MELODY CINTA DEA DAN MARVEL

MELODY CINTA DEA DAN MARVEL
ULANG TAHUN (POV DEA)


__ADS_3

Aku merasa sangat bahagia ketika aku bisa meraih juara pertama dalam perlombaan kali ini. Karena sangat bahagia aku sampai tak sadar jika aku langsung memeluk pak Marvel.


Aku baru tersadar saat merasakan usapan tangan pak Marvel pada rambut ku, segera aku melepaskan pelukan ku.


Aku merasa malu, namun berusaha aku tutupi dengan rasa bahagia yang aku rasakan. Ada rasa bangga ketika aku bisa mengharumkan nama sekolah ku.


Hingga kami pulang tak pernah hilang senyuman dari bibir kami semua, Cindy dan Melati meraih juara kedua sedangkan aku dan Revan meraih juara pertama.


Kami semua merasa bangga karena berhasil membawa pulang prestasi yang membanggakan.


Awalnya kami berempat merasa tak percaya diri saat melihat lawan-lawan kami, namun para guru pembimbing dengan setia memberikan kami semangat.


Aku dan pak Marvel pulang dengan mengendarai sepeda motor milik mang Diman mengikuti mobil yang membawa pak Bimo dan teman-teman yang lainnya.


''Dea, terimakasih atas semuanya'' ujar pak Marvel saat motor kami berhenti di lampu merah.


''Saya yang berterimakasih pak, berkat bimbingan bapak saya bisa sampai sejauh ini dan bisa mengharumkan nama sekolah''


''Itu semua berkat ketekunan kamu Dea, kamu sangat rajin belajar. Selain itu aku juga berterimakasih karena kamu sudah mau menerima aku menjadi bagian dari cerita hidupmu.''


''Terimakasih pak'' ujar ku tak tahu harus berkata apa.


''Tapi, apa kamu benar-benar sudah menerima saya? Aku tidak ingin jika ini semua hanya terpaksa, aku ingin kita menjalin hubungan yang berlandaskan rasa cinta bukan keterpaksaan''


''Iya pak, saya tidak terpaksa. Ini semua karena memang keinginan hati saya pak. Sejujurnya saya merasa tidak pantas jika di sandingkan dengan bapak'' ujar ku menundukkan kepala.


''Aku sangat senang mengetahui itu semua, apapun kata orang kamu tetap spesial buat saya Dea, kamu lebih dari pantas untuk mendampingi aku. Jika saja bisa aku ingin segera mengenalkanmu pada seluruh keluarga.''


Aku hanya bisa menatap pak Marvel lewat kaca spion tak tahu harus berkata apa, hanya senyum yang bisa aku berikan.


''Aku sangat senang melihatmu tersenyum seperti ini Dea'' ujar pak Marvel sebelum melajukan kembali motornya karena lampu sudah berwarna hijau.


Setelah kami tiba di rumah, kami semua membersihkan diri kemudian makan malam dan istirahat. Saat hendak tidur bu Siska datang mengetuk pintu kamar, dengan setengah mengantuk aku membuka pintu kamar.


Ceklek


Saat pintu terbuka tak kudapati siapa-siapa hanya ada lilin-lilin kecil yang saling berhadapan membentuk jalan kecil di tengah-tengahnya.


Aku mengikuti lilin itu dan sampai pada ruang tamu, namun tempat itu gelap tak ada siapapun disana. Ku coba memanggil nama bu Siska namun tak ada yang menyahut akhirnya ku putuskan untuk kembali ke kamar.


Saat aku berbalik tiba-tiba saja lampu di ruangan itu menyala dan ternyata semua orang sudah ada di hadapan ku.


Mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun, awalnya aku bingung siapa yang berulang tahun, namun saat melihat diatas kue ulang tahun yang dibawa oleh pak Marvel tertulis nama ku, aku baru sadar jika hari ini adalah hari ulang tahun ku.


''Selamat ulang tahun Dea'' ujar pak Marvel.


''Selamat ulang tahun Dea'' ujar yang lain menyalami ku satu persatu.

__ADS_1


''Ayo tiup lilinnya, jangan lupa buat permintaan'' ujar Cindy yang juga membawa kue ulang tahun di tangannya.


Secara bergantian aku meniup lilin di kue yang dibawa oleh pak Marvel dan Cindy, kami semua duduk dan memakan kue itu.


Cindy dan melati memberikan aku hadiah sebuah sepatu olahraga, sedangkan bu Siska dan bu Susi masing-masing memberikan dress yang cantik. Pak Bimo, pak Stev dan Revan memberikan aku jam tangan, sedangkan pak Marvel memberikan aku sebuah kalung emas putih, dimana di liontinnya yang berbentuk mawar disana ada terukir nama ku dan pak Marvel.


Dihadapan semua orang pak Marvel memakaikan kalung itu pada ku.


