mengantarkan saya dan calon anak saya dengan selamat. Saya tidak tahu sama sekali tentang kota ini dan saya bersyukur di pertemukan dengan orang baik seperti pak Ardi" ujar Dea meletakkan uang di tangan pak Ardi.


"Terimakaih nona, tapi ini banyak sekali, saya yakin nona juga butuh uang banyak"


"Membagi sedikit rejeki yang saya miliki tidak akan membuat saya kekurangan pak, tolong di terima pak ini berkat buat anak dan istri bapak"


"Terimakasih nona, semoga nona tiba di tujuan dengan selamat" ujar pak Ardi.


"Sama-sama pak, saya masuk dulu harus mencari tiket. Sekali lagi terimakasih pak"


"Sama-sama nona" ujar pak Ardi kemudian masuk ke mobil setelah memastikan jika Dea sudah masuk ke dalam area pelabuhan.


Dea berjalan sambil membaca petunjuk arah yang terpasang di tiang-tiang kecil, "sepertinya arah loket pembelian tiketnya kesana" ujar Dea.


Ia berjalan dengan hati-hati sambil mencari dimana letak loket pembelian tiket kapal berada. Sekita 300 meter akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.


Ia mulai melihat daftar nama-nama kapal pada kertas yang di tempel di dinding. Ia mencari kapal yang akan menuju ke pulau dimana ia akan pulang tinggal.


Cukup lama ia berdiri hingga kakinya terasa kram, akhirnya ia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu.


"Apa ya nama kapal yang menuju ke kampung?" Gumamnya sambil duduk bersandar pada sandaran kursi.


Seorang ibu yang melihat Dea duduk sendirian menghampirinya, "ada yang bisa ibu bantu nak?" Tanyanya.


"Oh gitu, kamu dengan siapa berangkat nak, jika sendirian kamu bisa ikut dengan kami saja, kami juga akan naik kapal ke pulau S, biar ibu temani kamu beli tiketnya"


"Terimaksih bu, maaf merpotkan" ujar Dea.


"Tak apa nak, sudah seharusnya ibu membantu orang yang membutuhkan bantuan, ayo kita beli tiketnya"


Dea mengujutu langkah kaki ibu itu yabg membawnaya menuju ke loket tempat oembeluan tiket kapal. Setwlqh mendapatkqn tiket Dea kembali ke tempat duduknya tadi.


"Terimakasih sudah membantu saya bu, nama saya Dea bu"


"Sama-sama nak, nama saya bu Marsih, yang disana itu anak-anak ibu Dewi dan Dewa. Oh iya maaf apa ibu boleh tanya sesuatu?"


"Iya bu, silahkan"


"Apa kamu sedang mengandung?"

__ADS_1


"Iya bu"


"Kamu berangkat sendirian, suamimu kemana nak?"


"Aku baru saja di ceraikan bu, jadi aku akan pulang ke kampung halaman ku" ujar Dea yang membuat ibu itu tak mengatakan apapun lagi. Ia tahu jika gadis yang ada si hadapannya ini sedang memiliki masalah dan ia tak mau menambah beban pikirannya terlebih ia tahu jika Dea sedang hamil.


"Sabar ya nak, kalau begitu duduk di sana saja sama kami. Tempat kita di kapal juga bersebelahan jadi nanti kita bisa naik sama-sama" ujar bu Marsih.


Dea bersyukur kapal yang akan membawanya pulang ke pulau dimana ia tinggal akan berangkat malam ini jadi ia tak perlu menunggu terlalu lama dan ia juga bersyukur di pertemukan dengan bu Marsih jadi ia memiliki teman saat di kapal nanti.


Dea sempat tertidur sebelum kapal yang akan mereka tumpangi sandar si pelabuhan, bu Marsih juga tak tega membangunkan Dea. Ia baru membangunkan Dea ketika mereka di minta untuk naik ke kapal.


"Nak, kapalnya sudah sampai, kita sudah diminta untuk naik" ujar bu Marsih membangunkan Dea.


"Oh kapalnya sudah sampai bu, maaf Dea ketiduran"


"Tak apa nak, orang hamil memang bawannya lelah nak, ayo kita naik ke kapal" ujar bu Marsih.


Sebelum naik ke kapal, bu Marsi terlihat menghampiri petugas pelabuhan dan berbicara pada petugas yang menjaga penumpang yang akan naik ke kapal.


"Ada apa bu?" Tanya Dea setelah bu Marsih kembali berdiri di sebelahnya.


"Ibu cuma bilang jika kita akan naik saat sedikit orang, kamu sedang hamil muda nak tak baik berdesak-desakan"


"Terimakasih bu" ujar Dea dengan senyum tulus. Bu Marsih tahu jika Dea gadis yang baik hanya dengan melihat dari wajah dan juga dari tutur kata Dea.


Ia bahkan heran laki-laku bodoh mana yang membuang wanita seperti Dea.


Setelah penumpang terlihat tak cukup padat, Dea segera naik ke kapal bersama bu Marsih dan kedua anaknya.


Dea langsung merebahkan diri di atas tempat tidurnya saat mereka sudah menemukannya, keringat dari dahi Dea bercucuran saat menaiki anak tangga yang cukup banyak.


"Semoga kita semua tiba dengan selamat" ujar Dea dan di aminkan oleh bu Marsih.


"Istirahatlah nak"


"Iya bu, Dea merasa lelah menaiki tangga"


"Hal itu wajar saja nak, apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanya bu Marsih, ia berpikir jika barangkali Dea ngidam ingin makan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak bu, Dea hanya ingin tidur"


"Kalau begitu tidurlah nak, nanti kalau lapar bangunkan ibu, nanti ibu temani beli makanan" ujar bu Marsih. Ia hampir hapal seluk bekuk kapal ini karena setiap sebulan sekali ia akan naik kapal ini karena ia memiliki usaha yang harus menyebrangi pulau untuk memantaunya setiap bulan.


__ADS_2