
''Ada apa De?''
''Aku bingung Mi, ada apa ya kami di panggil ke ruang kepala sekolah?''
''Mungkin karena kejadian tadi De, lagi pula lebih bagus begitu agar bu Selvy tak mengganggumu lagi''
''Mungkin Mi, aku jadi khawatir'' ujar ku resah. Jangan sampai kejadian tadi pagi membuat saya atau pak Marvel bermasalah.
''Ngak usah khawatir De, kan ada pak Marvel''
''Emang ada gitu hubungannya''
''Adalah, yang pasti dia akan jagain kamu hehehe'' ujar Darmi sambil terkekeh.
Aku memanyunkan bibir mendengar perkataan Darmi. Tidak tahu saja Darmi jika semua ini bermula dari pak Marvel.
''Ya udalah ngak usah di pikirin lagi, ayo kita siap-siap belajar'' aku mengeluarkan buku Matematika dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.
Selama pelajaran berlangsung aku tak fokus, pikiran ku sibuk memikirkan apa yang akan terjadi di ruang kepala sekolah nanti. Hingga dua mata pelajaran selesai dan tiba waktu istirahat, aku terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di ruangan kepala sekolah.
''Dea, ayo kita ke ruang kepala sekolah'' ujar pak Marvel masuk ke ruangan kelas dan menarik tangan ku.
''Pak, bisa lepasin tangan saya? Saya malu banyak teman-teman yang liat''
''Maaf Dea'' pak Marvel melepas genggaman tangannya dan berjalan lebih dulu sambil menggaruk kepalanya yang mungkin saja tak gatal.
''Cieeee...'' ujar Darmi dan di ikuti oleh teman-teman yang lain.
Aku segera keluar dari kelas mengikuti langkah pak Marvel yang berjalan lebih dulu. Ketika kami sampai di ruang kepala sekolah, tampak bu Selvy sudah duduk di ruangan itu.
Iya duduk di kursi yang berada di sisi sebelah kiri meja kepala sekolah, aku memutuskan untuk duduk di sisi lainnya.
''Pak Marvel, Dea, silahkan duduk'' ujar pak Bimo kepala sekolah.
''Terimakasih pak'' ujar kami serempak.
Aku memilih duduk di kursi yang bersebrangan dengan bu Selvy begitu juga dengan pak Marvel yang ikut duduk di sebelah ku.
Dari sorot mata bu Selvy aku tahu jika ia tak suka saat pak Marvel dekat dengan ku.
''Baiklah, karena kalian bertiga sudah ada disini, kita akan mulai membahas apa yang menjadi penyebab perlakuan tak menyenangkan yang di lakukan bu Selvy terhadap Dea'' ujar pak Bimo.
''Baik pak'' jawab pak Marvel, sedangkan aku hanya mengangguk dan bu Selvy terus menatap ke arah kami.
''Saya dengar kejadian ini bukan yang pertama kali, benar begitu Dea?''
''Iya pak'' jawab ku.
''Kenapa kamu tak melaporkan kepada kami?''
''Maaf sebelumnya pak, saya hanya tidak ingin masalah ini bertambah rumit jika saya melaporkan. Lagi pula saya rasa bu Selvy hanya salah paham pada saya pak''
''Baiklah dan untuk bu Selvy, apa penyebab anda melakukan tindakan seperti ini bahkan sudah yang ke dua kalinya?'' Tanya pak Bimo pada bu Selvy.
Yang ditanya hanya diam, akan tetapi tatapannya terus mengarah ke arah ku membuat ku merasa agak risih.
''Saya tidak suka dengan dia pak, bapak tahu kan kalau pak Marvel ini tunangan saya tapi dia berusaha merebutnya. Dia terus menggoda pak Marvel sehingga pak Marvel tak memperdulikan saya lagi''
''Benar begitu pak Marvel?''
''Tidak pak, bapak sendiri yang menjadi saksi saat saya melamarnya dan dia menolak saya karena lebih memilih kekasihnya yang seorang pengusaha. Jadi hubungan mana yang bu Selvy maksud, lagi pula masalah pribadi tak seharusnya di bawa ke tempat kerja'' ujar pak Marvel.
''Oh begitu''
''Tapi saya ingin memperbaiki semuanya pak, saya ingin memulai semuanya dari awal lagi pak'' ujar bu Selvy dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
''Bagaimana pak Marvel?'' Tanya pak Bimo menatap pak Marvel begitu juga dengan ku yang secara spontan ikut menatapnya.