''Terimakasih semuanya, aku bahkan lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun ku'' ujar ku dengan air mata yang sudah menganak sungai.


''Sama-sama Dea, kami sangat bahagia bisa merayakan ulang tahun kamu sama-sama'' ujar bu Siska.


Setelah berbincang-bincang semua orang pamit untuk tidur, terkecuali pak Marvel, ia masih setia duduk di tempatnya.


''Bapak tidak ingin tidur?'' Tanya ku.


''Saya belum ngantuk Dea, ada yang mau saya bicarakan sama kamu''


''Ada apa pak?''


''Besok malam kita sudah pulang, apa boleh saya meminta sesuatu sebelum kita benar-benar meninggalkan kota yang penuh kenangan ini?''


''Bapak mau minta apa?''


''Saya ingin kamu temani saya bertemu seseorang besok, apa boleh?''


''Bertemu siapa pak?''


''Boleh pak, tapi saya harus minta ijin dulu sama pak Bimo''


''Tidak perlu Dea, saya mengijinkan'' ujar pak Bimo yang ternyata duduk di belakang kami.


''Baiklah pak, kalau begitu saya pamit duluan untuk istirahat, selamat malam pak Bimo, pak Marvel''


''Selamat malam Dea'' ujar pak Bimo dan pak Marvel bersamaan.


Saat hendak masuk ke kamar aku mendengar nama ku disebut oleh pak Bimo, aku jadi penasaran apa yang mereka bicarakan tentang ku.


Aku mengintip dari celah tembok yang membatasi ruangan.


''Benar kamu mau mempertemukan mereka?'' Tanya pak Bimo.


''Benar pak, saya ingin Dea tahu semua hal tentang saya. Saya tidak ingin menutupi apapun darinya''


''Tapi bagaimana jika Dea juga di tolak seperti yang sudah-sudah?''


''Saya yakin kali ini tidak pak, Dea itu spesial. Aku yakin untuk mempertemukan mereka, mohon doanya pak agar semuanya lancar'' ujar pak Marvel yang semakin membuat ku penasaran.

__ADS_1


Siapa gerangan yang akan bertemu dengan ku besok, dari yang aku pahami setelah mendengar percakapan pak Bimo dan pak Marvel sepertinya orang ini sangat penting dalam hidup pak Marvel.


Karena sudah merasa mengantuk, akhirnya aku masuk ke kamar dan tidur, tak lagi ku tahu apa yang mereka bicarakan.


.


''Dea bangun, kamu katanya mau jalan sama pak Marvel koq belum siap-siap'' ujar Cindy membangunkan ku.


''Ini udah jam berapa Cin?'' tanya ku.


''Ini udah jam 8 Dea, kamu kenapa tumben lambat bangun biasanya baru jam 4 tuh mata udah ngak mau di tutup''


''Ngak tahu juga Cin, ya udah aku mau mandi dulu ya'' ujar ku meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.


Air dingin dari kran mampu membuat rasa ngantuk yang masih terasa seketika menghilang. Setelah mandi aku berpakaian, ketika hendak ke luar kamar menemui pak Marvel, Cindy, Melati dan bu Siska masuk ke kamar.


''Tunggu dulu'' ujar bu Siska.


''Pakai ini'' ujarnya menyerahkan sebuah gaun berwarna biru muda.


''Ini untuk apa bu?''


''Untuk kamu pakai, sana cepat ganti'' ujar Cindy mendorong ku kembali ke dalam kamar mandi.


'Ngapain juga pake gaun? Aku terlihat aneh saat memakai baju yang seperti ini' batin ku melihat pantulan diri ku di cermin.


Saat aku keluar dari kamar mandi Cindy dan Melati menatap ku tanpa berkedip sedangkan bu Siska tersenyum.


''Nah kan cocok, sini duduk disini'' bu Siska menarik ku ke sebuah kursi.


''Ini mau ngapain bu?''


''Udah diam aja''


Aku melihat bu Siska mengambil peralatan make up milik Cindy.


''Saya ngak biasa pake begitu bu''


''Udah diam aja''


Akhirnya aku diam menuruti keinginan bu Siska, mereka bertiga bergantian mengoles yang entah apalah namanya pada wajah ku. Aku merasa aneh saat memakai hal-hal seperti itu.


''Nah, sudah selesai'' ujar bu Siska memberikan cermin kecil pada ku.


Aku menatap wajahku di dalam pantulan cermin terlihat cantik tapi aneh bagi ku.


''Kamu cantik banget Dea, aku jadi naksir'' ujar Melati.

__ADS_1


''Liat aja nih, kalau Dea keluar pasti pak Marvel bakal meleyot hahahaha'' ujar Cindy.


''Benar, kamu benar-benar cantik Dea'' ujar bu Siska memeluk ku.


__ADS_2