''Maaf pak Bimo saya tidak bisa, ada hati yang harus saya jaga untuk saat ini'' ujar pak Marvel menatap ku.
Entah kenapa, mendengar jawaban pak Marvel membuat ku bahagia dan tersenyum.
Bu Selvy terlihat kesal ia langsung pergi dari ruangan kepala sekolah tanpa berkata apa-apa, ia bahkan memarahi beberapa murid yang ternyata menyaksikan apa yang terjadi di ruangan ini.
''Saya mengerti maksud pak Marvel. Apa kalian memiliki hubungan khusus?''
__ADS_1
''Tidak pak'' jawab ku cepat sebelum pak Marvel berbicara.
''Tidak?'' Beo pak Bimo.
''Bukan tidak pak hanya saja belum, saat ini saya sedang berusaha'' ujar pak Marvel dan membuat pak Bimo tersenyum.
''Baiklah kalau begitu, tapi saya minta bersikaplah layaknya murid dan guru saat sedang berada di sekolah. Saya tidak ingin kegiatan belajar dan mengajar terganggu oleh hubungan yang kata pak Marvel tadi belum terjadi'' ujar pak Bimo tersenyum.
''Iya pak'' jawab ku.
''Saya berterimakasih atas tindakan pak Marvel melindungi siswi kita, saya harap itu semua karena cinta hehehehe'' ujar pak Bimo sambil tertawa kecil, sedangkan aku merasa malu.
''Silahkan kembali'' aku langsung berdiri bersama pak Marvel dan pamit pada pak Bimo.
''Kami permisi pak'' ujar ku.
Saat kami sampai di pintu, pak Bimo kembali memanggil nama pak Marvel.
''Iya pak'' ujar pak Marvel berbalik badan menghadap ke arah pak Bimo.
''Semoga perjuangannya berhasil, saya merestui kalian berdua. Jangan lepaskan genggaman tangan itu'' ujar pak Bimo kemudian tertawa.
Aku yang mendengarkan sontak melihat ke arah tangan ku yang ternyata di genggam oleh pak Marvel. Segera ku lepas genggaman tangannya kemudian berlari kecil ke kelas. Masih dapat ku dengar pak Marvel dan pak Bimo tertawa, mungkin mereka sedang menertawakan aku.
''Gimana De, apa yang di tanyakan pak Bimo?'' tanya Sukma yang berada di dalam kelas ku.
''Ngak ada apa-apa cuma di tanya tentang masalah tadi pagi''
''Cuma itu?'' Tanya Gema memastikan.
Aku menceritakan yang terjadi di ruang kepala sekolah tadi, tapi aku tak menceritakan bagian terakhirnya, biarlah itu menjadi rahasia.
''Ngak ada hal lain lagi''
''Ngak''
''Masih ada'' jawab Darmi yang datang membawa beberapa cemilan di tangannya, sepertinya ia baru saja dari kantin.
''Apa lagi?'' Tanya Gema.
'Apa Darmi mendengar semuanya, jika ia habislah aku, akan jadi bahan godaan oleh mereka bertiga' batin ku.
''Serius Mi?''
''Iya Sukma, dan yang paling penting pak Bimo bilang saya merestui kalian''
''Wahh....... pasti pak Marvel senang banget tuh. Oh iya kalian tahu ngak? Ternyata bu Selvy itu mantan pak Marvel, dulu dia nolak lamaran pak Marvel dan ninggalin pak Marvel demi pacarnya yang lain. Terus sekarang minta balikan sama pak Marvel tapi pak Marvel ngak mau'' terang Darmi.
''Kenapa pak Marvel ngak mau ya?''
''Seperti yang aku bilang tadi, pak Marvel bilang ada hati yang sedang ia jaga dan perjuangkan. Benar ngak De?''
''Eh.. koq nanya aku?''
''Ya iyalah mau nanya siapa lagi? Kan yang sedang di perjuangkan ada di sini'' ujar Sukma.
''Apa sih kalian?''
''Waktu mereka keluar dari ruang pak Bimo, pak Marvel menggenggam tangan Dea tapi Dea ngak sadar, pas di godain sama pak Bimo baru dia sadar''
''Yang benar Mi?''
''Iya benar, pasti dia juga udah mulai nyaman di genggam sama pak Marvel atau dia juga sudah jatuh cinta?''
''Semoga aja biar cinta pak Marvel ngak bertepuk sebelah tangan hehehe'' ujar Gema.
''Liat deh.. tuh...tuh.. pipinya merah, kayaknya benar-benar udah jatuh cinta dia'' ujar Sukma membuat ku pura-pura tak melihat ke arah ketiganya.
'Apa iya pipi ku merah? Kenapa juga ngak sadar tadi kalau aku di genggam sama pak Marvel. Semua ini gara-gara pak Marvel' gerutu ku dalam hati.
''Habis jam istirahat kami ngak ada kelas, pak Robi ngak datang. Kalian ada kelas ngak? Kalau ngak ada kita ke perpus yuk''
''Kami juga ngak ada kelas, tapi aku ngak bisa ikut, kalian aja ya''
''Emangnya kenapa?''
__ADS_1
''Kalian lupa ya aku harus belajar buat lomba hari kamis?''
''Oh iya, jadi gimana kita bertiga aja yang pergi?'' Tanya Gema.
''Iya''
Ketiganya berjalan menuju ke perpustakaan sedangkan aku duduk di bangku di depan kelas.
''Kamu sedang apa Dea?'' Tanya bu Siska menghampiri ku.
''Bu Siska, saya cuma duduk-duduk saja bu''
''Pak Marvel sudah tunggu kamu di perpustakaan buat bimbingan''
''Jadi hari ini bimbingannya di perpustakaan bu?''
''Iya Dea, kamu kesana deh, sepertinya teman kamu yang ikut lomba juga sudah disana''
Aku bergegas ke kelas mengambil beberapa buku dan alat tulis yang aku gunakan selama bimbingan.
''Saya ke perpustakaan bu''
''Iya Dea''
Sesampainya disana aku melihat teman-teman yang juga akan ikut lomba sudah belajar dengan guru pembimbing masing-masing. Karena lomba yang aku ikuti adalah lomba bahasa Inggris, otomatis aku di bimbing oleh pak Marvel.
Aku mencari keberadaan pak Marvel tapi aku tak melihatnya.
''Permisi bu, pak Marvel dimana?'' Tanya ku pada bu Susi salah satu guru pembimbing.
''Pak Marvel masih di ruang kepala sekolah Dea, mungkin sebentar lagi kesini''
''Baiklah saya akan duduk disana bu, jika pak Marvel sampai tolong katakan jika saya duduk disana''
''Ok Dea''
Aku memilih kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan, biasanya jarang sekali yang duduk disana karena orang berlalu lalang di sekitar situ.
''Hy De, katanya mau bimbingan koq kesini?'' Tanya Darmi.
''Eh.. itu, kata bu Siska bimbingannya di sini, yang lain udah mau selesai bimbingan tapi aku belum mulai, pak Marvel belum datang''
''Oh gitu, ya udah kita baca di sana yuk teman-teman, jangan ganggu orang yang mau berjuang'' ujar Sukma menarik Darmi dan Gema ke sebuah meja yang terletak di sudut ruangan.
Aku melihat ketiganya tertawa memandang ke arah ku. Aku jadi berpikir apakah ada yang salah dengan ku?
''Sudah lama Dea?'' ujar pak Marvel mengagetkan ku.
''Belum pak, saya juga baru sampai''
''Ya udah kita mulai ya bimbingannya, waktu itu sudah sampai mana?''
Aku membuka buku dan menunjukkan pada pak Marvel halaman terakhir yang kami bahas saat pertemuan bimbingan beberapa hari yang lalu.
Dengan seksama aku mendengarkan apa yang di sampaikan oleh pak Marvel, sesekali ekor mata ku melirik ketiga teman ku yang terus menatap ke arah ku.
''Gimana Dea, apa masih ada yang belum kamu pahami?''
''Saya sudah paham pak''
''Baguslah kalau begitu, ini adalah materi terakhir kita, besok siang kita sudah harus berangkat ke kota M untuk persiapan''
''Besok siang pak? Bukannya hari rabu?''
''Tidak Dea, saya meminta di percepat agar siswa bisa istirahat lebih dulu disana. Jadi ketika hari lomba tiba, kalian sudah memiliki stamina yang baik''
''Baik pak, apa-apa saja yang harus di persiapkan?''
''Hanya baju ganti saat berada di rumah, baju untuk lomba sudah di siapkan oleh sekolah''
''Baik pak''
''Saya duluan ya Dea, maaih ada kegiatan. Besok pagi saya jemput kamu jam 10''
''Tidak usah pak, saya masih ke sekolah besok ada tugas yang harus saya serahkan''
__ADS_1
''Baiklah besok kita ketemu disini, kamu hati-hati pulangnya'' ujar pak Marvel mengusap kepala ku kemudian keluar dari perpustakaan.